
Satu minggu sudah berlalu sejak mereka pulang dari Bali.
Adrian menjalani rutinitas bekerja nya di kantor dengan penuh semangat, karena setiap pulang bekerja lelahnya hilang disambut senyum manis perempuan yang ia cintai.
Di kantor beberapa kali Aurel mencoba menyapa nya, namun Aurel dibuat kesal sendiri oleh Adrian. Laki laki itu tetap saja mengacuhkan Aurel, menganggap Aurel tak pernah ada.
Bahkan Adrian tak pernah lagi makan siang di kantin, ia memilih makan siang di luar untuk menghindari Aurel mendekatinya. Meskipun ia harus buru buru dengan waktu makan siang nya yang singkat.
Hari itu Minggu pagi, Adrian dan Dena sudah membereskan pakaian pakaian mereka yang akan mereka bawa ke Rumah baru mereka.
Mereka mulai hari ini akan menempati rumah yang sudah Adrian persiapkan sebelum menikah.
Ibu, Ayah, Laras dan Hasbi turut mengantar mereka ke rumah barunya.
" Kak Dena, aku nanti pasti akan kesepian di rumah", ucap Laras ketika mereka sudah berada di rumah 2 lantai dengan desain minimalis itu.
" Kau tidak akan kesepian Laras, beberapa bulan lagi kau akan melahirkan. Nanti kau akan ditemani suara tangis dan tawa bayimu", nada suara Dena terdengar sedih.
Ia menyadari dirinya yang pasti akan sulit mempunyai keturunan.
" Doakan kami ya Laras, agar bisa secepatnya mempunyai keturunan", Adrian mengusap lembut bahu istrinya mencoba menenangkan.
" Jangan cemas sayang, kita kan baru tiga minggu menikah. Masih banyak kesempatan untuk kita berusaha dan berdoa agar Tuhan mempercayakan titipan anak untuk kita", Adrian kembali membesarkan hati istrinya.
Selepas tengah hari, Ayah, Ibu, Laras dan Hasbi berpamitan pulang.
" Kau suka rumah baru kita?", Adrian bertanya pada Dena ketika mereka beristirahat di kamar.
Dena mengangguk.
" Aku masih tak percaya, bisa mewujudkan semua impianku. Menikah dengan orang yang aku cintai, membangun rumah tangga ", sebuah kecupan mendarat di pipi Dena.
" Sayang, bagaimana kalau aku tidak bisa memberimu keturunan?", tanya Dena penuh nada khawatir.
" Kenapa kau menanyakan itu lagi, bukankah dulu kau sudah pernah bertanya. Dan kau tau kan apa jawaban ku, aku tidak mempermasalahkan hal itu".
" Terima kasih sayang, apa kau mau sekarang kita berusaha lagi untuk mendapatkan keturunan?", pertanyaan Dena kali ini memancing Adrian untuk menikmati tubuhnya.
Adrian tersenyum nakal.
" Jadi kali ini kau yang memintanya?", mengingat setiap kali mereka bercinta Adrian lah yang selalu memulai.
" Bolehkan kalau seorang istri yang meminta?", Dena balik bertanya.
" Tentu saja, tanpa kau minta pun aku akan selalu melakukan nya", tangan Adrian sudah berkeliaran di area favorit nya.
Adrian sudah mulai melancarkan beberapa serangan nya setelah cumbuan cumbuan di seluruh tubuh istrinya.
Bercinta untuk pertama kalinya di ranjang baru mereka membuat Adrian tak kalah gila nya seperti malam pertama mereka di Bali.
" Yakinlah, aku akan membuatmu hamil sayang", suara Adrian terus berucap sementara istrinya mend***h di bawah tekanan nya.
__ADS_1
Dering ponsel nya beberapa kali berbunyi, namun tak ia hiraukan karena ia masih sangat menikmati permainan nya.
" Sayang, ponsel mu berbunyi berkali kali. Coba lihat siapa yang menelpon", Dena mengingatkan suaminya yang masih nampak bersemangat dengan gerakan maju mundurnya.
" Biarkan saja, aku tidak mau diganggu", ucap Adrian masih fokus dengan tubuh istrinya.
Dena mencoba menjangkau ponsel milik Adrian di ujung kasur .
" Kak Radit yang menelepon, angkatlah", Dena menyerahkan ponsel kepada Adrian .
Dengan terpaksa Adrian mengangkat telpon nya, namun ia masih belum berhenti menghentak hentakkan tubuh istrinya.
Ia semakin memperkuat hentakan nya, membuat Dena terpaksa menutup mulut nya dengan bantal agar suara teriakan nya tak terdengar di telepon .
" Hallo Kak, ada apa?"
" Hallo Adrian, aku sudah di depan rumahmu. berkali kali aku menekan bel, tak ada jawaban darimu. Apa kau dirumah?".
" Iya kak maaf aku di kamar lantai atas jadi tak mendengar, tunggu sebentar".
Adrian menutup telpon nya .
" Huuhh..mengganggu saja", ia menggerutu.
Ia tak ingin berhenti dengan rasa yang masih tanggung, ia ingin menuntaskan hasratnya.
Menekan dengan gerakan lebih dalam dan lebih cepat, istrinya sudah tak bisa lagi menahan kenikmatan itu.
" Aahh...padahal aku masih ingin lebih lama lagi".
" Kenakan pakaian mu sayang, Kak Radit sudah menunggu di depan rumah".
Adrian dan Dena bergegas berpakaian, Adrian turun ke lantai bawah dan membukakan pintu.
Sementara Dena masih merapikan tempat tidur nya yang berantakan sehabis mereka bercinta.
Dena kemudian menyusul Adrian, menyambut kedatangan Kak Radit.
" Silahkan masuk Kak" , Adrian mempersilahkan Radit masuk.
Ternyata Radit tak hanya datang sendiri, ia datang bersama Lisa .
Dena yang baru saja turun dari tangga rasanya ingin memutar balik tubuhnya untuk kembali ke kamar.
Suara Adrian memaksanya untuk tetap turun .
" Sayang kemari lah, ada Kak Radit".
Dena akhirnya terpaksa bergabung bersama suaminya, Kak Radit dan juga Lisa.
" Apa kabarmu Dena?", Lisa menjabat tangan Dena.
__ADS_1
Ia bersikap ramah dengan senyum tipis nya.
" Aku baik baik saja, Kak Lisa apa kabar?", tanya Dena.
" Aku juga baik baik saja Den, tentu saja karena kehadiran Radit yang membuatku selalu baik baik saja", Lisa dan Radit saling bertatapan penuh arti .
Ternyata sekarang Lisa dan Radit memiliki hubungan spesial lebih dari sekedar atasan dan bawahan.
Lisa nampaknya sudah menerima Dena sebagai adik ipar dari lelaki yang kini mengisi hatinya .
" Maaf ya Dena aku tidak datang di hari pernikahanmu", ucap Lisa penuh sesal.
" Tidak apa apa kak Lisa, yang penting doakan saja pernikahan kami langgeng", balas Dena.
Radit dan Adrian tersenyum bahagia, akhirnya kedua perempuan ini bisa berdamai dengan kenyataan.
" Dena, apa kegiatanmu sekarang?", Kak Radit yang dari tadi hanya diam akhirnya mulai bersuara.
" Aku sementara di rumah saja Kak, aku sudah resign dari kantor ku karena ada peraturan suami istri tidak di perbolehkan bekerja disitu".
" Kalau kau ingin bekerja dan mengisi kesibukan mu, kau bisa bekerja di Perusahaan kakak. Apalagi nanti kalau kami sudah menikah, aku pasti membutuhkan pengganti Lisa di kantor', Radit nampak malu malu mengatakan niat nya untuk menikah dengan Lisa.
Dena menoleh pada Adrian, ia ingin pendapat dari suaminya.
" Untuk sementara aku belum mengizinkan Dena bekerja Kak, aku tidak mau dia kelelahan.
Kami sedang berusaha agar secepatnya diberikan keturunan", Adrian yang menjawab pertanyaan Kak Radit.
Dena menunduk, ia sebenarnya tak nyaman jika membahas perihal kehamilan kepada orang lain meskipun itu saudara Adrian sendiri.
Ia merasa minder akan kekurangan nya sebagai seorang perempuan.
Adrian tau istrinya sedang menunduk sedih, ia mencoba mengalihkan pembicaraan.
" Kak Radit sudah makan siang belum?".
" Belum nih, tadi kami buru buru kesini jadi nggak sempat makan siang. Bagaimana kalau kita makan siang diluar saja?", tawar Kak Radit.
Adrian dan Dena menyetujui ajakan Kak Radit, siang itu mereka makan bersama .
Ini kali keduanya mereka berempat satu meja, setelah kejadian dinner yang berantakan kala itu.
Siang ini suasana jauh lebih hangat, Dena dan Lisa tampak akrab berbincang seperti seorang Kakak dan Adik.
Mereka sama sekali tak membahas Adam, walaupun terkadang Dena masih berasa canggung namun Lisa nampaknya sudah melupakan sakit hatinya akan perceraian dengan Adam.
Kini ia bisa menerima, kalau perempuan yang dulu sempat ia benci karena menjadi penyebab mantan suaminya berpaling sekarang harus menjadi bagian dari keluarganya jika ia benar benar sudah menikah dengan Radit.
...----------------...
Semangat senin Readers, kasih dukungan terus ya buat karya Author. Terima kasih🥰🥰🙏
__ADS_1