
Suatu sore, di sebuah toko buku terbesar di kota itu. Adam sedang menyusuri rak demi rak, memilih novel yang berjejer di hadapan nya.
Ia mengambil beberapa novel karya Johanna Lindsey, penulis novel favorit nya, kemudian berjalan ke arah kasir untuk membeli novel novel itu.
" Mas Adam...", suara seorang perempuan memanggil namanya ketika ia sedang berdiri dalam antrian di kasir.
" Hai.. Julia? ", Adam menyapa balik perempuan yang tadi memanggilnya.
" Mas Adam apa kabar? Lama kita tidak berjumpa", perempuan bernama Julia itu mengingat terakhir ia bertemu Mas Adam sekitar tiga tahun yang lalu saat ia masih bekerja di Rumah sakit yang sama.
" Kabarku baik, kau sendiri bagaimana? ", tanya Mas Adam pada perempuan yang berprofesi sebagai apoteker itu.
" Aku juga baik Mas, ohh ya aku dengar Mas Adam resign dari pekerjaan Mas Adam. Kenapa Mas?".
Mas Adam hanya tersenyum, tak ingin menjawab alasan ia berhenti bekerja.
" Sebentar ya, aku bayar di kasir dulu", kebetulan saat itu sudah giliran Mas Adam.
Setelah selesai di kasir Mas Adam kembali menghampiri Julia.
" Mas Adam, bagaimana kalau kita ngobrol sambil makan diluar", Julia menunjuk restoran siap saji yang terletak di depan toko buku.
" Boleh ".
Mereka berdua pun menuju restoran dan memesan minuman.
Perempuan bernama Julia itu berusia 27 tahun, dulu ia sempat menaruh hati pada Mas Adam di awal perkenalan mereka. Namun setelah tahu Mas Adam sudah memiliki istri, ia mundur teratur.
" Bagaimana kabar istri dan anak Mas Adam?", tanya Julia membuka pembicaraan.
" Hhhmm, aku sudah bercerai dengan istriku ".
" Ohh, maaf Mas aku tidak tahu dengan hal itu ", ucap Julia sedikit terkejut karena yang ia tahu dulu Mas Adam adalah suami setia yang begitu mencintai istrinya. Jadi mendengar perceraian dari mulut lelaki itu ia hampir tak percaya.
" Tidak apa apa, tak perlu minta maaf. Kau sendiri bagaimana? Apa sudah menikah?".
Julia tersenyum malu mendengar Mas Adam menanyakan hal itu.
" Hehehe, belum Mas. Belum ada yang cocok di hati".
Sore itu mereka berbincang banyak hal, Julia seperti mendapat angin segar ketika tahu status Mas Adam sekarang yang masih sendiri.
__ADS_1
Mereka pun bertukar nomor ponsel.
" Kapan kapan kalau ada waktu kita ketemuan lagi ya Mas", ucap Julia saat obrolan sore itu selesai dan mereka memutuskan untuk pulang.
Mas Adam mengiyakan, baginya pertemuan dengan Julia sore ini biasa saja. Sama seperti bertemu dengan teman lama, namun tidak bagi Julia. Perempuan itu kembali menaruh harap pada laki laki yang dulu pernah ia suka.
Mereka kemudian berpisah di parkiran toko buku.
" Sampai jumpa lagi Mas Adam", Julia melambaikan tangan nya.
" Hati hati di jalan ya ", ucap Mas Adam pada perempuan bertubuh mungil itu.
Selama berbincang dengan Julia tadi, pikiran Adam sebenarnya sibuk memikirkan Dena. Bertanya tanya dalam hati perempuan itu sedang apa sekarang. Ia teringat dengan novel novel yang tadi ia beli, kemudian mengambil ponselnya dan menelepon Dena saat dalam perjalanan pulang.
" Selamat sore Dena, kau sedang apa?".
" Sore Mas, aku baru saja pulang dari rumah Ibu. Ada apa Mas?".
" Aku baru saja pulang dari toko buku, dan aku membeli beberapa novel. Kau pasti menyukainya, apa kau mau kalau aku mengantarnya sekarang ke rumahmu?", tanya Mas Adam sambil berharap Dena mau menerimanya karena ia rindu ingin bertemu.
" Boleh Mas, aku tunggu di rumah ya ".
Ia tiba di rumah Dena disambut oleh suara Noah yang terus memanggilnya Papa.
Mungkin beberapa bulan setelah kepergian Adrian, bagi Noah Mas Adam adalah papa nya. Karena laki laki inilah yang sering mengajak nya bermain di akhir pekan.
Mas Adam memberikan novel novel yang tadi ia beli kepada Dena.
" Terima kasih ya Mas ".
" Ohh ya Mas Adam sudah makan?", tanya Dena ketika teringat tadi ia membawa banyak makanan dari rumah Ibu.
" Sudah, kebetulan tadi di toko buku aku bertemu teman lama dan kami ngobrol sambil makan di Restoran dekat situ".
" Hhmm, teman lama?", tanya Dena ingin tahu.
" Iya, namanya Julia. Dulu ia apoteker di Rumah sakit tempatku bekerja", jawab Mas Adam santai dan apa adanya.
Mendengar nama yang disebut Mas Adam adalah seorang perempuan, tiba tiba muncul kekhawatiran di dalam hati Dena. Ia takut perempuan yang tadi bertemu Mas Adam adalah orang yang sangat spesial baginya, seperti mantan kekasih mungkin.
" Apa ia cantik?", pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Dena.
__ADS_1
Mas Adam tertawa.
" Tentu saja cantik, ia kan perempuan. Kalau laki laki berarti ia tampan, hehehe", Mas Adam menjawab dengan candaan nya namun seketika raut wajah Dena berubah.
" Bagaimana ini, Mas Adam bilang ia cantik. Apa Mas Adam menaruh hati padanya?", tanya Dena dalam hati.
" Tapi aku rasa kau lebih cantik darinya ", Mas Adam melanjutkan ucapan nya, yang membuat Dena tersipu malu.
Tak lama Mas Adam pamit pulang, ia merasa tidak enak berlama lama di rumah Dena dengan status mereka yang bukan siapa siapa.
Malam itu, Dena dibuat tak bisa tidur karena memikirkan perempuan yang bernama Julia.
Entah kenapa ia merasa takut Mas Adam berpaling darinya. Egois sekali bukan, ia menggantungkan perasaan laki laki itu sementara ia takut kehilangan cinta darinya.
Andai saja Dena tahu, perempuan bernama Julia itu memang sedang berniat mendekati Mas Adam pastilah ia akan semakin panik.
Meski sebenarnya bagi Adam tak ada perempuan lain yang ia izinkan masuk ke dalam hatinya kecuali Dena.
Julia terus mencari celah untuk dekat dengan Mas Adam, ia selalu mengirimkan pesan pesan singkat dengan perhatian perhatian kecil nya.
Dan Adam memang type laki laki yang ramah, ia selalu membalas pesan pesan yang dikirimkan Julia. Membuat perempuan itu semakin berharap untuk bisa dekat dengan dirinya.
Julia beberapa kali mengajak Mas Adam untuk bertemu, namun laki laki itu tampaknya tak terlalu tertarik untuk lebih dekat dengan Julia.
Tak mengapa baginya ia bukan siapa siapa bagi Dena, namun ia tak pernah berniat berpaling dengan mencari wanita baru dalam hidup nya.
Dan untuk kesekian kalinya, Julia belum putus asa untuk mendekati Mas Adam. Di suatu pagi ia mengirimkan pesan singkat kepada Mas Adam, ia mengatakan kalau hari itu adalah hari ulang tahun nya. Ia berniat mengajak Mas Adam makan malam untuk merayakan hari lahirnya itu.
Mas Adam merasa tak enak hati jika menolak, akhirnya ia memenuhi undangan Julia untuk makan malam berdua.
Julia perempuan yang cukup cantik menurut Mas Adam, tapi ia tak tertarik sama sekali. Mungkin bagi Mas Adam, Julia sudah ia anggap sebagai adik nya mengingat usia nya jauh di bawah Mas Adam.
...----------------...
Mau tahu bagaimana makan malam Mas Adam dengan Julia?
Dan gimana ya reaksi Dena saat ia tahu.
Next episode thor lanjutin ya kisah mereka.
Tungguin notif untuk up berikutnya🥰🙏
__ADS_1