Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu

Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu
Jarum Kupu Kupu


__ADS_3

Tak seharusnya manusia cemas perihal takdir


Sebab selembar daun pun sudah Tuhan atur akan jatuh kapan dan di mana.


Kita hanyalah tanah yang di beri nyawa


Tidak akan ada yang menetap dalam hidup


Semua akan berpindah dan berubah..


Seperti hal nya hari itu,Dena yang sudah mulai melupakan impian impian nya untuk bertemu lelaki itu lagi, ternyata harus di pertemukan dengan cara seperti ini.


Dena menjawab singkat pertanyaan Mas Adam.


" Bandara" ucap Dena


Mas Adam menepuk kening nya,akhirnya ingat di mana dia pernah berjumpa dengan gadis manis di hadapan nya. Mas Adam menepuk lembut bahu Dena,menunjukkan rasa empati atas apa yang menimpa Dena. Dena hanya tertunduk menahan air mata nya yang hampir jatuh. Ia tau,lelaki ini pasti iba dengan nasib nya.


"Sabar dan terus semangat ya" aku akan memastikan kamu akan baik baik saja dan aku yang akan menangani langsung tindakan cuci darah mu,ucap Mas Adam.


Lukas yang mendengar ucapan Mas Adam seketika membelalakkan mata nya sambil bergumam dalam hati, "Nggak salah nih senior nya yang tampan itu mau menangani langsung tindakan hemodialisa pada pasien,padahal biasanya dia hanya memantau rekan rekan junior nya seperti Lukas dan teman teman nya"


" Ciihh... pasti karena pasien di hadapan nya ini seorang gadis muda cantik,makanya Mas Adam dengan sukarela menawarkan diri untuk menangani setiap tindakan cuci darah nya" fikiran seorang jomblo sejati seperti Lukas langsung terbang kemana mana.


Dena tersenyum,menganggukkan kepala mengiyakan ucapan Mas Adam.

__ADS_1


"Alamak.....senyum nya kenapa semanis ini sih?",jiwa jomblo Lukas seketika meronta ronta.


Dena masih mengatur detak nafas nya yang berdebar karena dari tadi tertegun menatap wajah Mas Adam yang menyejukkan hatinya. Ia mencoba pelan pelan menata perasaannya agar tidak berlarut terlalu dalam,ia tak ingin menciptakan luka untuk dirinya sendiri dan juga tidak ingin menciptakan benih kebencian pada lelaki di hadapan nya ini yang bisa saja keberatan jika ia tau Dena bahkan dari awal perkenalan mereka telah menaruh hati. Karena sejatinya mengungkapkan perasaan tanpa komitmen yang jelas adalah langkah keliru sebagai seorang pejuang.


"Kamu sudah siap kan?" tanya Mas Adam membuyarkan fikiran Dena.


"Sudah mas,aku bahkan sudah menyiapkan mental ku sejak kemarin" jawab Dena santai disertai tawa kecil di sudut bibir nya,mencoba untuk menutupi kecemasan nya .


Untuk sekarang dan di bulan bulan pertama ini Dena menjalani cuci darah masih dengan cara manual atau femoral karena belum terpasang akses seperti pasien pasien lain nya. Akses tersebut bisa di leher yang dikenal dengan sebutan CDL atau double lumen,seperti selang kateter yang terpasang di leher. Dan ada pula akses AV Shunt atau cimino yang terpasang di lengan. Tapi akses tersebut bisa di gunakan setelah di lakukan operasi pemasangan. Saat ini Dena hanya bisa melakukan prosedur pencucian darah dengan femoral,yakni 1 jarum di tusuk di bagian lengan dan satu lagi di bagian paha tepatnya ************.


Begitulah penjelasan Mas Adam kepada Dena,Ibu dan Kak Anjani sebelum ia melakukan tindakan.


Tirai di sekeliling tempat Dena di tutup,hanya Mas Adam dan Lukas yg berada di dalam nya sementara Ibu dan Kak Anjani menunggu di balik tirai. Rasa cemas kian melanda Dena,ingin sekali rasanya saat saat seperti ini dia menggenggam tangan Ibu nya.


Sementara itu Lukas menyerahkan dua buah jarum berukuran berkali kali lipat lebih besar di bandingkan jarum infus. Jarum Kupu Kupu,begitu lah mereka menamai jarum tersebut. karena bentuk nya lebih terlihat seperti Kupu Kupu.


" Hai jarum kupu kupu,selamat datang dalam hidupku" kelak kau akan selalu hinggap di tubuhku,menjadi saksi betapa kuat ragaku menghadapi rasa sakit ini", ucap Dena dalam hati.


"Saya tusuk sekarang ya,tarik nafas yang dalam", Mas Adam memberi aba aba kepada Dena agar nanti tidak terkejut saat jarum itu menembus kulitnya .


Dena menarik nafas panjang,memejamkan matanya. Tidak berniat melihat sedikitpun ke arah lengan nya yang hendak ditusuk. Dena menggerutu di dalam hati, "Huuhh,bahkan mereka tidak memberikan sedikit anastesi pun untuk mengurangi rasa sakit ".


Dalam beberapa detik,satu jarum kupu kupu sudah hinggap di lengan sebelah kanan Dena. Ia berteriak kecil merasakan sakit nya jarum kupu kupu merobek permukaan kulit putih bersih nya.


"Tidak sakit kan?", tanya Mas Adam setelah Dena berani membuka matanya melirik keberadaan jarum kupu kupu di lengan nya.

__ADS_1


"Tidak sakit apanya,aku bahkan ingin berteriak sekencang kencang nya kalau saja tidak memikirkan rasa malu", batin Dena


"Nanti lama lama juga kamu akan terbiasa Den" ucap Lukas yang dari awal lebih banyak diam.


Dena menoleh ke arah Mas Adam,seolah bertanya meyakinkan apakah benar nanti lama lama tidak akan sesakit ini karena terbiasa. Mas Adam melemparkan senyum membenarkan apa yang di ucapkan Lukas.


"Baik,sekarang satu lagi yang di bagian paha" lembut Mas Adam berkata kepada Dena,seolah Dena adalah anak kecil yang sedang di bujuk Ibu nya untuk menyelesaikan tugas sekolah.


Mas Adam dengan hati hati menusukkan jarum Kupu kupu di ************ kanan kaki Dena, kali ini Dena bisa menahan teriakan nya dengan membungkam mulut nya sendiri. Dena bisa bernafas lega setelah memastikan dua jarum Kupu Kupu itu telah hinggap dengan manis di tubuhnya. Selama dua jam ke depan jarum itu harus ada di tubuh Dena.


Ketika mesin mulai mengoperasikan tugasnya,satu jarum yang tertusuk di pembuluh darah arteri bertugas menyedot darah dari tubuh untuk dialirkan ke dalam selang yang terhubung dengan mesin pencuci darah untuk kemudian dibuang racun racun di dalamnya lalu dialirkan kembali ke pembuluh darah melewati satu jarum Kupu kupu yang ditusukkan di pembuluh darah Vena.


Dena melihat darah nya mengalir di dalam selang panjang yang terhubung dengan mesin di sebelahnya. Tampak Mas Adam mengatur kecepatan di layar monitor mesin tersebut. Merinding rasa nya Dena melihat darah nya sendiri berputar menuju mesin lalu kembali lagi di selang lainnya.


Tirai sudah di buka, Ibu dan Kak Anjani sudah bisa menemani Dena di sebelahnya.


"Sakit nak?" tanya Ibu khawatir dan sedikit takut melihat bagaimana proses cuci darah pada putri nya.


Dena menggelengkan kepala nya,ia dilarang menggerakkan kaki dan tangan nya yang di hinggapi jarum Kupu kupu.


"Ternyata, tidak semua Kupu kupu itu indah ya" ucap Dena kepada Ibu.


Ibu tersenyum, menjawab bijak pernyataan putri nya. " Tergantung dari sisi mana kau melihat nya Nak" jawab Ibu.


Dena mencerna kata kata ibunya,lalu membalasnya dengan sebuah senyuman. "Ahh,jarum kupu kupu.... Kau akan menjadi saksi desiran jantungku saat Tuan mu lelaki tampan itu menusukkan nya lembut di ragaku"

__ADS_1


__ADS_2