
" Sayang, kau sudah bangun?", Dena terkejut saat ia membuka matanya, wajah Adrian berada dalam jarak yang sangat dekat menatapnya.
Adrian tersenyum.
" Saat tidur saja kau bisa membuatku semakin jatuh cinta padamu", ucap Adrian yang sedari tadi mengamati wajah istrinya yang sedang tidur.
" Hah...kau memperhatikan ku saat tidur?", Dena menutup wajahnya dengan bantal karena malu.
Adrian menarik bantal itu dan menyingkirkan nya jauh jauh.
" Hey, kenapa di tutup? Wajahmu tetap terlihat cantik meski kau baru bangun tidur".
Sebuah kecupan pagi hari mendarat di kening Dena.
" Aku masih ingin bermalas malasan di atas tempat tidur bersamamu, kita baru akan ke Kuta selepas siang hari", ucap Adrian.
Ya, ia sengaja tidak datang pagi pagi ke Kuta karena waktu yang tepat untuk berada disana adalah sore hari, saat sunset telah tiba.
Ia juga tak ingin istrinya kelelahan seharian di pantai .
" Sayang, aku mau mandi".
" Masih terlalu pagi untuk mandi", Adrian menahan tangan Dena yang hendak beranjak dari tempat tidur .
" Aku ingin berendam di bath tub dengan air hangat",ucap Dena.
" Nah..kalau itu ide bagus sayang. Aku akan menemanimu", Adrian dengan senyuman nakal nya menggoda Dena.
" Kau ingin kita mandi bersama?"
Adrian tak menjawab pertanyaan Dena barusan, ia langsung menggendong tubuh istrinya itu dan membawanya ke kamar mandi.
Ia membuka kran air dan mulai mengisi bath tub dengan air hangat, tak lupa ia meneteskan minyak asiri sebagai aroma terapi dan menambahkan bath bomb sebagai busa mandi.
Sambil menunggu air memenuhi bath tub, Adrian menyalakan shower di sebelahnya. Ia membuka baju, menampakkan dada bidang nya .
" Bukalah bajumu", Adrian menarik Dena agar mendekap dalam tubuhnya.
" Apa mau aku yang membukanya?", tangan Adrian sudah mulai melepaskan satu persatu kancing piyama tidur istrinya.
Sudah tak ada sehelai benang pun menutupi tubuh mereka.
Adrian menarik Dena agar berada di bawah guyuran air di shower yang ia nyalakan.
Mereka saling melepaskan ciuman di antara air yang membasahi wajah.
Adrian mencumbu tubuh basah istrinya. Begitu banyak bekas merah di leher dan dada istrinya itu selama dua hari berada disini.
Dan sekarang ia masih mencari dimana celah untuk ia kembali mendaratkan kecupan keras yang membekas itu.
__ADS_1
Dena menikmati apa yang dilakukan Adrian, ia meremas rambut suaminya itu. Mengerang kecil, membuat Adrian semakin liar dengan cumbuan cumbuan nya yang mulai turun ke bagian sensitif milik istrinya.
Perempuan itu semakin tak sabar meminta Adrian untuk segera memulai menghujam tubuhnya.
Adrian memutar tubuh Dena agar membelakanginya, satu kaki istrinya ia angkat dan berpijak di atas kloset yang tertutup .
Dena mengikuti saja apa yang diperintahkan suaminya, ia menikmati setiap hentakan hentakan dari belakang tubuhnya.
Ia semakin keras memekik saat tangan suaminya itu dengan liar bermain main di dadanya tanpa menghentikan aksi nya di bawah.
Entah beberapa kali mereka berganti posisi, di selingi Adrian mematikan kran air yang sudah setengah memenuhi bath tub.
Kemudian kembali meneruskan goncangan goncangan pada tubuh istrinya, ia semakin bernafsu melakukan itu saat melihat bayangan tubuh telanjang istrinya di cermin yang mengitari keliling ruangan kamar mandi.
Dena benar benar dibuat gila oleh lelaki ini, Adrian tak membiarkan sedikitpun istrinya untuk berhenti berteriak karena nikmat.
Dua puluh menit sudah ia beraksi di bawah guyuran air, ia mempercepat gerakan nya saat akan menuntaskan permainan nya kala itu.
Dan, benih benih nya kembali memenuhi rahim perempuan itu.
Keduanya terengah menikmati untuk pertama kalinya bercinta di kamar mandi dengan sensasi yang berbeda.
Nampaknya hal ini akan sering mereka lakukan saat sudah menempati rumah baru mereka.
Adrian meneruskan mandi nya di bawah siraman air shower, sementara Dena memilih untuk berendam di dalam bath tub merelaksasikan tubuhnya.
Bercinta pagi itu bagi Adrian sudah seperi sarapan saja. Ia tak bisa lagi mengungkapkan dengan kata kata akan kebahagiaan nya ketika bercinta dengan istrinya.
Tiada jarak antara kulit dan kulit
Tiada jarak antara nafas ke nafas
Bersatu luruh rintih, desah, peluk, dekap , cumbu dan kecup di keharuman tarian syurga.
Adrian dan Dena baru keluar kamar saat sarapan di Restoran yang disediakan Cottage tempat mereka menginap.
Mereka bertemu Laras dan Hasbi juga disitu.
Lagi lagi keriuhan terjadi di meja makan saat Laras mengatakan rencana nya nanti setiba di Pantai Kuta.
" Sayang, aku nanti ingin berjemur di pesisir pantai Kuta seperti turis turis mancanegara yang sering aku lihat di televisi", Laras mengucapkan nya dengan wajah serius.
" Hey...kau gila? Jangan bilang kau ingin berbaring dan berjemur di pinggiran pantai menggunakan bikini dengan perutmu yang sudah buncit itu", Hasbi terlihat gusar.
" Memangnya kenapa sayang, kan aku ingin seperti turis turis itu", Laras masih merengek.
" Tidak, aku tidak mau orang orang memandang tubuhmu. Kalau kau tetap ingin berjemur lebih baik kita tidak usah ikut ke Kuta", Hasbi mengancam istrinya.
Laras hanya cemberut di iringi mulutnya yang terus menggerutu.
__ADS_1
" Lagian ada banyak hal yang bisa kau lakukan disana selain berjemur. Kau bisa berburu oleh oleh disana", ucap Hasbi mengalihkan keinginan Laras untuk berjemur.
Mata nya seketika berbinar binar dengan penuh senyum otak nya sudah melayang membayangkan ia akan berbelanja banyak cindera mata disana.
Hasbi menepuk jidatnya .
" Menyesal aku mengatakan kau bisa berbelanja disana, aku tau kau tak bisa mengendalikan nafsu belanjamu", Hasbi menarik nafas panjang membayangkan Laras akan membawa banyak barang di tangan nya.
Adrian dan Dena tertawa melihat keriuhan pasangan ini.
Setelah sarapan mereka kembali ke kamar masing masing untuk sekedar beristirahat sebelum nanti akan berangkat ke Kuta dengan perjalanan kurang lebih satu jam.
Dena meminta tolong kepada Laras untuk menyuntikkan beberapa ampul vitamin yang sengaja ia bawa.
Ia tak ingin kondisi tubuh nya drop karena kelelahan, sementara cuci darah baru akan dilakukan esok hari.
Selepas tengah hari mereka sudah bersiap siap untuk berangkat ke Kuta.
" Tidak usah bawa banyak barang kecuali obat obatan mu. Kita akan beli disana apa yang kau butuhkan", ucap Adrian pada Dena.
Perjalanan ke Kuta siang ini, Adrian hanya ingin menikmati nya di bangku belakang bersama istrinya.
Hasbi yang mengemudikan mobil, ditemani Laras di sebelahnya.
Di sepanjang perjalanan Adrian tak henti mencium istrinya. Membuat Laras diam diam mencuri pandang ke belakang melihat apa yang membuat kakak ipar nya itu berisik sekali .
" Sayang jangan disini, kan malu ada Laras dan Hasbi", Dena berbisik ke telinga Adrian saat lelaki itu terus saja menggerayangi tubuhnya .
" Anggap saja mereka tak ada sayang ", ujar Adrian sambil terus mengecup leher istrinya.
Laras yang mendengar itu langsung mengumpat dalam hati.
" Hah....kau bilang apa! anggap kami tak ada, memangnya kami makhluk halus tak kasat mata!!! ".
Laras terus mengumpat,
" Sial, suara des***n Kak Dena di belakang membuatku ingin melakukan nya pada Hasbi".
" Untung saja dia sedang menyetir, kalau tidak kami akan melakukan yang lebih hebat daripada kalian", gerutu Laras dalam hati.
Hasbi hanya bisa menggembungkan pipi menahan tawa melihat wajah Laras yang nampak kesal.
" Sabar sayang, nanti perjalanan pulang gantian kita yang di kursi belakang".
...----------------...
Episode kali ini bikin author berimajinasi tinggi, hehehe....
Readers nggak bosen kan dengan episode episode spesial di Bali ini??
__ADS_1
Mudah mudahan nggak ya, kan bisa bikin readers berimajinasi juga🤭😜
Terima kasih ya yang masih setia ngikutin up nya Thor🥰🥰🙏