
Suara penyejuk udara di ruangan sebuah kamar nampak beradu dengan suara ******* dua insan yang sedang melakukan aktifitas malam harinya di atas ranjang. Sepasang suami istri itu tampak bergairah menikmati setiap adegan yang mereka perankan.
******* panjang mengakhiri pertempuran penuh hasrat pasangan itu.
Lisa turun dari ranjang, menuju kamar mandi membersihkan dirinya. Setelah itu seperti biasanya ia tidur menemani Juna putra kecil mereka.
" Tidurlah, jangan tidur larut malam.. besok kau harus bekerja seperti biasanya", Lisa mengingatkan suami nya sembari mengecup lembut pipi suaminya dan meninggalkan Adam tidur sendirian di kamar itu.
Besok adalah Hari libur bagi hampir rata rata karyawan karena besok tanggal merah, tetapi bagi karyawan seperti Adam tidak ada istilah libur kecuali pada hari Minggu. Mereka tetap bekerja memberikan waktu mereka untuk pasien pasien hemodialisa, memastikan jarum kupu kupu menemani jiwa jiwa yang bergantung hidup nya dengan mesin cuci darah.
Adam masih bertelanjang dada, rambut rambut halus memenuhi dada nya yang bidang. Ia enggan beranjak dari ranjang nya yang sudah berantakan, menunjukkan betapa dahsyat nya pertempuran hasrat yang tadi terjadi antara ia dan Lisa. Ia memungut pakaian nya yang teronggok di lantai, memakai ke tubuh nya yang mulai merasakan kedinginan.
Ia berbaring, mencoba memejamkan mata yang tidak mengantuk. Tetapi yang terlintas di angan nya adalah seraut wajah perempuan, perempuan manis dan cantik di ruangan Hemodialisa.
" Ahh..mengapa wajahmu yang terlintas?"
Dena...
Adam berusaha menghilangkan jejak jejak wajah yang masih lancang terukir di angan nya. Ia sudah berjanji pada Lisa,untuk tidak terlalu dekat dengan Dena. Namun di lain sisi ia sudah terlebih dahulu berjanji pada hati nya untuk memastikan perempuan itu baik baik saja.
Ia masih teringat bagaimana tadi sore istrinya protes kepada dirinya karena pulang terlambat meskipun ia sebelumnya sudah mengatakan alasan yang membuat ia terlambat pulang.
" Kau sepertinya tidak terlalu sering meluangkan waktu mu untuk perempuan itu".
" Meskipun kau mengatakan perempuan itu mengingatkan mu dengan Tania".
" Tetapi bisakah kau menghargai aku dan menjaga perasaan ku, karena aku takut perempuan itu bisa saja menganggap semua nya lebih", begitulah kalimat protes yang terucap dari Lisa tadi sore.
Adam menggaruk kepala nya yang tidak gatal,ia membenarkan apa yang di ucapkan istrinya. Dia memang harus menghargai istrinya, selama ini Lisa adalah perempuan penurut yang tidak banyak mengutarakan permintaan kepada nya. Kali ini dia memintaku untuk menjaga jarak dengan Dena, rasanya tak adil kalau aku menolak permintaan nya.
Adam menghela nafas, mengingat selama 7 pernikahan mereka Lisa tak pernah melakukan kesalahan. Hubungan pernikahan mereka harmonis, untuk urusan ranjang pun perempuan itu selalu bisa memenuhi hasrat nya yang bergelora.
" Hasrat?", entah kenapa malam itu Adam membayangkan wajah Dena yang cantik, sifat polos nya yang mengatakan bahwa ia baru pertama kali jatuh cinta.
" Ahh beruntung nya lelaki yang bisa membuatnya jatuh cinta"
__ADS_1
Sedikit fikiran nakal hadir di kepala Adam,namun buru buru ia tepis.
" Ciihhh.. apa apaan aku ini, tak sepatutnya terlintas di fikiran ku untuk menjamah perempuan polos itu", Adam mencoba menyadarkan hatinya.
Satu jam sudah berlalu dengan dihiasi semua tentang Dena di kepala nya. Ia bertanya pada dirinya sendiri, apa ia bisa pura pura tidak peduli dengan gadis itu. Apa ia bisa perlahan lahan memberi jarak?
Lelah ia berfikir, kemudian lelaki itu tertidur lelap karena energi nya terkuras saat memuaskan istrinya tadi.
...****************...
Rutinitas pagi itu berjalan seperti biasanya, Ayah, Ibu, Hasbi dan Dena masing masing menikmati sarapan pagi mereka di meja makan. Hasbi tak banyak bicara kepada kakak nya, ia hanya sesekali menatap wajah Dena yang masih sama cerianya seperti hari kemarin.
" Apa aku tega menghapus senyum itu dan menggantikan nya dengan kesedihan jika ia harus di paksa melupakan lelaki itu"
" Ahhh..tapi aku juga tak ingin kakak ku menelan pil pahit kekecewaan".
Dena melihat wajah ibunya, Ibu yang juga seorang istri. Ia membayangkan bagaimana jika Ayah mencintai perempuan lain. Pastilah akan banyak yang tersakiti, bukan hanya ibu tetapi mereka anak anak nya juga. Terlintas di benak Dena wajah Lisa dan Juna. Semalaman tadi ia benar benar menghabiskan waktu nya untuk berfikir apakah perkataan Hasbi yang memohon nya untuk melupakan Mas Adam harus ia penuhi.
Ia menyimpulkan banyak hal tadi malam, mulai sedikit menurunkan kadar keegoisan nya. Menyadari betapa berharga diri nya meski penuh dengan kekurangan saat ini, terlebih ia bukan perempuan sehat yang di idamkan setiap laki laki untuk melahirkan anak anak nya. Tapi bukan berarti ia harus menjadi rendah karena merusak rumah tangga orang lain.
" Aku akan mencoba perlahan menjaga jarak dengan Mas Adam", ucap Dena pelan setengah berbisik.
" Tapi tolong jangan terlalu paksa aku, karena aku juga butuh waktu", Dena mengiba dengan tatapan nya.
Rasa bangga terhadap kakak nya sedikit menyeruak di hati Hasbi, lihatlah betapa kakak perempuan nya ini mau berusaha melupakan cinta pertamanya. Hasbi semakin mantap untuk mencarikan kakak nya pekerjaan demi mengisi kesibukan nya setiap hari. Tentu saja ini sudah dengan segala pertimbangan, mengingat akhir akhir ini kondisi kakak nya bisa dibilang sudah stabil meskipun harus tetap rutin cuci darah.
" Aku yakin Kak Dena bisa melupakan nya, sama sepertiku saat ini yang sudah hampir berhasil menghilangkan nama Amira dalam hatiku", ujar Hasbi ikut merasakan bagaimana sulit nya melewati fase fase itu.
Hasbi berpamitan kepada kakak nya, kemudian berangkat bekerja. Di sepanjang perjalanan menuju kantor, ia nampak menyusun agenda hari ini untuk menemui salah satu petinggi Perusahaan BUMN yang ia kenal dekat karena menjalin kerja sama dengan Perusahaan tempat ia bekerja. Tentu saja dengan sebuah tujuan, merekomendasikan kakak nya. Ia tak ragu dengan kemampuan Dena dalam bekerja, seorang pekerja keras yang dulu sangat ambisius dalam mengejar karir.
*** Di sebuah gedung, di lantai lima...
Siang itu akhir nya Hasbi berhasil dengan segala rencana nya,hal kecil bagi petinggi perusahaan itu kalau hanya sekedar menerima Dena sebagai staff Accounting disitu.
Namun Hasbi tetap meminta kepada lelaki yang ia sebut Pak Irawan itu untuk tetap menerima Dena bekerja karena kemampuan kakak nya. Ia memastikan kakak nya akan tetap melewati beberapa tes dari Perusahaan ini untuk mengetahui kemampuan kakak nya. Ia hanya sebatas merekomendasikan nya.
__ADS_1
" Baiklah Pak Irawan, terima kasih atas bantuan nya"
" Besok saya akan meminta kakak saya datang kesini membawa berkas berkas lamaran dan interview langsung dengan Bapak", Hasbi berpamitan seraya menjabat erat tangan Pak Irawan.
Satu rencana sudah hampir berhasil ia jalankan, ia berharap ini bisa menjadi langkah awal bagi kakak nya untuk memuluskan niat melupakan lelaki itu.
Hasbi berniat menemani kakak nya di jadwal cuci darah esok lusa, ia ingin memastikan bahwa kakak nya itu sungguh sungguh dengan perkataan nya.
"Jika perlu aku sendiri yang akan berbicara pada lelaki itu untuk berhenti memberikan perhatian khusus pada kakak nya", Hasbi terlihat sedikit geram, mencengkram erat kemudi.
Hasbi meraih ponsel nya, mencoba menghubungi kakak nya untuk meminta nya menyiapkan berkas lamaran untuk besok.
" Siang Hasbi, ada apa kau meneleponku siang siang begini", suara khas Dena di ponsel Hasbi terdengar nyaring.
" Kak Dena bisa kan menyiapkan surat lamaran kerja hari ini, besok aku akan mengantarkan kakak ke PT XX ( menyebutkan nama Perusahaan BUMN yang besok akan kakak nya datangi)".
Ia menceritakan kepada kakak nya bahwa perusahaan tersebut sedang membutuhkan seorang Akuntan.
Di seberang sana Dena terdengar memekik kegirangan, ia begitu yakin akan kemampuan di bidang nya.
" Terima kasih Hasbi untuk informasinya, aku akan menyiapkan berkas berkas nya sekarang juga", suara Dena terdengar begitu bersemangat sampai sampai ia langsung mematikan ponsel nya tanpa menghiraukan Hasbi yang sebenar nya masih ingin berbincang.
Hasbi tersenyum membayangkan bagaimana wajah kakak nya yang kegirangan.
" Akhir nya Kak Dena masih bisa tersenyum tanpa alasan seorang lelaki bernama Adam itu".
Hasbi selalu ingin memastikan kebahagiaan kakak nya saat ini hal utama baginya. Bukankah begitu banyak hal yang ia relakan demi memastikan kakak nya itu tetap menjalani hari hari dengan baik.
Lalu sebuah rasa pilu bergelayut manja di benak nya, percikan rindu akan kehadiran cinta lagi kembali menyapa.
Ia bergumam lembut,
" Aku sudah berusaha sekeras yang aku bisa untuk berhenti mencari keadaan Amira".
" Apa sekarang aku sudah siap untuk kedatangan penghuni baru yang akan mengisi ruang hatiku yang kosong?".
__ADS_1
"Semoga semesta mempertemukan aku dengan orang yang tepat di saat kami sudah sama sama siap" ( HARAP).