
Perbincangan kita tak pernah sederhana
Meski bermula dari canda dan tawa
Hingga bermakna luar biasa
Walau seringkali tak sejalan dan seirama
Renjanaku penuh gelora
Merajut asa menjalin mimpi alam semesta
Mengukir kisah indah tentang cinta
Mencoba membaurkan harap dan ada yang kerap kali terhapus beda
Bagaimana aku bisa memenangkan hatimu
Jika pujian penyembahan ku tak mampu mengiringi merdunya suara hatimu
Seperti apa aku akan menenangkan gundahmu
Jika novenaku saja tak mampu mendamaikan kegelisahan mu.
Jika cinta adalah anugerah, lalu apalah arti kita?
Dua cinta yang meleburkan beda untuk menyatukan rasa
Dua jiwa yang mencoba menggaungkan cinta untuk meyakinkan Tuhan bahwa taat ku dan taat mu takkan pernah ternoda.
*** Dena tersenyum ketika membaca email yang masuk di layar laptop nya.
" Hey ..Dena, kau aneh pagi pagi buka email malah senyum senyum sendiri"
" Aku kalau buka email tuh yang ada mumet , isinya kerjaan lagi kerjaan lagi", gerutu Puji yang rupanya memperhatikan Dena.
" Itu kan dirimu....."
" Kalau aku sih baca email yang isinya seperti ini pasti senyum lah"
Puji beranjak dari tempat duduk nya.
" Memang isi nya apa?"
" Dari siapa?", Puji penasaran, mengarahkan mata nya ke layar laptop Dena .
" Eitss... rahasia dong", Dena mengklik tombol silang di layar laptop nya, email tertutup.
" Huh, dasar pelit"
" Jangan jangan kau dapat bonus ya dari Pak Bram", ujar Puji kesal.
Dena semakin senang melihat wajah Puji yang cemberut. Semenjak mengenal gadis periang itu sifat Dena yang kaku dan tertutup sedikit sedikit mulai bisa mencair.
Ia bahkan bisa tertawa terbahak bahak ketika bersama Puji, melihat tingkah konyol sahabat nya itu memang banyak menghibur hari hari nya.
Kembali ke email yang tadi di terima Dena, gadis itu kaget ketika sebuah email yang tak dikenal dengan akun priamalang@gmail.com.
Ia baca ternyata isinya puisi romantis, baru saja ia berpikir keras email dari siapa yang nyasar ke email pribadi milik nya, ponsel nya berdering menandakan pesan masuk, dari Adrian :
" Dena, apa kau sudah membaca email dari pria malang ini?"
Hal itulah yang membuat nya tersenyum sendiri, ia akui usaha keras Adrian untuk mengungkapkan rasa sayang nya.
Perasaan itu sedikit sedikit mulai muncul di hati Dena, namun ia saja masih bingung itu sungguh perasaan sayang atau hanya kasihan dan tak tega pada Adrian.
" Ya... aku sudah membacanya"
__ADS_1
" Kenapa harus lewat email?", Dena membalas pesan Adrian.
" Supaya kau semangat ngerjain laporan hari ini".
" Kan biasanya setiap pagi kau selalu membuka email masuk, jadi aku ingin pagi ini kamu tersenyum".
" Jangan cuma cemberut membaca email dari atasan mu, hehehe".
" Kau punya bakat jadi pujangga juga ya Adrian", dengan wajah sumringah Dena mengetik pesan di ponsel nya .
" Aku sadar aku bukan laki laki romantis yang bisa merayumu langsung saat bertemu".
" Jadi aku hanya bisa mengutarakan nya lewat kata kata yang amburadul itu, hehehe".
Andai saja Dena adalah Puji pasti ia sudah meleleh membaca puisi romantis tadi.
" Terima kasih Adrian untuk semuanya, maaf jika aku belum bisa membalasnya", ujar Dena dalam hati.
" Dena, aku bosan makan siang di kantin".
" Nanti siang kita makan di luar ya, berdua saja".
" Jangan ajak sahabatmu yang katanya fans fanatik ku, hehehe".
" Baiklah, nanti kita bertemu di parkiran".
Dena mengunci ponsel nya setelah membalas pesan Adrian .
Puji hanya bisa manyun saat Dena mengatakan ia nanti siang akan makan siang diluar berdua dengan Adrian.
" Dena... please aku ikut", rengek Puji.
" Kau mau jadi obat nyamuk hah?"
" Anggap saja aku tidak ada di antara kalian, aku akan diam dan cukup bernafas saja, janji aku tidak akan mengganggu", Puji mengangkat dua jari nya ke atas membentuk huruf v.
" Maaf Puji bukan nya aku tidak punya rasa solidaritas tapi kekasih ku hanya ingin berdua denganku, hehehe".
" Kau kan tau Adrian itu idola ku yang sudah seperti artis K Pop "
" Aku ingin berlama lama melihat wajah tampan nya dari jarak dekat, hehehe", Puji terkekeh.
" Dasar kau gadis genit..", Dena menimpuk lengan sahabatnya itu .
**** Jam makan siang
Adrian dan Dena sudah berada di sebuah restoran kecil tak jauh dari kantor nya .
Tidak terlalu ramai siang itu, mereka sudah memilih tempat dan segera memesan makanan.
" Dena, apa kau bersedia jika nanti aku kenalkan kau kepada kakak laki laki ku?"
" Kau tau kan aku sudah tidak mempunyai orang tua, jadi kakak ku lah satu satunya keluarga yang aku miliki", Adrian memulai pembicaraan sambil menunggu hidangan yang mereka pesan.
Dena tersenyum dan mengangguk, ia sebenar nya belum siap untuk bertemu dengan keluarga Adrian tapi ia pasti akan mengecewakan lelaki itu kalau ia berkata tidak.
" Adrian, sekarang aku yang minta sesuatu dari mu".
" Apa itu? katakanlah ", mata Adrian berbinar senang mendengar sebuah permintaan dari Dena.
" Sabtu besok apa kau mau menemani ku cuci darah ke rumah sakit?"
" Tentu saja....dengan senang hati aku akan menemanimu".
" Aku juga ingin tau bagaimana kau melewati itu semua".
Adrian tak tau apa sebenarnya maksud Dena yang minta untuk di temani.
__ADS_1
"Maaf Adrian, aku hanya ingin menunjukkan kepada Adam kalau aku tak ingin ia menunggu kepastian dariku".
" Aku tak ingin kalau ia sampai menceraikan istrinya karena berfikir aku akan mau menerimanya"
" Aku memang mencintainya tapi aku tak harus memilikinya", desah Dena dalam hati.
Mereka tak berlama lama menghabiskan makanan yang sudah tersaji, waktu istirahat yang hanya satu jam membuat semua harus terburu buru .
Dena sudah berada di dalam mobil bersama Adrian, duduk di bangku depan di sebelah lelaki yang memegang kemudi itu.
Adrian sudah menyalakan mesin, tapi belum melajukan kendaraan nya untuk keluar dari halaman restoran .
" Dena.... sebenarnya aku..."
" Aku .. sudah lama ingin memberikan ini padamu", Adrian patah patah mengucapkan kalimat nya.
" Kau mau memberikan apa?"
" Hhmm Dena... aku ... aku takut kau menolaknya".
Dena masih bingung , apa yang akan Adrian berikan padanya .
" Bagaimana aku bisa menolak kalau aku saja tidak tau apa yang akan kau berikan".
" Kau janji ya tidak akan marah padaku kalau aku memberikan ini padamu".
Adrian, Adrian, sikapmu yang terlalu sopan terkadang membuat Dena gemas sendiri.
" Hahaha, memang nya kau pernah melihatku marah?", Dena tergelak.
" Kalau kau tak mau menerimanya pun tidak apa apa, aku tidak akan marah".
" Adrian, kau sebenarnya niat memberikan nya padaku tidak?"
" Ayolah jangan berbelit, nanti kita telat kembali ke kantor", Dena mulai kesal dengan Adrian yang terus saja seperti ketakutan dengan nya.
" Aku... aku hanya ingin memberikan mu ini", Adrian mengeluarkan sesuatu dari saku kemejanya.
Sebuah cincin emas dengan mutiara kecil di tengah nya.
" Kau tak perlu menganggap nya ini cincin tunangan, aku hanya ingin memberikannya padamu" .
" Terserah mau kau simpan saja pun tak apa apa" .
" Tapi aku akan sangat senang jika kau memakainya".
Dena menerima cincin itu, ia melihat wajah Adrian yang penuh harap.
Bagaimana mungkin ia tega membuat sedih lelaki penyabar yang begitu sopan dan baik hati itu, meskipun ia mengatakan ia tak apa apa jika Dena menolak pemberian nya .
" Tentu saja aku akan memakainya Adrian",
Dena memberikan cincin itu kepada Adrian lagi meminta lelaki itu untuk memasang nya di jari manis tangan kanan nya .
" Terima kasih Dena, aku harap kau suka".
Sebuah kecupan lembut mendarat di bibir Dena, kemudian dibalas Dena dengan membuka mulutnya membiarkan lelaki itu menjelajah lebih dalam dan lebih lama lagi.
*** Setiba di kantor Dena memandang cincin yang melingkar di jari manis nya.
" Sepertinya cincin ini bisa jadi senjata ampuh untuk menyerang Mas Adam".
" Lagi lagi maafkan aku Mas Adam, bukan aku ingin melukaimu tapi aku harap kau mengerti posisi ku yang tak ingin jadi perusak rumah tangga mu".
...----------------...
Adrian benar benar so sweet ya readers😁
__ADS_1
Nggak sabar kan pengen lihat ekspresi wajah Adam ketika Adrian menemani Dena ke rumah sakit??
Pantengin terus ya up berikutnya, jangan lupa like n follow akun author ya 🥰🥰