
Sudah hampir lima belas menit Dena mematut diri di depan cermin. Beberapa kali ia mengganti pakaian yang ia kenakan, ia ingin memastikan penampilan nya pagi ini sempurna seperti dulu saat ia masih menjejaki karir di Ibu kota. Dena memang perempuan yang selalu memperhatikan penampilan nya, bahkan untuk hal kecil sekalipun.
Akhirnya ia mantap dengan sebuah blazer dan blouse berwarna senada pagi itu. Bobot tubuhnya sudah perlahan naik meskipun belum seperti dulu tapi setidaknya tidak terlalu kurus. Ia harus tetap menjaga berat kering tubuhnya,istilah bagi pasien gagal ginjal dimana berat tubuh tidak terdapat banyak cairan. Dena sudah terbiasa dengan kenaikan berat badan nya setiap cuci darah,setelah selesai melakukan cuci darah berat badan akan kembali ke berat kering semula. Itu termasuk salah satu fungsi melakukan cuci darah,untuk membuang cairan yang menumpuk di tubuh karena tidak bisa di keluarkan maksimal oleh ginjal. Sejauh ini Dena masih bisa mengendalikan kenaikan berat badan nya dari jadwal cuci darah ke jadwal berikutnya.
Ia merias wajahnya dengan dandanan tipis. Tanpa make up pun sebenarnya wajah itu sudah terlihat cantik. Ia meraih tas yang sudah ia isi dengan berkas lamaran.
" Semoga hari ini semua di lancarkan dan aku di terima bekerja di Perusahaan itu", Dena berdoa dalam hati.
Lalu wajah lelaki itu terlintas di benak nya dan ia bergumam lembut,
" Mudah mudahan dengan aku bekerja dan punya kesibukan lagi,aku bisa menata hatiku agar berhenti dengan langkah salah ini".
*** Hasbi mengantarkan kakak nya ke Perusahaan itu sesuai apa yang ia ucapkan kemarin. Dena mengatur langkah mensejajari Hasbi yang berjalan sangat cepat. Ia tampak berlari kecil dengan high heels hitam di kali nya. Mereka tiba di ruangan Pimpinan perusahaan itu, karena mendapat rekomendasi khusus jadi hari itu Dena tidak perlu melakukan tes tertulis di Ruangan HRD. Ia akan di interview langsung oleh Pimpinan Perusahaan tersebut.
Hasbi menunggu kakak nya di luar ruangan. Dena tampak tenang dan menjawab semua pertanyaaan yang diajukan kepadanya . Tentang motivasi kerja dan beberapa pertanyaan mengenai keuangan sesuai dengan posisi yang hendak ia lamar. Pimpinan Perusahaan itu tampak puas dengan semua jawaban dari Dena. Kemudian ia membaca pengalaman kerja Dena sebelum nya yang pernah bekerja di Perusahaan besar di Ibu Kota. Ia bertanya kenapa Dena berhenti bekerja dari Perusahaan yang menjanjikan itu.
Mendengar pertanyaan itu Dena seperti sadar kalau kemarin ia melupakan satu hal. Bagaimana bisa ia begitu percaya diri akan diterima di Perusahaan itu, sementara ia lupa bahwa dirinya tidak bisa meninggalkan jadwal Hemodialisa dua kali seminggu. Itu berarti ia harus izin setiap hari Rabu untuk bisa datang terlambat karena menunggu tindakan cuci darah nya selesai. Sedangkan untuk hari Sabtu tidak begitu ia khawatirkan karena memang di Perusahaan itu meliburkan karyawan nya di hari tersebut.
" Hhmm..saya terpaksa resign pak karena penyakit yang saya derita", Dena mantap menjawab apa adanya. Perihal ia tidak di terima bekerja di Perusahaan itu akan ia ikhlaskan.
Akhirnya Dena menceritakan sebab ia harus merelakan kehilangan karir di Perusahaan ternama itu.
Lelaki paruh baya Pimpinan perusahaan itu tersentuh dengan kegigihan perempuan muda di hadapan nya ini. Tidak adil rasanya jika ia tidak memberikan kesempatan pada Dena untuk melanjutkan karir nya mengingat prestasi kerja yang pernah ia raih di beberapa Perusahaan sebelum nya.
Dena sudah siap dengan segala kemungkinan terburuk.
" Saya paham jika Bapak menolak saya bekerja di Perusahaan ini setelah mengetahui keadaan saya", ucap Dena dengan wajah tenang.
Laki laki itu tersenyum mendengar pernyataan Dena, " Saya rasa tidak ada alasan bagi saya untuk menolak calon karyawan berkompeten seperti Nona Dena".
" Selamat bergabung di Perusahaan ini, anda bisa mulai bekerja hari Senin", pimpinan perusahaan itu berkata mantap sambil menjabat tangan Dena .
Dena tersenyum penuh kegirangan, betapa ia beruntung karena di permudah untuk bisa bekerja di Perusahaan ini dengan diberi keringanan khusus untuk bisa datang setelah makan siang setiap hari Rabu.
__ADS_1
" Saya akan buktikan kepada Bapak kalau saya layak atas kesempatan ini."
"Dan saya akan berkontribusi penuh untuk kemajuan Perusahaan, Terima kasih banyak Pak", ujar Dena dengan percaya diri.
Dena memang perempuan yang smart, ia bisa menempatkan dirinya di segala situasi, paham bagai mana harus mengambil sikap. Itu yang membuat Pimpinan itu mau menerima ia bekerja disitu .
Dena keluar ruangan dengan senyum mengembang, ia meluapkan kegembiraan nya dengan memeluk Hasbi.
" Aku di terima di Perusahaan ini dan bisa mulai bekerja Senin nanti".
Hasbi tersenyum, dari awal ia sudah yakin bahwa kakak nya akan diterima di Perusahaan ini dengan kemampuan yang ia miliki. Mereka berjalan beriringan menuju parkiran,Dena bersemangat menceritakan bagaimana tadi di dalam ruangan.
" Tetaplah selalu ceria seperti ini kak, walau tanpa cinta dari laki laki itu", Hasbi bergumam di dalam hati.
...****************...
Kakak beradik itu akhirnya memutuskan untuk makan siang di luar, sebagai bentuk perayaan kecil atas pekerjaan yang diterima Dena.
" Kakak saja yang menentukan mau makan siang di mana, aku ikut saja", ujar Hasbi
" Ahhh...kenapa sih harus berurusan lagi dengan segala tentang Mas Adam?", batin Dena.
" Apa aku sebenarnya masih begitu mendambakan lelaki itu?"
Dena kemudian menyangkal perasaan perasaan itu dengan berdalih ia memilih restoran itu karena makanan yang cocok di lidah nya.
Mereka tiba di Restoran itu tepat saat jam makan siang dan ramai oleh pengunjung.
" Kakak pernah makan disini", tanya Hasbi sambil mengingat ingat apa sebelumnya ia pernah mengajak kakak nya kesini hingga kak Dena memutuskan untuk makan siang disini.
" Ehhh...tidak,aku belum pernah makan disini".
" Aku hanya sering melewati nya dan aku lihat selalu ramai pengunjung, pasti makanan disini enak", Dena berbohong kepada Hasbi.
__ADS_1
Merepotkan kalau ia harus jujur tentang tempat ini yang merupakan tempat favorit Mas Adam. Adik nya pasti berfikiran kalau ia masih mengingat ingat tentang lelaki itu,meskipun pada kenyataan nya Dena tak bisa berkilah kalau ia masih tertarik dengan hal hal yang berhubungan dengan Mas Adam.
Dena memilih tempat duduk persis di tempat yang sama saat ia datang ke tempat ini bersama Mas Adam. Kenangan kenangan kembali menyeruak, saat lelaki itu untuk pertama kalinya berkata bahwa tempat ini adalah tempat pertama ia kencan dengan mantan kekasih nya yang kala itu ditafsirkan Dena dengan mantan kekasih sesungguhnya. Dan saat itu pula Dena dengan bodoh nya menyimpulkan jika lelaki itu adalah pria lajang.
Terkadang apa yang di rencanakan tidaklah selalu berjalan baik, lihatlah bagaimana Dena berusaha mati matian melawan ingatan nya akan sosok laki laki itu. Padahal dia sangat membuktikan pada adik nya bahwa ia bisa melupakan laki laki itu. Namun semakin ia lawan, semakin penuh sesak bayangan lelaki itu memenuhi ingatan nya .
Ia membayangkan mulai besok saat pertemuan mereka di Rumah sakit, Dena harus mulai menjaga jarak. Harus bagaimana nanti ia belajar acuh sementara selama ini ia bahkan selalu mencari perhatian dari lelaki itu.
Entah kenapa saat ini Dena berharap laki laki itu juga mulai berhenti berusaha memperhatikan nya dengan segala keramahan dan kehangatan yang ia sodorkan. Dengan demikian hati Dena tak akan ragu untuk melangkah menjauh pula . Tapi jika lelaki itu tetap mencurahkan bentuk kepedulian nya dengan di hiasi suara ramah dan senyum hangat, bagaimana bisa Dena berusaha berlari menghindar.
" Ia laki laki pertama yang membuatku tau apa itu bentuk cinta selain kepada orang tua dan saudaraku".
" Ia laki laki pertama yang membuatku merasa apa itu sebuah hasrat antara seorang laki laki dan perempuan".
***
" Kak Dena, mau pesan apa?", suara Hasbi membuyarkan angan Dena.
Ia hampir lupa ada adik nya yang sedari tadi sudah menunggu kakak nya untuk memesan menu makanan. Akhirnya, Dena memesan menu yang sama seperti ia datang kesini bersama Mas Adam.
" Ahh..lagi lagi semua tentang mu masih begitu melekat", desah Dena dalam hati.
Mereka berdua keluar dari Restoran itu dengan perut kenyang. Hasbi mengantarkan kakak nya pulang dan kembali ke kantor nya. Sebelum pergi ia berpesan kepada kakak nya,
" Besok jadwal kakak ke rumah sakit kan?"
" Aku akan menemani Kak Dena besok, ingin memastikan apa kakak sungguh sungguh dengan niat yang pernah kak Dena lontarkan".
Dena menelan ludah nya,membayangkan besok adik laki lakinya akan menjadi satpam pribadi bagi nya.
Lalu ia berdoa ; " Tuhan semoga besok Mas Adam cuti bekerja, jadi aku tak perlu berhadapan dengan nya".
Namun separuh hati nya lagi berontak, mengajukan pengharapan yang lain..
__ADS_1
" Tuhan, semoga besok aku masih bisa melihat laki laki itu dalam jarak yang sangat dekat ketika ia menusukkan jarum kupu kupu di kulitku"..