
Adrian sudah rapi pagi itu ketika Dena sedang menyiapkan pakaian ke dalam koper untuk suami nya bawa selama di luar kota.
Adrian tampak sedang menggendong Noah, mencium bayi laki laki kesayangan nya.
" Hei jagoan tampan, jaga mama ya kalau papa pergi", ucap Adrian berpesan pada Noah yang hanya tertawa memainkan rambut rambut halus di dagu Adrian.
Adrian menyerahkan Noah pada pengasuhnya, kemudian berpamitan pada istrinya.
" Sayang, aku berangkat ya. Jaga noah", ia memeluk istrinya lama sekali kemudian berkali kali mengecup kening istrinya.
" Aku pasti akan merindukan mu", Dena membalas pelukan suaminya.
" Kau cantik sekali pagi ini, aku berat rasanya meninggalkan mu", Adrian masih saja belum melepas tatapan nya pada Dena.
" Berangkatlah nanti kau terlambat", Dena melirik jam di tangan nya.
Dengan berat hati Adrian melepas pelukan nya, sekali lagi mencium Dena dan Noah bergantian.
Sebelum masuk ke mobil ia melambaikan tangan nya, sempat berhenti sejenak menatap anak dan istrinya. Kemudian mobil nya melaju pelan meninggalkan halaman rumah.
Adrian berangkat keluar kota bersama tiga rekan nya.
Ia duduk di depan di sebelah rekan nya yang mengemudi, adrian memilih untuk tidur karena semalaman ia tidak tidur.
Perjalanan mereka kali ini membutuhkan waktu 4 jam, saat baru dua jam berkendara hujan turun dengan sangat lebat membuat jalan licin dan jarak pandang terbatas.
Adrian masih pulas dalam tidurnya. Teman nya Firman yang mengemudikan kendaraan saat itu menyetir dengan kecepatan tinggi.
Jalanan yang licin akibat hujan membuat mobil yang dikemudikan Firman hilang kendali sehingga menyebabkan mobil oleng.
Sementara dari arah berlawanan muncul truk pengangkut pasir, melihat mobil yang dikendarai Firman oleng membuat pengemudi truk kaget dan membuat laju truk ke arah kanan, sehingga truk memakan badan jalan sebelah kanan membuat arah truk berbalik.
" Braaakkk", tabrakan tak dapat dihindari.
Mobil yang dikendarai Firman menabrak bagian belakang truk yang menyebabkan kerusakan parah di bagian depan mobil yang mereka tumpangi.
Adrian yang sedang dalam keadaan tertidur, terbangun karena guncangan parah.
" Praannkkkk", suara kaca berhamburan.
Bagian depan mobil yang rusak parah menyebabkan Adrian dan Firman terhimpit badan mobil yang ringsek.
Darah berhamburan bercampur air hujan, Adrian sudah tak bisa merasakan lagi bagian kaki nya, ia masih bisa melihat Firman yang terkulai dengan luka parah di kepala dan kaki terjepit seperti dirinya.
Sampai akhirnya ia tak sadar lagi, yang ia ingat terakhir adalah wajah anak dan istrinya.
" De...naa..."
" No..aaahh", lalu gelap pandangan mulai kabur dan ia tak ingat apa apa lagi.
****
Sementara itu di rumah nya, Dena sibuk mendiamkan Noah yang terus menangis tanpa sebab.
" Noah kenapa sayang, noah haus?", Dena memberikan susu kepada Noah, namun Noah tidak mau dan tetap saja menangis.
" Noah kamu kenapa nak, apa noah sakit?", Dena memegang kening Noah tapi tidak panas.
Dena semakin bingung, ia berusaha menenangkan bayinya dengan segala cara, Noah masih kencang menangis ketika Dena menyenggol bingkai foto kecil di sudut rak di ruang tamu mereka.
__ADS_1
Membuat foto keluarga kecil mereka terjatuh dengan bingkai kaca yang pecah berserakan.
" Ada apa ini, kenapa firasat ku tidak enak", Dena masih berusaha menenangkan Noah.
Ia kemudian meminta pengasuh Noah untuk menggendong bayi itu.
Dena mengambil ponsel, entah kenapa ia tiba tiba teringat Adrian.
Ia mencoba menghubungi Adrian lewat panggilan telepon tapi tidak bisa dihubungi, ponsel nya tidak aktif.
Tidak biasanya Adrian mematikan ponsel nya, pikir Dena. Ia melihat jam, baru dua jam perjalanan harus nya Adrian belum sampai ke tujuan.
Beberapa kali Dena mencoba menghubungi, masih sama tak bisa terhubung.
Dena mencoba tenang, ia melihat Noah yang tertidur karena lelah menangis.
Hingga siang hari, ponsel Adrian masih tetap tidak bisa di hubungi.
Sampai pada akhirnya panggilan masuk dari kantor tempat Adrian bekerja menjawab semua kegelisahan Dena kala itu.
" Hallo selamat siang, dengan istrinya Pak Adrian?", suara perempuan di ujung telepon menyapa Dena.
" Iya, saya sendiri. Ada apa ya?", Dena sudah mulai tak enak hati.
" Begini bu, saya mau mengabarkan kalau Pak Adrian dan ketiga rekan nya mengalami kecelakaan tadi pagi. Dan sekarang baru saja selesai di evakuasi karena terjepit badan mobil. Pak Adrian sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit XX", ucap perempuan itu.
Lantai tempat Dena berpijak terasa berputar, wajah nya pucat pasi dan bibir nya tak mampu berkata apa apa. Ponsel yang ia pegang terjatuh bersama tubuh nya yang ikut terkulai tak sadarkan diri.
" Nyonya......", mbok nah asisten rumah tangga mereka berteriak ketika melihat majikan nya terjatuh dan pingsan.
Mbok Nah berusaha membangunkan Dena, menggosokkan minyak kayu putih ke hidung nya. Tak lama Dena sadar, memeluk Mbok Nah.
" Mbok Nah.... Adrian kecelakaan", Dena terus menangis.
Perempuan berumur itu tak kalah terkejut nya mendengar berita itu, ia ikut menangis karena ia sudah mengabdi pada keluarga Adrian sejak Adrian masih kecil.
" Aku mau ke rumah sakit sekarang, Mbok Nah di rumah ya ikut jagain Noah".
Dena bergegas mengambil kunci mobil, melajukan nya ke rumah sakit tempat Adrian di bawa.
Sepanjang perjalanan ia terus menangis, tak berhenti meratapi semua ujian yang menimpa keluarga kecilnya.
" Tuhan, selamatkan suamiku", Dena hanya bisa berdoa.
Ia tiba di Unit Gawat Darurat rumah sakit, menanyakan korban atas nama Adrian.
Petugas rumah sakit hanya bisa meminta nya untuk menunggu di luar, karena keadaan Adrian yang penuh luka serius dan sedang ditangani para dokter dengan status siaga medis.
Dena tertunduk lesu dengan penuh air mata, ia tak tahu harus bagaimana lagi.
Ia menghubungi Kak Radit, Ibu dan juga Hasbi.
Kak Radit tak pikir panjang, langsung menyusul Dena ke rumah sakit.
" Bagaimana keadaan Adrian?", tanya Kak Radit ketika ia tiba.
Dena hanya menggeleng.
" Aku tidak tau kak, dokter sedang menangani nya".
__ADS_1
Mereka menunggu hampir 4 jam saat petugas memanggil Dena untuk menjelaskan kondisi Adrian saat itu.
Dena bertemu dokter yang tadi menangani Adrian.
"Maaf bu, kondisi korban terluka parah dengan tiga tulang rusuk sebelah kiri yang patah hingga patahan nya mengenai organ paru paru".
" Dan kedua kakinya juga hancur akibat terhimpit badan mobil"
" Jadi dengan sangat terpaksa kami harus mengamputasi kedua kaki korban malam ini juga", ucap Dokter tadi.
" Tuhan, apa lagi ini?", Dena terduduk pasrah menerima takdir yang di gariskan pada keluarga nya.
Radit masih tak bisa terima, berkali kali ia marah kepada dokter meminta dokter melakukan apa saja untuk kesembuhan adiknya tapi jangan sampai kedua kaki nya di amputasi.
Sementara Dena sudah tak tau lagi bagaimana terpukul nya perempuan itu.
" Sayang, kenapa kau yang harus mengalami semua ini?"
" Kenapa bukan aku saja", Dena memukul tangan nya sendiri karena kesal tak tau harus berbuat apa.
Terbayang wajah hangat suaminya, lalu ia menangis memikirkan laki laki yang selalu ada untuk nya itu sekarang di dalam sana sedang menahan sakit atau mungkin tak sadarkan diri.
" Dena, lebih baik kau pulang karena kita belum di izinkan bertemu Adrian. Kau istirahatlah di rumah, biar aku yang menunggu disini. Nanti jika Adrian sudah bisa kita jenguk, aku akan mengabarimu", ucap Kak Radit.
Dena menggeleng keras.
" Tidak, aku tidak mau pulang. Aku ingin tetap disini menunggu suamiku. Aku ingin jadi orang pertama yang datang saat ia membuka mata", Dena sudah reda dengan tangisan nya. Namun tatapan matanya tetap kosong.
" Kak Radit saja yang pulang, aku tidak apa apa menunggu disini".
Radit akhir nya tak berhasil membujuk Dena untuk pulang .
" Baiklah, aku pulang sekarang. Segera kabari aku kalau ada perkembangan tentang Adrian".
Dena mengangguk, dengan tatapan kosong nya ia tak melihat ke arah manapun.
Ia hanya duduk bersandar di kursi depan pintu UGD, berharap petugas segera memanggilnya untuk bertemu Adrian.
Sayang, selama ini kau selalu mencoba kuat.
Kau yang selalu berupaya menjadi obat
Kau yang selalu menyuapkan semangat
Walaupun luka yang tergores amat hebat
Sayang, saat ini aku ingin sekali berbagi cerita
Namun yang keluar bukan kata kata
Yang keluar hanya air mata
Lantas aku harus bagaimana?
...----------------...
Jangan kecewa ya kalau Thor bikin Adrian harus menderita😔
Akhirnya thor bs up 1 bab lg, sambil tranfusi.
__ADS_1
Terima kasih yg masih setia nunggu up nya🙏🙏