Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu

Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu
Dena jujur dengan perasaan nya


__ADS_3

Jadwal cuci darah lagi


Dena melangkahkan kaki menyusuri jalan panjang di koridor rumah sakit. Semangat nya untuk datang ke rumah sakit tak menggebu lagi seperti awal awal ia menjalani cuci darah.


Ia dengan malas menyeret langkah kaki nya,ia begitu hafal setiap sudut rumah sakit, bahkan dengan memejamkan mata pun rasanya ia bisa melangkah hingga sampai ke ruangan Hemodialisa.


Hari ini pertemuan pertama nya dengan Mas Adam setelah lelaki itu menyatakan rasa cintanya di telepon. Dena tak pernah menghubungi nya lagi setelah itu, ia pun tau tau bagaimana sekarang keadaan rumah tangga Mas Adam dan Lisa.


Dena rasa tidak mencari tau dan tidak perlu tau tentang rumah tangga mereka adalah pilihan tepat agar tidak terseret terlalu jauh dalam prahara mereka.


" Selamat pagi calon kakak ipar", Laras yang pertama kali menyapa Dena ketika ia masuk .


Adam mengarahkan pandangan nya ke pintu masuk karena mendengar Laras menyapa seseorang yang ia tunggu kehadiran nya .


Dena mempercepat langkah nya ketika melewati tempat dimana Mas Adam duduk dengan beberapa berkas di meja nya.


Dena sudah berada di tempat tidur nya di ujung ruangan.


" Lukas, bisa aku minta tolong kau saja yang memasangkan jarum kupu kupu kepadaku", Dena buru buru meminta Lukas untuk segera melakukan nya sebelum Mas Adam menghampiri nya.


" Dengan senang hati nona", Lukas menyeringai kecil.


Adam tak bergeming dari posisi duduk nya, hanya menatap Dena dari kejauhan yang sedikit meringis ketika Lukas menusukkan jarum di lengan kirinya.


Dena tak mengerti apa yang ada di fikiran laki laki itu, meskipun sebenarnya ada banyak hal yang seharusnya mereka berdua selesaikan. Namun Dena merasa selamat untuk sementara, karena ia tak perlu berhadapan langsung dengan Mas Adam saat ini.


*** Dalam bayanganku, kau berbincang dengan tangan berkacak pinggang .


Menggaungkan denyut ngilu saat kau tiba tiba berpaling.


Kemudian menghilang.


Aku ingin juga seperti itu, menatap sekejap kemudian sirna. Perlahan di telan waktu, hingga benar benar tiada.


Aku ingin juga seperti itu, mengejar bahagia tanpa dibebani rasa bersalah.


Meraih kesenangan tanpa di banduli rasa terluka.


Asal kau tau, aku pun ingin seperti itu.


Namun apa boleh buat, bahagia dan luka selalu berdampingan. Yang membedakan adalah seberapa lama kau mampu mempertahankan kebahagiaan itu sendiri.


Dena terbangun dari hampir satu jam ia tertidur saat alarm mesin nya berbunyi karena tekanan di pembuluh darah vena nya meningkat.


Adam berjalan menghampiri ke arah Dena, ia mematikan alarm dan membetulkan posisi jarum kupu kupu di tangan Dena.


" Kau tadi tertidur pulas, sampai tak sadar kau menggerakkan tangan mu membuat jarum sedikit bergeser", Mas adam berkata sambil menambahkan plester di sekitar jarum.


Dena tak mau menjawab apa apa.


" Dena, jika kau dan aku dalam ego yang sama sama tidak mau mengalah, lalu kapan kita akan kembali baik baik saja tanpa rasa canggung?", Adam masih saja ingin membahas tentang perasaan nya .


" Mas Adam..."


" Apa istrimu belum kembali ke rumah?"


Adam menggeleng dengan wajah datar seolah tak sedih sama sekali.


" Temui lah istrimu, bawa ia kembali"


" Dan perbaiki hubungan kalian"


" Setidak nya demi Juna"

__ADS_1


Mendengar nama bocah laki laki itu di sebutkan, Adam menahan kesedihan di matanya. Di bayangan nya berkelebat wajah jagoan kecil yang begitu ia sayangi.


" Ya... aku akan segera menjemput Juna untuk kembali".


" Tapi aku tak berjanji untuk bisa memaksa Lisa pulang ke rumah"


" Mas Adam, kenapa kau jadi egois dan keras kepala seperti ini?", Dena menahan volume suaranya agar tak terlalu keras.


" Karena aku butuh pengakuan mu Dena, karena aku masih berpegang dengan keyakinan ku".


" Aku ingin kita bicara", Adam berkata getir dengan tatapan hangat nya yang tak pernah berubah .


" Aku tak ingin kau mengacuhkan ku"


" Aku lebih suka kita bertengkar hebat, lalu menyelesaikan"


" Daripada saling diam, kemudian meninggalkan".


" Bicaralah Mas jika ada yang ingin kau bicarakan sekarang", ucap Dena.


" Tidak, aku masih menjaga profesionalisme dalam pekerjaan ku".


" Kita akan bicara diluar, pulang ini", ucap Adam.


" Maaf Mas, aku tidak bisa"


" Aku harus datang ke kantor segera setelah makan siang".


" Sebentar saja Dena, aku hanya butuh sedikit waktu mu", Adam terdengar memohon.


Untuk kesekian kalinya, Dena kembali luluh hatinya. Tak mampu menolak kehangatan dan tatapan lembut dari cinta pertama nya ini.


" Baiklah, kita bicara di mobil ku"


*** Di halaman parkir gedung Rumah sakit


Dena sudah lima menit menunggu di dalam mobil nya, mesin kendaraan ia nyalakan begitu juga dengan pendingin udara karena cuaca di luar sangat panas .


Ia melihat dari pintu lobby rumah sakit, lelaki itu berjalan menuju mobil Dena yang terparkir paling ujung di bawah sebuah pohon .


Kaca mobil yang berwarna hitam pekat membuat Adam tak bisa melihat kalau dari dalam mobil Dena memperhatikan langkah nya yang semakin mendekat .


Dena yang sedari tadi sudah menunggu di kursi bagian belakang segera membukakan pintu dan mengisyaratkan Adam untuk masuk .


" Terima kasih sudah memberi ku waktu untuk bicara denganmu", Adam memulai pembicaraan di waktu mereka yang singkat.


" Apa lagi yang Mas Adam mau bicarakan?"


" Jika hanya ingin membahas perasaan Mas Adam, lebih baik jangan bicara apa apa".


" Aku tidak ingin bicara tentang perasaan ku".


" Kali ini aku meminta kau jujur dengan perasaan mu".


Adam mendekatkan wajah nya ke wajah Dena, memaksa perempuan itu untuk melihat wajah nya .


" Ayo tatap mata ku"


" Jangan kau tutupi apa yang kau rasakan"


" Semakin kau lawan perasaan mu, percayalah kau akan semakin tersiksa".


Lelaki itu menggenggam tangan Dena, Dena memalingkan wajah nya berusaha menghindar dari tatapan Mas Adam.

__ADS_1


Tapi tak berhasil, Dena malah semakin terjerat dengan tatapan hangat dan teduh itu .


Ia seperti dejavu, merasakan lagi bagaimana perasaan nya di awal ia jatuh cinta pada lelaki itu sebelum tau kalau ternyata Mas Adam pria beristri.


Ia malah sibuk merangkai perasaan nya yang berserakan saat di ambang keraguan dalam memutuskan untuk terus atau berhenti dengan cinta gila nya .


" Katakan... Ayo katakan sejujurnya"


" Aku yang paling tau tentang dirimu Dena".


" Aku tau lelaki yang kau sebut kekasih mu itu hanyalah pelarian bagi mu".


Dena ingin menyerah rasanya di hadapan lelaki ini, ia tak sanggup sedikitpun untuk berdusta lagu, ia melupakan apapun di luar sana yang jadi batasan dan penghalang rasa cintanya.


Akhirnya ia mengakui semua yang mati matian ia pendam sendirian selama ini .


" Ya... aku mencintaimu"


" Aku bahkan sudah jatuh cinta padamu jauh sebelum aku tau kau sudah mempunyai istri"


" Aku sudah mencintaimu meski aku tak yakin aku akan di pertemukan lagi dengan mu"


" Aku jatuh cinta untuk pertama kalinya dalam hidupku ketika perkenalan pertama kita di Bandara".


" Dan saat aku yakin kau orang yang tepat untuk ku, kau mematahkan harapanku dengan status mu yang sudah beristri"


" Sekarang... puas kau mendengar nya????", Dena berkata dengan emosi yang meluap dan hampir menangis .


Adam memeluknya, mengusap lembut rambut bergelombang yang terurai itu.


" Aku selalu yakin dengan perasaan ku", Adam membisikkan kalimat itu lembut di telinga Dena.


" Aku ingin menjanjikan mu sebuah kepastian, tapi aku takut kau tak akan sabar menunggu waktu itu", Adam semakin kencang memeluk tubuh itu.


" Hey.. berhentilah menangis Dena ku".


" Jangan kau buat aku semakin merasa bersalah karena sudah membuat dua wanita menangis".


" Aku tau, aku harus mengambil sebuah keputusan meskipun akan ada yang tersakiti"


" Dan aku mau kau juga melakukan hal yang sama, kau pun harus membuat keputusan",


Adam mengendurkan pelukan nya namun tangan nya terus mengusap pipi Dena yang basah oleh air mata.


" Berhentilah menangis", kemudian ia menarik dagu perempuan itu membungkam mulutnya dengan ciuman pertama mereka.


Ciuman yang Dena rasakan berbeda dengan yang Adrian berikan kemarin. Ia merasakan kedamaian, merasa dilindungi dan dimiliki oleh laki laki ini.


Ia tau ini sebuah kesalahan, namun ia biarkan ini menjadi kesalahan terindah dalam hidup nya.


Salah kah memperjuangkan cinta yang sudah memiliki cinta?


" Tuhan... apakah aku perempuan perusak rumah tangga orang?".


...****************...


Dena....pasti banyak yang nggak setuju kalau Dena jadi pelakor..


Huhu padahal author itu jatuh cintanya sama sosok Adam😁


Ayo dong Dena, sadar... kasihan Adrian!


Tunggu episode berikut nya ya readers🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2