
Hari ini adalah hari ketiga sejak Dena merasa tak enak badan.
Dua hari kemarin Ibu yang selalu menemani Dena di rumah. Namun tetap saja Adrian tak tenang meninggalkan istrinya yang sedang sakit.
" Kau kenapa belum berganti pakaian kerjamu?", tanya Dena pada Adrian yang sudah mandi namun masih memakai kaos.
" Aku tidak bekerja hari ini sayang, aku sudah izin", Adrian duduk disamping Dena yang masih berbaring.
" Kita hari ini ke dokter spesialis mu ya", Adrian membujuk Dena yang dari kemarin menolak dibawa ke dokter.
Dena menggeleng lagi.
" Aku tidak sakit sayang, aku hanya ingin bermalas malasan. Aku tidak punya tenaga untuk bangun".
Adrian merasa sudah dua hari ini tidak melakukan hubungan intim dengan istrinya, kenapa Dena masih saja kelelahan.
" Sayang, apa kau merasa mual dan ingin muntah?", Adrian berharap sakit istrinya ini adalah tanda tanda kehamilan.
Dena menggeleng.
" Kenapa? Pasti kau berfikiran aku hamil? Aku tidak merasa mual sayang".
Dena tak ingin berharap lebih, ia takut mengecewakan suaminya.
" Ya sudah, kita periksakan sakit mu ke dokter ya aku khawatir dari kemarin kau tidak mau makan".
" Aku hanya ingin istirahat sayang".
Adrian menghela nafas, lagi lagi tak berhasil memaksa istrinya untuk ke dokter.
Ia membiarkan Dena kembali tidur meringkuk dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya.
" Hhhmm, padahal semalaman ia juga tidur pulas. Sekarang ia malah tidur lagi", gumam Adrian.
Ia membuka ponsel nya, mencari informasi mengenai tanda tanda kehamilan.
Namun yang ia dapati istrinya memang tidak mengalami mual muntah, hanya sedikit pusing dan lemas.
Terakhir ia membaca kalau ciri ciri perempuan hamil adalah telat dengan tamu bulanan nya .
Adrian mengingat ingat lagi, hampir satu bulan lebih sejak kedatangan tamu bulanan sebelumnya ia dan istrinya tak pernah absen berhubungan setiap malam.
" Harusnya kan ia sudah datang bulan, satu minggu yang lalu. Tapi aku masih menggaulinya tanpa ada tanda tanda ia akan datang bulan", gumam Adrian.
Ia mengelus pipi istrinya yang sedang tertidur, ia sebenarnya tak ingin mengganggu tidur perempuan itu. Namun ia penasaran ingin menanyakan hal itu pada Dena .
" Sayang... sayang, bangun lah", Adrian terus menghujani istrinya dengan ciuman agar ia terbangun .
Dena membuka paksa matanya.
" Hhmmm... ada apa? Aku ngantuk sayang".
" Kau belum datang bulan kan bulan ini?".
" Belum...kenapa memang nya?", Dena menjawab malas.
" Harusnya kan kau sudah datang bulan tanggal begini".
" Aku sudah biasa telat seperti ini sayang, tidak selalu di tanggal yang sama".
" Hhmm, tapi aku penasaran, nanti aku belikan test pack ya', Adrian masih berusaha membujuk istrinya.
" Sudahlah, aku tidak ingin kecewa. Rasanya tidak mungkin", kali ini Dena mencoba duduk.
" Ya kalau memang ternyata memang belum hamil tidak apa apa, kan tidak ada salahnya mencoba", ucap Adrian .
__ADS_1
" Tidak mau, kau pasti akan kecewa nantinya. Sudahlah sayang aku tidak hamil, beberapa hari lagi juga aku pasti datang bulan".
" Lagi pula aku tidak merasakan tanda tanda kehamilan seperti Laras saat itu".
Adrian lagi lagi tak berhasil membujuk Dena untuk mau melakukan test kehamilan.
Ia merebahkan diri di samping istrinya.
" Kau bilang kau tidak sakit?", Adrian bertanya.
" Tidak, aku hanya ingin bermalas malasan di tempat tidur".
" Kalau begitu kau bisa kan pagi ini melayaniku?", Adrian mulai menyeringai nakal.
" Sayang, aku tidak punya tenaga untuk itu", Dena memang terlihat lemas.
" Kau tak usah mengeluarkan tenaga, berbaring saja", Adrian mulai memainkan jemarinya di tubuh istrinya.
Dena memejamkan mata, lagi lagi pasrah.
Sepagi ini suaminya itu sudah minta di layani, begitulah kalau ia sedang tidak bekerja.
Tak ada bosan nya setiap hari ia melahap habis tubuh istrinya.
" Kau tau, sepanjang kita menikah leher dan dadaku tak pernah hilang dari bekas kecupan mu", bisik Dena pada Adrian yang lagi lagi memberikan stempel merah di leher istrinya.
Selimut yang tadi menutup tubuh Dena sudah tersingkir jatuh ke lantai.
Adrian seperti orang kesurupan setiap kali sedang bercinta dengan istrinya, berbeda jauh dengan keseharian nya yang selalu lembut .
Meskipun setelah itu ia selalu meminta maaf karena sudah membuat istrinya meronta ronta.
Ia semakin liar menggauli tubuh istrinya yang lemas berbaring.
Seperti biasa, ia tak cukup hanya dengan waktu yang sebentar. Ia lupa kalau istrinya sedang tidak enak badan.
Dena menjerit kesakitan memegang perutnya bersamaan dengan Adrian yang ingin menyelesaikan permainannya .
" Sayang.....hentikan perutku sakit", Dena mendorong tubuh Adrian diatasnya membuat cairan hangat yang keluar berhamburan di atas tempat tidur dan sedikit mengenai perutnya.
Dena masih memekik memegang perut nya .
" Perutku sakit, seperti kram", ia meringis dan meringkuk dengan tubuh telanjangnya .
Adrian panik.
" Kau kenapa sayang? Apa yang sakit?".
" Perutku sakit sekali", Dena masih merintih.
" Maafkan aku, apa karena aku terlalu kencang melakukan nya?", Adrian merasa bersalah .
Dena menggeleng .
Biasanya suaminya ini lebih keras melakukan nya dibanding tadi tetapi ia tak pernah merasakan sakit di bagian bawah perutnya.
Adrian memakai baju, kemudian mengambil pakaian istrinya di lantai. Membantu Dena berpakaian tanpa sempat membersihkan sisa cairan yang masih melekat di tempat tidur .
" Kita ke dokter sekarang", Adrian menggendong tubuh istrinya yang masih saja memegang perut .
Sepanjang perjalanan Dena terus merintih, kadang berteriak karena perutnya semakin kram.
Mereka tiba di Ruangan dokter.
Dena sudah berbaring siap untuk di periksa .
__ADS_1
Adrian menceritakan bagaimana kejadian tadi di rumah sampai istrinya mengaduh kesakitan.
Ia malu sebenarnya, ia takut kalau tenaganya yang terlalu kuat membuat istrinya sakit perut.
Dokter mulai memeriksa perut Dena dengan stetoskop.
Dena masih saja mengelus perutnya, namun ia mengatakan sudah sedikit berkurang rasa sakitnya .
" Bagaimana dok, istri saya kenapa?", Adrian masih panik.
" Maaf pak, apa istri bapak sedang hamil?", dokter itu bertanya.
Adrian menggeleng.
Bukan mengatakan tidak namun lebih tepatnya tidak tahu.
" Saya tidak berani memberikan obat pereda nyeri untuk istri anda, karena tadi saya menangkap ada suara detak di perut Nyonya Dena".
" Saya sarankan Bapak dan Ibu untuk memeriksakan diri ke dokter kandungan".
Adrian berbinar matanya mendengar itu.
" Benarkah dok?"
Dokter mengangguk.
" Sayang kau dengarkan apa yang dokter bilang?", Adrian berkata pada Dena yang masih saja tidak percaya.
Di perjalanan pulang Adrian membujuk Dena untuk ke dokter kandungan.
" Aku tidak mau sayang, untuk apa? Perutku sudah tidak sakit lagi sekarang", masih saja Dena menolak .
" Kenapa sih kau keras kepala?", kali ini Adrian tampak kesal .
" Aku tidak mau karena aku yakin aku tidak hamil".
" Tidak ada salah nya kan sayang, ayolah sebentar saja".
Dena masih menggelengkan kepalanya .
Adrian menarik nafas dalam, kesal dengan istrinya yang keras kepala.
Ia menghentikan kendaraan nya di depan apotik.
" Baiklah, kalau kau tidak mau ke dokter kandungan. Izinkan aku membeli alat tes kehamilan", tanpa menunggu jawaban Dena, Adrian langsung turun dari mobil kemudian membeli dua buah alat tes kehamilan.
" Aku turuti mau mu yang tidak ingin ke dokter kandungan, tapi kau turuti mau ku untuk melakukan tes kehamilan ini", ucap Adrian sambil menunjuk dua buah test pack di tangan nya.
Dena hanya diam tak berani menolak Adrian, karena ia mulai melihat nada bicara Adrian yang sudah meninggi.
" Besok bangun tidur waktu yang tepat untuk mengeceknya menurut apoteker tadi".
" Sekarang kita pulang ke rumah, kau istirahatlah".
" Maafkan aku yang sudah membuat perutmu sakit", Adrian mengelus perut istrinya.
...----------------...
Hamil... nggak.. hamil.. nggak??
Enaknya gimana ya😁
Adrian...sungguh terlalu sih. Istri lagi sakit juga dihajar habis habisan🤭
Next ditunggu ya up nya.. 🙏🙏
__ADS_1
tinggalin like n jejak buat ngedukung karya thor ya, boleh juga kasih bintang untuk penilaian nya biar thor semangat up n bs memperbaiki apa yang kurang 🥰🥰