
Benar sekali kata pepatah yang mengatakan,
" Kau akan berbuat kebohongan lagi untuk menutupi kebohongan sebelum nya".
Dena berbaring di tempat tidur, memainkan rambut nya yang terurai di bantal. Ia berfikir keras rencana apa yang akan ia lakukan untuk membuat Adam percaya kalau ia benar benar punya kekasih.
Ia masih bingung dengan tujuan nya sendiri, lantas kalau ia berhasil membuat Adam percaya hal apa yang akan ia lakukan. Bagaimana jika Mas Adam lalu berhenti untuk terus memperhatikan nya .
" Hey.. bukankah itu yang ku mau??"
" Tidak.. tidak.. aku masih ingin melihat laki laki itu sampai kapanpun terus peduli padaku".
Niat nya yang hanya ingin menabur umpan malah membuat ia terjerat sendiri oleh kail nya . Sekarang ia harus mencari laki laki untuk dijadikan kekasih, tentu saja kekasih bohongan.
Ia mengingat ingat lelaki yang pernah ia kenal, nihil...
Ia bahkan tak punya teman laki laki.
Lama ia berfikir, kemudian ia merasa mendapat sebuah ilham.
" Bodoh nya aku, bukankah ada lelaki yang tepat untuk menjalankan rencana ku"
" Adrian.... ya Adrian dengan segala tingkah lakunya yang menunjukkan gelagat suka padaku pasti akan dengan mudah aku jadikan kekasih".
Dena berfikir lagi, " jahat nggak ya kalau aku hanya memanfaatkan Adrian?".
" Ahhh... bodoh lah yang penting jalani saja dulu, konsekuensi nya aku pikirin lagi nanti'.
" Baiklah, aku mulai dari sekarang".
Dena mengambil ponsel dan mengirimkan pesan kepada Adrian.
" Malam, Adrian kau sedang apa?".
Adrian saat itu sedang bersantai memainkan ponsel nya terkejut mendapat pesan dari Dena, karena selama ini belum pernah sekali pun Dena mengirim pesan terlebih dahulu.
Ia tak membalas pesan Dena, melainkan langsung menelepon nya. Adrian suka mendengar suara lembut perempuan itu.
" Halo.. malam Dena, lagi ngapain?"
" Tumben ngirim pesan malam malam begini".
" Ehh maaf, aku ganggu waktu santai mu ya?", tanya Dena.
" Nggak kok Den, aku juga lagi nggak ngapa ngapain".
" Aku cuma belum bisa tidur aja kok, makanya tadi chat duluan", Dena berdalih untuk menutupi gengsi nya .
" Ohh gitu Den, kamu udah makan malam?"
" Udah kok, kamu gimana?"
" Sama, aku juga udah makan".
" Ohh ya obat nya udah di minum belum, jangan sampai nanti kamu pingsan lagi Den", Adrian mencoba mengingatkan hal hal kecil kepada Dena.
Dena terpaksa harus bersikap manis dengan laki laki ini.
" Dena, besok kan hari minggu apa kau ada acara bersama keluarga?", tanya Adrian .
" Sepertinya nggak kemana mana, dirumah aja", Dena sudah tau arti dari pertanyaan Adrian, pasti ia akan mengajakku pergi bersamanya gumam Dena.
Benar saja, Adrian mengajak Dena besok untuk menemani nya jalan jalan di akhir pekan .
Dena mengiyakan ajakan Adrian, demi mempercepat rencana nya.
" Baiklah, besok aku jemput ke rumah ya".
" Ok, udah malam.. udahan ya, kita istirahat", Dena ingin mengakhiri percakapan.
" Baiklah Den, selamat malam .. mimpi indah ya"..
" Bye Dena".
" Bye Adrian".
Telepon di tutup.
__ADS_1
Dena kembali ragu untuk menjalankan rencana nya, apa seharusnya aku belajar menerima kehadiran Adrian?
" Adrian kan lelaki yang baik, dia juga tak kalah tampan dengan Mas Adam dan yang pasti dia lelaki lajang", Dena membayangkan wajah kedua laki laki tersebut dan berusaha membandingkan nya .
Tentu saja di mata Dena Mas Adam sedikit lebih unggul karena kehangatan dan kelembutan nya.
Kedua laki laki itu hampir memiliki postur tubuh yang sama, tinggi, dengan dada yang bidang, berhidung mancung, sama sama memiliki alis tebal, jambang tipis menghiasi wajah keduanya. Hanya saja Mas Adam memiliki kulit yang sedikit lebih putih di banding kan Adrian, bulu mata lentik dan sedikit rambut halus di dagu nya .
Dena memeluk guling nya, memainkan jari telunjuk membentuk lingkaran lingkaran di guling nya tersebut. Itu adalah kebiasaan yang selalu ia lakukan jika ia sedang bingung.
" Tidak ada salah nya kan kalau aku coba menjalani hubungan dengan laki laki?"
" Toh Mas Adam juga tak pantas aku tunggu".
" Menunggu ia menjadi duda sama saja seperti mendoakan ia menceraikan istrinya atau menyumpahi istrinya mati lebih cepat".
" Ahhh... jahat kan jadinya".
Tak sabar Dena menunggu esok hari, bukan karena ia ingin cepat cepat bertemu Adrian . Namun karena ia ingin menuntaskan rencana awal nya untuk lebih dekat dengan Adrian, syukur syukur kalau besok langsung pacaran, fikir Dena.
Jadi ia bisa dengan mudah meminta Adrian menemani nya saat cuci darah dan menunjukkan pada Mas Adam kalau ia sungguh sungguh punya kekasih.
Dena memaksakan dirinya untuk memejamkan mata, cara paling cepat untuk melalui waktu dengan mudah adalah tidur.
*** Minggu Pagi
Dena terlihat sudah rapi pagi itu, rambut indah panjang nya yang sedikit bergelombang ia biarkan terurai. Hasbi melihat kakak nya sudah siap siap untuk pergi berusaha menyelidik.
" Kak Dena mau kemana?
" Aku mau jalan hari ini dengan teman ku", ucap Dena.
" Teman? Puji?", karena sepengetahuan Hasbi kakak nya itu cuma punya satu teman.
" Bukan..."
" Kak Dena, jangan bilang kakak pergi dengan lelaki beristri itu", Hasbi tak sudi menyebutkan nama Adam.
" Jangan sok tau deh, aku mau pergi sama Adrian", jawab Dena cemberut.
" Adrian??" , Hasbi mencoba mengingat ingat laki laki yang pernah ia kenal di ruangan IGD waktu itu.
" Kak Dena jaga diri baik baik ya", Hasbi mengingatkan kakak nya. Ia tak ingin kakak nya yang polos sampai kenapa kenapa.
Mengingat apa yang sering ia lakukan dengan Laras saat sedang berdua, meski tidak sampai berhubungan intim namun ia sering membuat kekasih nya itu mabuk kepayang oleh kenakalan tangan dan bibir nya .
" Ahhh aku terlalu mengkhawatirkan Kak Dena, dia bahkan sudah berumur 27 tahun"
" Ia sudah dewasa", gumam Hasbi.
Sebuah mobil memasuki halaman rumah mereka, Adrian turun dari mobil nya kemudian berpamitan pada Hasbi dan kedua orang tua Dena untuk mengajak nya jalan jalan di akhir pekan.
Hal pertama yang Hasbi tangkap dari Adrian adalah ia pria yang sopan dan bertanggung jawab, Hasbi sedikit lega membiarkan kakak nya pergi berdua dengan laki laki.
" Kita mau kemana Adrian?", tanya Dena.
" Ke pantai mau Den?"
" Pantai XX yang terletak di kota kabupaten terkenal dengan pasir putih nya"
" Kau pasti menyukainya"
Dena mengangguk tanda setuju.
Tempat wisata andalan di provinsi mereka adalah pantai.. Entah berapa banyak pantai indah yang Dena sendiri belum pernah menjelajahi nya . Ia teringat pantai favorit Mas Adam yang pernah mereka kunjungi waktu itu.
" Mas Adam, kau sedang apa?"
" Pasti kau juga sibuk dengan agenda akhir pekan bersama keluarga kecil mu"
" Atau saat ini kau sedang menghabiskan waktu berduaan di ranjang kalian".
Dena cemburu membayangkan nya.
" Dena, kau terlihat cantik hari ini", Adrian memulai pembicaraan dengan sebuah pujian.
" Berarti kemarin kemarin aku terlihat jelek dong", Dena tertawa, akhir nya dia bisa juga bercanda dengan lelaki.
__ADS_1
" Ehh tidak tidak, maksudku biasanya kau juga cantik tapi hari ini terlihat lebih cantik, hehehe", Adrian tersenyum meralat kata katanya.
*** Pasir putih terbentang di sepanjang pantai, ombak bergulung kemudian terhempas di pesisir...
Adrian dan Dena duduk di bawah pohon rindang di tepi pantai sambil menikmati minuman dingin.
Dena melepas alas kaki nya, membiarkan pasir putih yang lembut melekat pada telapak kaki nya.
" Aku ingin merasakan hangat nya air laut itu", ucap Dena pada Adrian.
" Ayo, kalau kau mau kita bisa berjalan di pinggiran pantai", Adrian berdiri kemudian menarik tangan Dena untuk mengikutinya.
Mereka berdua menyusuri pinggiran pantai dengan bertelanjang kaki dan ujung celana yang di gulung.
Sesekali deburan air mengenai kaki mereka, Dena tampak senang memainkan jemari kaki nya yang terkena air laut.
Angin pantai membelai rambut nya, membuat beterbangan menerpa wajah Adrian.
Sungguh, jika mereka adalah sepasang kekasih sangat menyenangkan melihat suasana romantis itu .
Adrian menggenggam tangan Dena, mengajak nya berlari lari kecil di pinggiran pantai .
Dena tertawa bahagia merasa sedikit beban di pundak nya lepas, ia melupakan kalau ia perempuan dengan penyakit kronis .
Adrian membuat nya banyak tertawa hari ini, memercik kan sedikit air ke wajah Dena kemudian dibalas hal yang sama oleh Dena dan mereka berkejar kejaran di sepanjang pantai seperti sepasang anak kecil yang sedang bermain.
Puas bermain air dengan celana yang hampir separuh basah, mereka memutuskan untuk menepi dan kembali ke mobil saat matahari sudah semakin meninggi.
Adrian sudah duduk di belakang kemudi, ia belum menyalakan mesin kendaraan nya.
" Dena, kita makan dulu ya di Restoran XX disitu makanan nya juara enak nya"
" Aku lapar, kau juga pasti lapar kan?"
Dena mengangguk.
" Kau tidak lupa membawa obat obatan mu kan?", Adrian bertanya lagi.
" Ya Tuhan, dia laki laki yang baik.. apa pantas aku mempermainkan nya hanya demi tujuan pribadi ku", batin Dena.
" Ya , aku bawa"..
" Dena .. eemmm kau tidak berfikir untuk mencari pasangan hidup?", Adrian langsung pada tujuan nya.
Dena merasa pertanyaan Adrian adalah awalan tepat untuk meneruskan niat nya.
" Kalau ada lelaki baik yang mau menerima ku apa ada nya, terima dengan penyakit yang aku derita, aku akan menerimanya", Dena tak berfikir kalau ia sedang bermain main dengan ucapan nya.
" Bagaimana kalau aku ingin melengkapi hidupmu dengan segala kekurangan dan kelebihan mu?", Adrian menggenggam tangan Dena .
Dena tak menyangka Adrian secepat ini menyatakan rasa cintanya .
" Baiklah, kita jalani saja dulu seperti apa adanya", jawaban Dena mewakilkan bahwa mereka cukup menjalani hubungan seperti air yang mengalir tanpa perlu sebuah ikrar dan menyatakan kalau mereka berpacaran .
" Terima kasih sudah memberiku kesempatan".
" Aku tidak akan membuatmu menangis".
Dena terkesima dengan ucapan Adrian, untuk pertama kali nya ia memantaskan sebuah hubungan yang disebut orang sebagai sepasang kekasih . Meskipun ia tak tau akan membawa kemana hubungan ini, hanya bermain main dengan perasaan Adrian atau belajar mencintai lelaki ini dan melupakan Mas Adam.
Mereka kemudian menuju Restoran untuk makan siang. Adrian memang lelaki yang sopan, tak ada adegan panas yang terjadi di dalam mobil layak nya sepasang insan yang sedang di mabuk cinta .
Ia hanya berani menggenggam tangan Dena,tidak lebih. Sepertinya hal yang ditakutkan Hasbi tidak terjadi pada kakak nya.
Adrian dan Dena meski sudah cukup dewasa mampu menahan hasrat nya. Tidak seperti Hasbi dan Laras yang setiap pertemuan mereka selalu dibumbui dengan adegan ciuman dan cumbuan gila.
Esok di tempat kerja nampak nya Puji akan berteriak histeris jika mendengar Dena dan Adrian resmi pacaran.
...****************...
Huhu.. Adrian lelaki yang baik ya.
Apa author tega membuat Adrian dikecewakan oleh Dena?
Tapi Adam juga sangat mencintai Dena, hanya saja ia terhalang status nya yang beristri .
Dena dan Adam sama sama plin plan sih ya jadi semakin rumit!!!
__ADS_1
Simak terus ya update episode berikut nya🥰🥰, besok saat cuci darah author punya waktu 4 jam untuk lanjutin cerita nya..