
Hari kedua di Pulau Dewata
Mereka berempat sudah siap menuju destinasi pertama yang akan mereka kunjungi di Bali.
Hari ini tujuan mereka masih di sekitar kawasan Ubud.
Dena mengatakan ingin sekali ke Pura Taman Saraswati, ia ingin mengabadikan momen indah bersama suaminya di tempat ini.
Pura ini dikelilingi oleh kolam yang penuh dengan teratai yang bisa menjadi spot foto yang indah dan megah .
Satu lagi keinginannya, ia ingin menonton pagelaran tari kecak di Pura ini.
Adrian dengan senang hati menuruti kemauan istri nya, Laras dan Hasbi juga ikut saja kemana tujuan yang dipilih Dena dan Adrian.
Puas berada di situ hingga tengah hari, mereka melanjutkan destinasi berikut nya yang masih berada di kawasan Ubud juga.
Tempat kedua yang mereka tuju adalah Ubud Art Market. Tentu saja tujuan mereka kesini adalah untuk berburu oleh oleh.
Laras yang paling bersemangat menuju tempat yang menjadi Pusat belanja oleh oleh khas Bali ini.
" Laras, kau membeli barang sebanyak itu untuk siapa?", Hasbi geleng geleng kepala melihat nafsu belanja istrinya itu .
Ia kemudian menyebutkan satu persatu nama teman yang akan ia berikan oleh oleh, tak ketinggalan untuk keluarga nya juga.
Namun tetap saja apa yang ia beli masih terlalu banyak jika hanya ia bagikan dengan nama nama yang tadi ia sebutkan.
Ia bahkan membeli dua lusin baju kaos yang dihiasi sablon topeng barong Bali.
Dena dan Adrian hanya tertawa melihat Hasbi yang kesal dengan istrinya.
" Sayang, kau mau beli apa lagi?", Adrian bertanya pada Dena yang sudah menenteng tas belanjaan berisi cemilan khas Bali, kain pantai, dan pernak pernik khas Bali lain nya.
" Aku sudah cukup dengan ini sayang", ucap Dena.
Adrian melihat di sudut Pasar ada pelukis yang tampak sedang melukis di antara pajangan pajangan lukisan nya.
" Sayang ayo kita kesana, aku ingin momen kita saat ini di abadikan dalam bentuk lukisan", Adrian menarik tangan Dena.
Mereka pun duduk di depan pelukis dengan pose Adrian memeluk Dena dari belakang.
" Lukisan ini akan aku pajang di kamar tidur kita nantinya sayang, kau sama cantik nya di lukisan ini", ucap Adrian setelah lukisan selesai.
" Sayang, aku masih ingin mencari sesuatu pesanan Kak Radit. Takut kau lelah berjalan, kau disini saja bersama Laras. Biar aku di temani Hasbi".
Dena mengangguk setuju, kaki nya sudah terasa penat dari tadi.
Ia dan Laras duduk di cafe kecil di pinggiran Market sambil menikmati minuman dingin.
__ADS_1
Di sebelah cafe itu Dena melihat toko yang menjual pernak pernik perak.
Entah kenapa dia teringat Mas Adam.
" Laras, kau mau menemaniku kesitu?", Dena menunjuk toko tersebut .
Laras mengangguk.
Mereka akhirnya masuk ke toko itu.
" Kak Dena mau beli apa lagi?", tanya Laras melihat Dena yang terlihat memegang sebuah kalung.
" Laras, apa kau mau membantuku?".
" Tapi aku mohon cukup kita berdua yang tahu".
Laras sudah bisa menebak, jika kakak iparnya ini memintanya untuk tutup mulut pastilah semua itu berhubungan dengan Mas Adam .
" Apa Kak Dena ingin membelikan kalung ini untuk Mas Adam?", tanya Laras.
" Iya Ras, dan aku minta tolong nanti kau yang memberikan nya karena aku tak mungkin untuk bertemu dia lagi".
" Baiklah Kak, aku pasti akan membantu Kak Dena meskipun nyawa taruhannya", Laras berkata terlalu mendramatisir. Padahal juga
kalau ketahuan paling ia hanya akan di hukum Hasbi semalaman di kamar .
" Berikan ini nanti kepada Mas Adam jika kau ada waktu", Dena menyerahkan kalung itu kepada Laras .
" Katakan ini adalah oleh oleh dariku".
" Siap Kak", Laras memang adik ipar yang bisa diandalkan.
Entah apa maksud Dena yang memberikan kalung dengan inisial namanya.
" Ehh..Kak Dena, ini bros yang kakak pakai..bros dari Mas Adam waktu itu bukan?", Laras baru menyadari bros kupu kupu yang ada di baju Dena.
" Iya Ras, aku suka kupu kupu jadi aku memakainya" .
" Hhhmm suka kupu kupu apa belum bisa move on dari orang yang memberinya", Laras menggoda kakak ipar nya itu .
" Huusss...jangan dibahas lagi Ras, aku sudah punya Adrian sekarang".
" Aku tak ingin mengorek perasaan ku lagi, jika aku masih mengingat nya dan diam diam masih ingin berkomunikasi itu karena aku hanya tak ingin putus silaturahmi saja".
Laras hanya manggut manggut meskipun sebenarnya ia tak gampang dibohongi dengan jawaban klise itu.
Mereka kembali menunggu Adrian dan Hasbi di cafe tadi. Laras tak henti hentinya bercerita bahwa ia bercinta dengan Hasbi berkali kali sejak tiba di Cottage.
__ADS_1
" Kak Dena sendiri gimana, udah belah duren belum, hehehe?", Laras terkekeh dengan pertanyaan nya.
Dena tak seperti dirinya yang blak blakan membahas masalah intim tersebut.
" Sudah", Dena hanya menjawab singkat .
" Hah.... gimana Kak ceritain dong Adrian kayak gimana kalau di ranjang?", Laras terus penasaran.
" Rahasia dong, cukup aku yang tau hahaha", Dena tak ingin meladeni tingkah gila Laras.
" Yaahh curang.... aku sudah cerita banyak tentang urusan ranjang ku dengan Hasbi, Kak Dena malah main rahasia rahasia segala", Laras cemberut .
Laras pasti mengira ini benar benar malam pertama bagi Dena dan menyerahkan keperawanannya pada Adrian.
Oleh karena itu Dena tak ingin lama lama membahasnya. Untunglah Adrian dan Hasbi sudah datang, sehingga Laras berhenti merengek untuk tau cerita Dena.
" Sayang ayo kita pulang, apa masih ada yang ingin kalian cari?", Adrian sudah menenteng barang pesanan Kak Radit.
" Tidak ada, ayo kita pulang aku juga sudah lelah".
Mereka kembali ke Cottage dengan banyak oleh oleh untuk dibawa pulang.
Laras yang paling khilaf belanja disana, ia masih gesit berjalan dengan perut nya yang mulai membuncit.
Sedangkan Dena, sejauh ini kesehatan nya masih stabil . Hanya ada pembengkakan sedikit di mata kaki nya karena terlalu lama berdiri dan berjalan.
Sesampai di Cottage ia segera mandi, lalu setelah itu Adrian dengan penuh rasa sayang memijit kaki istrinya.
" Kau pasti sangat kelelahan sayang, vitamin dan obat obat mu lebih baik segera kau minum", Adrian mengkhawatirkan istrinya .
"Besok kalau kau tidak lelah, kita akan berwisata ke arah Kuta.'
" Aku hanya butuh istirahat sebentar sayang, besok juga fit lagi", Dena begitu bersemangat mendengar tujuan mereka besok.
" Lagi pula besok lusa hari Rabu aku akan terapi cuci darah, setelah itu pasti kondisiku lebih baik", ucap Dena.
Malam itu, Adrian benar benar membiarkan istrinya beristirahat setelah seharian penuh berkeliling.
Meskipun sebenarnya ia masih ingin bercinta malam itu, namun melihat istrinya yang tertidur pulas ia tak tega mengganggunya.
" Baiklah, tidur lah sayang. Besok pagi pagi aku akan merencanakan bercinta denganmu di kamar mandi", Adrian mencium kening istrinya yang sudah terlelap, lalu ia ikut merebahkan diri di samping istrinya .
...----------------...
Episode nya masih edisi di Bali ya🥰
Next .. ikuti terus ya jalan jalan nya Adrian dan Dena sebelum mereka kembali ke kota mereka yang pastinya nanti akan ada konflik tang terjadi.
__ADS_1
Jangan lupa like nya🥰🥰🙏