Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu

Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu
Transplantasi Ginjal


__ADS_3

Hari Penjadwalan operasi


Adrian masih berada di Ruangan Karantina nya pagi itu, Mas Adam di izinkan masuk ke Ruangan sebelum sebentar lagi Adrian akan masuk ke Ruangan Operasi.


Mas Adam masuk ketika Adrian sedang menelpon Dena, istrinya itu mengabarkan kalau sebentar lagi ia akan masuk ke Ruangan Operasi.


Mereka berada pada atap yang sama, rumah sakit yang sama. Namun terasa jauh jarak yang membentang karena Adrian harus menyembunyikan ini semua.


" Semoga lancar operasi mu sayang, aku akan mendoakan mu", Adrian ingin menangis rasanya.


Mereka mengakhiri sambungan telepon ketika perawat masuk ke ruangan Adrian untuk meminta nya bersiap.


Mas Adam membantu Adrian.


" Kau lelaki hebat Adrian, tidak salah Dena memilihmu", Mas Adam menepuk bahu Adrian.


" Terima kasih Mas, tanpa bantuan mu aku mungkin tidak bisa melakukan semua ini sendirian", Adrian menahan mata nya yang berkaca kaca.


Mas Adam sudah mengatakan kepada tim bedah transplant agar dilakukan pembiusan di Ruangan yang berbeda antara pendonor dan penerima donor, agar Dena tak melihat Adrian.


Oleh karena itu, Adrian diminta terlebih dahulu ke ruangan operasi dan ditempatkan pada ruangan berbeda dengan Dena.


Adrian menarik nafas panjang ketika tiba di pintu Ruangan Operasi, Mas Adam hanya bisa mengantar nya sampai disitu.


" Kuatkan hatimu, terus lah berdoa ", sekali lagi Mas Adam menyemangati Adrian.


Adrian mengangguk dan menatap penuh arti pada Mas Adam.


" Mas Adam, jika terjadi sesuatu padaku nanti setelah operasi dan aku tak bisa lagi mengatakan hal ini pada Mas Adam, aku mohon jaga istri dan anak anak ku", lagi lagi Adrian mengulang pesan yang sama.


Mas Adam tak ingin menjawab.


" Sudahlah, fokus saja dengan operasi mu. Semua akan baik baik saja".


Perawat kemudian mendorong Adrian memasuki Ruangan operasi yang di dalam nya terdapat banyak Ruangan.


Sementara Mas Adam untuk sementara meninggalkan tempat itu sampai nanti ia memastikan Dena benar benar sudah masuk ke Ruangan. Ia tak ingin Dena curiga jika melihatnya disitu.


Adrian telah berganti dengan pakaian khusus Ruang operasi. Ia sudah berbaring di dalam Ruangan dingin itu, menunggu tim bedah transplant memulai pekerjaan nya.


Dena sendiri baru saja memasuki Ruangan operasi diantar Ibu dan Hasbi sampai di depan pintu.


Ibu memeluk Dena, mencium putrinya. Begitu pula dengan Hasbi, ia bahagia pada akhirnya kakak nya akan menjalani cangkok ginjal.


Namun di balik itu semua, ada terselip kesedihan mendalam jika mengingat bagaimana pengorbanan Adrian.


" Bu, tolong hubungi Adrian ya katakan padanya kalau aku sudah memasuki Ruangan operasi", ucap Dena pada Ibu.

__ADS_1


Ibu mengangguk, mencoba menahan tangisnya.


Ia tak akan bisa menyampaikan nya karena laki laki itu justru sekarang sudah berada dalam ruangan itu, sebentar lagi akan berjuang antara hidup dan mati demi memberikan ginjal nya pada putri nya.


Hasbi mengusap hidung nya yang merah, mengingat pengorbanan Adrian yang tak pernah ada habis nya.


Dena sudah masuk ke Ruangan, tepat di sebelah Ruangan Adrian.


Mereka akan dioperasi bersamaan di Ruangan yang berdekatan.


Tim bedah menyuntikkan bius total di tubuh mereka, jadi selama proses operasi berlangsung baik Adrian maupun Dena tidak akan sadarkan diri.


Sementara di luar ruangan, Mas Adam sudah bergabung bersama Ibu dan Hasbi.


Hasbi nampaknya sudah tidak membenci Mas Adam seperti dulu, meskipun sebenarnya ia tidak suka kalau Mas Adam dekat dengan Adrian maupun kakak nya. Namun ia tak bisa memungkiri bantuan lelaki ini kepada keluarganya.


" Terima kasih Nak Adam, sudah membantu dan mengurus keperluan Adrian selama ini", ucap Ibu.


Ibu memang dari dulu menyukai sikap Adam yang ramah dan selalu perhatian dengan putri nya. Bahkan dulu ibu sempat berharap lelaki ini yang akan menjadi menantunya. Meskipun pada akhirnya dia mendapatkan menantu yang tak kalah baik nya dibanding Adam.


" Sama sama bu, aku akan membantu sebisaku", Adam membalas ucapan terima kasih Ibu.


" Hasbi, kau apa kabar? Bagaimana Laras dan anakmu?", Mas Adam turut menyapa Hasbi.


Hasbi menjawab seadanya .


Lalu suasana kembali hening, mereka sama sama berdoa dalam hati untuk kelancaran dan keselamatan Adrian dan Dena. Operasi tersebut akan memakan waktu kurang lebih selama 3 - 5 jam.


Mas Adam sejujurnya lebih mengkhawatirkan keadaan Adrian. Ia takut terjadi penolakan atas tubuh nya yang hanya mempunyai satu ginjal, karena sebenarnya keadaan Adrian tidak benar benar baik menurut Adam setelah kecelakaan itu.


Di dalam sana, sepasang suami istri itu sedang tak sadarkan diri.


Satu tim ahli bedah sudah lebih dulu melakukan Nefrektomi, yaitu prosedur pengangkatan ginjal dari pendonor.


Dokter membuat sayatan di bagian bawah perut, kemudian mengangkat satu ginjal milik Adrian.


Sementara itu di ruangan sebelah nya, satu tim dokter mempersiapkan operasi untuk Dena.


Sayatan di perut nya sudah dibuat, kemudian arteri dan vena dari ginjal milik Adrian disambungkan dengan arteri dan vena di ginjal Dena.


Setelah itu, ureter dari ginjal baru akan terhubung dengan kandung kemih.


Selama proses operasi berlangsung, tentu saja organ organ vital mereka tetap di pantau melalui monitor.


Masing masing tim dokter kemudian menjahit bekas sayatan di perut, operasi belum dinyatakan berhasil sampai tahap evaluasi beberapa waktu bagi Dena apakah ginjal baru nya berfungsi dengan baik.


Operasi hari itu berjalan lancar, Adrian dan Dena masih belum sadarkan diri. Setelah operasi mereka langsung dibawa ke Ruangan ICU.

__ADS_1


" Keluarga Nyonya Dena Sanlova dan Tuan Adrian Pamungkas", suara petugas Ruangan memanggil keluarga yang berjaga.


Ibu, Hasbi dan Mas Adam menghampiri petugas itu setelah hampir 5 jam mereka menunggu.


" Ibu, Bapak, operasi cangkok ginjal nya sudah selesai dilakukan dan semua berjalan lancar".


" Namun kedua pasien belum sadarkan diri, saat ini keduanya ada di Ruangan ICU dan belum bisa dijenguk selama tiga hari oleh siapapun karena harua melakukan isolasi", petugas itu menjelaskan .


Ibu, Hasbi dan Mas Adam mengucap syukur atas kelancaran operasi itu.


" Semoga ginjal baru Dena bisa berfungsi dengan baik bu", ucap Mas Adam.


" Baiklah bu kalau begitu kita pulang ke Apartemen milik Radit saja, nanti 3 hari ke depan baru kita akan kembali lagi kesini", ucap Mas Adam.


Ibu dan Hasbi mengikuti Adam untuk pulang ke Apartemen yang selama 6 bulan ini tempat ia dan Adrian serta Mbok Nah tinggal.


" Nak Adam, sampai kapan kita bisa menyembunyikan semua ini dari Dena", tanya Ibu ketika di perjalanan.


Adam menggeleng.


" Entahlah Bu, cepat atau lambat aku rasa Dena harus tahu. Ia istrinya Adrian, tidak mungkin terus terusan kita menutupinya".


" Karena setelah operasi ini banyak hal yang harus dilakukan, termasuk rutin mengkonsumsi obat obatan. Tidak mungkin kan Dena tidak mengetahuinya", Adam mengungkapkan apa yang ia khawatirkan.


Ibu mengangguk setuju.


" Ibu sebenarnya takut Dena akan merasa bersalah setelah mengetahui ini semua".


" Aku juga pernah mengatakan itu pada Adrian Bu, namun ia tetap ingin mendonorkan ginjal nya", ucap Mas Adam.


Adrian, seharusnya kau hanya perlu baik baik saja dan semua akan kembali.


Kau tidak harus berkorban sedalam ini, setidaknya ujian yang kau lewati itu sudah menjadi sebuah pengorbanan yang panjang.


...----------------...


Bagi Adrian, mencintai Dena dengan sederhana adalah alasan paling logis.


Ia tak pernah merasa lebih atau kurang.


Baginya semua yang ia lakukan saat ini bukanlah pengorbanan. Karena padanya, cinta yang didasari rasa berkorban itu bukan cinta, tapi tuntutan balik yang paling egois.


Mudah mudahan ginjal yang di donor kan Adrian bisa berfungsi dengan baik di tubuh Dena ya, tidak terjadi penolakan.


Next, ikuti terus up nya ya .


Jangan lupa dukungan nya untuk karya Othor, like, komen, dan vote nya biar makin populer.

__ADS_1


Terima kasih 🥰🙏🙏


__ADS_2