
Mas Adam berlari keluar dari kendaraan nya menuju teras rumah Dena.
Hujan lebat saat itu membuat pakaian nya basah, karena jarak mobil yang ia parkir kan di luar menuju teras rumah berjarak kurang lebih 25 meter.
Ia mengetuk pintu yang tertutup, tak lama Dena menyambut kedatangan Mas Adam.
" Masuklah, bajumu basah ", ucap Dena pada Mas Adam yang rambut dan bajunya yang terkena derasnya air hujan.
Mas Adam mengusap usap bajunya, mencoba untuk mengeringkan.
" Kalau Mas Adam mau, Mas Adam bisa memakai baju Adrian. Aku masih menyimpan nya", ucap Dena.
Mas Adam mengangguk setuju, bisa masuk angin pikirnya kalau terus mengenakan pakaian basah.
" Masuk saja ke kamar itu untuk berganti pakaian, aku akan mengambilkan baju nya di kamar ku", pinta Dena seraya menunjuk kamar tamu di depan ruang keluarga.
Mas Adam menuruti, ia menunggu Dena di kamar itu.
Dena memilih sebuah kaos lengan pendek milik Adrian yang masih tersimpan rapi di lemari kamarnya. Ia pun masuk ke kamar dimana Mas Adam menunggu untuk memberikan pakaian itu.
Laki laki itu sudah bertelanjang dada, ia sudah membuka bajunya yang basah. Dena menelan saliva nya, melihat tubuh laki laki yang dulu pernah ia peluk dan ia kecup.
" Ehhh, maaf aku masuk tanpa mengetuk pintu", ucap Dena seraya menutupi wajah nya yang sudah memerah.
Mas Adam menjawab dengan senyum.
Dena mendekat, menyerahkan baju yang ia pegang.
" Mas Adam dari mana memang nya?", tanya Dena sekedar basa basi untuk mengalihkan rasa canggung nya.
" Aku dari kost an nya Julia".
Dena memalingkan wajahnya, dalam setiap tetesan rinai yang jatuh di luar sana, sebanyak itulah rasa cemburu nya singgah.
" Kost an Julia? Kalian hanya berdua?", nada bicara Dena terdengar sinis sekali.
" Iya, Julia memintaku untuk membelikan nya obat karena ia sedang tidak enak badan", Mas Adam berkata jujur sambil memakai kaos yang tadi diberikan Dena.
" Huuhh..menyebalkan", umpat Dena dalam hati.
" Lalu kenapa kau datang kemari? Kenapa kau tak menikmati malam mu berdua dengan Julia?", Dena berkata dengan nafas tersengal menahan emosi.
Sesuatu tersimpan rapat di sela jeruji ruang amarah nya, riuh gerimis di ujung matanya menghujani kobaran api cemburu yang membuncah.
" Kau mau aku ceritakan apa yang terjadi di kost an Julia tadi?", Mas Adam semakin mendekat berbicara dengan nada pelan seolah berbisik di telinga Dena.
" Tidak, kau tidak perlu menceritakan nya karena aku tahu kalian pasti bercumbu", ucapan itu mengalir begitu saja dari mulut Dena, semakin meyakinkan Mas Adam kalau ia benar benar tidak menyukai Julia dekat dengan nya.
" Yakin kau tak mau mendengarnya?", Mas Adam merengkuh pinggang perempuan itu hingga wajah mereka berada dalam jarak yang sangat dekat.
Dena mendorong tubuh Mas Adam.
__ADS_1
" Jangan sentuh aku kalau kau baru saja menjamah perempuan lain".
Mas Adam malah tersenyum dengan perlakuan Dena barusan.
" Ayolah, jujur dengan perasaan mu Dena. Jangan kau biarkan cemburu mu merusak pikiran mu sendiri. Aku mencintaimu, menginginkan mu malam ini juga".
Dena membelalakkan matanya.
" Bisa bisa nya kau menginginkan ku padahal kau baru saja bermesraan dengan perempuan itu".
" Hey, kau belum mendengar ceritaku kan? Mengapa kau mengambil kesimpulan seperti itu?", tanya Mas Adam.
Dena diam, berpikir sejenak atas segala prasangka buruk nya.
" Lalu apa yang terjadi sebenarnya kalau menurutmu kesimpulan ku salah?", ia semakin penasaran.
" Julia mengutarakan perasaan nya padaku, ia bahkan menawarkan tubuh telanjang nya untuk aku nikmati ", Mas Adam kembali meraih tubuh Dena dalam dekapan nya .
" Apa? Lantas apa kalian benar benar melakukan itu?" , Dena berusaha melepaskan pelukan Mas Adam, namun tenaga laki laki itu cukup kuat mendekapnya.
" Tidak, aku tak menyentuhnya sama sekali karena aku memang tidak ada perasaan apa apa padanya. Dan itulah alasanku ada disini malam ini, aku benar benar sudah tak bisa menahan hasratku".
Dena bisa merasakan benda keras milik Mas Adam yang bergesek di tubuh nya karena pelukan itu.
" Aku bersungguh sungguh ingin menikahimu, aku sudah berjanji pada Adrian untuk menjaga kau dan Noah. Apa kali ini kau mau menerima ku?", tanya Mas Adam dengan nafas yang memburu masih memeluk perempuan itu.
Dena penuh dengan kebimbangan, debur yang berdegup kencang datang merampas amarah nya tadi yang sudah meradang. Kini perasaan nya justru menari dengan erotis menyelinap di dada nya menahan hasrat yang sama seperti Mas Adam.
" Katakan lah kau juga mencintaiku ", wajah Mas Adam semakin mendekat ke wajah Dena hingga nafas mereka saling beradu.
Dena tak mampu menjawab, ia tetap diam menyimpan perasaan cintanya.
Bibir sensual nya seolah menarik Mas Adam untuk segera melu**tnya habis habisan.
Mas Adam mengecup bibir merah itu, yang kemudian dibalas dengan kecupan yang lebih dalam oleh Dena. Mereka berdua sama sama merindu hangatnya sebuah cumbuan.
Dena tak mengatakan ia mencintai Mas Adam, namun reaksi tubuhnya mewakilkan semua perasaan nya.
Kini Mas Adam sudah menjalar ke leher jenjang perempuan itu, mengecup halus dengan memainkan lidah nya membuat Dena mengeluarkan desa*an panjang.
Ia mendorong tubuh Dena hingga jatuh di atas kasur. Hujan diluar sana semakin lebat, membuat kedua insan itu semakin dipaksa oleh suasana untuk berbuat lebih.
Mas Adam sudah menyesap di kedua bukit kenyal berukuran besar itu dengan membuka satu persatu kancing baju Dena dan menarik bra nya hingga ke atas.
Ia begitu lihai memainkan lidah nya hingga membuat suara teriakan parau perempuan itu beradu dengan suara hujan diluar sana.
Dena meraba benda keras milik Mas Adam dari luar celana nya. Ia sudah membayangkan kenikmatan yang akan ia rasakan saat rudal itu menembus liang nya, kenikmatan yang sudah lama tidak ia rasakan.
Mereka kembali berciuman dengan sangat liar.
" Kau sekarang sudah pintar sekali ya rupanya", Mas Adam berbisik di telinga Dena, mengingat dulu bagaimana ciuman mereka yang hanya diterima pasrah oleh Dena kala itu. Tapi sekarang perempuan itu jauh lebih lihai membalas ciuman ciuman nya.
__ADS_1
" Pasti kau sudah lebih berpengalaman lagi dengan ini", tangan Mas Adam menyentuh bagian intim Dena dari luar ****** ***** nya.
Reaksi tubuh Dena tak bisa dibohongi, ia pun sama tak tahan nya dengan Mas Adam. Ia ingin bertukar cairan dengan laki laki ini.
Ia refleks membuka kedua kaki nya dengan lebar, membiarkan mulut Mas Adam menyesap ke dalam bagian intim nya. Ia terus mende*ah keras, menikmati liang nya yang terus diserang oleh Mas Adam dengan mulutnya, bergantian dengan jarinya.
Dena terus berteriak, ia beharap Mas Adam segera menuntaskan hasrat nya dengan menghujam liang milik nya.
Mas Adam sudah tak bisa lagi menahan adik kecil nya yang sudah bertahun tahun tidak berjelajah ke dalam goa.
Ia hendak membuka celana nya, namun ia justru mengurungkan kembali niatnya. Resleting celana yang sudah ia buka separuh, ia tarik kembali dan ia beranjak dari atas tempat tidur.
Dena terkejut melihat Mas Adam yang tiba tiba menarik diri lalu berlari ke kamar mandi yang ada di kamar itu.
Dena kemudian segera memakai pakaian nya yang tadi sudah terlepas. Ia tak tahu kenapa Mas Adam tak mengatakan apapun, malah tergesa gesa meninggalkan nya menuju kamar mandi.
Sementara di dalam kamar mandi, Mas Adam menumpahkan cairan milik nya ke dalam kloset.
Ia keluar dari kamar mandi dan menghampiri Dena yang masih duduk di tepi ranjang.
" Maafkan aku Dena, aku sudah berjanji pada Adrian untuk menjagamu. Tapi aku justru terbawa hawa nafsuku, aku tidak ingin melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya".
" Aku ingin kita melakukan nya saat kau benar benar sudah siap menjadi istriku".
Dena menunduk malu, ia bahkan tak bisa mengontrol keinginan nya untuk disentuh laki laki itu. Ia sendiri yang membuat semuanya rumit.
" Beri aku waktu sedikit lagi Mas, untuk benar benar siap menikah", ucap Dena.
" Dan untuk malam ini, lupakan saja ".
Mas Adam mengangguk, ia masih tak ingin memaksa Dena.
" Kalau begitu aku pulang ya, aku takut tak bisa mengendalikan diriku jika tetap berdua dengan mu malam ini".
Dena mengantar Mas Adam hingga ke depan teras, menatap punggung laki laki itu yang sedang berlari kecil menuju mobil nya.
Ia begitu salut dengan keteguhan hati Mas Adam, yang masih bisa menahan meski tubuh telanjang nya sudah terpampang di hadapan mata lelaki itu.
Kelak suatu hari kita pasti akan menikmati nya Mas, seperti dulu yang pernah kita lakukan.
...----------------...
Wah wah wah, Mas Adam mimpi apa ya ?
Dalam satu malam bisa lihat dua tubuh telanjang perempuan, hehehe...
Dan...pada akhirnya kamar mandi adalah pilihan yang tepat🤭
Maafkan thor ya Mas Adam, nanti besok besok thor kasih jatah nya sama Dena kok😁
Yuk ditunggu lagi up berikutnya, jangan lupa like n komen nya. Yang masih nyisain vote mingguan nya boleh kasih ke karya thor ya dari pada mubazir🙏🙏🥰 Biar karya thor makin populer.
__ADS_1