
Adam mematung melihat perempuan yang hampir satu tahun sudah tak ada kabarnya.
Ia mendekat, duduk di sebelah tubuh yang terbaring tanpa reaksi itu.
" Dena, kenapa kau bodoh? kenapa kau mempertaruhkan nyawa mu?", Adam mengusap lembut kepala Dena.
Masih tak ada reaksi apapun.
" Dena, ini aku. Aku datang, kau tau aku kesini membawa kupu kupu mu?".
Sementara itu, di alam bawah sadar Dena.
Dena terus berjalan.
" Mas Adam, apa itu kau?"
Udara terasa semakin dingin, ia sudah lelah berjalan namun tetap tak ada tanda tanda ada orang yang mau menolong nya.
Ia lemah, terjatuh dan tersungkur. Sesak menghimpit dada nya, udara yang ia hirup terasa tercekat di kerongkongan.
" Tolong..... tolong aku", patah patah ia mengucapkan kalimat itu.
Dena merasa ini sudah berakhir, wajah suaminya yang terakhir ada di ingatan nya.
" Sayang, tolong aku", lemah ia berkata.
Ia masih mencoba menyeret tubuhnya yang sudah terbaring dalam kegelapan, namun tak ada tenaga. Kaki nya terasa berat untuk di gerak kan.
" Mas Adam, tolong aku", ia kembali berkata setelah merasa tak ada jawaban dari Adrian.
Masih sama hening nya, kemudian sesuatu seperti menjalar di dalam tubuh nya. Rasa dingin dari kaki perlahan naik ke atas tubuhnya, ia tak bisa merasakan apa apa lagi kecuali beku.
Leher nya tercekat, ia gelagapan tak bisa bernafas.
****
Di Ruang ICU, Adam masih memegang tangan Dena tetap membisikkan kalimat kalimat untuk menyadarkan Dena.
Alarm di layar monitor berbunyi, grafis kinerja jantung dan kadar oksigen nya melemah.
Adam hafal sekali dengan fungsi fungsi peralatan ini.
Perawat yang berjaga di Ruangan itu berlari menghampiri setelah mendengar suara alarm.
Adam mundur beberapa langkah membiarkan perawat tersebut menjalankan tugas nya, meski sebenarnya Adam sendiri tau apa yang harus di lakukan.
Defibrilator atau alat kejut jantung dipasang di dada Dena, alat itu bekerja dengan mengirimkan kejutan listrik ke jantung agar jantung bisa bekerja kembali dengan normal.
Tubuh Dena mengalami kejang beberapa detik.
Adam meremas jarinya, takut melihat apa yang terjadi di hadapan nya.
Ia melihat di layar monitor, garis garis yang menampilkan detak jantung Dena terlihat semakin menurun. Ia bisa membaca kadar saturasi oksigen di tubuh Dena hanya tersisa 30 persen.
Adam menitikkan air mata, terus berdoa.
Perawat itu berlari ke arah meja telepon, nampak mengabarkan situasi darurat itu dan memanggil dokter untuk menangani pasien yang terlihat sekarat jika melihat grafis kinerja organ organ vital di layar monitor.
Adam memberanikan diri mendekat, ia menggenggam tangan Dena. Meletakkan bros kupu kupu itu di genggaman tangan perempuan itu.
__ADS_1
Ia tak tahu apalagi yang harus dilakukan.
" Dena, kau harus kuat. Kau akan baik baik saja, aku disini untuk memastikan itu".
" Bertahan lah, aku ingin kau punya semangat untuk melawan semua rasa sakit ini".
Adam terus menggenggam tangan itu.
" Aku sekarang memegang tangan mu, bangun lah Dena".
Jauh di alam bawah sadar sana.
Dena jerih memegang dada nya, di saat ia memegang dadanya ia meraba seperti ada sesuatu menempel di bajunya.
Ia merabanya
" Bros kupu kupu ku?", Dena mengelus benda itu.
Ia tak bisa merasakan apa apa lagi,ketika sebuah tangan meraih tangan nya dan berkata.
" Dena, aku sekarang memegang tangan mu, bangunlah".
Dena hafal sekali suara itu.
" Mas Adam, tolong aku".
Tangan itu membantu Dena untuk berdiri, Dena terus memegang bros kupu kupu yang menempel di bajunya.
" Aku sudah memegangmu, ayo ikuti aku berjalan", suara itu kembali menuntun Dena.
Dena tak bisa melihat dalam kegelapan, namun yang ia tau itu adalah suara Mas Adam.
Ia berjalan dengan satu tangan di genggam lelaki itu dan tangan satu nya masih memegang bros kupu kupu di dada nya.
" Ayo Dena, terus lah berjalan. Ikuti langkahku, kau akan baik baik saja. Aku janji tak akan pernah membiarkan mu sendirian", suara itu masih terus berucap.
Di ujung sana, Dena melihat setitik sinar yang lama kelamaan semakin membesar. Ia seperti mendapat pencahayaan untuk melihat sekitarnya.
Di ruangan ICU,
Adam gelisah menunggu dokter belum juga datang. Ia terkejut saat melihat grafis layar monitor di sebelah nya, garis garis yang menggambarkan detak jantung Dena mulai naik.
Nafas nya sedikit teratur dan hampir stabil, angka saturasi oksigen pun meningkat di angka 90 persen
Itu menandakan kabar baik, Dena berhasil melewati masa kritis nya . Sebuah mukjizat yang terjadi saat itu.
" Dena, kau dengar aku", Adam menepuk lembut pipi perempuan itu.
Jari jari nya bergerak pelan, membuat bros kupu kupu yang tadi di letakkan Adam di genggaman nya terjatuh.
" Hey, Dena kau sadar?", Adam terus berbisik.
Perlahan mata yang tadi terpejam itu mengedipkan matanya, membuka perlahan.
Matanya silau oleh cahaya lampu di atas sana, matanya sempurna terbuka meski masih samar apa yang ia lihat.
Dena seperti melihat bayang Mas Adam di sisinya.
" Tidak, itu bukan Mas Adam. Itu pasti Adrian", ucap Dena dalam hati karena ia masih belum mampu menggerakkan mulut nya.
__ADS_1
Dalam waktu bersamaan, perawat dan dokter datang.
Adam kembali mundur memberi jarak, namun tatapan Dena masih mengikuti kemana arah Mas Adam. Tatapan itu kosong, kemudian terpejam lagi.
" Pasien sadar dok, organ organ vital nya juga berfungsi baik", perawat mengatakan apa yang ia lihat di layar monitor.
Dokter memeriksa keadaan Dena, kemudian kembali mengarahkan senter kecil dan mengarahkan ke mata Dena yang ia buka kelopak nya.
Mata itu mengerjap, menunjukan ia bereaksi atas rangsangan cahaya.
Dokter mencubit kecil di punggung tangan nya, tangan itu bergerak meskipun hanya ujung jari jari nya.
" Pasien sudah sadar, mungkin sekarang ia masih butuh tenaga untuk bangun dari tidur panjang nya", ucap Dokter.
" Katakan pada keluarga nya untuk terus mengajaknya berbicara".
Dokter pun keluar dari Ruangan.
Adam rasa tugas nya sudah selesai disitu, meskipun perempuan itu masih saja terpejam.
" Dena, aku pulang. Aku sudah selesai memastikan kau baik baik saja", Adam membisikkan kalimat itu sebelum ia meninggalkan ruangan.
Adam ingin sebenarnya mengecup kening itu, memberi salam perpisahan karena setelah ini entah kapan lagi ia punya kesempatan bertemu. Namun ia sadar diri, ia sudah tak pantas melakukan nya.
Dena membuka sedikit matanya, ia bisa melihat bayangan tubuh Mas Adam berjalan keluar Ruangan.
Adam menghampiri Laras, menceritakan situasi darurat medis yang tadi terjadi.
" Tapi semua itu berhasil Dena lalui, ia sempat sadar tadi", ucap Mas Adam pada Laras.
" Mungkin bros kupu kupu itu yang membangunkan nya".
" Aku masih meletakkan bros itu di sisi tangan nya".
" Terima kasih Mas Adam untuk segala yang Mas Adam lakukan, aku masuk ke dalam ya. Aku ingin menemui Kak Dena dan mengabarkan pada Adrian kalau istrinya sudah sadar", ucap Laras.
" Baiklah Ras, aku pulang sekarang ya. Jangan sampai Adrian tahu aku disini" .
" Kalau Dena sudah benar benar bangun, biarlah Adrian yang ia lihat. Kabari Adrian secepatnya", Mas Adam kemudian berpamitan pada Laras.
" Sekali lagi terima kasih, suatu saat aku pasti menceritakan ini pada Kak Dena".
" Aku pulang ya Ras, kabari aku kalau kau butuh bantuan ku".
Laras mengangguk kemudian masuk ke Ruangan ICU, sementara Mas Adam pulang meninggalkan jiwa nya yang masih ingin duduk berada di samping Dena.
...----------------...
Mukjizat atau keajaiban itu sungguh ada ya, tidak hanya di dunia novel tapi juga di dunia nyata.
Karena author sudah pernah mengalami itu semua.
Di novel ini sebenarnya gak cuma menceritakan tentang kisah cinta, author berusaha memberikan informasi yang author tau.
Mungkin bisa sedikit bersifat edukasi ya.
Terima kasih yang masih setia membaca hingga episode ini.
Yang masih mendukung lewat like, komen, lima bintang atau hadiah dan vote nya author ucapkan banyak terima kasih🙏
__ADS_1
Next masih panjang sepertinya lika liku kehidupan Dena, ikuti terus ya Up nya🥰🥰