Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu

Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu
Akan selalu ada


__ADS_3

Pagi itu setelah menerima telepon dari Ibu, Adam bergegas berganti pakaian.


Ia mengemudikan mobil nya ke rumah perempuan yang saat ini sedang membutuhkan dirinya.


Tiba di rumah itu, Ibu langsung menyuruh Mas Adam untuk masuk ke kamar menemui Dena.


Mas Adam pagi itu memakai kemeja lengan pendek yang seluruh kancing nya sengaja terbuka sehingga kaos berwarna hitam bertuliskan huruf " D " itu terbaca.


Entah kapan ia membeli kaos itu, yang pasti inisial huruf itu menunjukkan betapa perempuan bernama Dena masih setia mengisi hatinya. Badan tegap dan pembawaan nya yang penuh kharisma begitu membuat sejuk mata yang memandang.


Ia membuka pintu tanpa mengetuk, karena ia tau akan percuma melakukan itu dan menunggu Dena menjawab dengan kondisi psikis nya yang masih labil.


Mas Adam masuk ke kamar, mendapati Dena dalam keadaan meringkuk di ujung kasur memeluk baju Adrian.


" Selamat pagi Dena", Mas Adam menyapa perempuan itu.


Tak ada jawaban, perempuan itu hanya diam seperti orang ketakutan.


Mas Adam menyentuh punggung Dena, meminta nya untuk berbalik.


" Duduklah, jangan tidur dengan posisi seperti itu. Luka bekas operasi mu belum kering sempurna".


Namun tetap saja Dena tak bergeming.


Mas Adam menghela nafas panjang, nampak nya percuma terus memaksa nya dengan cara seperti ini.


Mas Adam kemudian keluar dari kamar, kemudian kembali dengan menggendong Noah.


Mas Adam membawa Noah mendekat di samping Dena.


" Dena, ini Noah ingin kau menggendong nya. Kemarilah, Noah juga bilang ia lapar dan ingin makan bersama mu", suara lembut Mas Adam kali ini bisa dicerna oleh Dena.


Ia membalikkan tubuhnya, tapi tidak berniat untuk duduk.


" Mama.. mama..", suara kecil Noah yang baru belajar bicara, terus memanggil Dena.


" Duduklah, Noah rindu dipeluk oleh Ibunya", Mas Adam meletakkan Noah di atas tempat tidur, lalu mengulurkan satu tangan ke arah Dena membantu nya untuk duduk.


" Nah, begitu..", Mas Adam lalu mengangkat Noah untuk duduk di pangkuan Dena.


Seketika perempuan itu menangis, mencium kepala Noah yang sekarang sudah menjadi yatim.


" Menangis lah, aku tak akan melarang mu untuk menangis", Mas Adam membiarkan untuk sesaat perempuan itu melampiaskan apa yang ia rasakan.


Beberapa menit Dena terisak memeluk Noah.


" Sudah menangis nya?", Mas Adam mengusap pipi Dena yang basah oleh air mata.


Dena hanya diam namun isaknya hampir mereda.


Mas Adam mengambil bubur di atas nampan yang sudah di siapkan Mbok Nah.


" Sekarang makan ya, Noah juga mau makan bersamamu".


Dena tetap diam, tak menjawab apa apa.


" Kau mau ke makam Adrian hari ini?".


Mendengar itu, Dena mendongak kan kepala nya menatap ke arah Mas Adam lalu mengangguk.


" Aku akan mengantarmu kesana, tapi kau harus makan ya. Kalau kau tidak makan nanti kau pingsan di kuburan bagaimana? hehehe", Adam sedikit tertawa untuk menghibur Dena.


Mas Adam tak perlu menunggu jawaban Dena, ia langsung mengarahkan sendok yang berisi bubur ke mulut Dena.


Perempuan itu membuka mulutnya.


" Noah mau makan juga sama Mama?", Mas Adam kemudian menyuapi Noah dan Dena bergantian.


Noah tertawa mengerjapkan mata bulatnya, melihat nya sama saja seperti melihat Adrian dan itu membuat Adam kian mengingat saat ini Noah adalah tanggung jawab nya meski tak ada hubungan darah sama sekali.


Bayi laki laki itu mencoba menggapai dagu Mas Adam, seperti yang biasa ia lakukan pada papa nya, Adrian. Nampaknya Mas Adam mengingatkan ia pada Adrian.


Beberapa menit bubur di mangkok itu pun habis. Mas Adam tersenyum, kemudian menggendong Noah dan mendekap nya.

__ADS_1


" Anak pintar, sama Om ya. Mama biar mandi dulu", ucap Mas Adam.


" Dena, mandilah. Kau tak ingin kan datang menemui Adrian dengan wajah kusam seperti itu".


Untuk saat ini, Dena patuh dengan segala yang Mas Adam perintahkan. Ia beranjak dari tempat tidur nya kemudian masuk ke kamar mandi .


Mas Adam pun keluar dari kamar membawa Noah dan memberikan nya pada Ibu.


" Bagaimana Nak Adam, apa Dena mau makan?".


Mas Adam tersenyum lalu mengangguk.


" Sudah bu, Noah juga ikut makan tadi. Sekarang Dena sedang mandi".


Ibu mengucap banyak terima kasih kepada Mas Adam, laki laki ini mampu menenangkan putri nya.


" Nanti siang, aku akan membawa Dena ke makam Adrian", ucap Mas Adam.


" Lakukan saja apa yang menurut Nak Adam baik untuk Dena".


Selepas siang hari, Mas Adam menepati janji nya membawa ke makam Adrian.


Mereka berdua melangkah memasuki halaman kuburan. Suara azan bersahut sahutan di langit mendung siang itu.


Dena duduk bersimpuh di hadapan makam yang masih dipenuhi taburan bunga di atas nya.


" Jangan menangis, Adrian tak akan suka kalau kau cengeng", Mas Adam mengingatkan sebelum Dena menumpahkan air mata nya.


" Sayang, aku datang menemui mu. Semalam aku susah sekali tidur, apa kau kedinginan tadi malam?".


Mas Adam membiarkan Dena terus berbicara seolah Adrian sedang berbaring di samping nya.


Mendung di langit semakin hitam menggantung, tetes tetes kecil air hujan mulai jatuh ke bumi.


" Dena, ayo kita kembali ke mobil. Sebentar lagi hujan lebat", Mas Adam menarik tangan Dena yang masih enggan untuk beranjak.


" Adrian juga akan kehujanan, aku masih ingin menemaninya", ucap Dena.


Tetes hujan semakin deras menyerbu bumi, membuat Mas Adam tergopoh berlari memegang tangan Dena agar cepat sampai ke mobil.


Mereka masuk ke mobil dalam keadaan setengah basah. Mas Adam mengambil handuk kecil kemudian mengeringkan wajah Dena yang basah oleh air hujan.


Perempuan itu masih saja diam, tak ada ekspresi apa apa di wajah nya.


Mas Adam menatap wajah sendu Dena, bibir merah tanpa lipstik nya yang selalu terlihat menggoda membuat jantung Mas Adam berdetak tak mengenal frekuensi.


Ia berusaha untuk menahan segala nafsu yang muncul begitu saja. Ia seorang lelaki,manusiawi sekali rasanya jika ia tak tahan lama lama menatap perempuan yang masih ia cintai. Mas Adam masih ingat terakhir ia bercumbu ketika ia dan Dena berada di villa pinggir pantai.


" Aahhh bodoh, bisa bisa nya aku mengenang itu lagi", Mas Adam memaki dirinya sendiri.


Ia belum menyalakan mesin kendaraan, hanya menikmati kesunyian di antara mereka berdua.


" Dena, kita pulang sekarang ya. Sepertinya akan sangat lama jika menunggu hujan reda dan kau ingin kembali ke makam".


" Aku masih ingin bersama Adrian ", suara Dena pelan terdengar.


" Hhhhmmm ", hembusan nafas Mas Adam terdengar berat dan panjang. Ia harus berkali kali memberikan pengertian kepada Dena.


" Kau tidak bisa terus terusan seperti ini, aku tau kau begitu mencintai Adrian, tapi hidup mu harus tetap berjalan".


" Kehidupan memang seperti itu, tak pernah lepas dari kata melepaskan, merelakan, kehilangan".


Dena melempar pandangan nya ke samping kiri menatap area pemakaman.


" Benarkah aku sudah kehilangan Adrian?", tanyanya pelan.


Mas Adam meraih dagu perempuan itu, meminta Dena memutar pandangan ke arah nya.


" Kau mungkin sudah kehilangan raganya, tapi kau tidak akan pernah kehilangan cintanya ".


" Sampai kapan pun, Adrian tetap hidup di dalam dirimu. Bukan kah ia meninggalkan satu ginjal nya untukmu?".


Mendengar ucapan Mas Adam, Dena memegang perutnya. Meraba bekas luka operasi, ia memejamkan mata seolah mencoba merasakan kehadiran Adrian lewat ginjal yang tertanam di tubuhnya.

__ADS_1


Kemudian ia membuka matanya setelah menarik nafas panjang.


" Ayo kita pulang Mas", akhirnya Dena luluh juga.


" Nanti setiba di Rumah aku ingin kau tidak lagi bersedih, kau harus tersenyum. Mengajak Noah bermain, ia pasti rindu tawamu".


Mobil yang dikendarai Mas Adam perlahan meninggalkan area pemakaman.


Mereka tiba di rumah saat hujan hampir reda.


Kak Radit ternyata ada di rumah, menunggu kepulangan Dena. Ia ingin melihat bagaimana kondisi adik ipar nya itu setelah kepergian Adrian.


Kak Radit tak hanya datang sendiri, ia bersama Lisa istrinya.


" Apa kabar mu Dam?" ,Radit menyapa Adam duluan.


" Baik dit, kau bagaimana?".


" Aku juga baik baik saja. Terima kasih banyak ya, kau sudah banyak membantu Dena ".


Mas Adam mengangguk.


Sementara itu, Lisa tak ingin berbincang dengan mantan suaminya itu. Ia memilih menemani Dena masuk ke kamar, mengganti pakaian nya yang basah.


" Aku dengar dari cerita Ibu, tentang permintaan Adrian sebelum ia meninggal", Radit melanjutkan pembicaraan mereka.


Adam tentu saja tau permintaan apa yang dimaksud Radit.


" Ya, aku sudah berjanji pada Adrian untuk memenuhi permintaan nya itu ", ucap Mas Adam.


" Kau tau kan aku yang sebenarnya yang harus bertanggung jawab menjaga Dena dan Noah, karena aku saudara laki laki Adrian".


" Tapi seperti yang kau lihat, aku sekarang sudah mempunyai Lisa dan seorang anak.Akan susah bagiku untuk memberi waktu pada Dena dan Noah. Lagipula....aku takut Lisa cemburu jika aku terlalu memperhatikan Dena".


" Jadi aku minta tolong, kau untuk menjaga Dena dan Noah. Kau mengerti kan?".


Adam mengangguk lalu tersenyum meyakinkan Radit bahwa ia akan melakukan itu semua tanpa diminta.


Ini mungkin tentang perjalanan panjang sebuah jiwa yang sudah lama terlantar sendirian.


Adam kemudian berpamitan pulang, Dena sendiri yang mengantarnya sampai ke depan pintu mobil saat hujan sudah benar benar reda.


Aroma basah tanah dan dedaunan setelah diguyur hujan terasa menusuk sejuk di penciuman mereka. Menciptakan nuansa damai di hati Adam kala itu, menatap perempuan yang kini harus ia jaga.


" Aku pulang ya, kau janji malam ini harus tidur. Jangan siksa dirimu dengan terus terusan menangis".


" Iya, aku janji".


" Terima kasih ya sudah menemaniku mengunjungi makam Adrian".


Mas Adam bernafas lega, akhirnya ia bisa mendengar Dena berkata logis. Sepertinya ia mulai bisa menerima kenyataan kalau Adrian sekarang sudah berbeda alam dengan nya.


Semoga besok besok keadaan Dena terus seperti ini, harap Mas Adam dalam hati.


Dalam perjalan pulang ke rumahnya, Adam menambatkan aamiin yang sibuk ia semogakan.


Dan, untukmu perempuan ku...


Tempat segala rindu menyatu


Jiwaku terkadang sibuk menggerutu


Kembali mencoba merayu hitungan waktu


Agar kita disegerakan dengan temu


...----------------...


Setelah bab ini, yang sedih sedih nya kita hempas dulu ya😇


Beri sejenak Mas Adam merasakan kebahagiaan.


Jangan lupa like terus ya semua episode nya, dukung karya thor biar semangat up🙏🥰

__ADS_1


__ADS_2