
Cincin emas dengan mutiara kecil itu sudah kembali melingkar di jari manis kanan Dena yang sempat ia buka beberapa waktu yang lalu .
Dipandanginya dengan seksama, tangan kirinya mengusap lembut cincin itu mengingat laki laki yang telah memberikan nya.
Ia berjanji hari itu, tak akan pernah melepas cincin dari Adrian sampai kapanpun.
Suara klakson mobil Adrian mengejutkan lamunan Dena, seperti janji Adrian kemarin ia akan menemani Dena hari ini ke rumah sakit.
" Maaf ya Adrian, kau harus kehilangan 1 cuti mu hanya untuk menemaniku", ucap Dena saat mobil sudah mulai melaju.
" Tak perlu minta maaf Den, aku rela kehilangan seluruh hariku jika itu aku habiskan bersamamu", Adrian menggenggam jemari Dena sementara tangan kanan nya masih memegang kemudi.
Parkiran rumah sakit tampak penuh dengan kendaraan hari itu. Adrian menggenggam tangan Dena sepanjang jalan menuju lantai empat rumah sakit.
Setelah mengurus pendaftaran dan di ambil sampel darah untuk tes di laboratorium, mereka harus menunggu hingga 1 jam untuk mendapatkan hasil nya.
" Adrian, sebentar lagi dokter spesialis nya akan datang".
" Aku penasaran dengan hasil lab kesehatan ku".
" Kau jangan khawatir Dena, ada aku".
" Apapun hasil nya aku yakin kau perempuan hebat yang bisa melewati semua nya".
" Mudah mudahan kesehatanmu mulai membaik".
" Nona Dena Sanlova".
Petugas memanggil nama Dena agar segera masuk ke Ruangan Dokter spesialis ginjal dan hipertensi.
" Ayo, kau tak usah gugup", Adrian memegang erat tangan Dena memastikan ia akan selalu mendampinginya.
Dena masih ingat dengan wajah dokter yang ada di hadapan nya sekarang. Seorang wanita paruh baya yang dulu pertama kali menyarankan nya untuk cuci darah.
Ia sudah duduk di kursi di hadapan dokter itu, sementara Adrian duduk mendampinginya.
" Dena sanlova?".
" Iya dok, saya sendiri".
" Bagaimana keadaanmu sekarang setelah rutin cuci darah".
" Sudah banyak kemajuan dok, saat ini sudah bisa beraktifitas normal".
" Hanya saja sempat transfusi darah satu kali selama cuci darah" .
Dena menjelaskan kondisi tubuh nya yang turun naik. Banyak hal yang ia tanyakan kepada dokter mengenai kesehatan nya.
Adrian ikut antusias bertanya, mendengarkan penjelasan dokter tentang penyakit gagal ginjal kronis. Akhir dari semua penyakit, begitulah kata dokter tersebut.
" Ini hasil lab mu yang tadi Dena", dokter menyerahkan selembar kertas kepada Dena.
Dena sudah bisa membacanya, selama tujuh bulan di vonis gagal ginjal ia mempelajari banyak hal.
" Nampaknya belum ada perubahan yang baik Dena", ucap dokter penuh sesal.
" Enam bulan cuci darah adalah waktu evaluasi untuk perkembangan mu".
" Apakah bisa dikurangi frekuensi nya".
" Ternyata hasilnya belum ada perubahan Dena, kau harus tetap menjalani dua kali dalam seminggu untuk cuci darah mu".
Dena sudah menyiapkan hatinya untuk mendengar hal terburuk, pengalaman selama ini mengajarkan nya untuk tidak terlalu banyak berharap agar tidak kecewa.
Ia melihat nilai di kertas hasil lab nya tadi .
Ureum 118
Kreatinin 9,2.
Angka yang masih cukup tinggi dan masih berada di kategori stadium 5.
Adrian tau kalau Dena sebenarnya kecewa, membayangkan seumur hidupnya ia harus berhadapan dengan mesin hemodialisa.
__ADS_1
Namun ia harus menguatkan kekasihnya itu.
" Dokter apa ada cara lain selain cuci darah?".
" Penyakit gagal ginjal itu belum ada obatnya, terapi yang diberikan hanya agar pasien bisa tetap bertahan".
" Dalam arti lain cuci darah itu seperti ginjal pengganti".
" Ada juga terapi cuci darah CAPD yang bisa dilakukan mandiri di rumah namun besar resiko", dokter menjelaskan kepada Adrian yang masih awam dengan hal ini.
" Tapi ada satu lagi jika ingin hidup normal tanpa cuci darah", dokter melanjutkan ucapan nya.
" Apa itu dok?", Adria bersemangat.
" Transplantasi ginjal atau cangkok ginjal".
" Sebenarnya dari awal saya selalu menyarankan ini kepada pasien yang masih muda seperti Nona Dena".
" Bagaimana prosedur nya dok?", Adrian terus saja ingin tau sementara Dena sendiri hanya diam mendengarkan.
Sungguh lelaki itu begitu menginginkan kesembuhan Dena.
" Proses nya memang sedikit rumit, membutuhkan waktu lama, biaya yang cukup besar tentunya".
" Namun yang terpenting adalah ada orang yang mau mendonorkan ginjal nya kepada pasien".
" Apa harus orang yang punya hubungan darah yang bisa menjadi pendonornya?".
" Lebih bagus iya, karena kecocokan nya lebih dari sembilan puluh persen".
" Namun orang lain pun yang tidak punya hubungan darah jika cocok bisa saja mendonorkan ginjalnya".
" Tentu dengan serangkaian tes yang panjang".
Adrian manggut manggut mendengar penjelasan dokter.
Namun Dena seperti tak tertarik dengan ide transplantasi ginjal ini.
Di awal saat ia di vonis gagal ginjal, jalan ini sudah pernah menjadi alternatif bagi dirinya.
Akan sangat berpengaruh dengan kesehatan mereka setelah mendonorkan ginjal.
Dena tak mau orang tuanya ikut sakit karena dirinya.
Hasbi dan Kak Anjani juga pernah berniat mendonorkan satu ginjal nya untuk Dena.
Dan lagi lagi Dena punya alasan untuk menolaknya. Hasbi seorang laki laki, masih muda, dan suatu hari dia akan membangun rumah tangga.
Tentu tanggung jawab nya sebagai kepala rumah tangga akan menjadi lebih besar, ia perlu fisik yang kuat. Jika ia hanya mempunyai satu ginjal itu akan sangat berpengaruh dengan kekuatan fisik nya .
Begitu pula dengan Kak Anjani, kakak nya itu punya suami dan anak anak yang harus diurus. Tak mungkin rasanya Dena menerima tawaran donor ginjal darinya.
Setelah selesai dengan semua penjelasan nya, dokter tersebut memberikan resep obat seperti biasa yang rutin Dena konsumsi.
Dena pun sudah mendapat surat pengantar untuk pindah rumah sakit.
Sudah tak ada lagi pertanyaan dari Dena dan Adrian, mereka pun keluar dari ruangan dokter tersebut. Menebus obat di apotik yang terletak di lantai satu, kemudian mereka pulang ke rumah.
Rumah masih tampak sepi ketika mereka tiba, Ayah dan Hasbi sedang bekerja. Ibu seperti biasa di tempat Kak Anjani, mengunjungi cucu nya.
" Masuklah" ,Dena mempersilahkan Adrian duduk di sofa ruang tamu.
" Hari ini aku mengerti banyak hal tentang sakit yang kau alami".
Adrian menatap kekasih nya, dengan sorot mata yang mengatakan begitu berat rasanya jadi dirimu Dena.
" Apa kau tetap yakin ingin tetap hidup bersama dengan perempuan yang sakit ini?"
" Hey..bicara apa dirimu?".
" Aku tidak pernah mempermasalahkan hal itu"
" Bahkan aku berniat..... berniat untuk...".
__ADS_1
Adrian belum melanjutkan kata kata nya, Dena bingung menerka niat apa yang ada di hati Adrian.
" Apa ia berniat menunda ingin menikah?"
sama seperti hal yang dulu pernah Hasbi lakukan. Dena berspekulasi sendiri dengan pikiran nya, ia takut ini akan jadi karma baginya sebab pernah menjadi penyebab adik nya batal menikah.
Lagi lagi dalam hidupnya Dena selalu menyiapkan hati untuk menerima hal terburuk yang akan terjadi.
" Aku berniat untuk....."
" Untuk mendonorkan satu ginjal ku untukmu Dena", Adrian mengatakan itu dengan penuh ketulusan.
Demi Tuhan, saat itu Dena seperti tertikam oleh beribu belati. Laki laki yang tidak ia cintai sepenuh hati ini, laki laki yang sudah ia khianati, dan dia laki laki yang tidak punya hubungan darah dengan Dena. Tapi dengarlah, ia bahkan rela memberikan satu ginjal nya untuk Dena.
Mata Dena yang berkaca kaca tidak hanya mengatakan ia terharu, tetapi ia merasa begitu berdosa karena tak pernah memberi yang terbaik untuk Adrian.
Kau begitu baik Adrian, hatimu seperti malaikat, batin Dena terus bergemuruh.
Ia menggelengkan kepalanya dengan kencang berulang ulang kemudian menangis memeluk lelaki itu.
" Kau jangan bodoh Adrian, kenapa kau mau mengorbankan dirimu untukku", Dena masih menangis ketika mengatakan itu.
Ia memukul pelan dada bidang lelaki yang sedang memeluknya itu.
" Aku tidak akan pernah mau kau memberikan ginjal mu untukku".
" Kenapa Dena? Aku mencintaimu dan aku akan menjadi suamimu kelak".
" Akulah yang bertanggung jawab atas dirimu dan kebahagiaanmu".
" Kau jangan keras kepala lelaki bodoh".
" Biarlah aku menjadi lelaki paling bodoh, jika aku bisa berhenti melihatmu sakit dan terus berhadapan dengan jarum jarum itu sepanjang hidupmu".
" Kau dengar kan, dokter bilang kita masih bisa hidup dengan satu ginjal", Adrian masih bersikukuh dengan niatnya.
" Adrian, aku berterima kasih untuk segala niat baikmu".
" Tapi maaf aku tak bisa menerimanya".
" Aku sudah ikhlas dengan takdirku jika harus seumur hidup menghabiskan hari hari di rumah sakit untuk cuci darah".
" Itu bukan hal mengerikan lagi bagiku".
Dena mengendurkan pelukan nya pada laki laki itu kemudian kembali menatap wajahnya.
" Kau terlalu baik untuk diriku yang hina dan penuh kekurangan ini".
" Betapa adil nya Tuhan mengirimkan malaikat dalam kehidupan ku yang sedang terpuruk", ucap Dena dalam hati .
" Kalau saat ini kau menolak, aku akan tetap menunggu sampai nanti kau mau menerimanya".
" Sama seperti saat kau menolak aku ajak menikah, lihatlah sekarang kau sudah mau menerima ku untuk jadi calon suamimu", Adrian tersenyum.
" Itu tidak bisa kau samakan" ,ucap Dena.
Adrian tak mengurungkan niat nya sama sekali.
" Kapanpun kau siap untuk transplantasi ginjal katakan lah padaku".
" Aku akan selalu menyiapkan satu ginjal ku untuk mu".
Lalu sebuah kecupan hangat mendarat di bibir perempuan itu, seolah dibungkam untuk tak berkata menolak lagi.
Ciuman lembut selalu ia lakukan pada kekasihnya, tak terburu buru untuk melakukan nya. Ia berbisik di telinga perempuan itu.
" Aku semakin tak sabar ingin menikahimu, menikmati bercinta semalaman panjang dalam ikatan pernikahan".
......................
Masih panjang sepertinya perjalanan cinta Dena dan Adrian.
Masih banyak penghalang dalam pernikahan mereka nanti nya.
__ADS_1
Ikuti terus di episode episode berikutnya .
Jangan lupa pencet like n kasih vote ke author ya 🥰🥰🙏