
Dena sudah berada di titik lokasi yang di share Mas Adam. Ia sudah tiba di halaman sebuah rumah bernuansa putih dan abu abu.
Ia melihat pintu rumah tertutup, Dena meraih ponsel .
" Hallo, Mas Adam aku sudah berada di lokasi yang tadi Mas Adam share".
" Rumah nomor 109 bukan?".
" Iya Dena benar, tunggu sebentar ya aku segera keluar".
Adam menyambut kedatangan Dena, ini pertama kalinya Dena mengetahui kediaman Adam.
" Masuk Den, mau dibikinin minum apa?".
" Nggak usah repot repot Mas".
" Juna nya mana?".
" Ada di kamar Den, Juna tidur".
" Hhmm..ya sudah kalau Juna sedang tidur jangan di ganggu".
" Biar aku menunggu sampai Juna bangun".
Kemudian keduanya saling diam, terasa kaku dan canggung.
Padahal di dalam hati masing masing menahan hasrat yang sama.
" Dena, Adrian tau kau kesini?" Adam akhirnya memecah keheningan.
" Tidak Mas, aku ingin memberitahunya tapi dia tak bisa dihubungi".
Dena tak nyaman jika membahas Adrian bersama Mas Adam, itu hanya akan menimbulkan perasaan bersalah baginya.
" Kasihan Juna sekarang", Adam berkata pelan sambil menunduk.
" Lisa terlalu sibuk dengan pekerjaan nya, ia sekarang bekerja di Perusahaan mantan kekasihnya", akhirnya cerita mengalir dari mulut Adam.
" Iya Mas, aku tau dengan laki laki itu", ucap Dena.
" Maksudmu?? Kau mengenal Radit??".
Dena mengangguk.
" Iya, ternyata dia kakak nya Adrian. Aku juga baru tau belum lama ini ketika berencana makan malam dengan Kak Radit, dan Kak Radit datang bersama Lisa", Dena mengingat lagi kejadian di cafe malam itu.
Adam sedikit terkejut karena tak mengira sama sekali.
" Lalu apa yang terjadi ketika kau bertemu Lisa, apa yang ia lakukan padamu?", Adam terlihat khawatir .
" Ya begitu lah Mas, Lisa sepertinya dendam kepadaku . Aku merasa di pojok kan malam itu. Dan akhirnya Adrian tau".
" Kau menceritakan nya pada Adrian?".
" Iya Mas, aku terpaksa menceritakan semuanya termasuk perasaanku. Aku tidak ingin ada salah paham".
" Apa kau juga menceritakan bahwa kita pernah......", Adam menghentikan kalimat nya.
Dena menggeleng .
Ia tau apa yang di maksud Mas Adam.
" Aku belum mengatakan nya, tapi aku pasti akan jujur kepadanya".
" Sebelum pernikahan kami".
__ADS_1
Kemudian mereka saling diam, menunduk dan tak berani saling tatap. Lama suasana terasa hening, hingga akhirnya Adam membuka suara.
" Dena, apa aku benar benar sudah kehilangan dirimu?".
" Mas, jangan dibahas lagi tentang perasaan kita. Anggap saja saat ini dan seterusnya seperti janji Mas Adam di awal kita bertemu".
" Ingin menganggap ku seperti adik Mas Adam sendiri".
Adam menarik nafas panjang.
" Ya, aku tak pernah menyesal dengan perceraian ku, meskipun pada akhirnya aku tak memilikimu".
" Setidak nya, aku pernah bersungguh sungguh dalam berjuang".
" Apapun pilihanmu, akan ku doakan semoga itu yang terbaik", suara Adam gemetar menahan sesak di dada nya.
Kelak kita akan menjadi dua kisah yang paling dirindukan .
Bertahan dan bangkit dari segala keterpurukan.
Tak bisa saling menguatkan diantara serpihan harap yang berserakan.
Lalu menjadi kuat demi sebuah angan yang tak pernah menjadi kenyataan .
Dena menahan tangis nya, hanya ia dan laki laki di hadapan nya ini yang saat ini tau bagaimana perihnya ketika kita saling mencintai tapi tak bisa saling memiliki.
" Maafkan aku Mas, aku sudah berjanji untuk tak menyakiti Adrian lagi".
" Aku sungguh sungguh ingin memulai cerita baru bersama Adrian".
" Tak sampai dua bulan lagi kami akan menikah".
Tak ada kata kata lagi yang mampu Adam utarakan, ia tak punya hak untuk mencegah nya.
" Apa kau tak ingat kita pernah melakukan hal gila itu, aku pikir saat itu kau bisa menjadi milik ku selamanya".
" Papa....papa dimana?", suara Juna terdengar berteriak dari dalam kamar.
" Mas, Juna sepertinya sudah bangun. Aku ingin menemuinya".
" Ayo, dia ada di kamar".
Adam dan Dena menemui Juna.
" Juna, lihat siapa yang datang", Adam memberi kejutan kepada Juna .
" Tante cantiiikkk......Juna kangen", bocah laki laki itu spontan bangun dari tidurnya dan menghamburkan diri memeluk Dena .
Dena membalas pelukan Juna dengan ciuman di kedua pipi nya .
" Tante juga kangen Juna, juna lagi sakit?".
" Iya tante, Juna demam. Nih..", Juna menarik tangan Dena kemudian menempelkan ke kening nya.
Dena tersenyum.
" Ya sudah, kalau mau cepat sembuh juna makan yuk. Tante yang suapin".
Juna mengangguk angguk penuh semangat dengan mata berbinar.
Adam tersenyum melihat pemandangan itu, ingin sekali rasanya ia menjadikan Dena sebagai istrinya, " Ahh..sudahlah aku terlalu berharap".
Adam mengambilkan makanan untuk Juna di dapur.
Sedangkan Juna masih sibuk berceloteh dan Dena dengan sabar mendengarkan nya.
__ADS_1
Dena mengusap rambut Juna, dulu pertama kali bertemu anak lelaki ini di rumah sakit Dena begitu membencinya. Tapi sekarang entah mengapa ia mulai menyayangi Juna, apa mungkin karena ia merasa bersalah atas perceraian kedua orang tuanya.
Ia perempuan dewasa, tahun ini usianya akan menginjak 28 tahun. Naluri keibuan nya mulai muncul, ia sebenarnya khawatir karena setelah menikah pun ia akan sulit memiliki keturunan. Itu menurut pendapat dokter, namun semua tak ada yang tak mungkin jika Tuhan sudah berkehendak.
Adam masuk membawa sepiring nasi dan beberapa potong nugget.
Dena dengan sabar dan penuh kasih sayang menyuapi Juna hingga piring yang tadi penuh kini sudah habis tak tersisa.
Adam senang sekali melihat Juna hari ini makan dengan lahap .
" Dena, seandainya setiap hari kau bisa menemani anak ku, aku akan menjadi laki laki yang paling beruntung" .
Dena sudah selesai dengan tujuan nya datang kesini, ia melihat ponsel nya tapi belum ada kabar juga dari Adrian.
" Mas Adam, aku pamit sekarang ya aku tidak bisa lama lama disini".
Mas Adam mengangguk dengan senyuman hangat khas milik nya.
" Terima kasih ya Den, sudah mau kesini menemui Juna".
" Iya Mas sama sama".
" Juna, tante pamit pulang ya", Dena mengusap lembut kepala Juna.
" Yahhh.. kok pulang sih tante, kenapa tante nggak tidur disini aja sama Juna".
Dena dan Adam tertawa mendengar permintaan Juna, lalu mereka saling pandang.
Rasanya pikiran mereka sama.
Kalau Dena menginap disitu yang ada bukan menemani Juna, tapi akan terjadi lagi hal yang mereka coba tahan setiap bertemu .
Dena pamit sekali lagi kepada Juna dan Mas Adam, ia ingin bergegas sampai di rumah sebelum Adrian menghubunginya.
Ia memutuskan untuk tidak menceritakan hal ini pada Adrian.
" Maaf Adrian, aku bukan tak ingin jujur padamu. Tapi aku yakin kau akan keberatan, aku tak ingin kita bertengkar".
Belum lama Dena sampai di rumah, ada telepon dari Adrian. Dena mengusap dada, merasa lega karena sudah ada di rumah saat itu.
" Sayang, maaf ponsel ku rusak tadi pagi jatuh. Jadi ini baru selesai di perbaiki".
" Kamu dimana sekarang?".
" Aku di rumah", setidak nya Dena tidak berbohong untuk hal ini.
Untung saja Adrian tidak bertanya jam berapa ia pulang ke rumah. Jadi ia tak perlu membuat kebohongan lagi .
" Aku ke rumahmu sekarang ya, ada yang mau aku bicarakan".
" Iya sayang, aku tunggu".
Telepon di tutup, Dena bertanya tanya apa yang akan kekasih nya itu bicarakan.
Semoga bukan hal yang berhubungan dengan Mas Adam.
...----------------...
Dena... kasihan Adrian kan, dibohongi terus😔
Cepetan nikah aja Den, biar kamu di iket aja dalam kamar😂.
Next next.. Adrian mau bicara apa ya ?
Ikuti terus ya update berikutnya. Jangan lupa pencet jempol, tinggalin jejak🥰🥰🙏
__ADS_1