
Tidak ada yang salah dalam pertemuan yang tidak disatukan. Tuhan tahu yang terbaik untuk kita .
Adam sudah terlihat rapi sejak setengah jam lalu, namun ia masih berdiri mematung di hadapan jendela rumah nya.
Memandang keluar, namun pikiran nya ternyata melayang lebih jauh dibanding yang ia tatap.
Tangan nya ia selipkan di dua saku celananya, pandangan nya tegak ke depan dengan postur tubuh tinggi berisi, ia semakin terlihat berkharisma ketika ia diam seperti itu.
Pikiran nya masih ragu, akan tetap datang memenuhi undangan Laras atau membatalkan nya dengan mencari alasan.
Sebenarnya bukan karena malas bertemu Laras, tapi sungguh ia takut perasaan nya kembali membuncah ketika melihat perempuan yang masih menjadi penghuni utama di ruang hatinya.
" Papa..... ayo katanya kita mau pergi makan malam di rumah teman papa", suara Juna yang melengking seketika membuat lamunan adam menjadi buyar.
" Ehh... iya sayang sebentar lagi ya", jawab Adam kepada Juna yang hari itu sedang menginap di rumah bersamanya .
Ia berniat turut mengajak Juna untuk memenuhi undangan Laras. Karena tidak mungkin meninggalkan Juna sendirian di rumah.
" Baiklah, ayo kita berangkat", akhirnya Adam memutuskan untuk pergi karena tidak ingin Juna kecewa juga. Bocah lelaki itu bahkan sudah rapi sejak tadi sore ketika Adam mengatakan akan mengajaknya makan malam di luar.
" Papa, kita mau makan malam ke rumah teman papa yang mana?", Juna bertanya ketika mereka sudah di dalam mobil.
" Rumah nya Tante Laras, Juna ingat kan dengan Tante Laras teman kerja papa di rumah sakit?".
Bocah laki laki itu mengangguk, karena ia hafal satu per satu rekan kerja Papa nya itu.
Mereka sudah tiba di tempat tujuan, sebelum turun dari mobil Adam berpesan anaknya,
" Juna nanti di dalam jangan nakal ya", Adam mengusap lembut kepala Juna.
" Siap Papa".
Kedatangan Adam dan Juna sudah disambut oleh Laras di depan pintu, sedangkan Hasbi mengawasi dari Ruang tamu dengan bibir bersungut.
" Silahkan masuk Mas Adam".
" Junaaaa..... tante Laras kangen Juna".
" Juna apa kabar?", Laras mencium pipi bocah laki laki tersebut.
" Baik tante, Juna sekarang tinggal nya pindah pindah".
" Kadang sama mama kadang sama papa", ucap Juna dengan polos nya .
Mereka masuk dan duduk di ruang tamu, di temani Ibu dan tentu juga ada Hasbi disitu.
Meski tadi sudah berjabat tangan dengan Adam dan basa basi bertanya kabar masing masing, namun Hasbi nampaknya masih menjaga jarak dengan Adam.
Adam nampak hangat berbincang dengan Ibu, banyak bercerita tentang kesibukan nya yang sekarang.
Ketika sedang asyik berbincang dengan Ibu, Dena yang sedari tadi masih di kamar nya, ikut bergabung dengan mereka di ruang tamu.
Benar saja apa yang mereka khawatirkan masing masing, jika bertemu hanya akan menguak perasaan perasaan yang sudah mereka coba untuk kubur dalam dalam.
Ada rintik rinai rindu di hati mereka berdua, rindu berbincang tanpa rasa canggung seperti dua orang asing.
__ADS_1
" Dena, bagaimana kabarmu?", Adam bertanya dengan sikap hangat seperti biasanya.
" Baik mas", hanya sesingkat itu jawaban yang diberikan Dena agar tak terlibat pembicaraan yang lebih panjang.
Padahal sesungguhnya hanya mereka berdua yang mengerti bagaimana beratnya menahan perasaan masing masing.
" Kak Adrian kemana kok belum datang juga?", Hasbi sengaja bertanya pada Dena untuk menekankan kepada Adam kalau ia bukan lelaki spesial di hati Dena. Karena malam ini Adrian juga datang sebagai orang yang tepat untuk kakak nya.
" Sebentar lagi juga datang, tadi ia sudah di jalan", Dena melihat wajah Mas adam dengan rasa prihatin. Ia tau bagaimana ada di posisi Mas Adam.
Tak lama berselang, Adrian datang.
Tentu saja di sambut hangat oleh Hasbi, karena ia ingin membuat panas hati Adam.
Namun Adam tetap dengan wajah tenang dan hangat nya, menyapa Adrian. Ia tak tahu kalau sebenarnya Adrian mengetahui kisah ia dan Dena .
Adrian pun lelaki yang baik, ia tau bagaimana menempatkan diri dan bersikap. Ia tidak menunjukkan sikap permusuhan, meskipun ia tahu lelaki itu adalah saingan nya.
Namun ia tetap tenang, karena ia bangga menjadi laki laki yang di akui oleh Dena sebagai kekasih .
Adrian dan Adam terlibat perbincangan hangat, mereka layak nya sahabat lama yang baru bertemu kembali. Bercerita panjang lebar tentang pekerjaan mereka sekarang, membuat Hasbi gusar.
" Hey... Adrian, aku menjaga hubungan mu dengan Kak Dena agar baik baik saja. Kenapa kau malah membuka diri untuk lelaki tak tau diri itu?", umpat Hasbi di dalam hati.
Juna yang sedari tadi sibuk bermain game di ponsel nya bersama Laras, baru menyadari kehadiran Dena di ruangan itu.
" Papa, ini Tante yang waktu itu ketemu Juna di rumah sakit dan tempat makan bukan?", Juna ternyata masih ingat wajah Dena yang pernah dua kali bertemu dengan nya.
" Iya sayang, nama nya Tante Dena. Sana kasih salam sama Tante dena", Adam menarik tangan Juna, dan bocah laki laki itu dengan sopan nya mencium tangan Dena .
" Baik sayang, tante baik baik aja. Juna gimana kabar nya?", Dena memeluk bocah laki laki itu.
Adrian merasa sedikit keberatan rasanya melihat Dena memperlakukan Juna seperti itu, bukan karena ia tak menyukai anak kecil. Namun karena takut naluri keibuan nya sebagai seorang perempuan muncul, dan menyayangi bocah lelaki itu .
" Dia kan anak Adam, mana bisa aku membiarkan ia terlalu dekat dengan Dena", gumam Adrian dalam hati.
" Juna juga baik tante cantik", ia semakin erat memeluk Dena seperti rindu sosok seorang Ibu .
" Juna, namanya Tante Dena", Adam mengingatkan lagi anak laki laki nya itu.
" Biarin, Juna mau panggil tante cantik atau mungkin Juna boleh panggil tante dengan sebutan Mama cantik?", wajah polos Juna yang menatap Dena membuat Dena hanya mengangguk dan tersenyum.
" Hah ..mama? kau gila? sejak kapan kakak ku menikah dengan papa mu?", Hasbi mengumpat kesal sendiri dalam hati.
Benar saja ketakutan Adrian, lihatlah anak laki laki itu dengan nyaman nya bergelayut di pelukan Dena dengan manja seolah Dena adalah Ibunya .
Adam merasa tidak enak hati dengan tingkah anak nya. Kalau saja Dena tidak ada hubungan dengan Adrian, mungkin melihat pemandangan anaknya yang menyukai Dena adalah hal yang sangat indah. Namun Adam melirik ke arah Adrian yang sedikit pias wajahnya.
" Juna, sini nak ke papa. Jangan peluk Tante Dena terus. Tante nya capek tangan nya kan sakit", Adam menarik Juna untuk melepas pelukan nya ke Dena. Mereka bertatapan dalam jarak dekat ketika Adam menarik tangan Juna dan tak sengaja menyentuh Dena.
Getaran getaran itu hadir lagi, namun Dena buru buru membuang tatapan nya karena ia tau Adrian sedang memperhatikan nya.
Akhirnya Juna melepas pelukan nya, kemudian duduk di pangkuan Adam.
" Ciihh... dasar anak sama bapak nya sama aja maunya dekat dekat Kak Dena terus", Hasbi sedari tadi tak bersuara namun dalam hatinya sibuk mengumpat kesal .
__ADS_1
Sementara Laras senyum senyum sendiri melihat Mas Adam dan Kak Dena yang nampak sekali canggung namun sebenarnya masih saling sayang. Laras bisa menyadari itu karena ia hafal sekali dengan sikap mantan senior nya itu.
Hasbi memperhatikan sikap Laras.
" Benar kan dugaan ku, Laras ada maksud tertentu dengan ngidam nya kali ini".
" Lihat saja nanti malam di kamar, aku akan menyidangmu dan memberi hukuman seberat mungkin padamu", gerutu Hasbi.
Mereka kemudian memulai acara makan malam dengan hidangan yang sudah disiapkan Ibu sejak tadi.
Sepanjang makan malam, ada dua orang yang dibuat gusar. Adrian dan Hasbi.
Bagaimana tidak? Juna sengaja duduk di samping Dena, dan dengan manjanya minta di suapin oleh Dena seolah ia ibunya.
Adam sudah mencegah, karena ia tak enak hati dengan Dena dan Adrian. Namun Ibu nampaknya tak keberatan.
" Biarkan saja Nak Adam, mungkin Juna kangen mama nya". Akhir nya Dena dengan sabar menyuapi Juna.
Adam menatap pemandangan itu penuh haru dan bahagia. Seandainya hal itu bisa terjadi setiap hari dengan Juna dan Dena, ia pasti bahagia sekali memiliki dua orang yang begitu ia cintai ini.
" Dena, andai kau bisa jadi istriku. menjadi ibu sambung bagi Juna", harapan Adam.
Adrian dan Hasbi nampak nya punya protes yang sama jika boleh di ungkapkan.
" Hey..kenapa makan malam ini malah seperti makan malam keluarga kecil Adam, Dena dan Juna", tapi demi menghormati Ibu keduanya diam saja sambil menahan kesal di dada.
Hasbi masih melihat wajah Laras yang penuh kemenangan, ia yakin memang ini semua rencana istrinya.
" Sayang, disini kan sudah ada Mas Adam. Kau bilang ngidam ingin makan sambil melihat wajahnya".
" Sekarang sudah dipenuhi, makanlah yang banyak jangan sibuk senyum senyum sendiri", ucap Hasbi menyindir istrinya itu.
" Siap sayang, aku sekarang akan makan yang banyak..hehehe", Laras terkekeh seolah menertawakan suaminya yang kesal .
Selesai dengan makan malam nya, tak lama Mas Adam pamit pulang.
Hasbi dan Adrian mengusap dada dengan lega.
Namun sebelum pulang, bocah laki laki itu nampak nya belum berhenti mengobrak abrik hati Adrian dan Hasbi .
" Tante cantik, kapan kapan kita makan bareng lagi ya sama papa".
" Juna suka disuapin tante", ucap Juna sambil berpamitan mencium tangan Dena .
Hasbi dan Adrian saling tatap.
" Hah???", tepok jidat...
...----------------...
Ternyata yang menang banyak malam ini adalah Juna, hehehe....
Lalu apakah Laras akan benar benar disidang dan dihukum oleh suaminya malam ini?
Duh.. otor masih kepengen ngebahas Laras dan Hasbi nampak nya di episode berikutnya🤭🤭
__ADS_1
Ikuti terus ya update nya, jangan lupa like komen n kasih vote🥰🥰🙏