Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu

Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu
Kepergok Adrian


__ADS_3

" Selamat pagi sayang, hari ini kan hari sabtu,


apa kau mau aku temani ke rumah sakit?",


telepon dari Adrian ketika Dena hendak bersiap untuk berangkat ke rumah sakit pagi itu.


" Tidak usah, kau istirahat saja hari ini di rumah".


" Aku tidak apa apa sendirian, sekarang aku sudah bersiap mau berangkat", Dena terpaksa menolak Adrian untuk menemaninya karena ia sudah ada rencana hari ini.


" Baiklah, hati hati di jalan ya".


" Kabari aku kalau ada apa apa, aku nanti siang juga ada janji dengan klien di luar kantor".


" Sampai jumpa nanti malam", Adrian menutup telepon .


***


Dena sudah selesai dengan cuci darah nya hari itu, ia sengaja tak menghubungi Adrian karena takut kekasih nya itu bertanya ia ada dimana.


Keluar dari parkiran rumah sakit, Dena mengarahkan kendaraan nya melaju ke cafe yang ia katakan kepada Mas Adam kemarin sore.


Dena sudah sampai di cafe dan memesan minuman serta sedikit makanan ringan.


Sepuluh menit sudah ia menunggu, Mas Adam belum juga datang. Ia tak mau menghubungi laki laki itu karena ia begitu yakin Mas Adam akan datang menemuinya.


Es jeruk di gelas nya hampir habis, hampir satu jam waktu ia lalui dengan harapan laki laki itu pasti datang.


Namun rasanya sekarang sudah terlalu lama ia menunggu. Sedikit perasaan kecewa timbul di hatinya, egois memang jika harus memaksakan lelaki itu tetap datang hari ini.


Ia bahkan masih ingat bagaimana hari ketika ia memutuskan untuk pergi dari rumah sakit itu, Mas Adam bahkan terlihat memohon kepadanya untuk terus disitu agar ia tetap bisa melihat dirinya.


Dena memutuskan untuk pulang, berdiri meraih tas nya di atas meja ketika ia melihat lelaki itu muncul di pintu cafe dengan kaos hitam lengan panjang yang lengan nya ia tarik sampai ke bawah siku.


Mas Adam berjalan ke arah Dena, membuat Dena urung beranjak dari tempat duduk nya.


Ia mengambil posisi duduk di hadapan Dena.


" Maaf aku terlambat datang, pasti kau sudah menunggu lama", ucap Mas Adam.


Tadinya ia memang berniat tidak datang ke cafe itu, namun ternyata hatinya masih terlalu tertarik untuk melihat perempuan itu meskipun sekarang tak pantas lagi mengharapkannya.


Dena masih diam, menarik nafas perlahan dan menghembuskan nya sama pelannya seperti saat tadi ia menariknya .


Terbesit kerinduan di hatiku yang hancur berantakan .


Seperti rintik yang sedari tadi merindukan hujan.


Layaknya senyuman yang tersungging palsu untuk ditampilkan.


Ada sekelumit rasa yang tak sanggup aku ungkapkan.


Pada bait bait senja yang meluluh lantakkan ingatan.


Meleburkan kenangan yang menolak untuk dilupakan .


Aku terhenti pada sebuah persimpangan hati yang tak lagi memiliki haluan.


Teronggok pada genangan rindu yang tak henti hentinya bertebaran.


Bimbang menyeruak menguasai pikiran yang saling berbenturan .


" Tidak apa apa Mas, kau mau datang saja aku sudah berterima kasih", ucap Dena menjawab permintaan maaf Mas Adam.


Adam kemudian memesan minuman.


" Mas Adam tidak ingin makan?".


" Tidak Dena, terima kasih aku sudah makan tadi di rumah".

__ADS_1


Suasana masih terasa canggung.


" Bagaimana hubunganmu dengan Adrian?", Adam memberanikan diri bertanya.


" Baik Mas, hubungan kami baik baik saja".


" Apa keputusanmu sudah bulat untuk menikah dengan Adrian?".


Dena merasa pertanyaan yang satu ini hanya akan membuat sakit dirinya ataupun Mas Adam.


" Mas, tolong jangan bahas Adrian saat ini".


" Itu hanya akan membuat rasa bersalahku semakin besar terhadap Mas Adam dan Adrian".


" Bukankah dengan kau mengajak ku bertemu hari ini merupakan kesalahan besar juga bagimu", Adam berkata dengan tenang.


" Mas aku ingin bertemu denganmu karena aku ingin meyakini mu kalau keputusan yang Mas Adam ambil itu salah".


" Jangan tinggalkan ruangan Hemodialisa itu mas", ucap Dena sedikit tertahan.


" Kalau keputusan ku kau anggap salah, lantas apa menurutmu keputusan yang kau ambil semuanya benar?".


" Keputusan untuk pindah rumah sakit, keputusan untuk menjauh dariku, keputusan bertunangan dengan Adrian, dan satu keputusan terbesar yaitu memberikan tubuhmu untuk ku".


" Aku pikir saat itu terjadi, kau bersungguh ingin menjalani hubungan serius denganku".


Adam mengungkapkan satu persatu kekecewaan yang ia rasakan.


Semua perkataan itu telak membuat Dena tak bisa berkilah.


Adam juga sebenarnya menahan sakit yang mengguncang seluruh perasaan nya.


" Demi menjadikanmu sebuah bongkahan,aku rela menjadi patahan".


"Sekarang aku harus pamit agar kita tak saling sakit", desah Adam di dalam hatinya .


" Apa masih ada yang ingin kau bicarakan Dena?".


Ia baru berhenti meremas jarinya ketika tiba tiba Mas Adam meraih tangan nya dan menggenggam jemarinya dengan sangat erat.


" Dena, apa kau tau aku sudah tak punya tujuan hidup lagi saat ini?".


Dena tau dan dena begitu mengerti apa yang lelaki ini rasakan.


" Maafkan aku Mas, kau berjuang sendiri untuk cinta kita tapi aku malah tak punya kekuatan apa apa untuk membuktikan kepada semua orang kalau aku mencintaimu".


Mereka lalu diam dengan rasa di hati mereka masing masing. Adam belum melepaskan genggaman tangan nya.


Disaat itulah mereka tak sadar ada seseorang yang berjalan ke arah mereka.


" Sayang, apa yang kau lakukan disini?".


Suara laki laki itu tidak hanya mengejutkan Dena tetapi juga membuat Mas Adam refleks melepas genggaman tangan nya.


" Sayang sejak kapan kau disini?", suara Dena terdengar sangat gugup.


" Aku baru saja sampai ke cafe ini dan dari jauh melihat kalian berdua", Adrian berusaha berpikiran positif kepada Dena meskipun ia tidak nyaman melihat lelaki lain menggenggam tangan kekasihnya.


" Sayang, kau jangan salah paham dulu".


" Aku tidak sengaja bertemu Mas Adam disini,dan tentang apa yang kau lihat itu tidak seperti yang kau kira".


" Kami hanya bercerita tentang Mas Adam yang berhenti bekerja", Dena berusaha menjelaskan kepada Adrian, padahal lelaki itu tak bertanya sama sekali kenapa mereka berpegangan tangan.


Begitulah jika orang sedang melakukan kesalahan, ia akan sibuk dengan pembenaran dan pembelaan untuk dirinya sendiri meski tak ada yang membahasnya.


" Adrian, maaf aku tidak ada maksud apa apa dengan kekasihmu,. aku harap ini tidak mengganggu hubungan kalian", Mas Adam ikut bersuara.


Adrian mengambil posisi duduk di kursi yang ada di antara Dena dan Mas Adam.

__ADS_1


" Hahaha, tenang saja Mas".


" Aku tidak akan marah, aku mengerti bagaimana kau menganggap kekasihku".


" Aku tau kau sudah menganggapnya seperti adikmu sendiri", Adrian mencoba tidak berpikiran macam macam meskipun dalam hatinya nanti saat berdua Dena ia pasti meminta penjelasan lebih untuk hal itu.


" Baiklah kalau begitu, aku pamit pulang ya", Mas Adam tak nyaman berada di antara pasangan kekasih ini.


" Hati hati di jalan Mas Adam, kapan kapan kalau ada waktu kita bisa bertemu lagi", Adrian tetap menunjukkan sikap persahabatan nya meskipun ia takut lelaki ini menjadi batu di antara hubungan nya dengan Dena.


Dena tak mampu bersuara, hanya melepas kepergian Mas Adam dari cafe itu dengan tertunduk.


" Sayang, aku ada janji dengan klien ku di cafe ini", ucap Adrian.


" Mungkin sebentar lagi ia datang".


" Kau pulang lah , istirahat dirumah".


" Nanti malam aku ingin kita pergi makan malam diluar".


Dalam hati Adrian ingin berkata nanti malam kita bertemu, aku butuh penjelasan mu.


" Baiklah sayang, aku pulang ya", Dena berpamitan kepada Adrian.


" Hati hati di jalan, kabari aku kalau kau sudah di rumah", Adrian mengecup hangat kening kekasih nya itu.


Di perjalanan pulang, Dena memikirkan bagaimana tadi Adrian mendapati dirinya sedang bergenggaman tangan dengan Mas Adam.


Ia tau ini belum selesai begitu saja, Adrian pasti akan menanyakan hal itu lagi kepada nya.


Lelaki itu meskipun menampakkan wajah biasa saja, namun Dena tau ia menyimpan tanda tanya besar di kepalanya. Ia berusaha tidak marah, karena ia takut kehilangan orang yang ia cintai.


Ponsel Dena berbunyi, ada pesan masuk dari Mas Adam ketika ia baru saja sampai di rumah.


" Dena, maaf jika tadi Adrian harus melihat aku menggenggam tangan mu".


" Aku harap ini tidak jadi pertemuan kita yang terakhir".


" Meskipun nanti kau sudah menikah dengan Adrian, kenanglah aku sebagai lelaki yang pertama ada di hidupmu".


Dena menutup layar ponsel nya, ia tak bisa membalas pesan itu. Salah nya karena ia bermain main dengan dua perasaan lelaki.


Satu laki laki hangat cinta pertama nya yang membuat ia percaya bahwa dalam hidup kita membutuhkan cinta, menolak keyakinan selama 27 tahun ia belum merasakan perasaan sayang kepada laki laki .


Dan yang satu lagi, laki laki penyabar yang menerima dia apa adanya, rela melakukan apapun dan begitu takut kehilangan perempuan yang ia cintai.


" Tuhan, aku harap apapun nanti yang akan terjadi padaku, apapun yang menjadi pilihan hidupku tidak akan ada hati yang terluka".


Ia kembali membuka layar ponsel yang tadi ia tutup. Mulai mengetik sebuah pesan di keyboard hp nya .


" Aku mencintaimu, sampai kapanpun meski seumur hidup ku kuhabiskan bersama lelaki lain tapi percayalah hatiku tidak akan pernah mati untuk cintamu".


Klik SEND.


...----------------...


Adrian sebenarnya curiga nggak ya kepada Dena dan Mas Adam?


Apa Adrian akan membutakan mata hatinya demi cinta terhadap Dena?


Ikuti terus ya update nya, meski up nyantai karena author lagi siap siap ke rumah sakit ingin bertemu si kupu kupu hijau😁


Yang mau tau jarum kupu kupu itu seperti apa, nih author kasih liat gambarnya.



Jarum ini berukuran besar sekali, ditusuk ke pembuluh darah tanpa anastesi . Jadi rasanya WOW di hinggapi dua jarum seperti ini selama 4 jam.


Doain thor sehat terus ya

__ADS_1


Jangan lupa pencet jempol nya ya🥰🥰🙏


__ADS_2