
Kondisi kesehatan Dena semakin menurun di usia kandungan tiga bulan.
Beberapa kali menjalani transfusi darah karena anemia defisiensi besi yang menyerang tubuh nya.
Meskipun sudah menjalani cuci darah selama 3 kali dalam seminggu, namun ia masih terlihat lemah.
Adrian hampir putus asa, ingin mengambil keputusan untuk menggugurkan kandungan Dena. Namun Dena bersikeras untuk tetap mempertahankan nya.
Pagi itu sebelum Adrian berangkat ke kantor,
" Sayang, perutku sedikit sakit", Dena memegang perutnya.
Adrian melepas kembali sepatu yang sudah ia pakai.
" Sakitnya dimana? Apa yang bisa aku lakukan untuk mengurangi sakitmu?", Adrian panik.
" Entahlah, tetapi sakit nya menjalar hingga ke pinggang".
" Kita ke rumah sakit sekarang ya", Adrian tak mau ambil resiko.
Begitu juga Dena, semenjak hamil ia selalu berhati hati untuk kesehatan nya.
" Tunggu sebentar, aku merasakan sesuatu", Dena kembali duduk.
" Ada apa sayang?", Adrian semakin panik melihat istrinya menahan sakit.
" Bantu aku ke toilet sekarang", Dena meminta Adrian memapahnya.
Dena memekik di kamar mandi, ia mendapati begitu banyak bercak darah keluar dari organ intim nya.
Adrian tak menunggu lama, ia menggendong Dena membawanya masuk ke dalam mobil.
Ia terus merintih menahan sakit di perut dan pinggang nya.
Adrian mengemudikan kendaraan nya dengan kecepatan tinggi.
Tiba di rumah sakit dokter memeriksa kandungan Dena.
" Syukurlah Kondisi janin masih baik baik saja, hanya pendarahan kecil. Mungkin efek dari heparin saat cuci darah", ucap dokter itu.
Dokter kemudian meresepkan obat untuk penguat kandungan dan untuk menghentikan pendarahan.
" Kandungan Nyonya Dena memang lemah, untuk itu saya minta lebih banyak istirahat. Dan sementara hindari dulu untuk berhubungan suami istri".
Dena diperbolehkan pulang hari itu juga.
Wajahnya terlihat pucat, kondisi tubuhnya lemah.
Adrian lagi lagi tidak bekerja hari itu, fokus nya saat ini hanyalah kesehatan istri dan kandungan nya.
" Sayang, aku tidak tega melihat kondisi mu yang lemah seperti ini. Ini baru bulan ketiga, masih lama untuk menunggu 9 bulan. Aku takut kau kenapa kenapa", ucap Adrian.
Namun Dena meyakinkan bahwa dirinya kuat, ia baik baik saja dengan kehamilan ini.
Begitulah hari hari berat yang ia lalui selama kehamilan nya. Keluar masuk rumah sakit, sempat tak sadarkan diri beberapa hari.
Namun kuasa sang Pencipta benar benar nyata, kondisi kesehatan bayinya baik baik saja meski Dena mati matian menahan sakit.
Beberapa kali pendarahan hebat, wajah dan kaki yang bengkak karena Preeklampsia Berat. Berkali kali juga dokter dan keluarganya pasrah mengambil keputusan untuk tidak mempertahan kan janin nya.
Lagi lagi Dena tetap mau berjuang, sampai saat usia kandungan memasuki bulan ke tujuh, dokter sudah tak mau ambil resiko lagi.
__ADS_1
" Sebaiknya dalam waktu dekat kita akan menjadwalkan operasi caesar untuk Nyonya Dena", ucap dokter saat mereka memeriksakan kandungan Dena.
" Apa tidak berbahaya dok dengan usia kandungan yang baru menginjak tujuh bulan?", Adrian bertanya.
" Justru kalau ditunda lagi malah akan lebih berbahaya untuk keselamatan Nyonya Dena".
" Baiklah, kita ikuti semua saran dari dokter", ucap Adrian karena ia tahu apapun yang terjadi itulah yang terbaik.
Dena ******* ***** jarinya, membayangkan bayi di dalam perutnya harus dilahirkan dini. Ia takut organ organ nya belum berkembang sempurna.
Operasi dijadwalkan tiga hari lagi.
*****
Lantai 7 rumah sakit
Operasi dijadwalkan hari ini, namun Dena sudah dari kemarin di Ruang rawat inap.
Ia sudah berpuasa dari tadi malam.
Pagi itu ia di temani Adrian, Ibu dan juga Hasbi.
Adrian bahkan semalaman tak bisa tidur, ia hanya duduk di sebelah tempat tidur Dena.
Semalaman ia terus berdoa untuk kelancaran operasi hari ini. Infus sudah terpasang di tangan kanan Dena, beberapa kantong darah pun sudah disiapkan untuk transfusi selama operasi berlangsung.
Hanya Adrian yang diizinkan masuk ke dalam Ruangan operasi, itupun melalui negosiasi panjang dengan pihak rumah sakit.
Ibu memeluk Dena, mencium putri kesayangan nya sebelum masuk ke Ruang operasi.
Ini kali kedua Dena masuk ke Ruangan Operasi.
Ruangan itu terasa begitu dingin, selang kateter sudah terpasang di kandung kemih.
Lagi lagi, perempuan yang ia cintai ini harus berjuang menahan segala rasa sakit demi melahirkan buah hati mereka.
Suntikan epidural sudah di suntikkan ke tulang punggung Dena, membuat area bawah tubuh mati rasa.
Sambil menunggu obat bius bekerja, petugas medis memasang kain yang menghalangi penglihatan ke area perut.
" Yang kuat ya sayang, aku disini. Semua akan baik baik saja, tidak lama lagi anak kita akan lahir", Adrian meneteskan air mata, ngeri melihat beberapa peralatan operasi.
Obat bius sudah bereaksi, tim dokter memulai operasi dengan mengoleskan antiseptik pada bagian perut.
Kemudian membuat sayatan horizontal pada kulit di atas tulang ********, sayatan itu mencapai otot perut hingga dokter bisa menjangkau rahim.
Adrian terus menggenggam tangan istrinya, mengajaknya berbicara hal yang indah indah agar Dena tak terlalu fokus dengan proses operasinya.
Tak berapa lama, bayi mungil berhasil dikeluarkan dari rahim Dena. Adrian sempat melihatnya, bayi nya menangis kencang.
Dokter dan para tim bedah mengucap syukur karena bayi keluar dengan menangis.
Meski setelah itu segera dipasangkan selang oksigen karena paru paru nya belum berfungsi sempurna.
Adrian dan Dena tak di izinkan menggendong bayi mereka, karena segera di larikan ke ruangan NICU.
Dena dan Adrian tak henti mengucap syukur.
" Sayang, terima kasih untuk perjuangan mu", Adrian mengecup kening istrinya berkali kali.
" Bagaimana bayi kita?", Dena bertanya pada Adrian.
__ADS_1
" Bayi kita laki laki sayang, dia harus mendapat penanganan di NiCU. Untuk sementara belum bisa bersama kita. Bobot nya 1,2 kg, mungil sekali", Adrian sebenarnya khawatir dengan keadaan bayi mereka.
Tim dokter masih menjahit dan menutup luka sayatan di perut Dena, namun tiba tiba wajah yang basah oleh air mata itu pucat, bibirnya pun membiru.
Ia gelagapan, nafas nya sesak, lalu dalam beberapa detik ia terlihat kejang.
Adrian mundur beberapa langkah karena tim dokter berusaha menyelamatkan Dena.
Adrian diminta keluar dari Ruangan.
Ia hampir terjatuh saat keluar dari Ruangan operasi, ia takut melihat istrinya yang tadi kejang kejang dan kesulitan bernafas.
Entah apa yang sekarang terjadi di dalam sana.
Adrian hanya tertunduk lesu, perasaan nya bercampur aduk . Pikiran nya dipenuhi oleh kemungkinan terburuk yang terjadi.
" Nak Adrian, bagaimana operasinya? Sudah selesai?", Ibu menghampiri Adrian yang terduduk di lantai depan ruangan.
Lelaki itu hanya diam, tak bisa mengucap apa apa.
Hasbi mengguncang bahunya.
" Katakan apa yang terjadi? kak Dena dan bayinya bagaimana?".
Ibu menyerahkan sebotol air mineral kepada Adrian, menyuruh ia minum.
Setelah itu baru ia berbicara menjelaskan apa yang terjadi tadi di Ruangan operasi.
Mereka bertiga hanya bisa menunggu kabar dari staff rumah sakit, hanya bisa berdoa semuanya baik baik saja.
" Keluarga Nyonya Dena Sanlova", terdengar suara perawat dari dalam ruangan memanggil.
Adrian segera masuk.
" Pak, saat ini kondisi Ibu Dena kritis. Ia tak sadarkan diri, dan sekarang kami harus membawanya ke Ruangan ICU".
" Sementara bayi nya sudah mendapat penanganan di Ruangan NICU, karena organ organ nya belum berfungsi sempurna".
" Kalau bapak mau melihat bayi nya, bapak bisa ke Ruangan NICU", perawat itu menjelaskan kondisi Ibu dan bayi.
" Sus, apa saya boleh menemui istri saya?", tanya Adrian.
" Maaf Pak, untuk saat ini belum bisa. Karena tim dokter sedang melakukan tindakan untuk Ibu Dena".
Langkah Adrian gontai keluar Ruangan, kini dua orang yang berharga di hidupnya, Istri dan anaknya sedang sama sama berjuang melewati masa masa kritis.
Ia masih mengingat jelas senyum istrinya, ia masih ingat air mata yang selalu tumpah di sudut matanya , ia masih ingat segala pengorbanan yang dilakukan istrinya demi melahirkan anaknya.
Semua bayangan itu menikam hatinya.
Kita pernah saling mencari, saling meminta lewat semua doa. Kita pernah sama sama lelah, ingin pasrah dan menyerah.
Akhirnya menyemogakan semua hal yang ada di depan.
Namun, kita harus berakhir tabah terhadap semua ketidaksesuaian izin yang Maha Menghendaki
...----------------...
Pengorbanan seorang Ibu untuk melahirkan anaknya nggak bisa kita balas dengan apapun ya Readers.
Author jadi inget Ibu😥
__ADS_1
Semoga Dena dan bayinya selamat ya😇
Ikuti terus ya up berikutnya. Tinggal jejak like n komen nya ya🙏😍🥰