Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu

Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu
Dua belas Angka


__ADS_3

Lukas bisa bernafas lega hari itu, senyumnya mengembang sempurna saat tadi mendengar pengakuan Dena bahwa laki laki yang menemani nya itu adalah adik kandung nya.


Meskipun pengakuan itu Dena utarakan pada Mas Adam bukan kepada dirinya.


" Masa bodoh, yang penting aku masih punya kesempatan untuk mendekati Dena" fikir Lukas sambil menyeringai memikirkan jurus jurus ampuh untuk menaklukkan perempuan cantik yang masih saja acuh terhadapnya.


" Kau tau nona, kau adalah perempuan pertama yang menolak untuk aku dekati" ucap Lukas dalam hati.


***Mas Adam seperti biasanya dengan hati hati menusukkan jarum kupu kupu di lengan dan paha Dena. Demi melihat wajah hangat lelaki itu dari jarak dekat, Dena bahkan tidak memejamkan sedikit pun mata nya saat tajam nya jarum kupu kupu menembus kulit nya. Padahal jarum berukuran besar itu pasti membuat sakit siapa pun saat ditusuk tanpa anastesi. Benar kata orang, orang yang sedang jatuh cinta terkadang bisa buta terhadap apapun. " Bucin sekali diriku, ha ha ha", Dena menertawai diri nya dalam hati.


Lihatlah, dia menatap takjub bulu mata lentik lelaki itu. Mencari cari dimana letak kekurangan pada wajah nya. " Ahhh.. betapa sempurna nya makhluk mu yang satu ini Tuhan", Dena mengagumi indah nya ciptaan Tuhan yang hadir di hadapan nya saat ini.


" Dena, aku sudah membuatkan surat rujukan intern untuk mu agar dalam waktu dekat kau bisa menjalani operasi pemasangan AV Shunt" , Mas Adam membuka pembicaraan yang membuat Dena kehilangan konsentrasi setelah menatap lama wajah laki laki itu.


" Ehhh.. iya bagaimana mas?" tanya Dena meminta Mas Adam mengulangi lagi perkataan nya.


" Pagi pagi udah ngelamun sih" ledek Mas adam kepada Dena


Wajah Dena bersemu merah, bertanya tanya dalam hati nya apakah lelaki itu tau kalau ia sedari tadi mengamati wajah nya.


Pemasangan AV Shunt atau yang lebih dikenal dengan Cimino adalah operasi kecil di bagian lengan untuk menghubungkan salah satu pembuluh darah arteri dengan pembuluh darah vena. Prosedur ini bertujuan untuk membuat akses pembuluh darah guna keperluan cuci darah. Begitu penjelasan Mas Adam kepada Dena.


" Nanti kalau sudah ada akses cimino, selama cuci darah kamu bisa dengan posisi duduk dan lebih leluasa untuk bergerak" ujar Mas Adam seraya menunjuk ke beberapa pasien lama yang sudah menjalani hemodialisa dengan akses tersebut. Dena manggut manggut mengerti mendengar penjelasan Mas Adam.


Hasbi yang berada di samping Dena, sedari tadi mengamati kakak nya yang terlihat begitu bersemangat berbicara dengan laki laki yang di panggil nya Mas Adam itu. Hasbi bisa merasakan betapa kakak nya itu terlihat bahagia, mencuri curi pandang menatap wajah lelaki itu. Ia seperti menemukan angin segar bagaimana cara untuk membuat kakak nya bahagia. Dengan laki laki yang tepat, Hasbi yakin kakak nya bisa menemukan lagi arah hidup nya setelah di dera ujian bertubi tubi. Setelah memastikan kakak perempuan nya itu bisa kembali menjalani hidup nya seperti dulu lagi yang penuh dengan semangat, baru lah Hasbi bisa melanjutkan rencana pernikahan nya. Begitu rencana awal Hasbi, mulai saat ini ia harus mencari informasi mengenai lelaki yang di sukai kakak nya ini.


...****************...


Saat ini aku menulis syair di hati, sekedar kata maaf ku.


Ku nyanyikan pada sang bayu, tak berharap pun kau untuk tau.


Aku masih melangit kan maaf ku atas semua


Namun kau meninggal kan ku jauh dari angan dan kenangan.


Kini, aku menghadirkan dirimu dalam bentuk yang lain.

__ADS_1


Hasbi masih menatap layar ponsel nya, mengirimkan begitu banyak pesan singkat kepada Amira. Tapi semua pesan pesan itu tidak akan pernah terbaca oleh penerima nya, Hasbi menatap foto profil kekasih nya menghilang, pesan yang ia kirimkan hanya bertanda satu centang.


" Ahhhh... dia kembali memblokir kontak ku" Hasbi menggerutu kesal.


Sepertinya malam ini Hasbi benar benar harus datang ke rumah kekasih nya itu, meluruskan semua masalah ini dan berbicara secara baik baik kepada orang tua Amira.


Sementara itu, Dena terlihat terlelap dalam tidurnya. Syukur lah kakak perempuan nya itu tidur, fikir Hasbi. Kalau tidak ia pasti akan terus membahas masalah hubungan nya dengan Amira. Tak lama, Hasbi menelungkupkan kepala nya di tempat tidur. Memejamkan matanya untuk menghilangkan rasa kantuk yang sudah menyergap nya sedari tadi.


Bunyi Alarm yang menandakan waktu cuci darah sudah selesai selama 4 jam, mengagetkan Dena dan Hasbi. Keduanya membuka mata dan melihat sekitar ruangan,beberapa pasien sudah ada yang menyelesaikan proses cuci darah nya.


" Hari ini 4 jam kamu lalui dengan lancar ya", ucap Mas Adam kepada Dena, mengingat 4 x sebelumnya setiap proses cuci darah selalu ada saja keluhan yang ia rasakan


" Mungkin sudah mulai terbiasa Mas", jawab Dena.


Hasbi ingin sekali tau banyak hal mengenai laki laki di hadapan nya ini,ingin tau latar belakang nya, tempat tinggal nya, dan tentu saja ingin tau status nya. Tapi ia bingung harus bagaimana untuk mulai mengenal laki laki ini.


Akhirnya Hasbi memberanikan diri untuk menyapa Mas Adam,


" Mas setiap hari bertugas di Ruangan ini?" tanya Hasbi .


" Iya, setiap hari hampir selama 9 tahun saya selalu berhadapan dengan kupu kupu manis ini" , jawab Mas Adam sambil tertawa.


Mas Adam diam sejenak, mengingat ingat puluhan atau bahkan ratusan pasien yang sudah ia tangani selama 9 tahun terakhir.


" Ada beberapa pasien dengan kasus gagal ginjal akut, bisa berhenti menjalani cuci darah setelah dinyatakan sembuh".


" Tapi untuk pasien gagal ginjal kronis,hampir semua menjalani cuci darah ini seumur hidup mereka " , jawab Mas Adam.


Dena menggigit bibir nya,mendengar pernyataan Mas Adam. Sudah terbayang di kepala nya,ia harus menghabiskan sisa umur nya di Rumah sakit dengan mesin dan jarum kupu kupu ini. Mas Adam melihat perubahan raut wajah Dena, ia berusaha membesarkan hati sang gadis manis yang tampak resah itu.


" Tapi tak perlu khawatir, pasien pasien cuci darah masih bisa menjalani pola hidup seperti orang orang sehat kok, yang terpenting jaga asupan makanan dan minuman seperti yang di anjurkan dokter. Minum obat secara teratur, vitamin dan istirahat yang cukup. Semua pasti akan baik baik saja. Dan satu lagi, yang paling penting itu "disini", Mas Adam menunjuk dada nya sendiri dengan telunjuk nya, " Ikhlas".


Dena tersenyum membenarkan semua ucapan Mas Adam, betapa laki laki itu selalu membuat nya selalu nyaman dan merasa dunia nya sedang baik baik saja setiap mendengar kata kata yang keluar dari mulut Mas Adam.


Hasbi semakin tertarik untuk mendekat kan laki laki itu dengan kakak nya,dan tampak nya kakak nya juga tidak akan keberatan untuk hal itu.


" Mas, boleh saya minta nomor handphone Mas Adam? siapa tau nanti ada yang perlu saya tanyakan atau mungkin nanti kalau saya dan keluarga sedang tidak bisa menemani kakak saya,bisa minta bantuan Mas Adam, Hasbi akhirnya mencari alasan agar bisa mengenal laki laki itu lebih jauh.

__ADS_1


Dena terbelalak mendengar ucapan adik nya, tapi dalam hati nya sedikit berbahagia. Bukankah selama ini Dena bahkan tak punya nyali untuk sekedar meminta nomor ponsel lelaki pujaan nya itu.


" Boleh, nanti saya akan mengirimkan pesan ke Dena ya, kebetulan sekarang lagi nggak pegang handphone", ucap Mas Adam seraya menunjuk nomor handphone Dena yang tertera di Map pasien.


" Ehh... apa aku nggak salah dengar?", tanya Dena dalam hati.


Bunga bunga seketika bermekaran di hati Dena, seperti mendapat undian berhadiah mendengar kalimat yang baru saja di ucapkan Mas Adam.


Hasbi tersenyum penuh kemenangan, apa yang ia rencanakan sepertinya berjalan mulus.


Ia bahkan tak perlu repot repot lagi mencari cara agar kedua orang itu bisa berkomunikasi langsung diluar pertemuan mereka di Rumah sakit, Mas Adam menawarkan akan mengirim pesan secara langsung kepada kakak nya.


...****************...


"Aku tidak tau nama siapa yang sudah tercatat di langit untuk ku.


Aku juga tidak tau apakah ia seseorang di masa lalu atau pun seseorang yang baru hadir di hidupku.


Tapi yang pasti,jodoh tidak akan pernah keluar dari jalur yang sudah di tetapkan


Sejauh apapun perjalanan,sesusah apapun rintangan, pasti akan berlabuh juga pada ia yang jadi takdir dari Tuhan".


*** Suara pesan masuk terdengar dari ponsel milik Dena ketika kakak beradik itu berjalan beriringan di koridor Rumah sakit.


Dena membuka pesan dari nomor yang tak di kenal,kemudian membaca pesan singkat yang dikirimkan pengirim nya


" Dena, ini nomor Mas Adam.. save ya kalau butuh bantuan atau sharing apapun jangan segan segan untuk menghubungi", begitu isi pesan yang di akhir kalimat nya di bubuhi emoticon tersenyum.


Seperti menemukan oase di padang yang tandus, Dena tak sabar untuk segera membalas pesan itu


" Baik Mas Adam, terima kasih".


Ia menatap lamat dua belas angka pada pesan masuk di ponsel nya, kemudian berfikir nama apa yang pantas untuk mengisi daftar kontak pada pemilik dua belas angka itu.


Kemudian ia tersenyum sendiri, malu malu merasakan betapa bucin nya dia saat ini jika harus menyimpan dengan nama " sayang " , "lelakiku" atau apalah yang berbau romantis sementara ia tau ia bisa saja hanya di anggap serpihan yang tak berharga di mata lelaki itu.


Jemari nya lembut mengetik sebuah nama di tombol keyboard ponsel nya " Mas Adam".

__ADS_1


Sementara itu, Hasbi mengamati tingkah aneh kakak nya yang sedari tadi tersenyum sendirian melihat ponsel nya. Kemudian ia menggandeng tangan kakak perempuan nya itu,berjanji dalam hati akan melakukan apapun untuk kebahagiaan kakak nya itu


__ADS_2