Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu

Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu
Keputusan Dena


__ADS_3

Pelupuk netra terasa berat


Air mata kian berdesak


Saling beradu


Teringin dulu membuncah kan pilu


Tumpah!


Netra memerah


Membiarkan air mata mengalir dengan pasrah


Meluapkan sakit yang semakin parah


***Hari ini 1 hari setelah kepulangan Dena dari Rumah sakit,sejak itu dia hanya mengurung diri di kamar.Melakukan segala aktifitas nya di dalam kamar. Terkadang Kak Anjani atau pun Hasbi di sela sela kesibukan mereka,menyempatkan diri menemani Dena.


Berusaha bercerita banyak hal untuk mengalihkan kesedihan Dena.


Masih teringat di kepala Dena perdebatan dua hari yang lalu di Rumah sakit,setelah Dokter keluar dari ruangan,Ayah menelepon Kak Anjani dan Hasbi agar segera datang ke Rumah sakit.


Hasbi yang saat itu sedang sibuk dengan pekerjaan nya di kantor, tanpa fikir panjang lagi segera menuju ke Rumah sakit. Suara ayah di telepon tadi terdengar serius,membuat Hasbi berfikir kakak nya sedang dalam keadaan tidak baik baik saja.


Kak Anjani dan Hasbi berhamburan memeluk Dena setelah mendengar Ayah menceritakan apa yang sudah terjadi pada anak kedua nya itu.Kak Anjani mencium lembut pipi adik nya yang basah dengan air mata. Sementara Hasbi menggenggam erat tangan Dena,menyemangati dan mengisyaratkan kalau semua pasti akan baik baik saja.


" Tunggu apalagi yah,kenapa Ayah tidak membujuk Kak Dena untuk segera melakukan cuci darah?" desak Hasbi


Ayah menggeleng tanda tidak setuju


"Kita cari alternatif yang lain dulu" jawab Ayah

__ADS_1


"Alternatif?" bagaimana kalau terjadi apa apa sama Kak Dena yah?" sergah Hasbi dengan nada meninggi


Ibu menarik lengan Ayah,menatap iba menyetujui perkataan Hasbi. Dari awal Ibu memang sudah setuju dengan tindakan cuci darah yang di sarankan dokter, tapi Ayah tampaknya masih belum bisa menerima semua jalan keluar yang diberikan dokter.


"Jangan terburu buru bu mengambil keputusan,karena sekali Dena melakukan cuci darah itu berarti seumur hidup nya harus bergantung dengan tindakan itu"tegas Ayah kepada Ibu sambil menatap tajam Hasbi yang masih mendesak Ayah untuk segera ambil keputusan.


"Tapi yah,ini masalah nyawa" Hasbi masih berkeras diri dengan pendirian nya


Kak Anjani yang sedari tadi diam ikut bicara


"Aku setuju sama Ayah, untuk saat ini kita bawa pulang saja Dena untuk istirahat di rumah sambil kita cari alternatif lain nya" kata Anjani


Ibu melirik Dena,melihat dari tadi dia hanya diam mendengar perdebatan yang ada di depan nya


"Kamu sendiri bagaimana nak?" " Apa kamu siap kalau harus melakukan cuci darah?" karena bagaimana pun semua keputusan ada di tangan kamu,kamu yang akan menjalani nya."Kami semua di sini hanya bisa memberikan pendapat,baik buruk nya kamu sendiri yang harus memutuskan"..


Ahhh Ibu memang orang yang paling bijaksana... Dena memandang lama mata ibunya.


"Apakah menyakitkan?" tanya Dena


Ibu tidak mampu menjawab,sekali lagi mengusap lembut pundak anak nya.


" Lakukan apa yang menurutmu terbaik saat ini nak"...


Hasbi hanya terdiam,tidak mampu menyangkal keputusan yang diambil Dena. Biarlah aku memahami dulu bagaimana proses cuci darah itu,kata dena kepada Hasbi yang tampak kecewa karena kakak nya lebih memilih untuk tidak mengikuti saran dokter.


Hari itu, Ayah menandatangani surat keluar paksa dari Rumah sakit dan menandatangani surat penolakan tindakan Hemodialisa. Dena merasa tubuh nya sedikit bertenaga setelah transfusi darah,ia semakin mantap untuk keluar dari rumah sakit dan memilih beristirahat di rumah.


**** Dena meraih ponsel nya yang hampir 3 hari tidak ia sentuh,dia melihat ada banyak pesan masuk dan panggilan suara tidak terjawab memenuhi log panggilannya. Tentu saja itu semua dari rekan rekan kerja,atasan nya,dan semua yang berhubungan dengan Perusahaan .


Dengan malas Dena membuka pesan pesan yang masuk dan tidak berniat sedikitpun untuk membalasnya. " Pasti semua kebingungan",fikir Dena.karena sampai hari ini Dena belum memberikan kabar kepada satu pun rekan kerja,HRD atau pun atasan nya.

__ADS_1


"Aku harus segera ambil keputusan"gumam Dena. Karena tidak mungkin baginya untuk kembali ke Ibu Kota dalam keadaan dia yang seperti ini. lagi pula keluarganya tidak akan mengizinkan nya untuk kembali bekerja.


Dena mulai mengetik pesan di ponsel nya dengan nama penerima Bu Sania.


" Selamat siang bu,saya cuma mau mengabarkan kalau mulai hari ini saya resign dari Perusahaan karena suatu hal yang tidak bisa saya jelaskan,Surat permohonan Resign akan segera saya kirim kan ke bagian HRD,terima kasih".. begitu lah isi pesan singkat yang di kirimkan Dena. Kemudian Dena menonaktifkan ponsel nya,karena ia tau perempuan cerewet itu pasti langsung akan menelepon nya karena tidak akan puas baginya membaca pesan pengunduran diri dari Dena tanpa menjabarkan alasan secara terperinci.


"Maaf".. ujar dena dalam hati


"Maaf kalau semua terjadi begitu tiba tiba," tidak ada yang bisa aku pertahankan lagi untuk karir ku,gumam Dena..


Meninggalkan mimpi di Ibu kota bukan lah suatu hal yang mudah bagi Dena,mengingat ia memulai nya dari nol tanpa bantuan siapa pun mencoba merantau ke ibu kota,kini ia harus melepas satu persatu impian dalam hidup nya.


"Untung lah aku tidak punya banyak teman disana",fikir Dena


Kalau tidak,dia akan kerepotan menjawab pertanyaan pertanyaan apa yang sedang terjadi pada dirinya,kenapa tiba tiba menghilang.


"Ahhh ada untung nya juga ya ternyata tidak mempunyai banyak teman"....


Ada banyak keputusan yang telah dibuat oleh Dena,menolak melakukan tindakan hemodialisa,mengajukan resign dari Perusahaan tempat nya bekerja,memutuskan untuk tidak kembali ke ibukota. Mengubur semua mimpi mimpi yang telah ia bangun selama ini. Dan keputusan yang tak kalah penting yang ia ambil hari itu adalah "berhenti bermimpi untuk menemukan lelaki yang ia harapkan",bagi Dena tidak akan ada lelaki yang mau menerima perempuan penyakitan seperti dirinya..


Tuhan...hatiku telah remuk redam...


"Hidup terkadang memang tidak adil,jadi biasakanlah dirimu Den" batin Dena..


Dena hanya bisa menghela nafas panjang


"Tuhan,perluas rasa sabar ku".. dan pada akhirnya harus kembali dipaksa ikhlas. Biarkan semua berjalan sebagaimana yang di garis kan sang pemilik kehidupan.Jangan pernah memaksakan diri untuk terlihat sempurna,karena sesuatu yang di paksakan semua nya tidak akan pernah berakhir baik.


"Ya Rabb,jika keinginan adalah hujan..maka diriku adalah musafir yang tak punya tempat untuk merumahkan segala ingin"


"Ya Rabb,jika harapan adalah hujan..maka diriku adalah harapan pada aliran sungai yang diterjang banjir bandang hingga membuncah ruah"

__ADS_1


Doa doa itu terlantun di ujung bibir pucat yang telah kehilangan senyuman ...


__ADS_2