
Hasbi baru pulang dari kantor ketika hari sudah mulai gelap.
Ia disambut manja oleh perempuan yang sekarang sudah menjadi istrinya.
Dua minggu sudah pasca menikah, Laras masih saja setiap pagi mengalami morning sick nya.
Pagi, ya hanya pagi hari. Karena jika malam ia justru sangat bersemangat menggoda suaminya dengan lingerie terbuka.
" Kau mau mandi air hangat sayang?", ia menyambut suaminya yang terlihat lelah dengan pekerjaan nya .
Hasbi mengangguk mencium kening istrinya.
Setelah mandi ia hanya berbaring di kamar, melepas lelah setelah seharian meeting dengan beberapa klien.
" Kau mau aku pijit?", tangan Laras sudah mulai memijit lembut bahu suaminya.
" Iya, tapi pastikan tanganmu tidak berpetualang kemana mana", Hasbi tau istrinya itu selalu nakal jika menyentuh bagian tubuhnya.
Laras terkekeh mendengar ucapan suaminya.
" Aku kan milikmu, dan kau juga milik ku".
" Jadi aku bebas dengan ini, ini dan ini", telunjuknya menunjuk beberapa bagian tubuh Hasbi.
" Hhmmm...dasar kau", Hasbi memeluk istrinya yang manja itu.
" Sayang, kau harus tau kalau mulai hari ini Mas Adam sudah tidak bekerja lagi di Ruangan Hemodialisa", Laras menceritakan juga hal itu kepada suaminya.
Semua ia ceritakan termasuk tadi sore ia melihat bagaimana ekspresi wajah Dena ketika mendengar hal itu.
" Hah.. kau gila, kenapa kau ceritakan itu kepada Kak Dena?", Hasbi terlihat gusar kepada istrinya .
" Memang nya ada yang salah?", Laras berkata dengan polosnya .
" Hey ...tentu saja salah, aku tak mau Kak Dena jadi memikirkan Mas Adam lagi".
" Kau tau kan ia sudah berencana menikah dengan Adrian, dan aku tak ingin Kak Dena kembali ragu karena kau masih saja membahas lelaki itu di depan nya".
" Iya maaf maaf, aku kan tidak bermaksud apa apa sayang".
" Mas Adam orang yang baik, bagaimana pun juga ia banyak membantu menyemangati Kak Dena", ucap Laras membela diri.
" Ahh.. aku tak mengerti dengan jalan pikiranmu, sebenarnya kau mendukung hubungan Kak Dena dengan Adrian atau dengan Mas Adam sih?", Hasbi semakin dibuat kesal oleh Laras.
" Aku tidak mendukung siapa siapa, bagiku Kak Dena perempuan yang sudah cukup dewasa".
" Biarlah ia memutuskan dengan siapa ia merasa nyaman".
" Lagipula kan Mas Adam sekarang statusnya bukan suami orang lagi", Laras mengeluarkan argumen yang kian membuat Hasbi ingin sekali membungkam mulutnya.
" Tidak, aku hanya akan percaya pada Adrian untuk mendampingi Kak Dena".
" Sudahlah, jangan kau sebut lagi nama lelaki itu di hadapanku".
" Hey... kau kenapa?".
__ADS_1
" Mas Adam tidak mempunyai salah kepadamu kan? kenapa kau membencinya, ia orang baik.
Laras sepertinya tak terima suaminya terus menyudutkan Mas Adam seolah ia lelaki jahat.
Hasbi hanya diam, ia berpikir benar juga apa yang dikatakan Laras. Lelaki itu tak punya salah apa apa, dia justru banyak membantu kak Dena, menjadi seseorang yang membuat kakaknya itu kembali bersemangat menjalani hidupnya yang pernah ia rasa sudah hancur.
Laras cemberut kemudian berbaring membelakangi suaminya.
" Karena kau membuat kesalahan hari ini, aku akan menghukum mu", ucap Hasbi.
Laras membalikkan tubuhnya mendengar perkataan Hasbi .
" Hah..hukuman? hanya karena aku bercerita kepada Kak Dena tentang hal itu kau bilang itu kesalahan?", Laras semakin menggerutu dan bibir nya mengumpat dengan kata kata tak jelas .
" Ia aku akan menghukum mu".
" Kau yakin tidak mau di hukum?", tanya Hasbi sambil menggelitik perut istrinya .
" Yakin.. siapa juga yang suka dihukum?", Laras semakin cemberut .
" Tapi hukuman ku kali ini akan membuatmu senang, bagaimana?"
" Mau terima tidak?", Hasbi bertanya sekali lagi.
" Memang nya hukuman seperti apa itu?".
" Aku akan menghukum mu semalaman di atas kasur, hahaha", Hasbi terkekeh melihat ekspresi Laras yang tersenyum manggut manggut.
Akhirnya malam itu Laras menjalani hukuman yang benar benar ia sukai itu.
Dan nampaknya hukuman itu akan berlangsung semalaman. Membuat suara suara berisik yang terdengar hingga kamar Dena.
Kamar Dena
Perempuan di kamar itu masih belum bisa memejamkan mata, selain karena suara berisik dari kamar adik nya yang terdengar hingga kamarnya, ia juga masih memikirkan percakapan tadi sore di telepon dengan lelaki itu.
Meski kadang konsentrasi nya buyar karena suara Laras yang masih saja mendesah keras.
" Huhh.. dasar pengantin baru".
" Mereka pikir rumah ini hotel kah yang bisa kedap suara meski berteriak kencang".
Ia berharap saat sudah menikah nanti, ia tidak akan berisik di malam hari karena aktifitas malam yang menggairahkan itu.
Ia kembali memikirkan rencana nya besok, rencana yang tadi sore dibuat saat menelepon Mas Adam.
Tadi sore ketika panggilan telepon terhubung, lelaki itu masih dengan suara hangat nya menyambut Dena.
" Hallo, selamat sore".
Kemudian hening, diam tak ada suara yang memulai pembicaraan.
Akhirnya Dena menjawab salam dari lelaki itu .
" Selamat sore Mas", Dena tampak kaku karena sudah lama sekali mereka tidak berkomunikasi di telepon.
__ADS_1
" Ada apa Dena, kenapa tiba tiba kau meneleponku?".
" Jelaskan padaku Mas, apa yang dibicarakan Laras tentang pengunduran dirimu benar benar hal yang kau inginkan?".
" Untuk apa lagi kau tau Den, bukankah kau sudah tak lagi menjalani hemodialisa disitu?".
Dena diam, harusnya ia tak perlu tau lagi hal apapun yang terjadi disitu. Karena ia sendiri yang memutuskan untuk pindah dari rumah sakit itu .
" Aku berhak tau, jika alasan mu melepas profesi yang kau cintai itu karena kau membenciku".
" Kau boleh benci denganku, tapi tolong jangan kau membenci segala yang berhubungan dengan hemodialisa, jangan pernah kau membenci jarum kupu kupu itu", Dena jerih menahan dada nya yang berdegup kencang.
" Kau salah, aku sama sekali tidak membencimu".
" Aku justru masih sangat mencintaimu, hingga aku memutuskan tak ingin lagi memegang jarum kupu kupu itu dan menusukkan nya ke tubuh yang lain".
" Itu hanya akan mengingatkan ku pada mu", Adam berkata pilu dan Dena bisa membayangkan bagaimana kesedihan di wajahnya saat itu.
" Mas Adam, aku ingin bertemu dengan mu besok", ucap Dena.
" Untuk apa? kau datang hanya untuk singgah kan, bukan untuk menetap di hatiku?, suara itu terdengar lirih.
Dena diam.
" Aku ingin bertemu denganmu, ingin membuat mu kembali yakin untuk tetap meneruskan pekerjaan mulia mu itu Mas".
" Sudah terlambat Dena... aku benar benar sudah melepaskan semuanya".
" Besok sepulang aku cuci darah, aku tunggu kedatangan Mas Adam di cafe XX".
" Terserah Mas Adam mau datang atau tidak, aku akan datang kesitu dan menunggu".
Tanpa mendengar jawaban dari Mas Adam, Dena langsung menutup telepon nya .
Dan malam ini ia justru dibuat resah oleh rencana nya itu .
" Adrian maafkan aku, aku hanya ingin bertemu dengan lelaki itu sekali lagi sebelum kita menikah".
" Aku tidak mengkhianatimu, aku hanya bertemu sebagai seorang pasien yang banyak berhutang budi kepada seorang perawat".
Dena baru bisa memejamkan mata ketika waktu menunjukkan pukul 00.30 dan saat itu suara di kamar adiknya masih saja terdengar.
" Huh... dasar tidak tau waktu".
" Apa mereka tidak akan tidur sampai pagi?".
...----------------...
Dena... kau datang kembali hanya ingin mengaduk aduk perasaan Mas Adam saja.
Kasian kan Mas Adam☹️.
Besok apa Mas Adam akan datang ya menemui Dena di cafe?
Ikuti terus kisah nya ya di episode berikutnya🥰🥰🙏.
__ADS_1
Like n vote nya jangan lupa..