
" Sayang, tadi maaf ya kalau aku susah dihubungi", Adrian meminta maaf kembali pada Dena ketika mereka bertemu di rumah.
Dena mengangguk, dalam hatinya ia malah bersyukur jadi ia tak perlu meminta izin untuk datang ke rumah Mas Adam .
" Sayang, aku mau mengajakmu ke Galeri baju pengantin milik Wedding organizer sahabat ku yang nanti akan menghandle resepsi pernikahan kita".
" Kau tau kan, pernikahan kita tak lama lagi. Jadi aku ingin kau memilih gaun pengantin yang mana nanti akan kau kenakan".
" Iya sayang, aku ikut saja", antara bersemangat dan tidak.
" Hey.. Dena kenapa kau ini, harusnya kau senang kenapa malah bingung sendiri", Dena memaki dirinya dalam hati.
" Sayang, sebenarnya ada hal yang ingin aku bicarakan", Adrian ragu ragu mau menyampaikan ini .
" Iya, katakanlah ada apa?".
" Eemmm.. begini.... sebenarnya Kak Radit masih saja beranggapan buruk tentangmu. Aku tau ini semua karena Lisa", Adrian menatap wajah kekasih nya, takut membuat perempuan itu bersedih .
" Ya.. aku tau kok".
" Dan aku bisa memahami hal itu", ucap Dena.
" Masalahnya, Kak Radit menyuruhku membatalkan pernikahan kita".
Belum sempat Dena menjawab apa apa Adrian buru buru melanjutkan kalimatnya.
" Tapi kau tak perlu khawatir, aku akan tetap menikahimu meski tanpa restu dari Kak Radit".
Dena menarik nafas panjang..
" Sayang, kenapa kau melakukan itu?Kau tak takut hubungan persaudaraan kalian akan berantakan karena kau nekad menikahiku?".
Adrian menggeleng.
" Aku tak ingin ada pertikaian dengan Kak Radit, tapi aku juga begitu mencintaimu. Aku berhak memperjuangkan apa yang aku inginkan".
" Suatu saat Kak Radit juga akan mengerti dan lama lama bisa menerima mu jika nanti kita sudah menikah", Adrian meyakinkan Dena.
" Lagi pula nanti setelah menikah aku akan keluar dari Rumah peninggalan orang tua kami. Aku sudah membeli sebuah rumah untuk kita,setelah menikah kita akan tinggal disitu", Adrian menggenggam tangan Dena membuktikan betapa serius nya ia dengan perempuan itu.
" Terima kasih untuk cinta dan ketulusan mu, aku berjanji akan membalas nya dengan cinta yang sama".
" Ayo sayang kita berangkat sekarang, temanku sudah menunggu di Galeri".
****
Mereka sudah tiba di sebuah ruko dua lantai milik sahabat Adrian.
" Hai.. Adrian apa kabarmu?", seorang laki laki bertubuh sedikit gemuk menjabat tangan Adrian.
" Baik dra, kenalin ini Dena calon istriku".
" Sayang, ini Indra dia pemilik Wedding organizer yang aku pilih untuk pernikahan kita nanti".
Dena dan indra saling berjabat tangan.
" Wahh... kau lama tak berkabar tau tau menghubungiku sudah mau menikah saja", ucap Indra sambil tertawa.
" Silahkan pilih kostum mana yang kalian suka. Tapi aku yakin apapun pilihan kalian pasti akan terlihat bagus karena kekasih mu cantik sekali dan kau dengan tubuh atletis mu tentu saja tampan memakai pakaian apapun", Indra memuji sepasang kekasih itu.
Dena dan Adrian sudah memilih gaun yang nanti akan mereka kenakan.
Satu buah kebaya modern untuk akad nikah. Dan dua buah gaun dengan model Ball Gown berwarna gold dan mermaid dress panjang berwarna putih untuk resepsi pernikahan.
Adrian mengagumi kekasih nya yang semakin cantik ketika melakukan fitting baju pengantin.
Ia membayangkan nanti ketika hari pernikahan mereka, tentulah perempuan ini akan membuat kagum semua orang.
__ADS_1
Adrian tak pernah memandang kekurangan Dena, apapun itu di matanya perempuan ini begitu sempurna.
" Sayang, satu persatu sudah beres. Nanti kita tinggal pilih gedung untuk resepsi dan catering nya", Adrian masih bersemangat membahas tentang pernikahan mereka ketika sudah di dalam mobil.
Semakin dekat dengan hari pernikahan rasanya perasaan Dena semakin tak menentu.
Bukan karena memikirkan persiapan pernikahan, tapi Dena ingin mencari waktu yang tepat untuk mengatakan sebuah rahasia besar yang masih ia simpan.
Dan, hari ini rasanya Dena memutuskan ingin mengatakannya pada Adrian .
Ia ingin tak ada lagi beban di hati nya, ia tak mau Adrian justru tau saat malam pertama mereka. Itu justru akan lebih menyakitkan baginya.
" Sayang, aku ingin bicara padamu. Tapi tidak disini, nanti di rumah saja ya".
" Bicara apa, kenapa tak kau katakan disini?", Adrian penasaran.
Tak mungkin bagi Dena untuk mengatakan nya sekarang saat Adrian sedang mengemudi.
" Nanti sajalah di rumah".
***
Adrian seperti biasa berbaring santai di sofa depan televisi, Dena sedang membuatkan kekasih nya itu minuman.
Tak ada siapa siapa di rumah, Hasbi seperti biasa di akhir pekan menginap di rumah mertuanya. Ibu dan Ayah nampak nya sedang di rumah Kak Anjani.
" Sayang minumlah, teh hangat untukmu".
Adrian duduk , menyeruput teh yang dibuatkan Dena .
Dena ragu ragu untuk mulai bicara, namun segala resikonya sudah ia pertimbangkan matang matang.
" Sayang.... eemm..aku..aku".
" Iya ada apa, kau bilang ada yang mau kau bicarakan. Katakanlah".
Adrian menghela nafas.
" Dena.. rahasia apa lagi yang ingin kau ungkap kali ini", ujar Adrian dalam hati.
" Sebelumnya aku ingin bertanya padamu. Apa penting nya sebuah keperawanan bagimu saat kau menikahi seorang perempuan?".
Adrian mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan itu.
" Penting bagiku, karena aku selalu menjaga diriku untuk tidak melakukan hal itu sebelum menikah".
" Bagaimana kalau aku..... eemmm..."
Adrian mengamati wajah Dena yang sepertinya takut untuk berbicara.
" Ada apa, apa lagi yang kau sembunyikan dariku?", Adrian sudah mempersiapkan diri untuk menelan kekecewaan.
" Bagaimana kalau aku sebenarnya sudah tidak perawan lagi, apa kau masih mau menikahi ku?"
" Hey...kau sebenarnya mau bertanya atau menyatakan? Aku masih samar dengan ucapan mu", wajah Adrian sudah mulai berubah.
" Maafkan aku, aku...eemmm... sebenarnya aku sudah tak perawan lagi", Dena menunduk tak berani menatap wajah Adrian.
Laki laki itu terdiam, mencerna lagi kata kata yang barusan ia dengar.
" Apa maksudmu hah?".
Dada Adrian rasanya sudah penuh dengan kemarahan.
" Katakan sekali lagi !!!! ", Adrian tak bicara dengan nada suara yang biasanya lembut.
" Aku sudah tidak perawan lagi, aku minta maaf kepadamu", Dena menutup wajah dengan kedua tangan nya.
__ADS_1
" Kau....kenapa kau selalu mengecewakanku, aku sudah tak tau lagi harus bersikap bagaimana denganmu", Adrian merasa menjadi laki laki paling bodoh di dunia ini.
" Katakan, dengan siapa kau melakukan nya hah... Apa kau melakukan nya saat kau sudah menjadi kekasihku?", suara teriakan Adrian membuat Dena menciut.
" Maaf aku tak bisa menceritakannya", ahh jawaban Dena yang seperti ini hanya membuat Adrian semakin naik pitam.
" Dena, lihat aku...!!!", nada suara Adrian menurun tapi masih terdengar jelas ia kecewa.
Dena memberanikan diri menatap mata yang saat ini sedang dikuasai emosi yang ditahan.
" Maafkan aku, aku sudah membuatmu kecewa".
" Dena, katakan padaku apa salahku hingga kau terus mengecewakanku? Apa karena kau tau aku selalu memaafkan semua kesalahan mu hingga membuat kau tak berhenti menyakitiku?", Adrian sudah tak berdaya untuk marah.
" Adrian, hanya kata maaf yang bisa ku ucapkan padamu. Sekarang aku sudah pasrah atas segala keputusan mu".
" Kau.... tega nya kau mengobrak abrik perasaan ku. Baru saja tadi saat memilihkan gaun pengantin untuk mu aku merasa menjadi laki laki yang beruntung memilikimu. Tapi sekarang, kau hancurkan lagi kebahagiaanku".
" Katakan, siapa laki laki itu?", pertanyaan yang sebenarnya tak perlu Adrian ucap. Karena ia tau siapa laki laki selain dirinya yang pernah ada di hati Dena .
Dena menggeleng keras.
" Maaf, aku tak bisa mengatakan nya".
" Ya.. kau tak perlu mengatakan nya karena aku sendiri yang akan mencari tau".
Adrian mengeraskan rahangnya, membayangkan kekasih nya melakukan hal menjijikkan itu dengan laki laki lain.
" Aku begitu menjaga dirimu, agar tak melakukan itu. Tapi kenapa kau melakukan nya dengan orang lain. Katakan padaku kalau kau memang menginginkan itu, aku akan melakukannya!!!".
Dena diam, ia tak berani menjawab.
" Apa memang kau senang melakukan nya dengan laki laki itu hah??".
" Maafkan aku, semua terjadi di luar kendaliku", Dena mulai terisak kecil.
" Ahhh...sudahlah simpan air matamu. Aku kecewa membayangkan tubuhmu di sentuh laki laki lain, sedangkan aku saja tak ingin berbuat lebih. Tapi ternyata kau..... kau melakukan hal murahan itu".
" Aku tidak tau lagi harus bagaimana, kau tau aku begitu menyayangimu. Aku tak bisa marah dan meninggalkan mu. Tapi apa balasan mu untukku Dena?", Adrian meremas rambutnya, menahan sesak. Jika ia perempuan mungkin air mata nya sudah deras mengalir.
" Aku pulang", Adrian bangkit dari duduk nya.
" Adrian tunggu... aku minta maaf sudah mengecewakan mu", Dena menarik tangan kekasih nya itu.
Adrian melepas nya.
" Sudahlah, aku ingin sendiri. Kalau aku tetap disini aku takut tak bisa menahan amarah ku".
" Aku sudah benar benar dibuat kecewa kali ini".
Adrian benar benar pergi, meninggalkan Dena yang masih menangis.
Entah bagaimana nasib pernikahan mereka nantinya. Dena sudah pasrah dengan semua keputusan Adrian.
...----------------...
Hhmm... kira kira Adrian membatalkan rencana pernikahan nya nggak ya?
Apa ia masih menerima Dena setelah sekarang ia tau?
Next episode pasti lebih seru lagi.
Bocoran dikit ya, Adrian menemui Adam🤫
Ikuti terus ya readers update berikutnya.
Jangan lupa pencet jempol n tinggalin jejak di kolom komentar🥰🥰🙏
__ADS_1