Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu

Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu
Pasangan Kak Radit


__ADS_3

Kehidupan malam di kota nampak nya belum padam. Waktu sudah menunjukkan hampir jam dua belas malam, namun jalanan masih ramai dengan kendaraan .


Cafe cafe dan restoran masih buka meskipun sudah hampir sepi pengunjung.


Kendaraan yang dikemudikan Radit melaju membelah jalanan kota, di samping nya duduk seorang perempuan.


Hari itu ia harus meninjau proyek pembangunan di kabupaten sebelah barat provinsi itu. Perjalanan yang menempuh waktu hingga empat jam membuatnya baru sampai di kota selarut ini.


Ia pergi di temani asisten nya kali ini.


" Lisa, kau lelah?", Radit menatap perempuan yang sejak tadi hanya menyandarkan kepalanya.


" Sedikit dit, aku hanya mengantuk".


" Besok kau boleh libur dan istirahat saja di rumah", ucap Radit karena Lisa sudah dari pagi bekerja hingga selarut ini .


" Tidak apa apa Dit, aku sudah terlalu sering tidak masuk".


" Besok aku akan tetap masuk ke kantor".


" Kau masih saja keras kepala seperti dulu", Radit mengingat kembali masa masa mereka masih berpacaran.


" Hahaha, memang nya kau masih ingat dengan sifatku?", lisa tertawa dengan kalimat Radit yang mengatakan ia keras kepala.


" Tentu saja, aku ingat semua tentang dirimu".


" Karena aku masih....", Radit menggantung kalimatnya.


" Masih apa?".


" Eemmm.. aku sebenarnya...."


" Ahh sudahlah, aku tak tau apa aku pantas mengatakan ini".


Ternyata Radit tak berbeda jauh dengan Adrian, terlalu berhati hati dalam mengatakan segala hal yang berhubungan dengan perasaan.


" Kau selalu saja begitu Dit, tak pernah terbuka kepadaku", Lisa mengingat ingat lagi tentang kepribadian mantan kekasih nya itu.


" Aku malu mengatakan nya Lis".


" Aku takut kau tak menyukainya".


" Hey... Radit, aku begitu banyak berhutang budi padamu".


" Hal apapun yang kau katakan padaku tak akan pernah membuatku marah".


" Termasuk tentang perasaan?", tanya Radit.


Lisa diam, ia tak tau apakah ia masih sanggup berhubungan dengan yang nama nya perasaan . Bukan trauma, tetapi ia ingin menjaga hatinya dari rasa kecewa.


Tapi demi laki laki yang sudah banyak membantunya di saat ia terpuruk ia hanya mengangguk.


" Katakanlah Dit".


" Lisa, aku masih mencintaimu".


Bibir Lisa terasa kelu dengan ungkapan yang tiba tiba tadi.


" Maaf kalau aku terlalu cepat mengatakannya, kau tentu masih trauma kan dengan sebuah hubungan".


Lisa tau lelaki di hadapannya ini berkata tulus, ia pun tak ingin mengecewakan perasaan Radit.


Jika dengan membalas perasaan nya bisa dianggap Lisa sebagai balas budi, sepertinya Lisa akan menerima perasaan Radit dan membalas nya dengan hal yang sama.


Namun rasanya ia tak bisa bermain main dengan perasaan, jika ia saja belum siap menjalaninya.


" Radit, aku tak ingin hubungan baik kita rusak begitu saja".


" Aku menghargai perasaanmu, tapi apa aku pantas untuk mu?".


" Kau tau kan aku seorang janda dan mempunyai satu anak".


Jawaban Lisa terdengar klise.


" Iya aku mengerti apapun keputusan mu Lis".

__ADS_1


" Tapi yang perlu kau tau,aku menerima keadaanmu apa adanya".


Lisa semakin dibuat bingung karena Radit menyatakan ia tak masalah dengan status jandanya.


" Kita jalani saja Dit seperti apa nantinya arah hubungan kita".


" Jika memang berjodoh, akan menemukan jalan nya sendiri".


Kalimat itu terdengar menggantung, namun bagi Radit tak perlu memaksakan Lisa untuk mengatakan bahwa ia menerima cintanya.


" Ohh ya Lis, nanti akhir pekan kau ada acara tidak?".


" Sepertinya tidak Dit, ada apa?".


" Hhmm, kau mau menemaniku makan malam dengan adikku dan tunangan nya?".


" Kalau kau tidak keberatan, tapi kalau kau tidak mau ya apa boleh buat".


" Aku sendiri tanpa pasangan, hehehe", Radit dan Adrian memiliki karakter yang sama untuk melakukan permintaan.


" Aku mau kok Dit".


" Aku juga mau kenalan dengan adik mu dan calon istrinya".


Radit mengelus dada nya, seolah mengucap lega karena ia aman dengan membawa pasangan.


Mobil yang di kendarai Radit sudah sampai di depan rumah Lisa.


" Aku pulang ya dit, kau hati hati dijalan".


Sepanjang jalan menuju ke rumah Radit membayangkan makan malam romantis bersama Lisa, Adrian dengan Dena.


Pastilah aku bisa sedikit membanggakan diri di hadapan adik ku karena kali ini aku membawa perempuan. Cantik, meski pun tak secantik kekasihnya Adrian , gumam Radit.


***


Sabtu Malam


" Sayang, aku sebentar lagi jalan ke rumahmu".


" Kau siap siap ya".


Tapi kali ini makan malam nya berbeda dari malam malam sebelumnya.


Malam ini Adrian dan Dena akan dinner bersama Kak Radit yang katanya juga bersama seorang perempuan.


Adrian sempat menanyakan kepada kakak nya siapa yang ia bawa.


" Rahasia dong", begitu jawab Radit.


" Yang pasti dia orang yang spesial di hatiku, meski hubungan kami belum sejauh hubungan mu dengan Dena", Radit dengan perasaan berbunga bunga mengatakan itu.


" Apa aku kenal dengan perempuan itu?", Adrian penasaran.


" Dia mantan kekasihku semasa kuliah".


" Kami bertemu lagi belum lama ini dan ia sekarang menjadi asistenku".


Adrian hanya bisa manggut manggut karena belum ada bayangan seperti apa perempuan yang dicintai kakaknya.


***


Adrian sudah melajukan kendaraan nya menuju rumah Dena. Sedangkan Radit sudah berangkat lebih awal. Mereka sudah berjanji akan bertemu di sebuah cafe.


Dena sudah bersiap ketika Adrian sampai ke rumahnya. Malam itu ia mengenakan gaun berwarna merah selutut mengikuti bentuk tubuhnya.


" Sayang, kau cantik sekali".


" Aku bangga menjadi orang yang beruntung memilikimu", Adrian memuji kecantikan kekasihnya itu.


" Kau juga tampan sayang".


" Aku juga beruntung dicintai oleh mu", setiap mengatakan hal yang seperti itu Dena seperti tak yakin kata kata itu bisa keluar dari mulutnya.


" Kak Radit datang dengan kekasihnya?", tanya Dena.

__ADS_1


" Dia bilang ia mencintai perempuan itu, tapi ia juga bilang hubungan mereka belum terlalu jauh".


" Entahlah apa yang di maksud kakak ku itu".


" Terlalu lama sendiri mungkin membuatnya hati hati dalam mencari pasangan".


Dena mengumpamakan dirinya ketika Adrian mengatakan terlalu lama sendiri .


Ia bahkan lebih dari sekedar itu, ia baru merasakan jatuh cinta pertama kali saat umur nya tidak muda lagi, 27 tahun.


Tapi ia bisa jatuh cinta pada pandangan pertama, meskipun sekarang tak jelas kemana kandasnya cinta itu.


Lebih tepatnya tidak kandas, tapi terpaksa dimusnahkan.


" Aku pasti canggung kalau bertemu orang yang baru ku kenal", ucap Dena pada Adrian.


" Kan ada aku sayang, biasa saja.."


" Anggaplah kakak ku dan pasangan nya adalah kakak mu sendiri".


" Aku yakin perempuan itu pasti akan suka berbicara denganmu", Adrian berusaha meyakinkan Dena agar tetap percaya diri .


" Benarkah?"


" Bukan nya aku orang yang kaku kalau diajak berbicara".


" Bagaimana ia bisa menyukaiku".


" Hehehe", Adrian terkekeh karena memang benar kekasih nya itu bukan type perempuan yang banyak berbicara .


Ia hanya akan mengeluarkan suara jika di tanya .


Itupun kalau ia lagi berbaik hati untuk bicara, kalau tidak ya begitu lah hanya dengan mengangguk dan menggeleng.


Tapi itulah yang Adrian suka dari perempuan itu.


" Sayang, kita sudah sampai", Adrian masuk ke halaman sebuah cafe yang cukup besar.


" Kak Radit pasti sudah menunggu di dalam bersama pasangan nya".


Sebelum turun dari mobil, Dena merapikan rambutnya, menanyakan kepada Adrian bagaimana penampilan nya. Meskipun ia tau Adrian pasti akan menjawab dengan hal yang sama " Kau perempuan yang paling cantik yang pernah aku kenal".


" Ayo sayang kita masuk".


Adrian menggandeng mesra tangan kekasih nya, ingin menunjukkan kepada semua orang .


" Hey.. lihatlah kekasihku, ia cantik kan?".


Mereka mencari keberadaan Kak Radit.


" Itu dia di ujung sana", Adrian menunjuk ke arah Kak Radit yang sedang duduk.


" Kak Radit, sudah lama?", Adrian menghampiri kakak nya dan segera mengambil posisi duduk berdampingan dengan Dena sementara Kak Radit di depan nya .


"Belum kok".


" Kakak sendirian? katanya membawa pasangan?", Adrian menatap sekeliling tak ada perempuan.


" Dia sedang ke toilet sebentar".


" Tunggu lah".


Saat Kak Radit sedang berbincang dengan Adrian, seorang perempuan menghampiri mereka. Pasangan yang dimaksud Kak Radit.


Dena hampir menjatuhkan ponsel yang sedang ia pegang.


Bumi terasa berputar lebih cepat di kepalanya, membuat ia hampir kehilangan keseimbangan.


Ia terkejut melihat perempuan yang di bawa Kak Radit sebagai pasangan nya.


...----------------...


Bersambung....


Hhmm.. pasti episode berikut nya akan dipenuhi dengan pertengkaran.

__ADS_1


Gimana ya nasib hubungan Adrian dan Dena ke depan nya??


Tunggu ya update berikutnya, jangan lupa like🥰🥰🙏


__ADS_2