Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu

Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu
Nekad bertemu


__ADS_3

" Kak Dena, boleh aku minta pendapatmu?, sore itu ketika Dena sedang menghabiskan waktu santainya di hari libur Hasbi menghampirinya.


" Kemari lah, duduk di dekatku", Dena menepuk bangku di sebelah nya yang ada di taman kecil halaman rumah mereka.


" Bagaimana pendapat Kak Dena tentang Laras?", Hasbi nampak malu malu mengatakan itu.


" Secara fisik dia cantik", Dena hanya menjawab hal umum yang bisa ia lihat.


" Maksud ku, apa dia perempuan yang tepat untuk ku jadikan sebagai kekasih", wajah Hasbi bersemu merah.


" Hahaha, Hasbi Hasbi.... aku kan hanya bisa menilai Laras dari luar nya saja"


" Aku tidak terlalu tau tentang kehidupan pribadi nya"


" Bukankah kau yang akhir akhir ini yang dekat dengan nya, saling berkirim pesan dan bercerita"


Hasbi lalu tampak berfikir sesuatu, kemudian dengan malu malu ia berkata,


" Sepertinya aku mulai jatuh cinta dengan Laras Kak, aku rasa sudah saat nya aku membuka hati untuk perempuan yang baru"


" Dan selama satu bulan aku mengenal nya aku menilai ia perempuan yang baik"


" Apa menurut kak Dena aku terlalu cepat memutuskan untuk menyukainya?".


Dena kembali tertawa mendengar pengakuan Hasbi.


" Kau fikir waktu mu selama lima tahun kemarin itu terlalu cepat atau terlalu lama".


" Cinta tak mengenal waktu", Dena berkata seolah ia begitu paham akan cinta, padahal ia sendiri belum pernah merasakan bagaimana rasanya di cintai seorang lelaki.


Dalam hati nya ia bergumam " Aku bahkan memutuskan untuk jatuh cinta pada Mas Adam bahkan ketika aku baru pertama kali mengenal nya".


Kakak beradik itu menghabiskan waktu berdua dengan saling melempar canda. Dena banyak tertawa dan melempar senyum hari ini. Ia mampu menutupi perasaan nya yang sebenarnya sedang galau saat itu. Memikirkan apakah besok siang ia terima saja ajakan Mas Adam?


Titik terendah seorang wanita bukan di lihat dari kegalauan nya.


Justru terkadang saat dia menampakkan ribuan canda dan tawa.


Menunjukkan pada seluruh makhluk di muka bumi bahwa dia baik baik saja.


Menghibur diri dengan memperlihatkan berbagai macam kebahagiaan.


Maka disitulah mental nya patut dipertanyakan.


Sebab, wanita pandai memanipulasi fikiran.


Apa yang dia perlihatkan belum tentu adalah sebuah kenyataan.


Tawanya belum tentu tanda bahagia, pun tangisan nya belum tentu sebuah kesedihan.


Jika ingin memahami nya, kamu harus memperdalam lagi ilmu kebatinan.


......................


Senin pagi, di lantai 5 sebuah gedung Perkantoran.


Puji dan Dena terlihat sibuk dengan pekerjaan nya masing masing, ruangan yang di isi kurang lebih dua belas orang di divisi keuangan itu nampak sepi dari obrolan, hanya terdengar ketikan keyboard. Semua fokus dan berkutat dengan tugas masing masing, hanya ada suara gerutu dari Puji yang pelupa. Ia nampak membongkar beberapa berkas di hadapan nya.


Sedangkan Dena serius menatap layar laptop di hadapan nya, sesekali ia menghela nafas panjang menyandarkan kepala di kursi. Dilihat nya ponsel yang tergeletak di meja kerjanya yang ia atur dengan mode silent. Ponsel nya bergetar satu kali menandakan ada pesan masuk. Dari Mas Adam,


" Selamat pagi Dena, apa kau sedang sibuk"


" Iya, sedikit", Dena membalas singkat,padahal sesungguh nya banyak kata yang ingin ia ungkap kan pada lelaki itu. Namun ia tahan demi niat nya untuk menjauhi suami orang.


" Apa nanti siang kau mau menerima ajakan ku untuk makan siang berdua?", pesan dari Mas Adam kembali masuk.


Dena tak segera membalas, ia berfikir sejenak sambil memainkan pulpen yang ia pegang. Ia melirik Puji di sebelah nya yang sedang bersenandung kecil.


" Puji...nanti siang aku tidak bisa makan siang berdua dengan mu di kantin", ujar Dena.


Puji mendekat ke arah Dena, bak seorang detektif yang berusaha menyelidik ia berkata...


" Apa kau sekarang sudah punya pacar hingga tega membiarkanku makan siang sendirian?"


" Atau kau ada janji makan siang berdua dengan Adrian?".


Dena menimpuk kecil bahu Puji atas pertanyaan konyol nya. Puji hanya tertawa melihat wajah Dena yang kesal .

__ADS_1


" Adrian lagi yang kau bahas, dasar genit!!".


" Kenal saja tidak aku dengan lelaki itu, bukankah kau yang selama ini selalu bersemangat menceritakan lelaki itu".


Puji terkekeh mendengar ucapan Dena.


" Memang nyata nya kau yang aneh, mengapa juga kau tidak tertarik dengan lelaki tampan seperti Adrian".


" Aku jadi penasaran bagaimana type laki laki yang kau sukai".


" Jangan jangan perempuan cantik sepertimu menyukai om om yang berperut buncit atau laki laki jelek suami orang, hahaha", Puji melontarkan candaan nya pada Dena.


Dena seperti di hantam batu oleh sahabat nya ini.


" Kenapa Puji bisa tau kalau aku menyukai suami orang?"


" Hey.. enak saja, Mas Adam bukan lelaki jelek atau pun om om berperut buncit".


" Ia bahkan lebih tampan dari Adrian yang selalu kau banggakan".


Dena membela lelaki itu di dalam hatinya .


" Pujiiiiii...... dasar kau, berhentilah menggodaku!!!"...Dena mencubit lengan sahabat nya itu yang diiringi suara gaduh dari mulut Puji.


Akhirnya siang itu Dena memutuskan untuk makan siang berdua dengan Mas Adam. Ia harus berhati hati, jangan sampai adik nya Hasbi mengetahui kalau ia diam diam masih bertemu dengan lelaki itu. Bisa bisa adik nya itu marah besar.


Mereka sudah membuat janji bertemu saat jam makan siang. Kali ini Adam memilih sebuah restoran tertutup tak jauh dari taman kota.


Adam sudah tiba terlebih dahulu di Restoran itu dan mengambil tempat duduk di sudut ruangan yang agak sepi.


Ia beberapa kali melirik jam di pergelangan tangan nya, berharap Dena segera datang dan tidak membatalkan janji bertemu dengan nya. Lima menit ia menunggu, dari pintu masuk Restoran ia melihat perempuan itu datang.


Perempuan itu masih sama cantik nya seperti hari hari sebelum nya,ia mengenakan blouse lengan pendek berkerah tinggi menutupi leher jenjang nya yang ia padukan dengan celana kantoran ketat berwarna cream.


Dena menyapu pandangan ke seluruh ruangan Restoran, ia mendapati Adam di sudut ruangan melambaikan tangan nya.


" Maaf menunggu, aku tadi menyelesaikan pekerjaan ku dulu", ucap Dena dengan nada bicara kaku.


" Aku juga belum terlalu lama tiba disini Den"


" Dena, aku merasakan perubahan sikap mu kepadaku... Ada apa?", Adam membuka pembicaraan.


" Itu perasaan Mas Adam saja, aku hanya sibuk dengan rutinitas ku di kantor".


" Bukankah aku harus menyibukkan diri agar aku tidak menggantungkan kebahagiaan ku hanya dengan satu orang".


" Maksud mu?", Adam merasa bingung dengan perkataan Dena.


" Aku hanya ingin bahagia, menjalani kehidupan ku seperti sebelum aku mengenal Mas Adam".


" Dan rasanya sekarang aku sudah mulai terbiasa dengan semua itu".


Adam terdiam, ada sedikit kesedihan yang muncul di hatinya. Ia bahkan sangat berharap jika Dena menginginkan perhatian darinya, menggantungkan harapan indah yang ia tawarkan.


Lihatlah betapa nekad nya hari ini ia bertemu dengan perempuan ini. Ia bahkan mengesampingkan pertengkaran yang terjadi kemarin antara ia dan istrinya. Meskipun tadi pagi Lisa kembali mengingatkan Adam untuk tidak bertemu dengan Dena. Namun lelaki ini tetap saja merasa ia perlu waktu berdua dengan perempuan yang akhir akhir ini menghantui malam malam panjang nya.


" Dena, kau pernah bertanya padaku kan bagaimana kalau ada seorang perempuan yang menyukai ku sementara aku sudah memiliki istri?", Adam berkata mengingatkan Dena kepada pertanyaan nya kala itu di pantai.


Dena mengangguk.


" Aku rasa jawaban ku adalah jika perempuan yang menyukai ku itu adalah kamu aku akan membalas perasaan yang sama".


Jantung Dena berdetak kencang mendengar pengakuan barusan dari mulut Mas Adam.


" Mengapa dia seolah menawarkan cinta kepadaku di saat aku sudah mulai sedikit terbiasa tanpa perhatian nya", Dena mengeluh dalam hati.


" Dena... kau juga pernah bercerita padaku kalau kau baru pertama kali jatuh cinta".


" Dan kau mengatakan kau justru mencintai laki laki yang sebenarnya sudah mempunyai istri".


" Apa kau tidak keberatan mengatakan padaku siapa laki laki itu?", Mas Adam meraih tangan Dena, namun Dena menolak dengan menepis nya.


" Aku tak perlu mengatakan siapa laki laki itu, dan aku rasa Mas Adam juga tidak mengenalnya", Dena memilih berbohong karena tak ingin laki laki ini tau kalau dialah lelaki beristri yang Dena maksud.


Ada raut kecewa di wajah Adam, ia sudah penuh harap mendengar nama nya yang disebut oleh perempuan itu.


Namun entah kenapa ia masih menangkap ragu di mata perempuan itu, ia seperti merasakan kebohongan dari kata yang di ucapkan Dena .

__ADS_1


Adam diam, tak ingin memaksakan Dena untuk berkata lebih jauh lagi.


Pelayan restoran datang membawa makanan yang sudah mereka pesan.


" Ayo segera makan, nanti kau bisa terlambat kembali ke kantor", Adam mempersilahkan Dena untuk segera menikmati hidangan siang ini.


Mereka berdua menghabiskan makanan masing masing tanpa berbicara apa apa lagi. Dalam hati keduanya sibuk melawan dan menyangkal perasaan mereka sesungguhnya.


Dena dengan rasa sesal nya kenapa tidak berani jujur pada lelaki itu. Bukankah ini sebuah kesempatan untuk jujur dan menyatakan perasaan nya pada lelaki ini. Sebuah kesempatan yang dulu selalu ia tunggu tunggu, sebelum ia tau bahwa lelaki ini sudah tak sendiri.


Sedangkan Adam masih dengan tebakan tebakan nya tentang siapa lelaki yang Dena cintai.


" Teman kantor nya? tidak mungkin, karena Dena menceritakan ini sebelum ia bekerja".


" Lukas??? tidak mungkin pula, jangankan beristri.. dia bahkan saat ini masih saja jomblo".


" Apa ada lelaki di luar sana yang Dena kenal? Rasanya juga tidak mungkin, bukankah Dena seorang perempuan tertutup yang tidak mudah bergaul dengan sembarang lelaki".


Dan pertanyaan terakhir muncul di benak nya,


" Apakah sebenarnya lelaki itu adalah aku, namun Dena berusaha menutupinya?"..


" Argh... Dena mengapa kau serumit ini?", pekik Adam dalam hati.


Sudah hampir satu jam mereka ada di Restoran itu. Dena pamit kepada Adam untuk segera kembali ke kantor.


" Terima kasih untuk makan siang nya Dena", Adam kembali menatap lembut perempuan itu.


Dena tak pernah berubah untuk hal yang satu ini, dia selalu damai setiap melihat senyuman hangat yang ditampilkan lelaki ini.


" Aku pulang duluan ya, jam makan siang ku hampir habis".


" Mas Adam juga sebaiknya segera pulang, pasti istri dan anak Mas Adam sudah menunggu di rumah", Dena sengaja mengatakan itu untuk sekedar menyindir Mas Adam atau hanya menunjukkan sedikit kecemburuan nya.


Istri?? Ya Tuhan Adam hampir melupakan ponsel nya yang bergetar sedari tadi di saku celana nya. Pasti lah Lisa yang menghubunginya.


" Hati hati di jalan ya Den, jangan terlalu capek"


" Dan jangan lupa minum obat obatan mu".


Adam masih seperti dulu menunjukkan segala bentuk perhatian nya sama persis dari sejak pertama mereka bertemu di ruangan Hemodialisa.


" Ciihh.. lagi lagi kau membuatku lemah dengan semua kata kata mu", gerutu Dena dalam hati sambil meninggalkan Mas Adam yang masih duduk di kursi Restoran.


Adam menatap Dena yang berlalu, kemudian ia mengeluarkan ponsel di saku celana nya. Benar saja, dua panggilan tak terjawab dari Lisa dan beberapa pesan beruntun dari nya.


" Mas, kau tidak pulang terlambat kan hari ini?"


" Aku sudah menyiapkan masakan kesukaanmu".


" Makan siang lah di rumah, aku dan Juna menunggumu".


" Aku harap kau tidak bertemu dengan perempuan itu saat ini".


Adam membaca pesan masuk dari istrinya.


Ia hanya membalas singkat,


" Ya, aku segera pulang.. tadi aku ada sedikit pekerjaan".


Ia menghela nafas panjang, memasukkan kembali ponsel ke saku celana nya dan bergumam.


" Lisa, maafkan aku untuk kesekian kalinya karena berbohong padamu".


Adam nampak nya siang ini harus berpura pura lapar saat tiba di rumah, ia harus menutupi kalau ia sudah kenyang mengisi perut nya saat makan siang bersama Dena.


Tak apa, bukankah hidup ini sesungguhnya penuh dengan sandiwara. Kita hanyalah aktor dalam setiap peran yang kita mainkan. Cukup pastikan saja kita memainkan peran kita dengan cukup baik.


......................


Next tetap ikuti ya kisah antara Adam, Lisa dan Dena... Dan tentu saja di episode berikutnya akan di warnai kisah cinta antara Hasbi dan Laras.


Author juga nampak nya ingin menghadirkan sosok Adrian dalam kehidupan cinta Dena.


Tunggu update episode berikut nya ya🥰.


Author hari ini jadwal bertemu dengan jarum kupu kupu, jadi harap sabar ya.. Terima kasih🙏

__ADS_1


__ADS_2