Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu

Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu
Pasca Operasi


__ADS_3

" Tuutt..tuutt..tuutt", suara suara di layar monitor yang memantau semua aktifitas organ organ vital Adrian dan Dena terdengar memenuhi Ruangan.


Mereka berdua berada dalam Ruangan ICU yang berbeda.


Tiga jam pasca operasi, Adrian yang terlebih dahulu sadar. Ia membuka matanya, samar samar terlihat di sekelilingnya peralatan peralatan Ruangan ICU.


Adrian merasa mulut nya sangat kering, pandangan nya kabur. Beberapa menit ia mencoba mengumpulkan tenaga, menekan bel di sebelahnya agar Perawat jaga menghampirinya.


" Bapak sudah sadar?", tanya perawat itu.


Adrian mengangguk.


" Kepala ku sedikit pusing dan pandangan ku buram", ucap Adrian sambil menggosok pelipis nya yang terasa sakit.


" Itu memang efek awal pasca operasi Pak, nanti juga hilang", perawat perempuan itu kemudian menyuntikkan obat di selang infus.


" Bagaimana operasi nya?", Adrian berusaha mencari tahu.


" Lancar Pak, semuanya baik baik saja. Penerima donor juga sekarang berada di Ruangan ICU di sebelah sana", ucap perawat itu.


" Apa dia sudah sadar?".


" Belum sepertinya Pak".


Adrian kemudian memejamkan kembali matanya menahan pusing yang amat hebat di kepala nya. Perawat itu kemudian meninggalkan Adrian.


" Pencet saja bel nya jika butuh bantuan".


Adrian menyibak baju yang ia kenakan, berusaha melihat bekas operasi tadi. Di perut bagian bawah nya tertutup perban, tentu saja ia juga harus menahan sakit di bekas operasi nya tadi karena efek obat bius sudah mulai menghilang.


" Sayang, akhirnya satu bagian tubuh ku bisa menyatu dalam tubuh mu. Semoga setelah ini kau baik baik saja", Adrian masih terus mendoakan istrinya, tanpa peduli dengan keadaan nya yang cukup buruk.


Luka patah di tulang rusuk nya saja belum terlalu pulih meski sudah 7 bulan berlalu, sekarang ia harus kehilangan satu ginjal nya.


Sementara di Ruangan ICU sebelahnya.


Dena pun mulai sadar dari efek obat bius total operasi tadi, ia membuka matanya perlahan kemudian mengerang kecil karena merasa nyeri di bagian perutnya. Bekas sayatan operasi terasa ngilu, membuatnya meringis kecil.


Perawat yang berjaga menghampirinya.


" Nyonya, apa yanga anda rasakan?",perawat itu bertanya setelah melihat wajah Dena yang tampak menahan sakit.


" Nyeri, perut ku nyeri sekali".


Satu suntikan anti nyeri dimasukkan lewat selang infus.


" Istirahat lah nyonya, nanti akan hilang sendiri".


" Sus, dimana keluargaku? Apa mereka boleh masuk kesini?", tanya Dena .

__ADS_1


Perawat itu menggeleng.


" Tidak nyonya, selama 3 hari pasca operasi Nyonya harus di isolasi tanpa ada satu pun yang boleh membesuk".


Dena menghela nafas panjang. Ia terlihat begitu lemah, tak mampu menggerakkan tubuhnya karena terasa sakit sekali.


" Apa aku boleh menghubungi keluargaku untuk membawa ponsel ku kesini?",tanya Dena lagi.


" Tidak bisa nyonya, ponsel tidak diperbolehkan ada di Ruangan ini karena dapat berpengaruh pada peralatan peralatan medis".


Dena kecewa, padahal ia ingin sekali menelpon suaminya lewat sambungan video call. Ia ingin Adrian tahu kalau ia sudah selesai menjalani operasi.


" Sus, bisa tolong hubungi Ibu ku dan sampaikan kalau aku sudah sadar",pinta Dena.


" Baik nyonya, nanti saya akan menghubungi keluarga Nyonya. sekarang istirahatlah", ucap perawat itu kemudian pergi meninggalkan Dena.


Dena berusaha memejamkan matanya, namun rasa sakit di bagian perutnya membuat ia tak bisa tidur.


Ia kemudian memikirkan orang yang sudah mendonorkan ginjal pada nya.


" Bagaimana keadaan nya ya, apa dia seorang laki laki atau perempuan ya?", batin Dena.


Nanti setelah keluar dari Rumah Sakit Dena ingin sekali bertemu dengan orang ini. Mengucapkan terima kasih, meskipun yang ia tahu orang itu mendapat imbalan uang untuk ginjal yang ia jual.


Ahhh andai kau tahu Dena, orang itu bahkan secara suka rela memberikan ginjal nya, ia suami mu sendiri, Adrian.


Di ruangan bersebelahan, Adrian tampak menggigil. Rasa nyeri di perut bercampur dengan mual serta keringat dingin hampir di seluruh wajahnya.


Pandangan Adrian mulai terasa gelap, ia bahkan merasa ia tak mampu untuk bertahan lagi. Nafas nya terasa berat tercekat di tenggorokan, selang oksigen telah menempel di hidungnya.


Yang ia coba ingat kala itu hanya wajah istri nya dan Noah anak nya yang masih kecil.


Ia gemetar bukan karena takut, melainkan berpikir lebih panjang. Karena sekilas bayang senyum istri dan anak nya seperti menanti.


" Kuat Adrian, kuat lah, bertahan lah", ia menyemangati dirinya sendiri dalam keadaan setengah sadar.


Layar monitor terus memantau kerja organ organ vital nya, sedikit memburuk dibandingkan saat pertama kali ia tersadar.


Perawat Ruangan menghubungi Mas Adam.


" Selamat siang Pak Adam, kita dari pihak Rumah sakit ingin mengabarkan kalau tadi sore kedua pasien sudah sadar", sapa perawat itu.


" Syukurlah kalau begitu, bagaimana keadaan Tuan Adrian dan Nyonya Dena?".


" Nyonya Dena baik baik saja Pak, meskipun masih belum bisa bergerak karena nyeri bekas luka operasi. Namun untuk Tuan Adrian keadaan nya sedang tidak stabil, sekarang beliau harus dibantu bernafas dengan selang oksigen".


Adam menarik nafas panjang, yang ia khawatirkan terjadi. Adrian drop pasca operasi.


" Baiklah sus, terima kasih. Hubungi saya kalau ada perkembangan lain nya", Adam kemudian menutup telepon.

__ADS_1


" Bagaimana Nak Adam? Ada kabar apa dari Rumah sakit?", Ibu yang sedari tadi berada di sebelah Adam tampak penasaran.


" Mereka berdua sudah sadar Bu, Dena baik baik saja, tapi tidak dengan Adrian. Kondisi kesehatan nya menurun", ucap Adrian pelan.


Ibu bersedih mendengar itu, tak sabar rasanya menunggu hari ketiga agar ia bisa bertemu dengan anak dan menantunya.


****


Hari Kedua pasca operasi.


Dena sudah mulai bisa sedikit menggerakkan tubuh nya ke kanan dan ke kiri. Ia juga sudah bisa duduk dengan bantuan perawat.


Pagi itu saat perawat memberi obat obatan yang harus ia minum, Dena menyempatkan diri bertanya.


" Sus, bagaimana keadaan orang yang mendonorkan ginjal nya padaku. Apa dia baik baik saja?".


" Tidak Nyonya, dia dalam kondisi yang tidak baik. Kesehatan nya menurun drastis, fungsi jantung dan paru paru nya berdampak setelah operasi itu", perawat itu menjawab


" Benarkah? Apa kah ia seorang lelaki atau perempuan?", tanya Dena lagi .


Adam sudah berpesan pada perawat dan petugas di Rumah sakit untuk tidak mengatakan bahwa suaminya yang menjadi pendonor ginjal untuk Dena.


" Dia laki laki, sepertinya masih muda seumuran Nyonya", jawab petugas itu singkat.


Dena terdiam, ada sedikit perasaan bersalah menyelinap di hatinya.


" Bagaimana kalau laki laki itu tidak selamat setelah operasi ini, apa dia punya anak dan istri? kasihan sekali kalau iya", ucap Dena dalam hati.


" Siapapun engkau yang telah mendonorkan ginjal mu untukku, meskipun aku membayarnya. Semoga kau selalu dalam perlindungan Tuhan, semoga kau baik baik saja", Dena terus berdoa dalam hatinya.


Doa doa itu rasanya terdengar di telinga Adrian yang dalam keadaan setengah sadar.


Ia bisa merasakan hangat nafas perempuan yang ia cintai meskipun mereka tidak berada dalam jarak dekat, ikatan batin diantara keduanya begitu kuat. Adrian bisa mendengar doa doa yang dilantunkan untuk keselamatan nya.


Ia tak boleh lemah, tak boleh menyerah.


Karena tak mungkin menjadi kuat tanpa di uji terlebih dahulu.


Tak mengapa, setelah ini akan ada orang orang yang membuat ia bangkit lagi, yaitu istri dan anaknya Noah.


...----------------...


Setelah episode ini, stop dulu cerita di Rumah sakit. Sedih sedih dan tegang nya udahan dulu😁


Kasih Adrian dan Dena waktu lagi untuk tersenyum bersama Noah.


Jangan bosan nunggu up nya ya, habis ini Author kangen sama keluarga nya Laras dan Hasbi😜


Yang kangen acungin tangan, hehehe..

__ADS_1


Jangan lupa like n komen, dukung terus karya author ya. Yang mau kasih vote juga boleh, daripada vote mingguan nya kadaluwarsa, hehehe😁🙏🥰🥰


__ADS_2