Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu

Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu
Janji di Pantai Kenangan


__ADS_3

Perempuan adalah makhluk yang tersusun dari molekul molekul yang rumit. Mulut nya berkata tak ingin, tapi hatinya berkata ingin . Maka dari itu, harus ada yang menyederhanakannya. Siapakah itu? Laki laki yang sabar.


Betapa tidak, kemarin satu hari penuh Dena menghabiskan waktu hanya untuk menangis dan ingin membenci lelaki itu. Tapi lihatlah, siang ini dia sudah berada dalam mobil yang melaju pelan yang dikendarai Mas Adam.


Dena meninggalkan mobil nya di Rumah sakit, Mas Adam akan mengantarkan nya kembali nanti ke rumah sakit sepulang ia membawa Dena ke tempat favorit nya. Dena mengirimkan pesan singkat kepada Ibu dan Hasbi, agar tak khawatir menunggu ia pulang sedikit terlambat. Dena mengatakan ia makan siang bersama pasien pasien lain nya sepulang cuci darah.


" Kita mau kemana Mas", tanya Dena masih bingung kemana laki laki itu akan membawanya.


" Ke tempat yang bikin wajahmu tidak kusut lagi hehehe", Mas Adam menggoda Dena.


Dena menimpuk pelan lengan Mas Adam, kemudian wajahnya bersemu merah mengingat tingkah nya tadi pagi yang acuh kepada lelaki itu.


Mereka hampir sampai di tempat yang akan dituju oleh Mas Adam.


" Hhmmm, rupanya pantai ini tempat favoritmu", gumam Dena dalam hati.


Pantai yang terletak tak jauh dari kota, memang menjadi tujuan masyarakat sekitar untuk berwisata sekedar menikmati es kelapa muda.


Mas Adam mengajak Dena turun dari mobil, menuntun langkah Dena untuk duduk di bangku pinggiran pantai di bawah pepohonan.


" Kau mau makan disitu?", tanya Mas Adam menunjuk Restoran seafood yang terletak tak jauh dari tempat mereka duduk.


Dena menggelengkan kepala " Aku tidak lapar, tadi aku sudah makan bekal yang di siapkan Ibu".


" Hhmm.. baiklah kalau begitu aku pesankan kau teh manis ya, aku pesan es kelapa muda"


" Tapi kau jangan coba coba minum air kelapa", tegas Mas Adam mengingat betapa bahaya nya bagi pasien gagal ginjal jika meminum air kelapa muda yang tinggi kalium. Meskipun ada beberapa pasien dengan kondisi hipokalium masih aman mengkonsumsi kelapa muda .


Dena menuruti apapun yang Mas Adam katakan, setiap kata yang keluar dari mulut laki laki ini terasa seperti sebuah titah Raja yang harus di patuhi .


" Baiklah,aku sudah berjanji padamu untuk menjadi pendengar yang baik bagimu. sekarang ayo ceritakan masalah apa yang sedang kau hadapi", Mas Adam mulai membuka pembicaraan .


Dena menatap lelaki yang kini duduk di samping nya itu, hati nya berteriak bertanya kepada Tuhan apa yang harus ia lakukan. Ia tak ingin jujur atas perasaan nya,karena seegois apapun dirinya ia belum siap lelaki ini tau perasaan nya dan kemudian mulai menjauh demi menjaga sebuah hati.


" Apa kamu ada masalah dengan keluargamu?", Mas Adam bertanya lagi karena menunggu Dena yang tak kunjung mengeluarkan sepatah kata pun.


"Tidak, keluarga ku baik baik saja"


" Lantas, apa ada masalah dengan kesehatan mu?"


" Tidak juga, meskipun aku merasakan sakit dengan tubuhku aku sudah terbiasa dengan segala rasa sakit itu", Dena menjawab dengan nada bergetar seakan mengatakan lihatlah betapa kuat nya aku sejauh ini.


" Lalu apa yang membuatmu tadi pagi bersikap aneh padaku, bukankah sudah kukatakan aku sudah menganggap mu seperti adik ku sendiri jadi jangan sembunyikan apapun dariku", Mas Adam menatap mata Dena.


" Ahhh...lagi lagi tatapan mu membuat aku menjadi jelata"


" Dan untuk kesekian kalinya kau masih saja mengatakan menganggap ku seperti adik mu", Dena terus protes mendengar itu di dalam hatinya.


Lama Dena terdiam, kemudian akhirnya ia memutuskan untuk bersuara.


" Mas Adam percayakah kalau aku katakan di usia ku saat ini aku baru pertama kali merasakan jatuh cinta?"


Mas Adam tersenyum, mengacak rambut Dena dan berkata


" Percaya, dan itu bukan suatu hal yang tak mungkin karena aku yakin kau perempuan yang begitu hati hati menjatuhkan pilihan".

__ADS_1


Dena kembali melanjutkan ceritanya


" Saat aku di vonis gagal ginjal, aku merasa aku tak punya alasan lagi untuk hidup".


" Tapi kehadiran seorang laki laki dalam hidupku membuatku menemukan sedikit harapan dan semangat untuk sehat"


" Aku jatuh hati pada laki laki itu, tapi aku tidak berani mengatakan pada nya", Dena akhirnya bisa mengatakan sedikit tentang yang ia rasakan pada lelaki ini meskipun masih ia sembunyikan siapa lelaki yang ia maksud.


" Kenapa tak kau ungkapkan, bukankah emansipasi wanita masih berlaku saat ini.. hehehe", Mas Adam menanggapi dengan lelucon nya.


" Karena aku pecundang", jawab Dena singkat. Kemudian ia terdiam lagi mencari kalimat apa yang tepat untuk melanjutkan kata katanya.


" Lagipula apa ada laki laki yang mau menerima perempuan sakit seperti aku, rasanya aku cukup tau diri", Dena menjawab dengan nada bergetar setengah menangis.


" Hey... kenapa berkata seperti itu?"


" Kau perempuan cantik, perempuan hebat dan kau pantas untuk memperjuangkan cintamu", Mas Adam menyemangati Dena, satu tangan nya lagi memainkan rambut halus Dena dan menyelipkan ke kuping nya.


Dena benci dengan perlakuan nya yang seperti ini, meskipun ada sebagian dalam hati nya sangat mendambakan sentuhan fisik lelaki ini.


Lihatlah betapa Dena seperti diberi harapan oleh lelaki ini. " Bisakah kau membuat terang semuanya, diam yang berarti isyarat atau benci yang merupakan syarat", Dena memaki lelaki ini dengan rasa cinta nya. "Kau bahkan terus menyusup ke dalam hati ku dengan semua perlakuan mu".


" Apa menurut Mas Adam aku pantas memperjuangkan lelaki beristri?, Dena bertanya tanpa berani menatap mata lelaki itu .


Mas Adam terdiam, sejenak mencari kalimat apa yang harus ia berikan kepada Dena. Ia menghela nafas panjang,


" Jika lelaki itu juga menaruh perasaan padamu, kenapa tidak? kau wajib memperjuangkan nya"


" Tapi jika lelaki itu tak membalas perasaanmu, lebih baik kau mundur teratur".


" Bukankan dalam agama kita menghalalkan yang nama nya poligami", ucap Mas Adam singkat.


Diam lagi, kini mereka berdua terdiam seperti masing masing kehilangan kata kata. Hening, hanya suara deburan ombak yang memecah di bibir pantai. Segelas teh manis dan kelapa muda sudah terhidang di hadapan mereka. Tapi keduanya masih tak menyentuh nya sama sekali.


" Bagaimana kalau hal itu terjadi pada Mas Adam?", akhirnya Dena berkata memecah keheningan di antara mereka.


Lelaki itu tidak buru buru menjawab, dia terbayang wajah Lisa dan Juna putra semata wayang nya. Ia tau betapa Ibu dari anak nya itu adalah seorang perempuan yang sabar, yang rela meninggalkan karir nya demi merawat sendiri buah hati mereka. Tak adil rasanya jika ia membalas pengabdian perempuan itu dengan sebuah pengkhianatan.


" Tidak ada yang tau hati manusia Den, karena Tuhan bisa kapan saja membolak balik kan nya"


" Meski saat ini aku berkata tidak akan berpoligami, tapi aku tak pernah tau bagaimana hati ku nantinya"


" Bisa saja Tuhan menitipkan ku satu hati lagi untuk kucintai", lagi lagi Mas Adam selalu dengan wajah tenang menjawab semua pertanyaan Dena, membuat Dena semakin tak berdaya dengan sikap yang ia punya.


" Jika benar adanya cinta, tidak mungkin ada dua nama di hati yang sama", Dena mencoba mematahkan apa yang Mas Adam ucapkan barusan .


" Sudahlah, ayo minum teh manis mu.kita sudah banyak mengeluarkan suara nanti tenggorokan mu kering, hehehe" , Adam melemparkan lelucon untuk mengalihkan pembicaraan karena ia tak tau harus menjawab apa .


Dena mengaduk aduk gelas minuman yang sudah hampir habis isinya, Mas Adam tampak membalas pesan di ponsel nya .


" Istri Mas Adam ya", Dena bertanya tetapi hatinya menahan rasa cemburu.


Mas Adam mengangguk mengiyakan.


" Apa ia tau kalau Mas Adam sedang pergi dengan ku?" tanya Dena lagi .

__ADS_1


" Tentu saja tau", Mas Adam terkekeh menjawab pertanyaan Dena.


" Hey..bagaimana bisa kau memberi tau istrimu kalau kau sedang bersama perempuan lain", Dena terbelalak .


" Tenang saja, istriku tau kalau aku sudah menganggap mu seperti adik ku", Mas Adam mencoba meluruskan.


Dena cemberut, lagi lagi dia harus menerima sebagai apa dirinya dianggap oleh laki laki itu.


" Mas Adam, kau bilang tempat ini juga salah satu tempat favoritmu"


" Katakan padaku, apa disini juga tempat kenangan kau bersama seseorang yang pernah kau sebut mantan kekasih mu,yang ternyata adalah istrimu?", Dena penasaran dengan alasan Mas Adam membawa nya kesini.


Ia sudah menyiapkan telinga untuk jawaban yang bisa saja membuat nya terbakar api cemburu.


" Kau mau tau, kenapa aku melakukan semua ini kepada mu?" lelaki itu mendekatkan wajah nya ke telinga Dena .


Sepersekian detik Dena merasakan syaraf syaraf nya seperti hendak terlepas karena menahan hasrat dalam kepada laki laki ini.


Dena mengangguk, menatap lembut wajah hangat di samping nya. Dena berharap sesuatu yang akan di kisah kan lelaki ini adalah satu petunjuk arah yang akan menuntun kemana ia harus melangkah.


" Tiga tahun lalu aku kehilangan adik perempuan ku satu satunya", Mas Adam mulai membuka kisah.


" Aku turut prihatin untuk hal itu", ucap Dena menyatakan bela sungkawanya


Mas Adam kembali meneruskan cerita nya,


" Tempat ini, pantai ini selalu jadi tempat yang rutin ia kunjungi jika hati nya sedang tidak baik baik saja"


Ia seumuran dengan mu, ia cantik dan seorang gadis yang periang"


" Namun ia di vonis radang selaput otak satu tahun sebelum kepergian nya"


Tapi yang membuat aku masih belum merelakan kepergiannya adalah karena ia bukan meninggal karena penyakit nya, tapi ia memilih mengakhiri hidup nya dengan menenggak racun karena keputusasaan dan kekecewaan yang mendalam terhadap laki laki yang ia cintai", Mas Adam mengusap hidung nya yang merah, terlihat ia menahan kesedihan saat menceritakan itu.


Dena hanya diam,mencoba menelisik dan masuk ke dalam perasaan laki laki ini. Hingga ia mengerti mengapa selama ini laki laki ini selalu memperhatikan nya,melindungi nya.


" Saat pertama melihatmu masuk ke dalam ruangan hemodialisa, aku langsung teringat dengan almarhumah adik ku."


" Dan saat itulah aku berjanji dalam hatiku, akan selalu memastikan kau baik baik saja".


" Aku tak ingin kau kehilangan harapan, putus asa dengan segala ujian yang kau hadapi", suara Mas Adam terdengar semakin berat .


Dena merasa tersentuh dengan apa yang laki laki ini katakan, ia sungguh lelaki yang baik.


Tuhan, apa aku harus menganggap laki laki ini hanya sebagai kakak laki laki ku? Sementara tunas tunas perasaanku tumbuh kian subur,tak bisa lagi ku pangkas meski kini aku sudah tau ia lelaki beristri.


" Dena, berjanjilah padaku kau tidak akan pernah kehilangan semangat"


" Berjanjilah kau tidak akan pernah melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan Tania adik ku dahulu", Mas Adam mengangkat satu kelingking nya dan meminta Dena melakukan hal yang sama sebagai bentuk janji yang harus perempuan itu penuhi.


Mata Dena berkaca kaca, mengangguk dan mengukir janji di dalam hati demi laki laki ini ia akan terus bersemangat menjalani hari hari sampai Tuhan berkata " kembalilah, kau sudah tak layak lagi di bumi".


" Kita sudah lama disini, ayo kita pulang...Istri dan anak ku pasti menungguku"..


Dena tak mampu untuk cemburu, tak mampu pula rasanya untuk merelakan waktu berdua yang sudah usai hari ini. Kemudian ia hanya bisa melangkah, membiarkan lelaki ini hendak kemana menelantarkan perasaan nya

__ADS_1


__ADS_2