Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu

Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu
Danau Segara Anak


__ADS_3

Hanya perlu waktu tiga puluh menit, helikopter yang di kemudikan Haris sudah mendekati Danau Segara Anak, Gunung Rinjani.


Segara Anak adalah kaldera Gunung Rinjani, terletak di ketinggian tiga ribu meter. Siapa pun yang mendaki Gunung Rinjani melalui rute Pos Senaru, akan melewati Segara Anak. Pos terakhir sebelum naik lagi beberapa ratus meter, menjejak puncak.


Wajah mereka bercahaya melihat Segara Anak yang mengepulkan uap. Kabut menyelimuti hampir seluruh puncak gunung.


" Sabuk pengaman, kawan kawan", Haris melambaikan tangan, menyalakan lampu tanda sabuk pengaman.


Helikopter itu melintas dua kali di atas bentangan puncak Gunung Rinjani, mencari lokasi pendaratan terbaik, lantas meluncur turun ke atas permukaan danau.


Haris lebih dari seorang pilot yang hebat, helikopter itu mendarat lembut di atas hamparan air. Berputar sejenak menurunkan kecepatan, kemudian merapat ke salah satu sisi danau.


Dinding Gunung dengan bongkahan batu besar besar sejauh mata memandang langsung terlihat memagari tepi tepi danau Segara Anak. Pohon pohon tinggi tumbuh subur dan lebat.


Vegetasi tumbuhan merambat menyulam tubir yang terjal. Lenguhan monyet yang bergelantungan di tonjolan batu menyambut kedatangan. Juga dengking burung kuau dan ayam hutan. Satu dua terlihat berlompatan di sela sela cadas.


Maya melemparkan gumpalan plastik, menarik tombol pompa otomatisnya. Tiga puluh detik, tumpukan plastik itu berubah menjadi perahu plastik besar berwarna oranye.


Mereka satu persatu berlompatan ke atas perahu, membawa ransel masing masing. Lalu mengayuh pelan perahu ke bibir danau, hingga kandas dan berloncatan turun. Mereka tiba di tepi danau.


Dena memandang sekitar, menghela nafas dan terpesona.


" Terima kasih sayang, sudah membawa ku ke tempat indah ini".


Adam mengangguk tersenyum bahagia melihat istrinya begitu bersemangat.


" Sudah lama sekali kakiku tidak menjejak gunung ini, menyentuh hangatnya air Segara Anak", ucap Adam pelan sambil mengingat lagi tujuh belas tahun silam.


Tania dan Rafael berlarian di pinggir danau, berkejaran seperti pasangan muda.


Adam lalu memakaikan jaket tebal ke istrinya, udara mulai terasa menusuk kulit, dingin.


Lalu mereka berenam sibuk mendirikan tiga tenda.


Adam menatap kejauhan, menatap trek pendakian. Sepertinya tidak banyak berubah, masih seperti dulu. Mungkin pohon pohon nya yang bertambah tinggi, vegetasinya yang berubah, ada yang mati ada tunas yang tumbuh, tetapi ia mengenali setiap jengkalnya.


Menjelang senja, kemah kemah sudah berjejer rapi.


" Kau mau aku mengajakmu menyusuri danau?", tanya Adam pada Dena.


Mata Dena berbinar setuju, lalu mengangguk cepat.

__ADS_1


Mereka naik ke atas perahu plastik, Adam mengayuh dayung, perahu meluncur di hamparan air yang tenang.


Berada di tengah danau, lalu Adam memeluk istrinya, membisikkan kata kata cinta, lalu mereka berdua takzim menatap puncak Gunung Rinjani.


" Percayalah, aku akan selalu menjagamu. Jangan pernah sekali pun kau meragukan ku", ucap Adam, lalu sebuah kecupan hangat mendarat di kening istrinya.


Lalu suasana hening, senyap, damai.


Mereka sibuk dengan pikiran masing masing. Dena yang diam diam mengenang Adrian, sedangkan Mas Adam mengenang masa remaja nya setiap enam bulan sekali libur semester mendaki Gunung ini, membakar ikan hasil pancingan, tidur terlentang di atas rumput menatap purnama dan gemerlap ribuan bintang. Dan sekarang ia kembali lagi kesini dengan perempuan yang begitu ia cintai, ujung dari segala perjalanan nya .


Hari menjelang malam, api unggun menyala tinggi. Entah apa yang di pikirkan monyet monyet yang tinggal di vegetasi merambat itu saat melihat keramaian ini. Tak hanya mereka yang menginap disitu, ada beberapa kemah berdiri, para pendaki gunung.


Mereka membakar ikan, untuk makan malam. Selepas makan malam ketiga pasangan itu duduk meluruskan kaki, berbincang dengan pasangan masing masing.


Api unggun menjilat jilat udara memberikan kehangatan. Malam yang indah, purnama sempurna bundar di angkasa, bintang gemintang tak tertutup satu awan pun.


Adam mendekap kepala istrinya, menatap hamparan danau yang remang. Suara burung hantu ber uhu dari kejauhan. Jangkrik mendesing, burung kuau melantunkan lagu indah.


Mas Adam mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong jaketnya.


" Ini untukmu, bunga langka untuk perempuan spesial di hatiku", beberapa tangkai bunga Edelweis diberikan Adam pada istrinya.


" Terima kasih sayang, dimana kau mendapatkan nya?", Dena mencium kuntum bunga itu.


Malam merangkak naik, udara semakin dingin. Satu persatu yang ada di hadapan api unggun mulai masuk ke dalam tenda.


Begitu pula Adam dan Dena, mereka memutuskan untuk segera beristirahat di dalam. Pengalaman pertama bagi Dena, tidur di dalam tenda di tanah tertinggi di Pulau Lombok.


Adam mengecup lembut kening istrinya.


" Selamat tidur istriku", ia memeluk memberikan kehangatan di antara dingin nya udara pegunungan.


Mereka hanya satu malam berada di Danau Segara Anak, esok nya mereka kembali ke Gili Trawangan, menginap lagi selama satu hari di Resor. Lalu kembali ke Bali, tepat satu minggu masa berlibur mereka.


Rafael dan Tania kembali ke Jakarta lebih awal, sedangkan Adam dan Dena menginap satu malam di rumah Haris.


Honey moon satu minggu yang begitu berkesan sudah berakhir, mereka harus kembali ke kota mereka.


" Hati hati ya kawan, semoga kita bisa berkumpul lagi lain waktu", Haris memberikan ucapan perpisahan dengan memeluk erat sahabat lama nya itu.


Begitu juga dengan Maya, ia memberikan salam perpisahan kepada Dena.

__ADS_1


" Senang berkenalan dengan mu Dena, semoga nanti kita bertemu lagi".


Maya juga menitipkan pesan pada Adam.


" Jaga istrimu baik baik ya kawan, istrimu cantik, baik, jangan sampai kau melukainya", Maya berbisik.


" Siap.... terima kasih Maya, sampai berjumpa lagi".


Mereka pun berpisah di Bandara Ngurah Rai.


Sepanjang penerbangan, Dena sudah tak sabar ingin buru buru pulang ke rumah. Ia merindukan Noah, satu minggu tak bertemu dengan putra nya itu.


Ketika tiba di rumah, Noah berlarian menyambut kedatangan orang tuanya. Namun bocah lelaki itu justru menghamburkan peluk nya pada Mas Adam, bukan Dena.


" Pa.. pa.. papa..", suara teriakan Noah memanggil Mas Adam.


" Iya Noah sayang, papa punya oleh oleh nih buat Noah", Mas Adam menggendong balita itu lalu membuka tas yang penuh dengan mainan yang sengaja ia beli buat Noah.


Bocah laki laki itu terlihat senang, seperti mengerti sebuah ucapan terima kasih, ia lalu mencium pipi Mas Adam. Dan seperti biasa, memainkan dagu Mas Adam yang ditumbuhi rambut halus.


" Sa.. yang.. pa..pa..", Noah terbata bata mengucapkan itu.


Dena tertawa melihat putranya yang sudah pandai mengekpresikan dirinya


Bocah laki laki ini seperti tahu kalau lelaki yang ia panggil papa itu benar benar tulus menyayanginya.


Kelak suatu hari, jika ia dewasa nanti ia tetap harus tahu kalau papa kandung nya sudah berada di surga. Sosok Ayah yang hebat yang tak tergantikan menurut Mas Adam adalah Adrian.


" Besok pagi kita harus berkunjung ke makam Adrian", ucap Mas Adam pada Dena.


Mengingat setelah mereka menikah, mereka belum sempat datang ke makam Adrian karena langsung berbulan madu.


Dena mengangguk setuju. Bagaimanapun juga ia merasa harus meminta restu pada almarhum suaminya, meskipun hanya berbicara sendiri di hadapan nisan nya. Ia yakin, Adrian selalu mendengarkan nya.


" Noah juga akan ikut bersama kita", ucap Mas Adam.


Dena merasa beruntung, dihadirkan oleh dua lelaki baik dalam hidup nya. Kadang ia berpikir, entahlah di surga nanti ia akan bersama siapa. Adrian, lelaki yang ikhlas berkorban untuk nya. Mas Adam, lelaki yang tulus menjaganya.


...----------------...


Kisah Dena dan Mas Adam sepertinya sudah aman ya, udah nggak akan dimunculkan konflik lagi. Sekarang waktunya mereka untuk bahagia.

__ADS_1


Ikuti terus kelanjutan nya, semoga nggak bosen dapet notif up dari karya thor🙏


__ADS_2