Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu

Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu
Ciuman dari Adrian


__ADS_3

" Hallo... Dena, kau tidak datang ke kantor hari ini?", orang pertama yang menelepon Dena pagi itu adalah Puji.


" Tidak, aku sedang tidak enak badan"


" Aku sudah izin kepada Pak Bram untuk cuti kerja hari ini".


" Ohh.. pantas saja aku menunggu mu sampai jam segini belum datang juga ke kantor"


" Kau istirahat ya Den, semoga lekas sembuh",


Puji menutup telepon nya.


Dena sebenarnya tidak sedang sakit seperti yang ia katakan. Ia hanya ingin sendiri, menyendiri dengan segala keraguan yang menahan langkah nya.


Ibu dan Hasbi sangat mengkhawatirkan keadaan Dena, hampir saja tadi sebelum Hasbi berangkat bekerja ia ingin menyeret kakak nya itu untuk membawa nya ke rumah sakit .


" Hasbiiii.... hentikan, aku baik baik saja"


" Aku hanya butuh waktu untuk istirahat"


" Berhentilah terlalu khawatir kepadaku, kalau kau terus begini bagaimana bisa kau siap untuk menikah", Dena berkata kesal kepada adik nya.


" Baiklah,tapi kak Dena janji hubungi aku kalau terjadi apa apa".


Akhirnya si keras kepala itu menyerah juga, ia berangkat ke kantor terlambat hari itu.


" Andai kau tau Hasbi, keadaan ku sekarang rasanya lebih buruk dari sekedar sakit".


" Aku dilema"


Dena teringat Adrian, lelaki yang sekarang menjadi kekasih nya. Entah kekasih dalam artian apa.


" Aku bahkan belum menghubunginya", batin Dena.


Meraih telepon..


" Pagi... Adrian".


" Selamat pagi Dena"


" Kau rindu diriku ya sepagi ini sudah meneleponku, nanti siang kan kita ketemu di kantin, hehehe", Adrian menggoda Dena.


" Adrian, aku tidak masuk ke kantor hari ini"


" Kau kenapa Dena, sakit?", suara Adrian terdengar khawatir.


" Aku hanya kelelahan, cuma butuh istirahat"


" Dena, aku mengkhawatirkan mu"


" Nanti sepulang dari kantor aku akan datang ke rumahmu, kau mau aku bawakan apa?"


Adrian memang lelaki baik yang Tuhan kirimkan untuk Dena, tetapi perempuan ini masih setengah hati memaksa pintu hati nya untuk terbuka.


" Nggak usah repot repot, aku baik baik saja Adrian"


" Kau tak usah mengkhawatirkan ku"


" Hey... kau kekasih ku, perempuan satu satu nya saat ini dalam kehidupanku"


" Bagaimana mungkin aku tidak khawatir".


" Tunggu aku ya nanti sore di rumah mu".


Pembicaraan mereka berakhir dengan sebuah pesan jangan lupa makan dan minum obat yang diucapkan Adrian.

__ADS_1


Dena mengingat lagi ucapan Mas Adam semalam.


" Dia mengakui perasaan cinta nya padaku"


" Namun munafik kah aku jika harus ku katakan aku tidak mencintainya?"


" Lisa?? bagaimana dengan istrinya??"


" Aku merasa bersalah,aku harus menjelaskan kepada istri nya kalau aku tidak ada hubungan apa apa dengan suaminya".


Meskipun Dena tidak menyukai komunikasi dengan Lisa, namun ia putuskan ia harus bertemu perempuan itu.


Namun entah kapan ia belum bisa mengumpulkan keberanian untuk menghadapi Lisa.


*** Sore hari di Rumah Dena


Dena masih malas beranjak dari tempat tidurnya, seharian ia hanya tiduran guling kanan kiri kemudian melamun, menangis, melamun lagi, lantas kembali tiduran hingga ia tertidur sungguhan.


Ia baru terbangun ketika waktu sudah menunjuk kan jam setengah lima sore. Bukan nya bangun untuk mandi ia malah meneruskan bermalas malasan di kasur lagi.


Sepertinya ia lupa sore ini Adrian akan datang ke rumah nya. Ia tak menyadari mobil Adrian sudah terparkir di halaman rumah nya .


" Selamat sore bu, Dena nya ada?"


" Ehh nak Adrian, ayo masuk"


" Dena ada di kamar nya sedang beristirahat"


" Nak Adrian masuk saja ke kamar, nampak nya Dena tidak akan keberatan kalau Nak Adrian yang datang", Ibu dengan ramah menyambut kedatangan Adrian.


Dari awal sejak mengetahui hubungan anak nya dengan pemuda ini, Ibu terlihat mendukung hubungan mereka. Menurut Ibu ia lelaki sopan.


Rumah terlihat sepi, Hasbi dan Ayah Dena belum pulang bekerja karena lembur hari itu.


" Dena.. buka pintu nya, ada Adrian datang menjenguk mu", Ibu mengetuk pintu kamar Dena.


Dena melonjak terkejut mendengar Adrian sungguhan datang sore itu .


Buru buru ia merapikan rambut nya yang kusut, merapikan tempat tidur dengan cepat kemudian membuka pintu .


" Masuk lah nak Adrian", ibu begitu saja mempersilahkan Adrian masuk ke kamar Dena, padahal sebenar nya Dena ingin berbincang di ruang tamu saja.


" Ibu tinggal ya, kau temani saja Dena biar ia lekas sembuh", Ibu meninggalkan Adrian dan Dena di kamar .


Dena mempersilahkan Adrian duduk di kursi kecil yang biasa ia pakai duduk di depan meja rias , sementara Dena duduk di ujung tempat tidur.


" Aku bawakan cake kesukaan mu Dena", Adam menyerahkan kotak berisi cheese cake kesukaan Dena."


" Kau sudah makan nasi?"


" Minum obat?"


Dena mengangguk, pertanyaan yang seperti ini hanya mengingatkan nya kepada Mas Adam saja.


" Dena.. aku mau bicara sesuatu padamu", Adrian tampak takut takut mengatakan nya.


" Iya ada apa?"


" Emmm.. aku tau hubungan kita belum cukup lama"


" Bahkan bisa dibilang kita masih dalam tahap perkenalan".


" Tapi, aku mau menyatakan keseriusan ku dengan mu"


" Aku ingin mengikatmu dengan pertunangan".

__ADS_1


Dena tak bereaksi apapun atas apa yang ia dengar. Baru saja tadi malam ia di buat terkejut dengan pengakuan Adam, dan sekarang lelaki di hadapan nya ini mengatakan hal yang lebih serius lagi .


" Aku tau ini terlalu cepat bagimu"


" Tapi aku tak mau memaksamu"


" Aku akan tetap menunggu sampai kau benar benar siap".


" Adrian, aku minta maaf kalau dalam waktu dekat aku tidak bisa memberi kepastian untuk hal itu".


" Aku harap kau mengerti"


Adrian mengangguk dan tersenyum, ia mengerti sekali bagaimana hati hati nya perempuan ini mengambil keputusan. Adrian sudah pernah mendengar cerita dari Dena kalau dirinya baru pertama kali berpacaran.


" Wajar saja kalau ia tak langsung menerima tawaranku untuk bertunangan, aku laki laki pertama dalam hidup nya", fikir Adrian.


Salah besar apa yang disangkakan Adrian, ia tak pernah tau kalau kekasih nya itu masih ragu dengan keseriusan perasaan nya pada Adrian karena sebenarnya ada satu nama di hatinya yang masih enggan beranjak pergi.


" Dena.. aku mencintaimu", Adrian berpindah tempat duduk di sebelah Dena.


Ia menunggu ucapan yang sama dari mulut kekasih nya itu. Namun Dena masih bungkam.


Ia menatap wajah cantik itu dalam jarak sangat dekat, hingga nafas mereka saling beradu.


" Bolehkah aku mencium mu?", Adrian masih saja menunjukkan kesopanan nya meskipun dada nya membuncah di penuhi hasrat ingin ******* bibir mungil di depan nya.


Dena memejamkan mata seolah pasrah atas apa yang akan lelaki ini lakukan padanya .


Meski ia belum bisa seutuhnya mencintai lelaki ini, namun ia perempuan dewasa yang juga memiliki hasrat untuk merasakan indah nya sentuhan lelaki.


Adrian dengan lembut mencium bibir kekasih nya, memainkan lidah nya menyusuri tiap lekuk bibir manis itu.


Dena terus memejamkan matanya, menikmati sentuhan hangat di bibir nya yang juga tak ingin ia lepaskan.


Aroma tubuh lelaki itu sungguh menambah hasrat seorang perawan seperti Dena semakin meronta ronta, seolah meminta lebih dari sekedar kecupan di bibir.


Adrian masih belum melepaskan ciuman nya, membuat Dena terengah engah menarik nafas karena mulut nya terus di bungkam oleh ciuman lembut namun penuh dengan rasa cinta itu.


Dena membuka matanya, masih mendapati wajah lelaki itu menempel di wajahnya.


Ciuman bertubi tubi kian dilontarkan Adrian pada kekasih nya, Dena memejamkan kembali matanya. Meski raga di hadapan nya ini adalah seorang Adrian namun yang ada di angan angan nya adalah Adam yang masih ia dambakan.


Dengan membayangkan lelaki itu ia semakin berhasrat membalas ciuman yang diberikan Adrian kepadanya.


Adrian tak melakukan lebih, ia hanya memuaskan rasa penasaran Dena akan sebuah rasa cukup dengan berciuman saja.


Mereka baru berhenti melepas bibir mereka satu sama lain ketika pintu kamar di ketuk oleh Ibu yang membawa kan minuman.


" Mas Adam ..maafkan aku yang berkhianat dengan rasaku sendiri".


" Meskipun aku tau kau bahkan melakukan ini hampir di setiap malam malam mu bersama istrimu"


" Namun aku masih saja menjadi perawan cinta yang tak memandang jijik atas segala aktifitas malam mu bersama wanita itu".


Rasa cinta memang membuat seseorang buta dan tuli dengan keadaan.


...****************...


Dena... Adrian lelaki sempurna tetapi kenapa ya Dena bodoh sekali masih meragukan untuk siapa ia melabuhkan hatinya..


Dena nggak bisa di sebut pelakor ya , hehehe...


Dia masih punya perasaan untuk tidak menyakiti hati Lisa .


Next, apakah Dena masih kuat iman ya?? Tunggu update selanjut nya ya. jangan lupa like🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2