Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu

Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu
Malaikat atau Iblis?


__ADS_3

Daun kamboja yang kering jatuh dari dahan nya. Daun kering itu menimpa pundak Dena yang sedang bersimpuh di pusara suaminya.


Ia menaburkan bunga di atas tanah makam yang kini sudah dikelilingi oleh granit.


" Sayang, enam bulan sudah kau meninggalkanku. Apa terlalu cepat jika aku membuka kembali hatiku untuk Mas Adam?", Dena berbicara sendiri di hadapan makam Adrian.


" Aku takut kau cemburu, karena aku tau bagaimana rasanya. Saat ini sepertinya aku sedang mengalami hal itu, aku cemburu pada Mas Adam yang dekat dengan perempuan lain", Dena mencurahkan isi hatinya.


Ia merengkuh tanah diatas makam Adrian dengan kencang di genggaman tangan nya, setetes air mata jatuh di pipi nya. Ia mengenang suaminya, masih amat mencintai laki laki itu hingga merasa bersalah jika harus menjalin hubungan dengan laki laki lain.


Dena tak lama berada di pemakaman, ia memutuskan untuk tidak langsung pulang ke rumah. Sudah lama sekali rasanya ia tidak makan diluar sejak kepergian Adrian, sekedar menikmati " me time " untuk dirinya sendiri.


Ponsel yang ia beri nada khusus untuk seseorang berdering.


" Hallo Dena, kau dimana?", suara Mas Adam di ujung telepon menyapa nya.


" Di jalan, ada apa?", Dena menjawab ketus karena ia masih menyimpan rasa kesal pada laki laki itu.


" Apa kau mau menemaniku makan siang di luar?", tanya Mas Adam.


Dena merasa gengsi jika menjawab iya, namun jika ia menolak rasanya akan lebih menyesal lagi kalau ternyata Mas Adam akhirnya mengajak Julia untuk makan siang berdua dengan nya.


" Memang nya Julia kemana? Kok harus aku yang menemani mu makan siang?", akhirnya Dena mengeluarkan jurus ngambek nya.


Mas Adam menahan tawa, lucu sekali baginya melihat Dena yang mati matian menutupi rasa cemburu nya.


" Hehehe, Julia sedang sibuk jadi ia tidak bisa menemaniku", padahal Mas Adam sama sekali tidak menghubungi Julia.


" Ohhh, berarti kalau Julia tidak sibuk kau tak akan mengajakku makan siang?", Dena semakin dibuat panas oleh jawaban Mas Adam barusan.


" Ayolah, kau mau atau tidak? Kalau tidak mau ya sudah, nanti aku menunggu Julia pulang kerja saja makan nya", Mas Adam semakin menjahili Dena.


" Terserah !!!! ", Dena menahan sesak di dadanya yang semakin bergemuruh.


" Lho, kok terserah. Ayolah kalau mau aku tunggu kau di Restoran pertama kali aku mengajak mu makan siang. Kau masih ingat kan?".


Dena diam, belum menjawab.


" Ciihh, memangnya aku apa sih di mata dia. Hanya pilihan kedua setelah Julia?", umpat Dena dalam hati.


" Hey, Dena kau dengar aku? Ayolah, aku jalan sekarang. Kita bertemu disana ya. Bye..", Mas Adam menutup telepon tanpa menunggu jawaban iya atau pun tidak dari Dena.


Dena memukul setir, gusar dibuat lelaki itu. Ia ingin sekali datang karena ia takut kalah langkah oleh Julia, namun di sisi lain ia merasa harus menjaga harga dirinya.


" Ohhh Tuhan, begini kah rasanya cemburu? Dulu aku tidak pernah merasakan kecemburuan ini kepada Adrian. Tapi sekarang perasaan itu terasa menggurat di ujung jantung yang paling dalam ".


Dena akhirnya memutuskan untuk datang ke restoran itu, ia perlu menyelidiki sejauh mana hubungan Mas Adam dengan Julia. Apakah masih dalam tahap pendekatan atau justru mereka sudah pacaran.


Ia datang ke restoran itu, ketika Mas Adam sudah duduk menunggunya di kursi yang sama ketika dulu mereka makan siang untuk pertama kalinya.

__ADS_1


Senyum tipis tersungging di bibir lelaki itu, ia tahu Dena pasti akan datang.


Dena duduk di hadapan Mas Adam, masih memasang tampang cemberut.


" Hey, kenapa wajahmu hari ini tidak terlihat cantik?", Mas Adam menggoda Dena yang berwajah masam hari itu.


Dena mengepalkan tangan nya, ingin rasanya ia memukul perut lelaki ini.


" Memang secantik apa perempuan bernama Julia itu, sampai kau mengatakan aku tidak cantik?", tanya Dena dengan nafas yang memburu karena menahan marah.


" Hey, kenapa kau selalu membahas Julia? Kau mau berkenalan dengan nya?", Mas Adam sebenarnya masih menahan tawa .


" Huuhh, tidak penting. Kenapa juga kau mengajak ku makan siang kalau cuma mau membahas tentang Julia".


" Aku yang membahas Julia? Bukan nya kau sendiri yang tadi mulai membahasnya?.


Dena mati kutu dengan ucapan Mas Adam.


" Bodoh, bodoh kau Dena. Kenapa kau tidak bisa menutupi rasa cemburu mu?", umpat Dena dalam hati.


" Sudah lah jangan cemberut lagi, agar wajah cantikmu tidak tertutupi, hehehe".


" Ini untukmu ", Mas Adam memberikan paper bag berukuran cukup besar kepada Dena.


Dena menerimanya, kemudian membuka isi dari paper bag itu. Sebuah bantal berbentuk hati dengan bulu bulu halus berwarna merah muda.


" Aku tidak sedang ulang tahun, kenapa kau memberikan ini padaku", tanya Dena bingung, meskipun dalam hatinya membuncah perasaan bahagia.


Dena tak mau luluh kali ini dengan senyuman manis itu.


" Ciihh, kau juga memberikan boneka pada Julia. Lalu apa spesial nya aku untukmu, sama saja kan?", gerutu Dena dalam hati.


" Bagaimana hubunganmu dengan Julia?", Dena sudah tak sabar menyimpan pertanyaan ini di dalam benaknya.


" Biasa saja, baik.. semuanya baik", jawab Mas Adam datar.


" Maksudku, apa kalian sudah resmi pacaran?", Dena tidak menyadari wajahnya yang sudah merah karena menahan malu untuk mengutarakan pertanyaan itu.


" Hahaha, apa aku pernah mengatakan padamu kalau aku menyukainya?", Mas Adam malah terbahak dengan pertanyaan Dena.


Dena menggeleng kepala nya, seingat nya lelaki ini tak pernah menceritakan apapun tentang perasaan nya terhadap Julia. Dirinya saja yang terlalu cemburu buta hingga mengambil kesimpulan sendiri tentang hubungan Mas Adam dan Julia.


" Jadi sebenarnya hubungan kalian bagaimana?", Dena ingin Mas Adam menjawab dengan jelas bukan malah balik bertanya padanya.


" Sudahlah jangan dibahas, kau kan yang tadi bilang tidak ingin membahas soal Julia. Sekarang ayo kita makan", ucap Mas Adam karena makanan yang mereka pesan sudah terhidang di meja.


Dena tak bisa menikmati makanan yang masuk di mulutnya, ia sibuk menerka nerka jawaban atas pertanyaan nya sendiri.


Mereka sudah selesai dengan makanan masing masing.

__ADS_1


" Aku tadi ke makam Adrian", Dena mulai membuka pembicaraan kembali.


" Ohh ya? Aku juga sudah hampir satu bulan tidak mengunjungi makam Adrian. Kenapa kau tidak bilang padaku, jadi kita bisa datang bersama" ,ucap Mas Adam.


" Aku ingin sendiri, berbicara pada suamiku tentang segala yang aku rasakan saat ini. Sungguh, aku masih mencintainya tapi aku tidak yakin apa aku bisa hidup berdua dengan Noah tanpa ada cinta lain dalam hatiku selamanya", Dena menunduk.


Mas Adam mengerti sekali perasaan Dena, ia seperti di hadapkan dua pilihan. Antara cinta sejati pada suaminya atau cinta pertama yang masih tumbuh di hatinya.


Mas Adam menggenggam tangan Dena,


" Kenapa kau ragu untuk melangkah?".


Dena menggeleng.


" Entahlah, perasaan bersalah terus menghantuiku. Aku bisa sehat seperti ini karena pengorbanan Adrian, apa bisa aku bahagia dengan laki laki lain setelah semua yang dilakukan oleh Adrian untuk ku?".


Mas Adam tau, dialah lelaki lain yang Dena maksud. Sedikit berat ia menelan saliva nya .


" Kau tahu, ketika memiliki keinginan yang kuat, manusia bisa bersikap seperti seorang malaikat atau bisa juga seperti iblis. Menurutmu aku malaikat atau iblis?"


Dena mencerna kalimat Mas Adam barusan, ia masih tak mengerti.


" Aku tak tahu maksudmu apa".


Mas Adam menghela nafas panjang.


" Aku sangat menginginkanmu untuk jadi milik ku. Tapi aku tak pernah memaksakan kehendak ku dan memaksamu untuk melupakan Adrian. Aku ingin ia tetap hidup di dalam hati kita. Jadi apa kau pikir aku seorang iblis yang bisa merusak rasa cintamu untuk Adrian?".


Dena memejamkan matanya sebentar, lalu menarik udara ke paru parunya dengan dalam.


Aku tahu, kau seperti malaikat bagiku. Entah itu cinta, perhatian, waktu maupun kasih sayang yang tanpa jeda selalu kau berikan kepadaku.


" Jadi sebenarnya kau dan Julia?", Dena kembali lagi pada pertanyaan itu.


Mas Adam tersenyum.


" Aku tak perlu menjawab nya, karena kau sebenarnya tahu yang sesungguhnya".


Mas Adam masih menggantungkan jawaban nya sama seperti Dena yang masih menggantungkan rasa cintanya.


Laki laki itu beranjak sedikit dari tempat duduk nya, lalu sebuah kecupan hangat mendarat di kening Dena.


" Aku masih menunggu kau membuka hati lagi untukku".


...----------------...


Jadi kalian itu gimana ya??


Mas Adam... Dena.. ayolah jangan dibikin ribet.

__ADS_1


Next episode kita ngebahas kembali nafsu nya Mas Adam yang sudah terpendam lama, hehehe...


Tunggu up nya ya, jangan lupa dukung terus karya thor🙏🥰


__ADS_2