Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu

Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu
Panggil aku sayang


__ADS_3

Seperti biasa, hujan di penghujung tahun selalu hadir hampir setiap hari membasahi bumi khatulistiwa.


Aroma basah dan sejuk memenuhi malam malam yang terasa begitu panjang bagi seorang perempuan yang saat ini sedang terbaring malas di kamar nya.


Musim penghujan di bulan Desember membuat siapapun malas untuk beraktifitas di luar saat malam hari.


Dena menatap layar ponsel nya, memandang wajah lelaki yang ia jadikan wallpaper di ponsel nya.


" Adrian, aku ingin mengatakan padamu tentang sesuatu yang masih saja terus menghantuiku", Dena berujar resah dalam kegundahannya.


" Bagaimana bisa aku mulai mengucapkan kalimat itu saat berdua denganmu, bahkan kesunyian pun tak mampu membuatku jujur dengan perasaanku".


Akhir akhir ini hari hari Dena mulai penuh diwarnai dengan kehadiran Adrian, laki laki itu sering berkunjung ke rumah nya.


Perasaan sayang dan takut kehilangan mulai tumbuh di hati Dena, meskipun rasa itu masih kalah besar dengan perasaan nya pada Mas Adam.


Ia masih menjalani cuci darah di rumah sakit yang sama, masih bertemu dengan lelaki itu tetapi Dena lebih banyak menjaga jarak. Ia berharap dalam waktu dekat berkas berkas nya untuk pindah rumah sakit segera selesai .


Waktu baru menunjukkan pukul tujuh malam, namun karena cuaca di luar sangat dingin dan hujan masih belum reda Dena memilih mengurung diri di kamar.


Ponsel berdering, panggilan masuk dari Adrian.


" Hallo, Dena kau sedang apa?"


" Aku hanya tiduran di kamar".


" Sudah makan?", tanya Adrian.


" Belum"


" Mau menemaniku makan sop kambing malam ini?".


" Kebetulan cuaca lagi dingin, sepertinya makanan berkuah hangat seperti itu sangat cocok".


" Baiklah, aku mau menemanimu tapi aku tidak bisa makan sop kambing", Dena berkata dengan nada kecewa karena daging kambing menjadi salah satu makanan yang harus ia hindari.


" Kau bisa memesan makanan lain"


" Ada banyak menu disitu".


" Baiklah, aku bersiap siap dulu ya".


" Ok, aku jalan sekarang ya Den".


Telepon ditutup.


Malam itu, mereka berdua bersemangat menghabiskan makanan di sebuah restoran.


Adrian dengan menu sop kambing nya, sedangkan Dena hanya bisa menikmati sate ayam.


Hujan diluar masih sangat deras, mereka berdua masih asyik berbincang di dalam restoran .


" Dena, aku sudah bicara dengan kakak ku kalau aku ingin segera melamar mu".


" Apa keluargamu sudah siap jika aku datang membawa kakak ku ke rumah mu?".

__ADS_1


Dena mengangguk.


Ahh perempuan ini masih saja begitu, ia hanya menunjukkan ekspresi setuju dan menolak nya hanya dengan mengangguk dan menggeleng.


" Kalau kau tak keberatan aku akan datang bersama kakak ku di awal bulan Januari".


" Karena sekarang kakak ku masih sibuk menyelesaikan proyek nya di akhir tahun".


" Baiklah , nanti kabari aku lagi kapan waktunya".


Adrian tersenyum mengucapkan banyak terima kasih kepada Dena karena sudah mulai bisa menerima kehadiran nya.


" Adrian, jika nanti kau sudah menjadi seorang suami apa kau tidak menginginkan menjadi seorang Ayah?", Dena bertanya lagi padahal dulu ia sudah sempat membahas hal ini.


" Aku mau, sangat mau".


" Apalagi jika anak anak ku lahir dari rahim perempuan yang aku cintai", Adrian menggenggam tangan kekasih nya itu .


" Tapi kau kan tau aku akan sulit hamil karena keadaan ku yang sekarang".


" Tidak ada yang tidak mungkin Dena, yang berkata seperti itu kan dokter".


" Kalau Tuhan sudah menghendaki, apapun bisa terjadi", lelaki itu membesarkan hati Dena agar tak merasa pesimis.


Dena hanya diam, benaknya membayangkan ia bisa hamil seperti perempuan normal di luar sana pasti akan sangat menyenangkan.


Kemudian ia tersenyum sendiri , berkhayal perut nya membuncit dan di elus oleh Mas Adam.


" Hey..kenapa Mas Adam? bukankah Adrian yang akan menjadi suamiku nanti?", Dena memaki diri nya dalam hati.


Ternyata alam bawah sadar nya masih menunjukkan ia sebenarnya berharap menikah dengan cinta pertama nya itu.


Wajah Dena bersemu merah, malu karena Adrian melihatnya .


" Ehh.. aku hanya membayangkan kalau aku hamil sepertinya lucu ya, perutku membuncit, hehehe".


" Benar kau membayangkan sedang hamil?".


" Atau jangan jangan kau membayangkan aku yang bekerja keras siang malam untuk menghamili mu, hahaha", Adrian mencoba menggoda kekasihnya itu .


" Adriaaannn....berhentilah menggodaku", Dena mencubit lengan lelaki itu.


Namun sebenarnya Dena juga membayangkan hal itu, tapi justru lelaki yang ada dalam bayangan nya adalah Mas Adam. Teringat kembali kejadian tiga kali di villa waktu itu.


" Adrian, sudah malam".


" Ayo kita pulang".


Mereka keluar dari restoran dengar berlari lari kecil menuju mobil. Gerimis masih saja betah menemani malam, Adrian menutup kepala kekasih nya dengan tangan nya agar tak terlalu basah oleh rintik hujan.


" Dena, apa boleh aku minta sesuatu darimu?", tanya Adrian ketika berada di dalam mobil .


Mereka masih berada di parkiran Restoran.


" Minta apa?", seingat Dena selama ia menjalin hubungan dengan Adrian, laki laki itu belum pernah meminta apapun.

__ADS_1


" Kita kan sebentar lagi akan bertunangan, apa boleh aku memanggilmu sayang?".


" Dan kau pun harus memanggilku dengan sebutan sayang".


Dena tertawa mendengar permintaan Adrian, ia tak habis pikir ternyata masih ada laki laki di dunia ini yang begitu sopan bahkan hanya untuk memanggilnya dengan sebutan sayang pun harus mengajukan permintaan terlebih dahulu.


" Kenapa kau tertawa, apa aku terlalu bucin ya?", tanya Adrian malu malu.


" Tidak tidak Adrian, aku tertawa bukan karena itu, hahaha", Dena masih melanjutkan tawanya.


" Aku malah suka kau sedikit bucin".


" Boleh, kau boleh memanggil aku sayang dan aku pun akan melakukan hal yang sama".


Adrian tersenyum mendengar permintaan nya disambut hangat oleh perempuan itu.


" Terima kasih sayang", ucap Adrian.


" Sekarang, panggil aku sayang", tangan Adrian merangkul bahu perempuan yang duduk di bangku sebelahnya itu.


" Iya sayang, kau orang pertama yang ku panggil sayang", wajah Dena berseri seri mengatakan itu.


Meski dalam hatinya berteriak,


" Tapi sayang , kau bukan orang pertama yang aku cinta dan kau juga bukan orang pertama yang ku sebut namanya berulang ulang di atas ranjang saat kenikmatan itu terjamah".


Lagi lagi ciuman lembut membuat nafas Dena tertahan, lelaki itu kali ini tanpa izin menyusuri bibir nya dengan penuh hasrat.


Tak membiarkan Dena bernafas dalam karena ia terus membungkam nya dengan cumbuan cumbuan yang semakin dalam.


Lelaki itu semakin terhanyut suasana dan cuaca diluar yang amat dingin.


Malam itu ia melakukan lebih dari sekedar ciuman di bibir, mulutnya menyusuri leher jenjang kekasih nya.


Mengecup keras di beberapa titik hingga meninggalkan bekas merah.


Dena memejamkan matanya, mencoba menikmati sentuhan lelaki itu.


Namun Adrian menghentikan aktifitas itu, ia takut akan kebablasan melakukan hal yang lebih dari itu.


" Dena, maaf kalau aku keterlaluan".


" Maafkan aku, aku akan menahan diri untuk melakukan itu saat malam pertama kita".


Dena merasa semakin bersalah mendengar pengakuan lelaki itu.


" Malam pertama? Entah malam pertama seperti apa yang akan ia berikan pada Adrian jika keperawanan nya saja sudah ia berikan pada laki laki lain".


Adrian melajukan kendaraan nya, mengantar Dena pulang ke rumah.


Malam ini ia merasa mengukir sejarah baru dalam hubungan nya bersama Dena.


Panggilan sayang, yang akan terus ia ucapkan hingga perempuan itu jadi istrinya nanti .


...----------------...

__ADS_1


Simak terus ya update berikutnya.


Jangan lupa like n vote nya, terima kasih🥰🥰🥰🙏


__ADS_2