Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu

Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu
Undangan VS Pelukan


__ADS_3

Malam ini, rintik gerimis membasahi tanah yang seharian kering karena panas matahari.


Dena masih dalam perjalanan ketika itu, ia sendirian berkendara dari kota kabupaten mengantar undangan ke kerabat ibunya.


Kemarin seharian ia bersama Adrian sudah mengantar undangan ke beberapa kerabat Ayah. Hari ini Adrian bekerja, jadi Dena memutuskan pergi sendiri mengantar undangan pernikahan yang tinggal beberapa hari lagi.


Dena melirik satu undangan yang masih tergeletak di bangku sebelah nya. Waktu baru menunjukkan jam tujuh malam .


Tidak terlalu kemalaman sepertinya jika ia mampir sebentar mengantarkan undangan tersebut.


Ya, undangan itu adalah undangan yang akan ia berikan kepada Mas Adam.


" Sekalian jalan dan memang melewati rumah Mas Adam perjalanan pulang nya ini", pikir Dena.


Ia menimbang lagi apakah akan mengantar nya malam ini juga atau besok saja . Tapi di ingat lagi besok dia akan mengurus beberapa urusan catering dan hotel jadi tak punya banyak waktu lagi.


Akhirnya ia memutuskan untuk singgah ke rumah laki laki itu. Ia sudah sampai di halaman rumah Mas Adam, pintu rumah tertutup .


Dena berlari kecil menuju teras rumah, bajunya sedikit basah oleh air hujan.


Ia menekan bel, tak lama muncul pemilik rumah membukakan pintu .


Keduanya sama sama terkejut karena perjumpaan tanpa rencana ini . Adam pikir ia tak akan pernah melihat Dena lagi setelah beberapa waktu lalu Adrian sempat memukulnya .


" Dena, kau kehujanan? Masuklah", Adam melihat baju Dena sedikit basah oleh air hujan .


Sebenarnya Dena ragu ragu untuk masuk, ia hanya ingin memberi undangan ini lalu berpamitan pergi .


Namun lihatlah, lelaki ini masih sama hangatnya seperti pertama kali mereka bertemu .


Dena sudah masuk dan duduk di Ruang tamu.


Adam memberikan handuk kecil kepada Dena.


" Ini keringkan wajahmu".


" Terima kasih Mas", Dena menerima handuk kecil itu dan mengusap wajahnya.


" Ada apa kesini malam malam tanpa mengabariku?", tanya Mas Adam.


" Aku... aku hanya ingin mengantar ini", Dena mengambil undangan di dalam tas nya dan ia serahkan pada Mas Adam.


Mas Adam menerima undangan itu, ia tak membuka nya . Ia hanya melihat sampul undangan yang tertulis nama Adrian dan Dena.


" Kenapa kau mengundangku?", tanya Mas Adam tanpa melihat wajah Dena.


" Karena aku ingin Mas Adam datang di hari bahagiaku, dan Adrian tak keberatan aku mengundang Mas Adam", Dena tau ini semua berat untuk laki laki itu .


" Untuk apa lagi Dena... aku bahkan sudah kehilangan mu sejak kau mulai menjauh dariku".


" Jadi pernikahanmu bagiku adalah akhir dari segala penantianku".

__ADS_1


Adam tanpa sengaja meremas undangan yang saat ini ia pegang, menunjukkan betapa sakit nya ia saat itu.


" Maafkan aku Mas, aku mencintai Adrian dan aku sudah memutuskan tak akan pernah meninggalkan nya", Dena ingin menangis saat mengucapkan itu .


" Aku harap Mas Adam suatu hari akan bertemu dengan perempuan yang tepat untuk Mas Adam", bulir air mata rasa nya sudah tak terbendung lagi di kelopak mata Dena.


Tak mudah baginya melupakan lelaki ini, namun ia berpegang teguh pada janjinya terhadap Adrian. Ia tak ingin jadi pengecut yang ingkar akan janji.


Adam tak bersuara, ia pernah kehilangan. Perceraian yang ia alami membuatnya kehilangan banyak hal. Namun kali ini, ia merasakan kehilangan yang begitu hebat.


Ia lupa kapan terakhir kali ia menangis, sepertinya saat kematian adik perempuan nya. Itulah terakhir kali ia menangis karena kehilangan.


Namun malam ini, sebagai seorang lelaki yang harus nya tegar ia tak mampu menahan perasaaan manusiawi nya atas luka yang hanya bisa ia ungkapkan lewat tangisan.


Keduanya saling terisak, di antara rintik rintik hujan di luar sana air mata mereka lebih deras mengalir .


Ingin sekali rasanya Dena menumpahkan air mata nya di dalam pelukan lelaki itu.


Namun ia tahan, tubuhnya terguncang menahan isak tangis yang semakin dalam.


Mas Adam tak bisa berbuat apa apa, baginya semua sudah berakhir.


" Dena, aku tak pernah menyesal mengenalmu. Aku pun tak pernah menyesal pernah jatuh hati padamu".


" Meskipun pada akhirnya kau tak pernah berlabuh padaku, aku akan tetap dengan rasa cintaku".


" Mencintaimu dengan cara ku sendiri, karena aku yakin takdir Tuhan tak pernah salah", Adam mengusap pelupuk matanya .


Dena semakin sesak menahan tangis nya, entah berapa banyak luka yang sudah ia torehkan pada lelaki ini.


Mas Adam membalas pelukan Dena, sekuat mungkin ia dekap tubuh itu.


Ia tau sekuat apapun ia mendekap nya, perempuan ini sudah ditakdirkan untuk pergi dalam hidup nya .


Dena menangis di dada lelaki itu, mungkin untuk terakhir kalinya ia berada dalam dekapan hangat itu .


" Jadilah perempuan yang kuat, jadilah Dena yang tak mudah menyerah", Mas Adam semakin kencang memeluk nya .


Ia tau saat pelukan ini sudah terlepas, saat itulah mereka tak akan pernah bersentuhan lagi.


" Sekali lagi maafkan aku Mas, aku sudah melukai banyak hati. Dan aku tak ingin melukai hati yang baru, Adrian.. Ia sudah banyak mengerti diriku".


" Ikhlaskan lah aku Mas".


Dena mengendurkan pelukan nya. Ia mendongak ke atas menatap wajah hangat itu yang saat ini penuh luka.


Adam mengecup kening perempuan ini untuk terakhir kalinya, sebelum ia melepas dekapan nya. Dena membiarkan begitu saja kecupan itu.


" Tuhan, jika ini adalah sebuah dosa bagiku biarkanlah ini jadi dosa terakhir yang aku lakukan".


Adam melepas pelukan nya, sementara Dena tak henti menggenggam tangan lelaki itu.

__ADS_1


Dejavu, bagai cinta pertama yang hadir dari masa lalu.


Aku seperti hafal wangi aroma tubuhmu,


hangat peluk yang tidak asing bagi diriku.


Namun kita dipertemukan di waktu yang tidak merestui untuk bersatu, di mana kita sudah


terlarang hanya sekedar mengucapkan sebait


kata " Rindu" .


Tidurlah, jangan pernah melewati mimpi manis tentang kita, sebab kenyataan terlalu pahit


untuk kita nikmati bersama .


Biarkan hujan malam ini mengabarkan salam perpisahan, sederas cinta kita yang menuai caci, sehitam asmara kita yang merangkul luka .


Mungkin akan datang satu masa kita telah benar benar lupa, jika pernah melakukan hal gila agar kita terus bersama.


Namun pada akhirnya harus dipaksa waras oleh keadaan untuk saling merelakan.


Dena melepas genggaman tangan nya kemudian segera mengambil tas nya, ia tak bisa berlama lama lagi disini ia takut tak bisa mengendalikan dirinya.


" Maaf Mas, aku pamit pulang. Aku harap Mas Adam datang nanti di pernikahan ku".


Dena memberikan handuk kecil berwarna hijau muda dengan sulaman huruf A di ujungnya .


" Terima kasih handuknya".


Adam memberikan nya lagi kepada Dena.


" Simpanlah, jika kau ingin menangis hapuslah air mata mu dengan ini".


Dena mengangguk, menganggap ini pemberian terakhir yang akan selalu ia simpan baik baik.


" Aku pulang Mas", Dena pamit meninggalkan lelaki itu dengan undangan pernikahan yang sudah rusak karena diremas remas.


Adam menatap tubuh perempuan itu yang berlari kecil di tengah rintik hujan menuju mobilnya.


Malam ini adalah malam paling kelam dan penuh luka yang harus ia lalui.


Tak hanya dia, sepanjang perjalanan derai air mata masih membasahi pipi Dena.


" Selamat tinggal Mas Adam,kita bertemu bukan dalam sebuah takdir namun hanya sebatas hadir".


...----------------...


Ini rasanya episode tersedih😔😭


Pada akhirnya Adam dan Dena harus saling merelakan.

__ADS_1


Next episode rasanya masih ada yang sedih sedih lagi.


Ikutin terus ya up nya, jangan lupa like komen nya 🥰🥰🙏


__ADS_2