Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu

Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu
Rahasia lagi


__ADS_3

Teruntuk aku yang selalu memendam


Aku yang selalu menangis dalam diam


Aku yang sukar terlelap dikala malam


Tidak apa, semua ini akan padam


Teruntuk aku yang kehilangan diri sendiri


Aku yang selalu menangis dalam sepi


Aku yang selalu menghujani pipi sendiri


Tidak apa, besok kita berjuang lagi


Adrian menatap langit langit di Ruangan rawat inap, ia mengingat kejadian naas satu minggu yang lalu.


Ia yang dengan berat hati meninggalkan anak dan istrinya untuk keluar kota beberapa hari, ternyata harus kembali dengan keadaan yang menyuguhkan realita menyayat hati.


Anaknya, istrinya, kakak nya, semua keluarga nya, menatap iba dan prihatin atas keadaan dirinya saat ini.


Meskipun Dena tetap menguatkan nya, namun ia merasa sudah tak berguna lagi sebagai seorang laki laki.


Sudah satu minggu kejadian itu, ia sekarang dirawat di ruangan rawat inap biasa. Luka luka di wajahnya berangsur membaik.


Ia hanya merasakan sakit di dada karena tulang rusuk nya yang belum pulih.


Kaki??? Ahh sudahlah, ia tak ingin lagi melihat kaki nya. Ia tak merasakan apa apa lagi.


Dena baru saja pulang, ia pamit sebentar untuk mandi dan berjanji akan kembali nanti malam untuk menemani Adrian di rumah sakit.


Kak Radit yang saat itu berjaga menggantikan Dena.


" Kak Radit, aku ingin mengatakan sesuatu", Adrian berbicara pelan.


" Ya, ada apa. Apa kau butuh sesuatu?",


Adrian menggeleng.


" Aku hanya ingin persetujuan dari kakak", ucap Adrian.


" Persetujuan? Persetujuan apa?", Radit masih bingung.


" Aku.... aku ingin mendonorkan ginjal ku untuk Dena".


Ucapan Adrian barusan terdengar sangat serius.


" Apa yang kau katakan? Kau tidak serius kan?", Kak Radit masih tidak percaya.

__ADS_1


" Aku serius Kak, kaki ku tidak akan pernah kembali lagi. Tulang tulang ku yang sudah patah tidak akan mudah untuk di perbaiki. Aku hanya akan menghabiskan sisa umur ku di kursi roda", Adrian berkaca kaca mengucapkan itu.


" Tidak, kau tidak akan melakukan nya", Radit masih keberatan dengan niat Adrian.


" Aku masih bisa hidup dengan satu ginjal Kak, Dena akan butuh banyak tenaga dan kesehatan yang baik untuk mengurus ku yang lumpuh ini. Dia masih bisa menjalani kehidupan normal dengan satu ginjal ku".


Kak Radit hanya diam, memandang adik nya.


Laki laki yang berjiwa besar sekali.


" Pikirkanlah matang matang, jangan mengambil keputusan dengan gegabah", ucap Kak Radit.


" Aku sudah memikirkan nya Kak, jauh sebelum kecelakaan ini terjadi dan jauh sebelum aku menikahi Dena, aku memang pernah berniat mendonorkan ginjal ku pada nya. Namun Dena menolak nya", Adrian masih berkata dengan penuh kesedihan.


" Dan sekarang apa kau pikir Dena akan begitu saja mau menerima donor ginjal darimu?", tanya Kak Radit.


Adrian menggeleng.


" Aku yakin dia tak akan pernah mau kak, sebab itu aku butuh bantuan Kak Radit untuk menjalankan niat ku ini. Aku tak ingin Dena tau".


Entah apa rencana Adrian untuk menjalankan itu semua tanpa Dena mengetahuinya.


" Kakak hanya bisa berharap yang terbaik untukmu, jika kau memang sudah bertekad untuk itu kakak bisa apa?".


" Kakak tau bagaimana rasanya mencintai begitu dalam, hingga ingin mengorbankan apapun yang kita punya untuk orang yang kita cintai".


Adrian diam lagi, memikirkan sesuatu.


Kak Radit baru pulang saat Dena kembali ke Rumah sakit malam itu.


" Terima kasih ya Kak Radit, pulang lah Kak Lisa pasti sudah menunggu", ujar Dena.


" Sayang, kau belum makan kan tadi sore?", Dena sudah menyiapkan makanan untuk suaminya.


Dena menyuapi Adrian yang masih saja tampak termenung.


" Sayang, Noah tadi badan nya sedikit demam. Ternyata dia tumbuh gigi", Dena berusaha mengajak berbicara Adrian yang tatapan nya kosong.


" Aku merindukan Noah", hanya itu yang diucapkan Adrian.


" Noah juga pasti akan sangat merindukan mu sayang, beberapa hari lagi kau akan pulang ke rumah", Dena menyemangati Adrian.


Malam itu, Dena tidur di Rumah sakit menemani suaminya.


Ia sudah lama terlelap, namun Adrian masih dengan pikiran nya.


Ia meraih ponsel nya.


Dengan susah payah mengetik pesan di ponsel .

__ADS_1


" Mas Adam, aku ingin bicara dengan mu hal penting. Datanglah besok pagi pukul delapan ke Rumah sakit", Adrian juga memberi tahu dimana Ruangan Rawat inap nya.


Adam yang menerima pesan dari Adrian bertanya tanya.


" Adrian? kenapa dia di rawat di rumah sakit? kenapa juga ia memintaku untuk menemuinya?", gumam Adam.


Hanya dengan datang besok pagi sesuai dengan apa yang diminta Adrian, yang bisa menjawab pertanyaan pertanyaan Adam.


" Baiklah Adrian, aku pasti datang", Adam membalas pesan Adrian.


Lagi lagi Adam dibuat bingung dengan keluarga Dena. Dulu saat Laras hamil, ia yang diminta datang untuk memenuhi ngidam nya Laras.


Lalu saat Dena koma, ia pula yang diminta datang untuk menyadarkan Dena. Dan sekarang, saat Adrian sakit ia harus dilibatkan untuk datang juga.


Kebetulan apa lagi ini? Ataukah Tuhan memang sudah mengatur nya dengan sangat indah?


Adrian sengaja meminta Mas Adam untuk datang pagi pagi, karena di jam seperti itu Dena akan pulang ke rumah. Dan ia hanya sendirian di Ruangan.


" Sayang, kau nanti akan menjalani kehidupan dengan normal. Kau akan merawat Noah, aku bisa pergi dengan tenang jika kau hidup tanpa mesin dan jarum kupu kupu itu", Adrian mengelus rambut Dena yang sedang tertidur pulas.


****


Pagi hari, Dena harus pulang ke rumah. Mandi dan melihat Noah sebentar lalu menyiapkan makanan untuk Adrian.


" Aku pulang ya sayang, aku sudah mengatakan pada perawat Ruangan untuk sering sering melihatmu. kalau kau butuh apa apa, pencet saja bel nya", Dena mengecup kening Adrian.


Ia sebenarnya lelah, harus bolak balik ke rumah sakit dan tidur dengan posisi duduk setiap malam nya atau terkadang tidur di bawah dengan kasur lantai.


Namun ia harus kuat demi suaminya, ia saja sudah cukup terpukul dengan keadaan ini apalagi Adrian yang harus kehilangan kedua kaki nya.


Ini tidak mudah bagi mereka, Dena bahkan masih sering diam diam menangis atas apa yang menimpa suaminya.


Adrian mengambil ponsel nya setelah Dena benar benar sudah keluar dari Ruangan.


" Hallo, Mas Adam kau dimana?"


" Hallo Adrian, aku sudah dalam perjalanan menuju ke Rumah sakit. Tunggu sebentar lagi aku sampai".


Adrian tak sabar menunggu kedatangan Mas Adam, ia berpacu dengan waktu. Takut Dena kembali ke rumah sakit sementara Mas Adam masih di Ruangan itu.


Ia tidak ingin ada yang tahu tentang hal ini.


Dan, Mas Adam lah yang paling bingung dengan semua ini. Mengapa setiap pertemuan dengan nya harus menjadi sebuah rahasia.


...----------------...


Adrian punya rencana apa ya untuk bertemu dengan Mas Adam?


Apa ia bisa dengan mulus menjalankan semua rencana nya?

__ADS_1


Pantau terus up nya 🙏🙏🥰


__ADS_2