
Apa kau pernah merasakan sendiri dan benar benar sendiri?
Bagai berada di ruang kedap suara, terkurung dan terkunci rapat berusaha keras mencari celah untuk keluar.
Dena berada di keramaian orang orang yang menghadiri pemakaman Adrian sore itu, namun ia merasa hanya seorang diri disitu.
Ia masih duduk bersimpuh di hadapan gundukan tanah yang masih basah itu, tatapan nya nanar. Matanya belum kering dan hidung nya masih memerah.
" Adrian sudah tenang disana sayang, ia tidak lagi merasakan sakit. Kau harus mengikhlaskan nya", Ibu masih mengusap bahu Dena.
Hampir semua para pelayat sudah mulai meninggalkan area pemakaman kala itu, yang tersisa hanyalah keluarga Dena dan Kak Radit serta Mas Adam yang banyak membantu proses pemakaman hari ini.
Dena memang sedikit lebih tenang saat pemakaman Adrian tadi, namun belum ada satu kata pun yang terucap dari bibirnya.
Sebelum jasad kaku Adrian di kafani, ia sempat mencium kening lelaki yang ia cintai itu dengan sangat lama kemudian membiarkan Noah kecil ikut mencium ayah nya untuk yang terakhir kali.
Semua yang hadir saat itu turut meneteskan air mata ketika Noah malah asyik memainkan janggut di dagu Adrian, bayi kecil itu mengira papa nya hanya tertidur. Ia menepuk nepuk wajah dingin Adrian, meminta nya untuk tertawa seperti yang biasa ia lakukan. Namun tetap saja papa nya tak bergeming, jasad kaku itu tersenyum dalam tidur panjang nya.
" Ayo kita pulang", Mas Adam kini mendekat duduk di samping Dena.
Ia sudah berjanji pada Adrian di ujung hidup nya untuk menjaga Dena dan Noah. Meskipun sebenarnya tanpa Adrian minta pun, selama ini Mas Adam selalu berusaha menjaga Dena dari jauh.
Dena menggeleng.
" Aku ingin disini, menemani suamiku. Dia pasti kedinginan nanti malam, dia butuh peluk ku", kali ini Dena sudah mau bersuara meski pelan.
Adam mengerti sekali betapa ini semua berat untuk Dena.
" Kasihan Noah kalau kau ingin tetap disini, Noah pasti mencari mu. Ia sudah kehilangan Adrian, jangan buat ia merasa kehilangan Ibu nya juga", Mas Adam mencoba merayu Dena untuk pulang dengan alasan Noah.
" Kenapa harus Adrian yang pergi secepat ini Mas? Padahal aku masih ingin mengisi bab terakhir ceritaku bersamanya dengan kata terima kasih untuk kisah yang panjang di kehidupan nya yang sangat singkat".
Mas Adam menghela nafas panjang, ingin rasanya ia memeluk perempuan di samping nya yang sekarang amat rapuh.
" Karena Tuhan tahu Adrian orang baik, maka Tuhan rindu padanya dan ingin cepat bertemu Adrian di surga. Percayalah padaku, Adrian sekarang sudah bahagia di surga Tuhan".
" Ia pasti akan sedih jika melihatmu lemah dan menangis seperti ini. Bukankah ia ingin kau menjaga Noah?".
" Ayolah ikut aku dan keluargamu pulang", Mas Adam dengan suara lembutnya berbisik di telinga Dena.
Suara bisikan itu berhembus dingin membelai rumpun rumpun pohon kamboja, menghangatkan langit sore yang sudah mulai jingga.
__ADS_1
Dena hanya diam, memegang tanah kuning di gundukan makam. Mas Adam menarik tangan Dena, Ibu dan yang lain nya percaya laki laki ini bisa menenangkan Dena.
Dena akhirnya mau beranjak dari duduk nya, sekali lagi sebelum berdiri ia membelai nisan kayu yang tertancap di atas tanah.
" Sayang, aku pulang ya. Aku janji besok aku akan kesini lagi bersama Noah", kali ini ucapan nya terdengar berat. Ia masih ingin menangis, namun sepertinya air mata nya sudah mengering.
Dena melangkah pelan, mengikuti Mas Adam yang masih memegang tangan nya menuntun keluar dari area pemakaman.
Sampai di rumah, Dena langsung mengurung diri di kamar. Noah saat itu sudah tertidur bersama pengasuh nya.
" Bu, aku pamit pulang ya. Kabari aku kalau butuh bantuan apapun", Mas Adam berpamitan pada Ibu dan juga Ayah.
" Ibu yang berterima kasih banyak pada Nak Adam karena sudah banyak membantu kami. Ibu minta tolong sering sering lah datang kesini untuk mengawasi Dena", permintaan Ibu bukan tanpa alasan. Adrian sendiri yang mengamanahkan itu, tampak nya Dena juga hanya sedikit patuh dengan ucapan Mas Adam.
Mas Adam mengangguk, ia pulang ke rumah dengan lelah dan rasa yang bercampur aduk.
Ia teringat janji nya pada Adrian, entahlah dengan cara seperti apa ia harus menjaga dua orang yang berharga bagi laki laki yang kini telah tiada itu.
****
Malam hari di kamar yang kini hanya ia huni seorang diri, Dena memandang langit langit kamar mencoba mencari teduh wajah suaminya.
Di tembok sebelah kiri, ia meraba puisi yang pernah ia rajut untuk Adrian. Di hembusan angin jendelanya, ia mencoba mencari nafas yang biasa berderu disampingnya. Namun ia tak mendapatinya lagi.
Dena hanya bisa memeluk baju terakhir yang di pakai Adrian, ia mencium aroma wangi khas laki laki yang kerap mencumbunya itu.
Belum satu hari ia ditinggalkan, namun kerinduan nya sudah tak bisa ia pendam. Dena hanya menangis lagi dan lagi, lalu tertidur karena matanya yang lelah.
Ia terbangun, membuka mata di jam jam tengah malam. Mencari, meraba, memeriksa isi dada.
Nama suaminya masih ada, namun kini hanya tinggal sebuah nama.
Dena mencoba memejamkan matanya kembali, ia terlalu memelihara bayangan. Terlalu mencintai kenangan, padahal sesungguhnya ia telah kehilangan.
*****
Dena membuka mata nya ketika matahari pagi mulai memaksa masuk menembus kisi kisi jendela kamarnya. Pagi ini ia bangun dengan status baru, seorang single parent.
Mbok Nah sudah menyiapkan sarapan untuk Dena pagi itu di kamarnya. Ibu menghampiri putrinya, untuk sementara Ibu akan tinggal disini bersama Dena.
" Ayo habiskan sarapan mu, kau tidak makan apa apa sejak kemarin", ucap Ibu.
__ADS_1
Dena menggeleng.
" Adrian pasti lapar bu, siapkan makanan untuk Adrian, aku akan mengantar nya", Dena bicara tapi pikiran dan tatapan nya entah kemana.
" Dena, sadarlah.. Adrian sudah tidak di dunia ini lagi, jangan buat dirimu berhalusinasi", ucapan Ibu terdengar meninggi, ia tahu ia tak bisa sesabar Adam menghadapi tingkah Dena.
" Tidak.... Adrian masih ada di dunia ini, tidak ada seorang pun yang bisa mengambilnya", Dena berteriak melempar apa yang bisa ia jangkau dengan tangan nya seperti orang kesetanan.
Ibu memanggil Mbok Nah, meminta bantuan perempuan tua itu memegang tangan Dena.
Ibu dan Mbok Nah kesusahan membuat Dena berhenti mengamuk. Namun akhirnya mereka berhasil juga menenangkan Dena karena tenaganya melemah akibat tidak makan dari kemarin hingga membuatnya lemas.
Ibu terlihat iba dan prihatin menatap putrinya dengan rambut acak acakan dan wajah kotor dengan air mata yang sudah mengering. Kondisi kejiwaan nya begitu labil, ia bisa berubah kapan saja. Terkadang terlihat tenang seolah sudah bisa menerima kenyataan, namun terkadang kembali terguncang hingga bertingkah mengerikan.
Ibu mengambil ponsel nya, berniat meminta bantuan Mas Adam. Karena Ibu yakin hanya lelaki itu yang saat ini bisa diandalkan.
" Selamat pagi Nak Adam, maaf mengganggu sepagi ini", ucap Ibu.
" Pagi Bu, tidak apa apa. Aku tidak merasa terganggu. Bagaimana keadaan Dena bu?".
" Itulah Nak Adam, ibu menelpon karena ingin Nak Adam ke rumah pagi ini. Dena baru saja mengamuk tak bisa dikendalikan, ia belum makan sama sekali sejak kemarin. Ibu khawatir ia malah jatuh sakit".
" Hhmmm, baiklah bu nanti aku kesana. Sekarang biarkan dulu Dena melakukan apa yang ia mau, Ibu cukup mengawasi saja. Jangan paksa dia".
" Baik Nak Adam, terima kasih lagi lagi kami merepotkan", ucap Ibu merasa tak enak.
" Ini sudah jadi kewajiban ku, Bu".
Adam tak pernah merasa keberatan dengan tugas baru nya ini, janjinya pada Adrian akan selalu ia jaga.
Ibu merasa sedikit lega, menatap Dena yang terdiam duduk di sudut tempat tidur memeluk kedua lutut nya seperti orang ketakutan. Setidaknya ia tidak berteriak dan mengamuk seperti tadi.
Dena sudah kehilangan, kehilangan hati yang mencintainya.
...----------------...
Berat juga ya menjalani takdir seperti Dena, baru saja bahagia karena ginjal baru yang ia miliki. Namun sekarang harus menelan kenyataan ditinggalkan oleh belahan jiwa yang amat ia sayangi.
Bagaimana kah cara Mas Adam memenuhi janji nya untuk menjaga Dena dan Noah?
Apa Dena akan mudah menggantikan posisi Adrian dengan Mas Adam?
__ADS_1
Ikuti terus ya episode berikut nya. Terus dukung karya thor dengan cara like n komen sampai karya tamat. Bisa juga dukungan dari vote biar karya thor populer🙏🙏🥰
Terima kasih.