Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu

Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu
Dena dan Noah berangsur membaik


__ADS_3

Jadikanlah perpisahan ini sebagai pelajaran,karena tidak semua pertemuan berakhir dengan kebersamaan.


Sekuat apa kita menggenggam, jika takdir tidak mempersatukan kita bisa apa?


Tentang cinta yang membara di dalam dada biarkan saja terus menyala sampai waktu yang memadamkan.


Pergilah dengan senyum yang paling manis, agar aku mampu untuk merelakan.


Beranjak lah tanpa harus ada tangis, agar aku tidak salah melepas hanya demi melihatmu bahagia.


Adam sudah turun ke lobby Rumah sakit, ia masih duduk di bangku tunggu sebentar mengusap wajah nya setelah kejadian menegangkan di Ruangan ICU tadi.


Sekitar lima belas menit ia menghabiskan waktunya disitu, barulah ia berjalan ke parkiran.


Ia sudah berada dalam kendaraan nya, ketika ia melihat Adrian keluar dari sebuah mobil yang baru saja masuk ke parkiran.


Adam melihat Adrian setengah berlari menuju Lobby Rumah sakit.


" Pasti tadi Laras langsung menghubunginya", gumam Adam.


" Biarlah Dena melihat wajah Adrian, biarlah saat ia benar benar sadar yang ada di samping nya adalah Adrian"


" Maafkan aku Dena, aku sebenarnya masih ingin lama berada di sampingmu. Tapi aku ini apa?", Adam menarik nafas panjang, kemudian pergi meninggalkan parkiran Rumah sakit.


Adrian tergesa gesa berjalan menuju lantai empat rumah sakit.


Laras yang tiba tiba menelepon nya mengatakan istrinya mulai sadar membuat Adrian langsung menuju ke rumah sakit yang memang tak jauh letak nya dengan kantornya.


Ia sudah berdiri di luar Ruangan kaca, memberi isyarat pada Laras untuk keluar karena hanya boleh satu orang yang berada disana.


" Laras, bagaimana keadaan Dena?", Adrian langsung bertanya ketika Laras keluar menemuinya.


Laras menceritakan kalau tadi Dena sempat kritis dan melemah lalu tiba tiba sadar dengan membuka mata dan menggerakkan jari jarinya.


Namun Laras tak mengatakan kalau Mas Adam lah yang membantu Dena bangun dari tidur panjangnya.


" Terima kasih Ras, aku harus menemui Dena" , Adrian segera masuk ke dalam Ruangan.


Adrian mencium tangan istrinya, mengecup keningnya. Ia melihat ada bros kupu kupu di sisi tempat tidur, namun ia tak terlalu menghiraukan nya karena ia pikir Laras sengaja meletakkan barang barang pribadi milik istrinya untuk membantu kesadaran nya.


" Sayang, Laras bilang kau sudah sadar. Ayo sayang buka matamu lagi. Aku disini", Adrian membisikkan kalimat itu di telinga Dena.


Dena bisa mendengar jelas suara Adrian, ia ingin membuka matanya namun ia merasa tak punya tenaga.


" Hey, tadi aku melihat Mas Adam. Tapi kenapa saat ini yang ku dengar suara Adrian", Dena hanya bisa berucap dalam hati.


" Sayang, bayi kita aku beri nama Noah. Aku belum memberi nama panjang untuk nya karena aku menunggu kau bangun".


" Ayo bangun sayang, nanti kau harus melihat bayi kita. Ia tampan sepertiku, hehe", Adrian memaksa tawa di ujung kalimatnya padahal matanya ingin menangis.


" Bayi kita?? Jadi sekarang kita punya malaikat kecil??", Dena masih terpejam, namun ia berusaha mengingat keras kejadian sebelum ia berada di tempat gelap itu.


Ia ingat, ia di Ruangan operasi ditemani Adrian dan ia saat itu juga sudah mendengar tangisan bayi yang keluar dari perutnya meski ia belum sempat melihatnya.

__ADS_1


Rangkaian kejadian itu mulai sempurna terpampang di ingatan nya sebelum akhirnya ia tak sadarkan diri.


Dena berusaha keras mengumpulkan semua kekuatan yang ia punya untuk membuka matanya.


" Aku ingin melihat bayiku", ia terus menyemangati diri nya sendiri agar bisa membuka mata.


Dena berhasil membuka sedikit matanya, meski masih buram apa yang ia lihat.


" Sayang, akhirnya kau mendengarku", Adrian nampak bersemangat melihat istrinya membuka mata.


Dena masih berusaha membuka mata dengan sempurna, hingga pada akhirnya ia bisa melihat jelas wajah suaminya yang setengah menangis duduk di sebelahnya.


Adrian memanggil perawat yang berjaga.


Perawat itu melihat kalau pasien yang empat hari ini tak sadarkan diri akhirnya benar benar sadar.


Perawat itu menatap layar monitor, memastikan semua organ nya sudah berfungsi dengan baik. Ia melepas ventilator, agar pasien bisa berinteraksi dengan berbicara.


Adrian kembali duduk setelah perawat itu mengizinkan nya.


" Sayang, terima kasih lagi lagi kau berjuang melewati semua ini".


Dena hanya bisa mengangguk kecil mengerakkan kepala nya.


Ia masih lemah.


Bibirnya memaksa untuk berucap.


" B... Ba.... yi....", keluar juga satu kata dari mulut nya.


" Iya sayang, bayi kita baik baik saja. Ia dirawat dengan baik di NICU. Jika kau sudah benar benar kuat, aku akan membawamu melihat bayi kita".


Dena mengangguk lagi.


Ia menatap sekeliling ruangan, mencari apa ada orang lain selain Adrian disini.


Tentu saja ia mencari Mas Adam. Karena ia ingat, lelaki itulah yang membantunya saat ia merasakan putus asa di kegelapan itu.


Dan saat pertama ia sadar, laki laki itu yang ia lihat.


" Kau harus segera pulih".


Tak lama Dena kembali terpejam. Adrian membiarkan istrinya itu beristirahat, lagi pula ia harus keluar dari Ruangan itu karena jam besuk sudah berakhir.


" Aku pulang ya, besok aku pasti kembali. Dan aku harap besok kau lebih baik".


****


Tiga hari sudah berlalu setelah Dena sadar dari komanya, itu berarti satu minggu sudah usia bayi mereka.


Adrian setiap hari rutin menjenguk bergantian anak dan istrinya saat jam istirahat.


Hari itu ia terlebih dahulu ke ruangan NICU.

__ADS_1


Ia menuju inkubator yang biasa tempat bayinya diletakkan, namun yang ia lihat bukan nama istrinya tertulis di inkubator itu. Bayi yang ia lihat pun bukan Noah.


Perawat menghampirinya.


" Maaf Pak, bayi Bapak tadi pagi kami pindah kan kesana. Karena bayi bapak sudah melewati masa observasi pertama dan keadaan nya sudah jauh lebih baik", Perawat itu mengantarkan Adrian ke sebuah inkubator di ujung Ruangan.


Inkubator nya masih sama, namun yang berbeda bayinya sekarang sudah tidak perlu lagi mendapat sinar dari fototerapi dan ia sudah punya refleks bernafas sendiri sehingga ventilator di wajah nya sudah di lepas meski tetap di pantau saturasi oksigen di tubuhnya melalui kabel yang tertempel di kaki .


Adrian mendekat melihat wajah bayinya.


Kini ia benar benar bisa melihat wajah Noah dengan sangat jelas tanpa ada penghalang yang menutupi wajah nya.


" Noah, anak pintar. Ini papa datang nak.


Ibumu pasti jatuh cinta saat melihat wajah tampan mu", Adrian mengusap jemari kecil Noah yang begitu mini.


Noah tidak tidur kali itu, mata nya terbuka lebar seperti mengawasi suara Adrian.


Mungkin yang bayi itu dengar selama malam malam dan hari yang panjang hanyalah suara suara dari monitor di Ruangan itu yang saling bersahut sahutan.


Kali ini ia mendengar suara manusia, suara Papa nya. Ia juga merasakan sentuhan di jarinya, setelah semalaman dan sejak kemarin tak ada yang menyentuhnya kecuali saat para Perawat mengganti popok nya tiga jam sekali.


Adrian melihat selang kecil di mulutnya di aliri susu, menurut perawat yang berjaga, Noah sudah bisa minum 10 mili susu dalam satu kali pemberian.


" Noah sayang, doain Mama cepat pulih ya biar mama bisa kesini menggendong dan menyusui Noah", Adrian masih mengajak bayinya berbicara.


****


Hari itu adalah hari bahagia setelah satu minggu terakhir ini ia selalu bersedih melihat istri dan anak nya yang sama sama lemah.


Dena hari ini sudah di pindahkan ke Ruangan Rawat inap biasa karena ia sudah menunjukkan perkembangan yang baik.


Semuanya sudah stabil, hanya perlu waktu untuk pemulihan saja.


Ia sudah mulai bisa banyak berbicara, sudah bisa sedikit sedikit menelan makan.


Dan hari itu pula dokter menjadwalkan cuci darah pertama untuk Dena setelah ia melahirkan.


Adrian dengan setia tetap menemani istrinya, melewati masa masa sulit mereka bersama sama.


Jika harus memberi nyawanya, Adrian akan melakukan itu. Baginya saat ini, kesehatan Dena dan bayinya adalah hal utama yang ia prioritaskan.


Ia ingin segera membawa anak dan istrinya pulang ke rumah hangat mereka.


Menjalani hidup penuh kegembiraan dengan keluarga kecil yang sekarang ia punya.


...----------------...


Hhhmmm, akhirnya Adrian bisa sedikit bernafas lega ya..


Mudah mudahan selepas ini sudah berhenti cobaan yang mendera keluarga mereka.


Hehehe, tergantung othor nya ya😁

__ADS_1


Tapi sepertinya cobaan yang harus Adrian lewati tidak lah mudah, masih ada satu kejadian besar yang akan jadi titik balik kesehatan dan kehidupan Dena.


Next... ikuti terus ya kisah nya🥰🥰🙏


__ADS_2