Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu

Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu
Batal Menikah


__ADS_3

Malam telah hadir menggantikan siang yang sudah ingin terlelap di peraduan. Cahaya bulan tampak malu malu mengintip di gelap nya langit pada penghujung bulan juli. Bintang bintang masih setia berkedip bertaburan memancarkan sinar nya.


Ada hati yang sedang merindu,rindu yang selalu jadi candu dan berbisik di setiap udara.


Tidak ada yang membuat ruangan terasa lebih kosong daripada menginginkan seseorang di dalam nya.


Laki laki itu begitu merindukan kekasih nya, ada yang hilang dari hari hari nya,terasa kosong dan hampa tanpa suara yang biasa ia dengar walau hanya di ujung telepon.


Hasbi menyandarkan tubuh nya di kursi santai, biasa nya jam jam seperti ini dia sedang sibuk menelepon Amira bercerita aktifitas masing masing seharian penuh . Biasanya Amira selalu mengirimkan pesan pada nya, mengingatkan nya untuk sarapan,makan siang,makan malam.


Biasanya pula Amira yang selalu mengirimkan pesan suara walaupun cuma mengucapkan sepatah kata "Aku menyayangimu".


" Aahhh...aku merindukan nya, ia bahkan tak mau menghubungiku sama sekali atau setidak nya jangan memblokir kontak ku seperti ini", gerutu Hasbi.


Ia melirik jam di pergelangan tangan nya, 19.10


Ia memutuskan ingin menemui Amira malam itu, entah apa yang akan Amira lakukan jika bertemu dengan nya?


Memeluk nya karena alasan rindu atau bahkan Amira akan mengusir nya?


Hasbi melajukan kendaraan nya dengan kecepatan tinggi, tak sabar ia ingin menuntaskan segala permasalahan nya ini. Ia masih berharap tunangan nya itu mau mengerti akan keputusan yang ia ambil. Sampai saat ini tak ada yang berubah sedikitpun tentang perasaan nya pada gadis itu. Amira tetaplah satu satu nya nama yang mengisi hati nya, gadis itu tetap lah satu satu nya orang yang bisa membuat jantung nya berpacu lebih cepat meskipun sudah lima tahun menghabiskan waktu bersama.


Ia sudah sampai di rumah yang biasanya ia kunjungi dua kali dalam seminggu,rumah gadis yang ia lamar di pertengahan Juni kemarin.


Hasbi mengatur nafas, mengetuk pintu rumah yang tertutup dan tampak sepi itu.


Wanita paruh baya yang seharusnya sebentar lagi menjadi ibu mertua nya,membukakan pintu dan mempersilahkan Hasbi masuk.


" Tunggu ya Nak Hasbi, Ibu panggil kan Amira", ucap Ibu yang bahkan belum mengetahui perkara yang sedang terjadi antara laki laki ini dan putri nya.


Tak lama, Amira muncul menemui Hasbi. Mengambil posisi duduk berjauhan, tampak kekakuan di antara mereka berdua. Hasbi bisa melihat sisa sisa tangisan di ujung mata Amira, wajah sembab nya tampak terlihat meski berusaha mati matian ia tutupi.


" Untuk apa kau datang kemari?", Amira bertanya dengan nada tajam.


" Kita harus bicara sayang, tepatnya aku dan kedua orang tuamu"


Amira mendengus kesal menatap Hasbi,


" Kau sudah menghancurkan segalanya, aku bahkan tidak berani mengatakan apapun kepada kedua orang tuaku", terlihat Amira bersuara dengan menahan tangis.


"Aku minta maaf sayang,tapi malam ini aku benar benar harus bicara langsung pada Ayah dan Ibumu"


" Bisa kau temui aku dengan mereka?", Hasbi memohon memegang tangan Amira yang segera ditepis nya.

__ADS_1


...****************...


Malam itu,sepertinya menjadi malam terakhir Hasbi bisa menatap lamat lamat perempuan yang ia cintai,malam itu menjadi malam terakhir ia mengunjungi rumah Amira,dan malam itu malam terakhir dia bisa menggenggam jemari gadis yang menghiasi hari hari nya selama 5 tahun. Dan menjadi malam terakhir ia mengucapkan permintaan maaf nya.


Kedua orang Amira terlihat murka setelah mendengar pengakuan Hasbi yang mengutarakan niat nya untuk mengundurkan pernikahan. Terlebih Ayah Amira,jika tak ditahan oleh Amira,malam itu sebuah tamparan keras rasanya sudah melayang di pipi Hasbi.


" Bagaimana bisa kau mempermainkan putriku hah?", Ayah Amira tersulut emosi


Ingin rasanya ia menghajar habis habisan pemuda itu. Ayah Amira tak bisa menerima perlakuan Hasbi yang menurutnya sudah keterlaluan. Bagaimana tidak? Pihak keluarga mereka sudah mempersiapkan semua nya, sudah mulai mencetak undangan, memilih wedding organizer, sudah mengabarkan hampir semua kerabat mengenai pernikahan Amira


Tapi nyatanya,laki laki ini semaunya mengambil keputusan.


Ayah Amira benar benar murka saat itu, dia mengusir Hasbi dari rumah nya. Mengumpat dan mengancam kalau Hasbi tidak akan pernah bisa lagi menginjakkan kaki nya lagi di rumah ini.


" Tak perlu kau mengundurkan pernikahan, karena bagi kami tidak akan pernah lagi ada pernikahan untuk kalian berdua"


" Kita batalkan pernikahan ini selamanya"


" Jangan harap kau masih bisa menemui putri ku lagi "...


Ayah Amira memaki maki Hasbi tanpa mau sedikitpun mendengar permintaan maaf Hasbi.


***Hasbi memukul tangan nya keras keras di udara, malam itu sepulang dari rumah Amira ia tak tau arah nya harus kemana. Ia menghentikan mobil nya di sebuah danau kecil di pinggir kota dimana biasa nya ia dan Amira sering menghabiskan waktu di sore hari untuk sekedar duduk dan berbincang.


Karena semua ini memang salah nya,ia bahkan mengambil keputusan tanpa membicarakan nya kepada kedua orang tua nya .


Bagaimana ia harus menghadapi ayah dan ibunya nanti??


Pasti semua akan kecewa dengan apa yang terjadi saat ini. Tidak mungkin untuk mengembalikan semuanya, ia begitu hafal bagaimana keras nya watak calon mertua nya.


Rasanya sudah tak ada celah sedikitpun baginya untuk kembali.


" Amira,kenapa kau diam saja saat ayahmu mengusirku?"


" Mengapa kau diam saja menerima saat ayahmu mengatakan kita tidak akan pernah bersama lagi"


"Apa begitu cepat rasa cintamu hilang hanya karena aku memintamu untuk menunggu"


Hasbi menangis tanpa air mata, ia mengacak ngacak rambut nya. Meluapkan emosinya dengan menendang apapun yang ada di sekitar nya. Kemudian ia terduduk,menarik nafas panjang yang tersengal sengal.


"Apa aku yang terlalu egois?"


Lama ia termenung,duduk menatap pantulan cahaya bulan di atas permukaan danau lalu memutuskan untuk pulang dan menyampaikan kabar buruk ini kepada kedua orang tua nya.

__ADS_1


Kepada Kak Dena, yang pasti akan sangat kecewa dengan berita ini.


*** Benar saja, sepulang dari Danau Hasbi yang awalnya enggan menceritakan apa yang terjadi kepada keluarganya akhir nya terpaksa mengakui apa yang membuat diri nya pulang malam itu dengan keadaan kusut dan jari jari tangan yang memar akibat ia memukul tembok di dinding kamar nya.


Ibu yang paling histeris mendengar pengakuan Hasbi, akhir akhir ini memang semua perhatian dan waktu mereka hanya untuk Dena,tetapi bukan berarti Ibu akan menyetujui keputusan Hasbi untuk mengundurkan pernikahannya yang pada akhir nya berbuntut panjang.


Ayah bahkan geram mendengar alasan tak berbobot dari Hasbi yang mengatakan ingin fokus pada karir nya terlebih dahulu.


" Laki laki macam apa dirimu?"


" Apa Ayah mu ini tidak pernah mengajari mu bagaimana menghargai perasaan orang lain terlebih orang yang kau cintai?"


Ayah menarik kerah baju Hasbi, masih memaki anak laki laki satu satu nya itu. Ia tak bisa membayangkan bagaimana kalau hal itu terjadi pada putri nya Dena.


Hasbi tak berusaha melawan atau membela diri sedikit pun, dia hanya bisa mengulang ulang permintaan maaf nya.


Percuma rasa nya ia mengatakan itu sampai beribu kali pun tak akan ada yang mengerti alasan Hasbi yang sesungguhnya karena ia masih belum bisa meninggalkan rumah ini,belum bisa sepenuhnya nanti memberikan dan mencurahkan perhatian serta kasih sayang nya secara utuh kepada calon istrinya sebab ia masih ingin memprioritaskan kakak perempuan nya yang saat ini sedang berada di titik terendah dalam menghadapi ujian kehidupan.


Ia telah mengecewakan banyak orang, terlintas wajah kedua orang tua Amira dan tentu saja Amira yang mungkin paling kecewa dan terpukul atas semua keadaan ini. Bahkan Kak Dena, sedari tadi tak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia hanya melihat Hasbi dengan tatapan penuh kekecewaan.


" Percayalah, kecewa tapi tidak marah adalah bentuk sabar yang luar biasa. Nanti kau akan paham,diam adalah bentuk kecewa yang paling dalam ".


Jauh di lubuk hati nya, Dena seperti menyadari apa yang adik laki laki nya ini lakukan karena sebuah alasan lain . Dena bahkan bisa menebak hanya dari sorot mata adik laki laki nya itu kalau tak ada alasan yang lebih berarti untuk mengundurkan pernikahan bersama perempuan yang amat ia cintai kalau bukan karena sesuatu yang amat ia cintai juga. Dan Dena tau, dirinya lah sesuatu yang mengganjal pernikahan adik laki laki nya itu.


Dena masih diam, mengutuk diri nya di dalam hati.


" Hasbi...kenapa kau mengorbankan perempuan yang amat kau cintai hanya karena kau terlalu mengkhawatirkan kakak mu ini"


" Percayalah, aku baik baik saja meski nanti kau tak bisa setiap saat ada waktu untuk mendengarkan segala keluh kesah ku"


Dena tak bisa mengucapkan semua kata kata itu di hadapan kedua orang tua nya yang tidak menyadari anak laki laki nya itu sudah berbohong.


Dena meninggalkan ruangan yang masih di selimuti suasana tegang, ia berlalu meninggalkan Hasbi. Hanya sebuah kalimat yang ia ucapkan pada adik nya itu


" Kita perlu berbicara empat mata nanti".


*** Hasbi menghempaskan tubuh nya di kasur, ia menepuk nepuk pipi nya, kemudian mencubit lengan nya sendiri dan berteriak sakit. Ternyata ini bukan sebuah mimpi seperti yang ia harapkan.


" Tuhan,apa semuanya memang sudah benar benar berakhir?"


" Apa tidak ada kesempatan lagi bagi nya untuk memperbaiki hubungan dengan hawa yang begitu ia perjuangkan selama ini?"


Untuk pertama kali nya, setetes air mata mengalir di sudut mata nya yang buru buru ia seka, malam itu ia tertidur membawa segala kekecewaan yang telah ia ciptakan pada hati dan wajah wajah yang seharusnya saat ini tersenyum menyambut hari pernikahan yang hampir di depan mata .

__ADS_1


__ADS_2