
Adam sedang menggurat ujung bantal dengan telunjuk nya ketika pintu kamar nya diketuk.
" Masuklah, tidak dikunci " , Adam pikir pastilah Ayah nya yang mengetuk pintu.
Ternyata ia salah, adik perempuan nya Hani yang datang.
" Mas Adam...." , Hani menghambur peluk ke kakak laki laki nya itu.
Adik perempuan nya yang berumur 23 tahun itu sedang kuliah semester akhir. Ia hanya pulang ke rumah satu minggu sekali karena jarak yang cukup jauh dengan kampus nya jadi ia harus tinggal di sebuah kost an.
" Hani, kau apa kabar?", Mas Adam mengusap kepala adik satu satu nya.
" Aku sedang sibuk dengan skripsi ku Mas, jadi begini lah jam tidur jadi acak acakan", jelas Hani.
" Mas Adam sendiri bagaimana?".
Adam kembali mengusap wajah nya, seperti lelah untuk menjelaskan semuanya.
" Tadinya ketika aku sampai disini, aku baik baik saja. Bahagia bisa merawat Ibu, tapi ternyata ada keinginan dari Ayah dan Ibu yang tak mungkin bisa ku turuti".
Hani paham sekali dengan watak kakak laki laki nya ini, jika ada sesuatu yang tak bisa ia lakukan pastilah itu sudah ia pikirkan baik buruk nya.
" Ayah dan Ibu meminta apa Mas?", tanya Hani ingin tahu kelanjutan cerita dari kakak nya.
Adam akhirnya menceritakan tentang Om Wisnu dan Sekar, dan semua rencana Ayah untuk menikahkan nya.
Hani tergelak tertawa mendengar itu semua.
" Hahaha, Sekar masih muda sekali Mas. Pantas saja Mas Adam tidak mau menikahinya, umur nya bahkan lebih muda dariku".
Adam kemudian menceritakan alasan sesungguhnya kenapa ia menolak Sekar.
" Sebenarnya bukan hanya karena usia nya yang masih terlalu belia untuk ku, tapi aku tak bisa melakukan itu karena aku juga sudah memiliki kekasih, tepatnya calon istri", Adam sedikit tersenyum menceritakan itu, baginya semua tentang Dena selalu menjanjikan senyuman.
" Pasti ia cantik seperti Kak Lisa", Hani penasaran dengan perempuan yang dicintai kakak nya itu.
" Lebih cantik, ia punya segala yang aku sukai", ucap Adam sambil membayangkan kembali wajah manis perempuan nya itu.
" Lalu apa yang harus Mas Adam lakukan?".
Adam menggeleng, ia pasti tak akan bisa meninggalkan Dena. Tak mau lagi ia kehilangan perempuan itu untuk yang kedua kalinya.
" Apa kau punya ide?", tanya Adam kepada adiknya yang bisa dibilang pintar dalam menganalisis sebuah masalah.
Hani nampak berpikir sebentar, lalu ia menyeringai kecil seperti mendapatkan jalan keluar untuk kakak nya.
" Menurutku tak mungkin untuk meminta Ayah dan Ibu membatalkan niat mereka, Mas tahu sendiri kan bagaimana orang tua kita kalau sudah punya keinginan", ucap Hani.
" Ya, aku tahu. Lalu bagaimana caranya untuk menolak itu semua?", Adam nampak buntu memikirkan nya.
" Mas Adam bisa membatalkan nya lewat Sekar sendiri, ajak lah ia bertemu tanpa sepengetahuan Ayah dan Om Wisnu. Mas bisa membujuk Sekar untuk menolak semua ini", Hani mengatakan ide yang terlintas di kepala nya.
Mas Adam tersenyum mendapat jalan keluar dari masalahnya ini. kemudian ia memeluk Hani, berterima kasih atas segala saran yang ia berikan.
__ADS_1
" Aku akan mencoba nya, kau punya kan nomor ponsel Sekar?".
Hani mengangguk, kemudian memberikan nomor ponsel Sekar kepada Mas Adam.
" Baiklah Mas, aku tinggal ya. Mas Adam istirahatlah", Hani kemudian keluar dari kamar kakak nya.
Tak menunggu lama, Adam langsung menghubungi Sekar yang mungkin baru saja pulang dari rumah nya.
Gadis belia itu tentu saja girang sekali mendapat telepon dari Mas Adam yang mengatakan ingin bertemu berdua saja besok siang di sebuah Restoran di kota mereka.
Ia pikir laki laki dewasa itu ingin mengenalnya lebih dekat.
*****
Keesokan harinya, Sekar sudah menunggu di tempat ia dan Mas Adam berjanji akan bertemu.
Tak lama, Mas Adam pun datang menghampiri Sekar yang sudah duduk memesan minuman.
" Kau sudah selesai dengan jam kuliahmu?", tanya Adam ketika tiba disitu.
Sekar mengangguk , tak menjawab dengan kata kata. Perempuan ini sepertinya punya sifat yang hampir sama dengan Dena.
" Kau tahu, kenapa aku mengajakmu bertemu siang ini?".
Sekar hanya menggeleng, dalam hati nya ia berharap Mas Adam datang untuk membicarakan kelanjutan hubungan mereka.
Mas Adam mengatur nafas, membuka pembicaraan tidak langsung pada intinya.
" Apa kau sudah pernah pacaran di usia mu yang sekarang?".
Sekar menggeleng lagi, namun kali ini dia ikut bersuara.
" Tidak, karena Ayah tak mengizinkanku berpacaran", jawab nya polos.
" Lalu, apakah kau pernah menyukai seorang laki laki?", tanya Mas Adam lagi, Sekar semakin tak mengerti arah dari pertanyaan pertanyaan itu.
" Pernah", jawab nya singkat.
" Tapi aku urungkan niatku untuk mencintai lebih dalam, karena aku yakin Ayah tak akan setuju dengan itu semua", akhirnya Sekar mengeluarkan kalimat panjang untuk pertama kali nya.
Adam mengusap wajah nya, gadis di hadapan nya ini seperti terkungkung oleh aturan aturan dari orang tuanya. Sehingga tampak sekali ia tidak menikmati masa masa remaja nya seperti gadis lain yang sudah merasakan " cinta monyet " misalnya.
" Lalu kenapa kau mau menerima dijodohkan denganku yang usia nya hampir dua kali lipat usiamu?", tanya Mas Adam lagi.
Sekar menunduk malu, tak mungkin ia mengatakan kalau ia memang menyukai Mas Adam.
" Karena aku ingin menunjukkan bakti ku kepada Ayah", jawaban sederhana keluar dari mulutnya.
Adam sudah mengira, hal itu yang akan ia dengar.
" Sekar, lihat aku", Adam meminta Sekar untuk tidak menunduk.
Perempuan itu mengangkat kepala nya, menatap Mas Adam.
__ADS_1
" Kau masih muda sekali, masih banyak mimpi mimpi yang harus kau kejar diluar sana. Selesaikan kuliahmu, tunjukkan pada Ayah mu kau mampu mengelola semua bisnis nya".
" Menikah denganku bukan jalan keluar untuk menunjukkan kepatuhan mu pada orang tuamu", ucap Mas Adam dengan intonasi tenang.
Sekar menggigit bibir nya, tubuhnya berkeringat dingin mendengar ucapan Mas Adam barusan. Ia tahu itu adalah bentuk penolakan yang sangat halus dari laki laki itu.
" Dengarkan aku Sekar, aku tidak bisa menikahimu. Pernikahan bukan hal sepele yang hanya menyangkut orang tua kita. Tapi juga tentang bagaimana kita menghabiskan seumur hidup dengan orang yang kita cintai", ucap Mas Adam lagi, ia ingat betul kegagalan rumah tangganya dengan Lisa karena masalah cinta di hatinya.
Ia tak ingin sembarangan mengambil keputusan menikah, tak ingin lagi ia berhadapan dengan sebuah perceraian.
Sekar masih diam, mencoba mengatur frekuensi nafas nya yang sedikit tersengal.
" Tapi aku bisa mencintai Mas Adam, dan Mas Adam pun harus bisa belajar mencintaiku", ucap Sekar dengan pelan sekali karena rasa malu atas pengakuannya.
Mas Adam kembali menarik nafas berat.
" Tidak semudah itu, aku tidak bisa mencintai mu, tidak bisa mencintai perempuan mana pun karena aku sudah mempunyai pilihan seorang perempuan yang sudah aku janjikan untuk kunikahi dan aku sangat mencintainya. Kau mengerti kan?".
Sekar bukan seorang perempuan yang berambisi tinggi nampaknya, ia kembali tertunduk seolah pasrah dengan semua keputusan Mas Adam.
" Kau mau kan menolongku? Aku mohon kau katakan pada Ayah mu kalau kau tak mau dinikahkan dengan ku. Bantu aku Sekar, hanya kau yang bisa memberikan jalan keluar untuk ku. Aku punya janji kehidupan disana, bersama perempuan ku", ucap Mas Adam sambil meraih tangan Sekar. Ia seperti berbicara pada adik perempuan nya.
Sekar akhirnya mengangguk, semudah itu ternyata memberikan pengertian kepada gadis belia ini.
" Terima kasih kalau kau mau membantuku, kau masih muda sekali. Kau punya banyak kesempatan untuk menentukan dengan laki laki mana kau akan menikah. Menikahlah dengan laki laki yang juga mencintaimu".
" Tapi aku, aku sudah tua untuk berpetualang dengan cinta. Aku sudah tak menginginkan siapa siapa lagi dalam hidupku, kecuali perempuan yang sudah membuatku menunggu bertahun tahun lamanya itu".
Sekar mengerti dan merasakan betapa dalam rasa cinta Mas Adam untuk perempuan yang ia ceritakan tadi. Ia tak ingin memaksakan kehendak orang tua mereka dan membuat laki laki ini tersiksa.
" Baiklah Mas, aku akan mengatakan pada Ayah ku untuk membatalkan perjodohan kita", ucap Sekar meskipun berat ia terima.
" Sekali lagi terima kasih, aku tak ingin ada yang kecewa. Jadi aku tak mau gegabah dengan keputusan menikah".
" Percayalah, suatu saat akan ada laki laki yang kau cintai dan ia juga mencintaimu".
Siang itu mereka pun berpisah dan pulang ke rumah masing masing. Adam bersyukur satu masalah sudah ia selesaikan, tinggal menunggu saja bagaimana nanti Om Wisnu mengabari Ayah nya.
Sepulang dari pertemuan dengan Sekar, Adam tak tahan lagi ingin menghubungi Dena setelah tadi malam ia merasa buntu dengan masalah baru yang disodorkan orang tuanya.
Lihatlah betapa perempuan yang ia cintai itu selalu menawan nya dengan alasan yang entah.
Ia adalah rasa yang paling tersembunyi, meski hanya sekedar mengatakan rindu, Adam butuh waktu yang paling sunyi untuk mengungkapkan itu.
...----------------...
Sebenarnya, apakah itu arti kesempatan? Apakah itu arti keputusan?
Jangan sampai kita menyesal karena sebuah keputusan atas sepucuk kesempatan.
Adam tak ingin kehilangan kesempatan untuk memiliki Dena.
Priceless, pengorbanan tak memiliki harga dan batasan. Maka lakukan lah semuanya dengan tulus.
__ADS_1
Udah ya, keputusan Thor untuk tidak membagi hati Mas Adam kepada perempuan lain🥰
Jangan ada yang kecewa🙏🥰