
Untuk sebuah nama yang tak lagi
bisa ku ajak berbincang.
Biarlah rindu mengguncang jarak
yang kian membentang.
Mengingkari janji yang pada akhirnya
hanya sibuk berlalu lalang
Menertawakan setia yang kini hanya
berkalang hengkang.
Mengenang bimbang yang nyatanya
hanya membuat renggang.
Dan, akulah sang pecundang
Yang membiarkan rasa mempermainkan ku
berulang ulang.
Tanpa mempedulikan air mata yang
jatuh berlinang.
Atau sekedar memahami luka yang telah
lebih dulu bersarang.
Dan untukmu yang kini hanya bisa ku kenang.
Adam keluar dari Ruangan HRD dengan langkah tertunduk.
Betapa pun keputusan ini begitu berat, namun ia sudah memikirkan nya matang matang.
Tadi di ruangan HRD dia mengajukan surat pengunduran diri nya dari Rumah sakit yang selama sembilan tahun menjadi tempatnya bekerja.
Malam malam panjang menjadi tempat nya berkisah akan perasaan nya yang hampa.
Ia begitu mencintai dunia yang ia geluti selama ini, menjadi staff medis membantu pasien pasien cuci darah, mengabdikan diri nya di Ruangan Hemodialisa bersama jarum kupu kupu.
Namun akhir akhir ini, kecintaan nya akan dunia itu malah menjadi bumerang untuk diri nya sendiri. Ia begitu tersiksa mendengar suara alarm di mesin itu, benci ketika memegang jarum kupu kupu, nelangsa ketika menyapu pandangan ke seluruh ruangan dan tak ia temukan lagi perempuan yang ingin ia jaga dengan hatinya.
Sampai hari ini ia bertekad bulat memberikan surat resign ke ruangan HRD . Ia kembali ke ruangan Hemodialisa, wajahnya terlihat tak ada semangat apa apa lagi.
" Lukas, hari ini mungkin hari terakhir aku bekerja", Adam memberi tau rekan nya itu.
Karena 1 minggu yang lalu ia sudah menghadap HRD untuk memberitau niat nya dan sudah ada pengganti untuk posisi nya itu.
" Maksudnya? Mas Adam cuti kerja?", Lukas masih tidak mengerti maksud terakhir ia bekerja.
" Tidak, aku mengajukan resign dan HRD sudah menyetujui nya tadi".
__ADS_1
" Hah... Mas Adam tidak sedang bercanda kan?", Lukas masih tidak percaya karena ia tau senior nya ini sudah sembilan tahun mencintai pekerjaan nya.
" Aku serius, aku minta maaf kalau selama bertugas mungkin aku banyak kesalahan", Adam berkata datar.
" Mas Adam mendapat tawaran pekerjaan yang lebih baik kah?".
Adam menggelengkan kepala.
" Tidak, aku ingin meninggalkan dunia ku ini".
" Aku ingin meneruskan bisnis ku saja".
Lukas tak mengerti jalan pikiran senior nya ini, namun ia bisa menebak apa sebenarnya alasan ia ingin berhenti dengan semua hal yang berhubungan dengan hemodialisa.
Ternyata rasa cinta juga bisa membunuh kecintaan kita akan sesuatu.
Adam kemudian memanggil Laras dan juga Risma. Laras saat ini sudah mulai bisa beraktifitas dan bekerja seperti biasa, meskipun di pagi hari masih sering mual dan muntah.
Laras, Risma dan Lukas menahan tangis saat Mas Adam meminta maaf atas kekurangan nya selama ini.
Ia melakukan serah terima pekerjaan pada junior junior nya itu.
" Cintailah pekerjaan kalian yang sekarang".
" Ini sebuah pekerjaan yang mulia, membantu orang orang yang sakit dengan hati tulus, memberi semangat kepada mereka".
Kata kata yang keluar dari mulut nya malah menikam hati nya sendiri. Ia masih teringat bagaimana ia memberi semangat kepada perempuan yang ia anggap istimewa itu, ia masih ingat betapa tulus ia menyayangi perempuan itu hingga ia berikan penuh seluruh hatinya .
Laras, Risma dan Lukas merangkul laki laki di hadapan mereka yang sudah mereka anggap kakak sendiri. Bertahun tahun bertugas bersama di Ruangan Hemodialisa ini membuat mereka terasa berat untuk berpisah.
Namun ia berusaha menunjukkan wajah tegar seolah ia baik baik saja.
" Hey..Laras jangan menangis".
" Kita masih bisa bertemu, aku masih di kota ini".
Laras malah semakin deras mengeluarkan air mata, di ikuti Risma yang ikut terisak. Lukas hanya mengusap hidung nya yang sudah merah .
" Mas Adam, berjanjilah untuk tetap menjalin silaturahmi kepada kami dan keluarga besar di ruangan Hemodialisa ini", ucap Lukas.
" Tentu saja", jawabnya singkat.
Tapi maaf untuk melihat Ruangan Hemodialisa ini lagi rasanya aku tak akan sanggup, batin Adam.
Hari itu, menjadi hari yang penuh haru di Ruangan hemodialisa. Melihat pemandangan para pasien yang sudah selesai cuci darah satu persatu memeluk lelaki hangat itu, melepas kepergian lelaki yang sudah banyak membantu mereka, mendedikasikan diri nya dengan penuh ketulusan.
Adam akhirnya tak kuasa menahan tangisnya yang dari pagi berusaha ia tahan dan tutupi dengan wajahnya yang biasa terlihat tenang.
Pasien pasien di ruangan itu sudah menganggap mereka semua adalah keluarga, terlebih pada perawat perawat yang baik hati yang selalu sabar menangani mereka.
Ia telah selesai hari ini, ia menatap lekat seragam putih yang ia kenakan. Sesak menghimpit dada nya, ia melepas pakaian itu mengganti nya dengan kaos biasa.
Di tatap nya lagi Ruangan Hemodialisa itu ke segala penjuru untuk terakhir kalinya.
Ia menatap mesin mesin yang selalu merdu berbunyi dengan alarm nya, ia tatap tempat tidur di ujung sana, tempat biasanya dia memandang perempuan itu dari kejauhan.
Dan...terakhir kali ia menatap jarum kupu kupu yang menjadi saksi cintanya yang mendalam untuk perempuan itu.
__ADS_1
" Selamat tinggal semuanya, aku sudah tak ingin ada kenangan apapun di Ruangan ini".
Adam melangkah gontai meninggalkan Ruangan Hemodialisa, dilepas sekali lagi oleh pelukan dari ke tiga rekan nya.
Ia berjalan pelan menyusuri lorong rumah sakit, ia merasa dalam setiap hembusan nafas nya terasa tajam menusuk ke dadanya. Seperti lesatan jarum kupu kupu yang selalu hinggap manis di tangan perempuan yang membuatnya meninggalkan dunia yang ia cintai ini.
" Dena, kau tau aku sekarang masih hidup tapi sebenarnya aku merasa telah mati?".
" Apa kau bahagia sekarang tanpaku?".
*** Sore hari, saat Dena sudah pulang bekerja Laras menghampirinya .
Laras tinggal bersama di rumah orang tua Hasbi setelah mereka menikah.
Ia sebenarnya ragu ingin membahas tentang Mas Adam kepada Dena, apalagi kalau sampai ketauan Hasbi, habislah ia akan dimarahi suaminya itu.
Namun ia merasa Dena perlu tau hal itu, karena bagaimanapun juga Dena pernah menjalani hemodialisa dengan ditangani oleh Mas Adam .
Hasbi belum pulang dari kantor nya saat itu ketika Laras menceritakan apa yang terjadi hari ini di tempat nya bekerja .
" Kak Dena, aku mau Kak Dena tau sesuatu", ucap Laras masih ragu ragu .
" Sesuatu? Apa Ras?".
" Eemmm.. begini Kak, Mas Adam mulai hari ini sudah tidak bekerja lagi di Ruangan Hemodialisa".
" Ia memutuskan untuk menanggalkan profesi perawat dialisis nya".
Dena mematung mendengar perkataan Laras, namun ia menahan diri untuk bertanya lebih dalam. Ia tak mau Laras curiga dan tau kalau ia masih memikirkan lelaki itu .
Namun cerita tentang kejadian hari ini terus mengalir dari mulut Laras.
Dena masuk ke kamar nya, membanting badan ke atas tempat tidur .
Menelungkupkan kedua tangan nya di mata yang sudah basah .
Ia bisa merasakan sakit mendalam yang dirasakan lelaki itu hingga membuat keputusan besar seperti ini.
Rasa cinta telah membuat ia kehilangan banyak hal .
Dena mengambil ponsel nya, lalu mencari kontak lelaki itu .
Panggilan terhubung.
" Hallo...selamat sore".
kemudian hening, diam tak ada yang mampu memulai pembicaraan.
...----------------...
Hhmm.. kira kira apa ya yang akan dikatakan Dena saat menelepon Mas Adam?
Apa kali ini Dena menjadi ragu lagi?
Ikuti terus ya kisah selanjutnya di update episode mendatang.
Jangan lupa like n kasih vote buat otor ya biar populer🥰🥰🙏
__ADS_1