Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu

Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu
Plin plan


__ADS_3

Selamat Pagi Jarum Kupu Kupu


Hari ini aku datang lagi untuk menemui mu


Orang orang bertanya padaku kenapa aku selalu menemui mu padahal aku terlihat sehat


Hahaha mereka tak mengerti, aku bisa terlihat sehat justru karena aku rutin bertemu dengan mu jarum kupu kupu ku.


Pagi ini aku tak sendiri, aku datang bersama kekasih ku.


Kau jangan cemburu ya jarum kupu kupu, karena kata dokter kau akan selalu menemaniku seumur hidup.


*** Adrian tak melepaskan genggaman tangan nya kepada Dena sejak keluar dari mobil hingga menyusuri jalan ke lantai dua rumah sakit.


" Dena, aku salut kepadamu"


" Kau terlihat tegar dan baik baik saja, padahal aku bisa merasakan kau bosan harus menghabiskan waktumu di rumah sakit ini", ucap Adrian.


" Adrian taukah kau, aku tak pernah bosan datang kesini karena aku menggantungkan hidupku dengan mesin hemodialisa itu", Dena menjawab lembut ucapan Adrian .


Sebenarnya dalam hati ia berkata,


" Bagaimana aku bisa bosan, aku menggantungkan hatiku pada lelaki hangat di ruangan itu".


" Kita sudah hampir sampai, itu ruangan nya", Dena menunjuk ke pintu ruangan yang bertuliskan Ruangan Hemodialisa.


Ini akan jadi pengalaman pertama bagi Adrian mengisi hari libur kerjanya dengan melihat sendiri bagaimana yang dinamakan cuci darah


Selama ini setiap orang mendengar kata itu pasti akan memikirkan hal yang menyeramkan, begitu juga dengan Adrian.


Mereka memasuki ruangan yang sudah di penuhi oleh pasien dan pendamping.


Hampir semua yang ada di ruangan itu melihat takjub kepada Adrian dan Dena yang berjalan menuju tempat Dena yang berada di ujung ruangan.


Pasangan serasi, itu yang ada di pikiran mereka yang melihat nya. Seorang perempuan cantik di genggam mesra jemari nya oleh lelaki tampan yang nampak berkharisma .


Hanya satu orang yang sedang terluka melihat pemandangan itu. Adam..


Ia tak mengira Dena akan membawa Adrian datang kesini untuk menemaninya.


Adam mengeraskan rahangnya, menahan amarah. Namun ia masih ingin menunjukkan wajah tenang.


Adrian melihat sekeliling nya, mesin mesin yang baru pertama kali ia lihat.


Selang bening yang dialiri darah terlihat berputar di mesin itu, Adrian teringat mesin cuci nya di rumah.


Adam menghampiri Dena yang sudah siap di atas tempat tidurnya, sedangkan Adrian duduk di kursi tepat di sebelah Dena.


Adam menampilkan wajah tenang nya, sehangat mungkin menyapa kedua orang di hadapan nya.


" Pagi Dena, Adrian..."


Dena dan Adrian membalas salam dari Adam.


" Kau sudah sarapan pagi ini Den?"


Laki laki ini tak pernah berubah dari awal mereka bertemu hingga sekarang entah berapa kali ia selalu tak lupa menanyakan ini kepada Dena.


Dena mengangguk seperti biasanya .


Adrian melihat dua buah jarum yang baru saja di pegang Adam, ia melihat jarum berukuran besar tidak seperti jarum suntik yang biasa ia lihat .


Jarum itu memiliki sayap di atas nya menyerupai sayap kupu kupu, Adrian jadi mengerti kenapa Dena selalu menyebutnya dengan jarum kupu kupu.


Adrian ngeri membayangkan jarum berukuran besar itu ditusuk di kulit Dena yang begitu halus.


Adam menyemprotkan alkohol di sekitar tangan Dena.


" Tahan sedikit ya, aku tusuk", ia selalu mengucapkan itu setiap akan mendaratkan si kupu kupu hijau.


Satu jarum mendarat di kulit Dena, ia hanya meringis kecil.

__ADS_1


Adrian merasa ngilu melihatnya .


" Dena, kau perempuan yang kuat"


" Aku yang melihatnya saja terasa tak tega", ucap Adrian dalam hati.


Kemudian jarum kedua kembali mendarat di lengan yang sama, hanya berjarak sekitar 5 cm.


" Dena, apa kau tidak merasakan sakit?"


" Tentu saja sakit saat pertama di tusuk, tapi setelah itu biasa saja".


" Aku tidak merasakan apa apa".


Adam melihat betapa perhatian nya lelaki ini kepada Dena.


" Dena apa kau senang menerima perhatian darinya?"


" Tidak kah kau cukup hanya dengan perhatian dariku seorang?", Adam mendesah pilu di dalam batin.


Mesin hemodialisa mulai menjalankan tugas nya, menarik darah dengan menugaskan jarum kupu kupu di arteri dan menugaskan jarum kupu kupu di vena untuk mengembalikan darah nya ke dalam tubuh.


Adrian masih menggenggam erat tangan kekasih nya seperti takut Dena akan merasa kesakitan .


" Hey... Adrian ,kau tak perlu memasang wajah kaku seperti itu".


" Aku baik baik saja dan sudah terbiasa dengan semua ini", Dena tertawa melihat wajah Adrian yang seperti kanebo kering.


Adam terbakar cemburu melihat Adrian yang begitu mesra nya menggenggam tangan Dena.


Saat itu, ia melihat sesuatu melingkar di jari manis Dena.


" Sejak kapan cincin itu ada di tangan Dena?"


" Dena, sepertinya aku butuh penjelasan mu nanti tentang cincin itu", ucap Adam dalam hati .


" Aku tinggal ya, kalau butuh bantuan panggil saja aku", kalimat yang sama yang selalu Dena dengar juga setiap berada disini.


Adrian masih bingung maksud ucapan Adam barusan, kenapa dia berkata seperti itu?


*** Dua jam berlalu, ketika ponsel Adrian berdering.


" Hallo selamat pagi, dengan Tuan Adrian?"


" Iya benar, ini siapa?"


" Maaf Tuan saya salah satu karyawan kakak nya Tuan, saya mau mengabarkan kalau kakak Tuan mengalami kecelakaan saat sedang meninjau proyek pembangunan Gedung XX".


" Dimana kakak ku sekarang?", Adrian berseru panik.


" Sudah di bawa ke rumah sakit XX"


" Baik terima kasih, aku segera kesana".


Wajah Adrian yang panik membuat Dena bingung.


" Dena, maaf sekali aku harus pulang sekarang"


" Kakak ku kecelakaan dan sedang di rumah sakit XX".


" Kalau sempat nanti aku akan kembali menjemputmu".


" Tidak apa apa Adrian, aku bisa pesan taksi online"


" Kau temani kakak mu dulu".


" Maaf ya Dena, aku pamit dulu"


" Hati hati nanti pulang nya, kabari aku kalau sudah di rumah".


Adrian mengecup kening Dena, kemudian tergesa gesa meninggalkan ruangan .

__ADS_1


*** Dena sudah selesai dengan cuci darah nya.


Mas Adam mencabut kedua jarum kupu kupu, ia merasa leluasa berbicara pada Dena karena Adrian sudah tidak disitu .


Laras dari kejauhan tampak mengawasi mereka berdua, sesekali ia sengaja menguping pembicaraan Adam dan Dena dengan berpura pura ke tempat pasien yang berada di sebelah Dena.


Namun tak banyak yang bisa ia dengar karena kedua orang itu tidak banyak bicara ketika Laras mendekat .


" Dena, kau mau aku antar sampai ke rumah?"


" Tidak usah Mas, aku bisa pesan taksi".


" Kenapa kau selalu menolak untuk dekat denganku padahal aku tau hatimu menginginkanku", Adam bicara dengan percaya dirinya .


" Aku hanya ingin menjaga perasaan istri mu dan Adrian".


" Kau munafik Dena".


" Kenapa kau selalu memikirkan perasaan mereka?"


" Bagaimana dengan perasaanku dan perasaanmu?".


Dena menatap lelaki itu lagi, ia tak tau kenapa dia masih menginginkan Mas Adam padahal ia sudah memiliki Adrian sekarang.


Apa karena lelaki ini cinta pertama nya, orang pertama yang mengajarkan nya tentang rasa.


" Apa kau sudah tunangan dengan Adrian?", Adam melirik cincin di jari manis Dena.


Dena ingin menjawab iya, tapi lidah nya terasa kaku.


" Kau tak perlu tau Mas", ucap Dena singkat.


Adam sudah selesai mencabut jarum kupu kupu dari lengan Dena .


Ia sedang menekan kedua bekas jarum itu dengan plester selama beberapa menit untuk menghentikan pendarahan.


" Aku sudah tidak tau lagi harus bagaimana menghadapi mu Dena".


" Apa kau tidak peduli dengan keinginanku".


" Aku akan tetap menceraikan Lisa meskipun kau menolak untuk bersamaku"


" Aku akan menunggu sampai kapan pun itu".


Dena lagi lagi terenyuh dengan kata kata yang keluar dari mulut lelaki itu .


" Aku juga menginginkan mu", kata kata itu keluar juga dari mulut Dena.


" Aku sudah sangat lelah dengan semua perasaan yang aku mainkan".


" Biarkan aku hari ini bersamamu"


" Tanpa harus memikirkan apapun perkataan orang tentangku".


" Boleh kan aku menjadi egois untuk hari ini saja".


Adam tersenyum menyambut kata kata yang diucapkan Dena. Senyuman hangat dan lembut kembali ia lontarkan ke hadapan Dena yang lagi lagi dan lagi luluh dengan pesona nya.


" Kau boleh mengantarku pulang hari ini, bahkan kau boleh membawaku kemana saja kau mau".


" Aku ingin jadi perempuan jahat yang tak punya hati hari ini".


Dena kemudian melepas cincin di jari kanan nya kemudian memasukkan nya ke dalam tas


...****************...


Plin plan.... itulah Dena.


Selalu luluh dengan Mas Adam, mereka mau kemana ya kira kira?


Lanjut baca episode berikut nya ya biar tau mereka kemana😁

__ADS_1


Jangan lupa pencet like n follow ya🥰🥰


__ADS_2