Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu

Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu
Aktifitas Baru


__ADS_3

Prolog


Bagaimana kabar mu?


Maaf jika pagi ini aku masih merindukanmu.


Maaf pula jika aku masih menangis untuk mu.


Entahlah...


Semua terasa begitu menyesakkan.


Sudah kucoba berkali kali untuk melupakan.


Tapi ikhlas ku masih berantakan


Seolah enggan memberikan dukungan


Akan patah dan hancur ku yang berserakan.


Maaf...


Bukan maksudku mengemis perhatian.


Cukup diam dan melihat dari kejauhan.


Jangan hiraukan aku yang berkubang dengan kepedihan.


Dan tak perlu merasa kasihan


Sebab, aku sudah terbiasa berdamai dengan kekalahan.


***Sudah beberapa hari ini Dena tidak berkomunikasi dengan Adam, ia bahkan tak membuka pesan pesan yang dikirimkan Adam kepada nya . Ia juga sengaja tidak menjawab telepon dari laki laki itu. Hari ini adalah hari kedua ia bekerja di kantor barunya, dan besok merupakan jadwal cuci darah nya yang berarti ia datang ke kantor setelah jam makan siang.


Pagi ini Dena sengaja datang ke kantor lebih awal agar ia bisa segera menyelesaikan target Laporan yang harus ia kerjakan . Kemarin hari pertama nya bekerja ia sudah mempelajari beberapa dokumen Perusahaan. Dan seperti pada umum nya karyawan baru , Dena harus bisa dengan cepat bersosialisasi dengan rekan rekan kerja nya .


Namun ternyata sifat nya yang memang sedikit tertutup belum berubah sampai saat ini . Dena hanya sekedar menyapa basa basi karyawan lain nya, memperkenalkan diri dengan singkat hanya dengan menyebutkan nama nya. Ia tak berkeinginan mempunyai teman dekat, baginya tempat bekerja hanyalah sebuah tempat untuk meniti karir. Ia tak perlu mempunyai sahabat atau sekedar teman untuk makan siang bersama. Ia nyaman dalam kesendiriannya.


Lagi pula ada untung nya juga tidak terlalu dekat dengan rekan rekan yang lain, ia jadi tidak perlu bercerita panjang lebar mengenai kehidupannya diluar pekerjaan ini.


Dena sudah berkutat dengan layar laptop di hadapan nya. Setumpuk berkas siap ia lahap untuk dikerjakan hari ini.


" Dena, kalau kau butuh bantuan atau ada yang tidak kamu mengerti silahkan bertanya padaku", ucap seorang perempuan bernama Puji yang merupakan rekan satu tim Dena di divisi keuangan .

__ADS_1


Dena mengangguk hanya membalas dengan senyuman tipis. Dari pertama berkenalan, Puji memang seolah menawarkan persahabatan kepada Dena. Namun tampaknya Dena masih belum tertarik memiliki seorang sahabat karib. Ia hanya perlu mengenal Puji sebagai rekan kerja.


" Aku dengar dari Pak Erwin HRD kita, setiap hari Rabu kau di izinkan datang ke kantor selepas makan siang, apa itu benar?", Puji bertanya sambil merapikan beberapa berkas di meja nya. Kebetulan ia duduk tepat di sebelah Dena .


Dena merasa tak perlu panjang lebar menjawab pertanyaan Puji, lagi lagi ia hanya mengangguk dan tetap fokus menatap layar laptop .


" Kalau aku boleh tau, kenapa dengan hari Rabu mu?",. tanya Puji berusaha menyelidik.


Dena nampak tidak suka dengan pertanyaan itu, ia tidak suka orang lain terlalu jauh mencampuri urusan pribadi nya .


" Maaf, aku rasa aku tidak perlu menjawab pertanyaan mu yang satu ini", ucap Dena.


Puji tersenyum kecil, ia memahami karakter rekan kerja baru nya ini.


" Baiklah Den tidak masalah kalau kau tidak ingin menjawab"


" Aku tetap dengan senang hati jika nanti kau butuh bantuan ku"


" Atau mungkin nanti siang kau mau makan di kantin bersamaku", Puji masih berusaha bersikap baik kepada Dena


Dena tak enak hati kalau ia harus menolak penawaran Puji untuk makan siang bersama.


" Ok, nanti siang ajak aku ke kantin bersamamu", akhirnya Dena menerima tawaran bersahabat dari Puji meskipun ia tidak yakin besok besok apa ia masih bisa membuka diri untuk sebuah persahabatan.


Puji menarik tangan Dena, mengajak bergegas ke kantin yang ada di lantai dasar gedung Perusahaan itu. Dena sebenarnya sedikit merasa tak nyaman dengan keberadaan Puji. Ia selama ini terbiasa sendiri saat jam makan siang, menikmati semua kesendirian nya. Ia hanya merasakan kenyamanan saat bersama lelaki itu, tapi apalah daya semua ini rasanya tak bisa ia teruskan. Ia menyadari ia bukan siapa siapa dalam kehidupan lelaki itu.


" Duduk disini", puji menunjuk satu bangku panjang untuk mereka berdua.


" Mau makan apa?, biar aku yang ambilkan, kau nampak lelah sepertinya", Puji lagi lagi menawarkan persahabatan yang tulus.


Dena juga menyadari tubuh nya yang kelelahan, kondisi fisik nya tidak sekuat dulu. Namun rekan rekan kerja di sekeliling nya tak akan mengira kalau ia seorang pasien gagal ginjal. Wajah nya tak terlihat seperti seorang yang mengidap penyakit kronis, ia bahkan masih terlihat yang paling cantik di banding kan rekan rekan kerja perempuan nya di kantor itu.


Puji membawa dua piring nasi, menyerahkan satu piring kepada Dena dengan menu ayam asam manis dan sayur sop sesuai permintaan Dena.


" Makanlah, wajahmu sedikit pucat", ujar Puji sambil memberikan satu botol air mineral.


" Terima kasih", akhirnya Dena mengeluarkan suara juga setelah dari tadi hanya mengangguk dan menggeleng menjawab pertanyaan Puji.


Mereka menghabiskan menu makan siang dalam waktu sekejap, Dena mengeluarkan kotak obat kecil dari dalam tas nya. Ia menenggak obat obat itu dengan rutin setiap hari. Dua butir pil hipertensi, satu butir pil untuk menstabilkan fosfor dalam darah, satu butir natrium bikarbonat, dan beberapa butir vitamin untuk kesehatan tubuh nya.


Puji melongo melihat obat obatan sebanyak itu harus diminum oleh Dena.


" Itu obat apa, kau sakit", Puji memegang kening Dena.

__ADS_1


Lagi lagi hanya gelengan kepala dari Dena.


Puji sedikit banyak sudah bisa membaca sikap Dena yang memang tertutup. Ia tak memaksakan Dena untuk menjawab pertanyaan nya.


" Dena, lihat lelaki yang duduk di seberang sana", Puji mengalihkan topik pembicaraan seraya menunjuk seorang laki laki yang memakai kemeja biru.


Dena hanya menoleh lalu tak menanggapi ucapan Puji.


" Nama nya Ardian, dia seumuran kita", Puji masih meneruskan pembicaraan nya meskipun Dena tak bertanya apa apa.


" Apa penting nya bagiku, aku tak peduli dia siapa", ujar Dena dalam hati.


" Banyak karyawan perempuan disini yang tergila gila pada nya, beberapa mencoba mendekati namun belum ada yang berhasil mendapatkan hatinya", Puji terus berceloteh.


Dena menatap laki laki bernama Ardian itu, sekilas ia memang tampan. Postur tubuh nya yang ideal bagi seorang laki laki, dia berpenampilan rapi, hidung mancung dengan alis tebal.


" Hey...kenapa aku jadi terbayang alis hitam dan bulu mata lentik nya Mas Adam".


" Apa kau tertarik dengan nya?", Puji mengejutkan Dena yang masih lekat memandang Adrian.


Menggeleng lagi....


" Kenapa aku seperti berbicara dengan perempuan bisu sih", gerutu Puji dalam hati.


" Apa dia cuma bisa mengangguk dan menggeleng?"..


" Kalau wajah ku secantik dirimu, aku akan percaya diri mendekatinya hehehe' , Puji terkekeh sambil berbisik di telinga Dena.


Adrian nampak nya sadar kalau ia sedang di perhatikan oleh dua perempuan ini. Ia balas menatap ke arah Puji dan Dena.


Dena bersikap tenang dan acuh, karena baginya lelaki itu biasa saja. Sementara Puji memasang senyum termanis nya kepada Adrian, tangan Puji mencubit kecil lengan Dena.


" Lihat, dia menatap kita... Ehh sepertinya menatap mu", ujar Puji.


Dena tak merespon ucapan Puji, ia beranjak dari tempat duduk dan meraih tas nya.


" Ayo kita kembali ke ruangan".


Puji mengikuti langkah Dena dari belakang, sambil terus melirik Adrian yang juga tak melepas pandangan nya ke arah mereka.


Pukul empat sore, menandakan jam kerja normal Perusahaan telah usai. Ada beberapa karyawan yang masih lembur dan melanjutkan pekerjaan nya. Dena sudah selesai dengan laporan laporan nya, ia ingin cepat pulang ke rumah. Tak sabar ingin merebahkan tubuh nya di kasur. Kaki nya terlihat sedikit bengkak karena terlalu lama dalam posisi duduk.


Ia melajukan kendaraan nya, melewati rumah sakit tempat yang rutin ia kunjungi . Saat melewatinya, yang pertama kali muncul di benak nya adalah raut wajah lelaki yang beberapa hari ini ia acuhkan.

__ADS_1


Bagaimana besok sikap mereka berdua saat bertemu? Apakah Dena masih bertahan dengan sikap acuh nya? Tunggu kelanjutan nya di Episode berikut nya ya🙂🙂


__ADS_2