
Rabu pagi...
Waktu masih menunjukkan pukul 6.30 pagi, namun Dena sudah tiba di parkiran rumah sakit memarkirkan mobil nya. Ia sengaja datang lebih awal agar ia bisa selesai sebelum jam makan siang.
Hari ini penampilan Dena tak seperti hari hari biasanya ketika ia ke rumah sakit. Ia mengenakan seragam rapi layak nya karyawan karyawan kantor. Rok hitam selutut dengan blouse warna pastel bercorak bunga yang dipadukan dengan blazer hitam. Ia juga memakai sepatu high heels, yang membuat penampilan nya semakin berbeda.
Sepulang dari rumah sakit ia harus segera datang ke kantor nya, jadi ia memutuskan untuk memakai pakaian resmi seperti itu ke rumah sakit.
Saat ia tiba di Ruangan Hemodialisa masih terlihat sepi, hanya ada empat orang perawat yang biasa bertugas. Tampaknya Dena adalah pasien pertama yang datang pagi ini. Dena menuju timbangan di pintu masuk Ruangan. Berat tubuh nya naik 2 kg, itu berarti ada sekitar 2 liter cairan yang mengendap dalam tubuh nya. Nanti saat proses cuci darah perawat akan mengatur tarikan di mesin hemodialisa sebanyak kenaikan berat badan pasien . Saat selesai menjalani cuci darah, berat badan akan berkurang sebanyak itu pula. Jika dibiarkan mengendap terlalu banyak di tubuh,akan terjadi edema atau pembengkakan di tubuh. Biasanya di area kaki, perut ataupun wajah. Oleh karena itu, pasien pasien cuci darah di wajibkan untuk diet cairan.
Dena berjalan menuju tempat tidur nya di ujung Ruangan, ia melewati meja para perawat. Tentu saja lelaki yang sedang ia hindari sedang duduk disitu. Sedangkan Risma, Laras dan Lukas tampak sibuk menyiapkan mesin dan peralatan peralatan lain nya .
" Dena, kau sudah datang sepagi ini", suara lelaki itu sebenarnya ingin menghentikan langkah Dena. Namun urung ia lakukan, ia tetap berjalan seolah tidak mendengar suara Mas Adam.
Adam menghela nafas nya, ia fikir beberapa hari mengacuhkan dirinya hari ini Dena sudah bisa bersikap seperti biasanya. Adam mengamati penampilan Dena hari ini, begitu pula Laras, Risma dan Lukas.
" Pagi Dena... sepertinya ada yang beda dengan pakaian mu hari ini", Lukas bertanya mewakilkan pertanyaan rekan rekan nya.
Dena sudah duduk di sisi tempat tidurnya, melepas sepatu yang ia kenakan. Sebenarnya ia malas menjawab pertanyaan Lukas, namun melihat wajah Risma, Laras dan Mas Adam di ujung sana tampak nya mereka juga sama ingin tau nya
" Iya, aku sekarang bekerja", jawab Dena singkat.
Lukas masih meneruskan beberapa pertanyaan kepada Dena. Dena menjawab seadanya.
Adam yang dari kejauhan mendengar percakapan Lukas dan Dena, menyimpulkan sesuatu " Mungkin ia beberapa hari ini sibuk dengan pekerjaan nya jadi ia tak sempat membalas pesan pesan dariku".
Adam menghampiri Dena yang saat itu sedang di ukur tekanan darah nya oleh Lukas. Dena tak ingin menatap lelaki itu, ia seperti tak menganggap keberadaan Adam di dekat nya.
" Baiklah aku tinggal, perawat pribadi mu sudah tiba", ucap Lukas sambil terkekeh menggoda Dena. Kemudian Lukas berlalu, meninggalkan Dena dan Adam berdua disitu.
" Apa aku melakukan kesalahan padamu?", Adam menatap lekat lekat mata Dena.
Dena diam,ia rasa itu pilihan yang tepat.
" Bicaralah padaku, jangan bersikap seperti ini", Adam seperti setengah memohon.
"Kita ini siapa? Kita bukan siapa siapa, tetapi mengapa dirimu memperlakukan ku seolah aku ini orang yang paling berharga dalam hidupmu", Dena berteriak dalam diam nya.
" Kau baik baik saja kan?", Adam masih belum menyerah sampai perempuan itu membuka suara.
" Kau ingat kan, kau pernah berjanji untuk terus bersemangat menghadapi apapun, kau harus selalu bahagia. Dan aku pun sudah berjanji pada diriku untuk selalu menjagamu",suara Adam terdengar semakin berat.
__ADS_1
"Aku tak ingin menjanjikan dan di janjikan apa apa, sebab aku tidak suka berada pada posisi membingungkan yang penuh dengan ketidakpastian", akhirnya Dena bersuara.
Ada makna tersendiri di balik jawaban nya itu.
Analogi terbaik hati adalah mencintai tanpa permisi.
Sendiri mengetuk sunyi berharap cinta hadir bagai simfoni.
Memeluk erat harap yang seakan akan sibuk mengingkari.
Meleburkan seribu derap yang nyatanya tak mampu mengusir sepi.
Apa yang kau harapkan dari sebuah hati?
Bukankah nyata nya semua yang datang akan di paksa pergi.
Lalu mengapa tetap bersikukuh menjembatani diri.
Memporak porandakan remuk yang melekatkan rasa kian terpatri.
Ayolah, mengapa tak lantas mencoba untuk memantaskan diri.
***Ruangan Hemodialisa pagi itu sudah mulai penuh oleh pasien. Tempat tidur yang berjajar saling berhadapan kini telah ramai dengan suara para keluarga pasien yang di selingi suara alarm alarm peringatan dari mesin yang saling bersahut sahutan.
" Benarkah tanpa ku sadari aku sudah jatuh cinta pada si cantik yang awal nya ku anggap sebagai adik ku?".
Adam masih bertanya dalam hati, mencari arti dari jawaban Dena yang tadi ia katakan bahwa ia tidak suka dengan ketidakpastian.
" Kau memakai rok pendek hari ini, biar aku menutup kakimu dengan selimut agar kau tak kedinginan", Adam menarik selimut kemudian menutupi sebagian tubuh Dena.
" Tuhan...kenapa ia masih saja bersikap hangat kepadaku?"
'' Aku harus melangkah maju ataukah mundur?".
" Sehat terus ya Den", Mas Adam mengusap kepala Dena kemudian membalikkan tubuh hendak kembali ke tempatnya .
" Bagaimana dengan istrimu?", Adam menghentikan langkah nya mendengar pertanyaan Dena yang tiba tiba.
Mengernyitkan dahi...
" Istriku?.. Dia baik baik saja"
__ADS_1
Dena sebenarnya masih menyimpan cemburu setiap membahas istri Mas Adam.
"Maksudku apa ada seorang istri yang rela membiarkan suaminya memperhatikan perempuan lain?", Dena menegaskan maksud pertanyaan tadi.
Pertanyaan Dena telak menghantam dada Adam, ia seperti dilema menghadapi dua perempuan yang sama sama ia fikir kan.
" Dia memintaku untuk menjaga jarak denganmu"
" Tapi kau bisa lihat kan, aku tak pernah mampu untuk melakukan itu".
Jawaban Mas Adam barusan membuat Dena berada di ambang kebimbangan, menerka nerka bagaimana sesungguhnya perasaan lelaki ini padanya.
Mas Adam berlalu, meninggalkan Dena dengan tanya yang tak terjawab.
Ponsel Dena berdering, panggilan masuk dari Hasbi segera di angkat oleh Dena.
" Kak Dena udah mulai cuci darah nya?", tanya Hasbi langsung pada tujuan.
" Sudah, nanti selesai sebelum jam makan siang aku segera ke kantor"
" Apa lelaki itu masih memperlakukan Kak Dena dengan spesial?"
" Biasa saja, aku tak menanggapinya", Dena tak mau mengatakan pada adik nya betapa sikap lelaki itu masih saja hangat,bahkan semakin menunjukkan perasaan nya mesti masih samar terasa.
" Baiklah kalau begitu, Kak Dena hati hati ya nanti di jalan.. Bye..", Hasbi mengakhiri sambungan telepon nya.
"Huuhh dasar Hasbi... ia meneleponku hanya karena ingin tau bagaimana sikap Mas Adam".
Dena semakin membulatkan tekad untuk mencari jodoh baru bagi Hasbi, agar adik lelaki nya itu berhenti terlalu mengkhawatirkan nya dan mengatur langkah nya. Menurut Dena adik nya itu butuh seorang kekasih agar fikiran nya tak hanya tertuju dengan hubungan ku dan Mas Adam.
Dena melirik Laras yang nampak sedang sibuk menyiapkan plester untuk menutup bekas jarum kupu kupu para pasien jika sudah selesai cuci darah. Nampaknya Dena yakin untuk memulai rencana mempertemukan Hasbi dan Laras.
Empat jam waktu cuci darah ia habiskan untuk mengatur rencana pertemuan Hasbi dan Laras. Sepertinya Dena butuh bantuan Puji karena hanya dia satu satunya yang bisa di katakan teman bagi dirinya.
Hari itu ia sukses mendapatkan nomor ponsel Laras. Mulai hari ini Dena nampaknya harus bersikap ramah kepada Laras, agar perempuan itu bisa dengan mudah ia jodohkan dengan Hasbi.
...---------------...
Apa ya kira kira rencana Dena untuk Hasbi?
Mungkinkah Laras adalah perempuan yang tepat untuk adik laki laki nya itu?
__ADS_1
Ikuti terus " Cinta dalam jarum kupu kupu" .
Author hari ini sedang sakit, jadi update episode berikut nya mungkin nanti malam atau besok pagi. Terima kasih