Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu

Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu
Destinasi kedua


__ADS_3

Hari ini adalah hari ketiga mereka berada di Gili Trawangan.


Dua hari kemarin di habiskan pasangan pengantin baru itu menikmati keindahan Gili Trawangan.


Sore itu, sunset membungkus Gili Trawangan. Turis turis berkumpul di pantai, menikmati senja. Anak anak kecil penduduk setempat berkejaran bermain air, sekalian mandi sore.


Pemilik Resor bersama pelayan lain menyiapkan bangku bangku di pantai. Malam ini mereka berencana untuk makan malam di pantai.


Adam mengajak istrinya menikmati sunset sore itu, mereka berjalan di sepanjang bibir pantai.


" Sunset di Gili Trawangan tak kalah dengan sunset di Kuta Bali", ucap Dena pelan terbawa tiupan angin sore.


Ia teringat kala honey moon nya dengan Adrian dulu, menikmati sunset di langit Bali.


" Kau rindu dengan Adrian?", tanya Adam sambil menatap wajah istrinya.


Dena mengangguk pelan, lalu menyeka matanya yang basah karena menangis.


" Jangan tahan rindumu, anggaplah Adrian turut hadir bersama kita menikmati sunset sore ini", ucap Adam sambil menggenggam erat jemari tangan istrinya.


Mereka sempurna mengitari Gili Trawangan, dari satu ujung ke ujung lainnya. Dena memaksa memutari nya sekali lagi, namun Adam menolaknya.


" Kita harus bersiap siap untuk makan malam, sayang".


Adam menghentikan langkah, ada bongkahan batu besar yang berserak. Mereka duduk di salah satunya.


Sunset di kejauhan dengan Gunung Agung menjadi latar belakang nya hampir menghilang. Matahari merah di kaki cakrawala siap ditelan lautan.


Senja yang terasa panjang sekali.


Malam harinya, mereka sudah berkumpul bersama para pengunjung Resor lain nya di bangku bangku pinggir pantai yang disiapkan pemilik resor tadi sore.


Pemilik Resor menghidangkan beberapa macam hidangan istimewa, meja meja dipenuhi cumi cumi bakar raksasa.


" Makan lah yang banyak kawan, nanti malam kau masih butuh tenaga kan", Rafael kembali berkelakar menepuk bahu Adam.


Tentu saja Dena merasa malu, wajahnya bersemu merah ketika yang lain nya tertawa lalu menatap ia dan Mas Adam.


Mas Adam lalu berbisik ke telinga istrinya.


" Nanti malam kau sudah siap lagi kan?", ucapnya pada Dena, karena hari kedua kemarin ia tak menyentuh istrinya karena istrinya masih merasakan sakit di sekujur tubuhnya.


Dena hanya mencubit kecil perut suaminya, lalu tersenyum malu malu.

__ADS_1


Makan malam di penuhi dengan perbincangan seru dan gelak tawa bahagia.


Maya nampak bersemangat menceritakan perjalanan ke Danau Segara Anak yang berada di Gunung Rinjani. Besok pagi pagi sekali mereka akan berangkat kesana, berkemah satu malam.


Makan malam telah usai, masing masing berpencar menikmati hembusan angin malam pantai membelai tubuh.


Adam mengajak Dena melangkah menuju hutan buatan yang ada di sekeliling Resor.


Malam beranjak naik, mungkin pukul 20.30, bulan semakin gompal. Ribuan formasi bintang terlihat mempesona. Angin pantai lembut menyentuh pundak, menelisik daun kuping.


Hutan buatan yang indah, luasnya setengah hektare, di tanami pohon pohon besar, seperti hutan di kaki Gunung Rinjani. Malam yang begitu indah.


Namun satu jam kemudian Mas Adam mengajak Dena untuk kembali ke Resor.


Langit redup, awan hitam menggumpal, menutup pesona ribuan bintang. Apalagi bulan, sabitnya sama sekali tak terlihat.


" Ayo kita kembali ke kamar sayang ", Adam menarik tangan Dena kemudian berlari lari kecil saat tetes tetes air langit mulai berjatuhan.


Tubuh mereka sedikit basah, lalu keduanya berganti pakaian. Dena malam itu sengaja mengenakan gaun tidur terbuka berwarna merah terang. Ia tahu malam ini suaminya akan menjamahnya setelah satu hari kemarin tak menyentuh nya.


Lagi lagi lelaki itu kembali tersihir oleh keindahan tubuh istrinya. Kulit putih mulus tanpa cacat, tubuh yang memiliki lekuk indah dengan perut rata dan payu*ara padat berisi itu kembali memunculkan hasrat kelakian nya.


Tak menunda lama bagi Mas Adam untuk melakukan serangan nya.


" Ampun sayang..... Kau luar biasa", Dena beberapa kali mengisyaratkan sudah menyerah dengan keliaran suaminya.


Benda keras dan berukuran sangat besar itu, sesak memenuhi liang sempitnya. Membuat ia merintih kesakitan.


" Aku ingin punya banyak anak dengan mu", ucap Mas Adam sambil melakukan gerakan memompa nya.


" Tentu sayang, aku juga ingin kau segera membuatku hamil", Dena masih mengalungkan kedua kaki nya di pinggang suaminya.


Mas Adam membalik tubuh istrinya hingga kini dengan posisi membelakangi nya, lekuk tubuh itu semakin terlihat indah dari belakang.


Ia semakin kencang memompa dan menekan sambil mere*as kedua bokong berisi milik istrinya. Dari cermin di hadapan tempat tidur ia bisa melihat mata perempuan itu kadang terpejam saking tak tahan dengan hentakan keras nya . Kedua bukit kenyal nya juga terlihat menggantung dan bergoncang akibat gerakan tubuh yang semakin tak terkendali.


Cukup lama mereka menikmati posisi itu, hingga Mas Adam menuntaskan permainan dengan memuntahkan cairan milik nya bersamaan dengan Dena yang juga mengeluarkan lendir kenikmatan milik nya.


" Aku yakin permainan kali ini akan membuat benihku tumbuh di rahim mu", bisik Mas Adam setelah ia mencabut milik nya lalu terkulai di sebelah istrinya.


Pagi sekali, ketiga pasangan suami istri itu sudah bersiap untuk berangkat ke Danau Segara Anak.


Helikopter berkapasitas delapan orang itu sesak di penuhi barang barang perlengkapan berkemah mereka.

__ADS_1


" Siap berangkat kawan kawan", Haris memberikan kode.


Yang lain mengangguk, Haris menekan tombol tombol, memegang kokoh kemudi. Helikopter mulai bergetar berjalan pelan di atas air. Lampu lampu di kabin Helikopter berkedip kedip.


Haris nampak berbincang dengan Maya yang duduk di sebelahnya, berbicara tentang peta peta. Helikopter menambah kecepatannya.


" Apa perlu manuver F-16, sayang?", Haris bertanya riang pada Maya.


" Jangan....", Adam dan Rafael berseru serempak.


Haris tertawa, hanya bergurau, lantas perlahan menarik tuas kemudi. Moncong helikopter terangkat naik dan sekejap take off melesat ke birunya langit.


Sekejap kemudian helikopter itu sudah melesat, merobek kabut di tubir cadas pantai.


Dena kembali dibuat kagum dengan pemandangan indah ini. Adam mengusap kepala istrinya, tertawa.


Dua menit berlalu, Haris mematikan lampu tanda sabuk pengaman.


Adam menatap pemandangan dari jendela.


" Lihat, itu Gili Trawangan, kecil sekali kan?", ucap Mas Adam.


Dena mengangguk, lalu Mas Adam menunjuk Gunung Agung di kejauhan, potongan banyak pulau yang menghampar, kota Mataram, dan Gunung Rinjani yang berdiri kokoh tujuan mereka.


" Aku akan membuat semuanya terasa berbeda disana", Adam menggenggam erat tangan istrinya.


Membayangkan hal romantis dan menggairahkan apa yang akan ia lakukan saat nanti di dalam tenda.


Dena kembali menutup wajahnya.


" Berhentilah memikirkan hal mesum, aku malu", ucap nya.


Suaminya hanya tertawa, berharap segera mendarat di Danau Segara Anak.


...----------------...


Maaf baru up lagi, hari Rabu jadwalnya bertemu jarum kupu kupu🙏


Jadi thor ngetik nya sambil cuci darah di Ruangan Hemodialisa.


Maaf lagi kalau yang vulgar vulgar kembali lewat, area 21+ 😁


Semangat baca ya🙏🥰

__ADS_1


__ADS_2