
Dena sudah berada di gedung lantai lima Perusahaan, ruangan Akunting tempat ia bekerja.
Setumpuk berkas di hadapan nya sedari tadi belum ia sentuh sama sekali.
Ia sudah mengirim pesan kepada Adrian seperti biasa yang sering ia lakukan akhir akhir ini. Mengabari kekasih nya itu kalau dia sudah di kantor.
Namun tidak ada balasan, ia coba menelepon juga tak diangkat.
" Adrian apa kau benar benar marah denganku".
" Hey Dena, kau kenapa?",Puji mendapati Dena dengan wajah yang kusut sepagi ini.
" Aku dan Adrian sedang ada masalah, kami sedang tidak baik baik saja".
". Hah..kalian putus?", Puji terbelalak .
" Aku tak mengatakan kami putus".
" Kau senang ya kalau itu terjadi, huhh".
" Hehehe bukan begitu Den, tapi setidaknya kalau Adrian jomblo lagi aku masih bisa meneruskan mimpi ku", Puji tergelak bercanda menggoda Dena .
" Tidur saja sana kalau kau ingin terus bermimpi", Dena menggerutu.
***
Siang hari di kantin pun Dena tak melihat keberadaan Adrian, ia memberanikan diri bertanya kepada seorang laki laki rekan kerja Adrian yang biasa makan siang bersamanya.
" Selamat siang, maaf mau tanya apa Adrian hari ini tidak masuk kerja?".
Lelaki itu tentu saja hafal kalau yang bertanya sekarang adalah kekasih Adrian. Sejenak lelaki itu memandang dan mengagumi wajah cantik Dena .
" Ehh.... iya Adrian tidak masuk bekerja hari ini".
" Tadi pagi pagi sekali ia mengabarkan kalau hari ini ia tidak masuk bekerja karena sakit".
" Ohh begitu, baiklah terima kasih".
Dena meninggalkan rekan kerja Adrian, kembali duduk di tempatnya melanjutkan makan siang bersama puji.
" Adrian kau sakit?".
" Aku khawatir, apa karena kejadian semalam?", Dena bergumam dalam hati.
Kediaman Adrian
Lelaki itu seharian hanya berbaring di tempat tidur, kepala nya terasa pusing, suhu tubuh nya terasa panas.
Ia masih teringat semalam saat Kak Radit tiba di rumah, mereka terlibat pertengkaran.
" Adrian, sebaiknya kau putuskan hubungan dengan kekasih mu itu !!! ", suara Kak Radit terdengar serius.
" Kenapa aku harus memutuskan nya?".
" Ia tidak salah dalam hal ini", Adrian masih saja membela kekasih nya.
" Hey....kau gila...".
" Kau masih mau berhubungan dengan perempuan yang sudah mengkhianatimu".
" Perempuan perusak rumah tangga orang", Radit semakin kencang berbicara.
" Hentikan Kak Radit".
" Jangan sebut Dena ku perusak rumah tangga orang, ia juga tidak mengkhianati ku !!"
"Adrian....!!!!"
" Berhenti dengan semua omong kosong mu dan semua sikap bodoh mu!!!".
Wajah Kak Radit memerah, ia benar benar tak bisa menahan emosi nya.
" Adam memang mencintai Dena, tapi Dena tak membalas cintanya", Adrian masih saja menutupi apa yang terjadi. Membuat dada nya kian terhimpit beban berat.
" Kau sudah dibutakan oleh cinta, Adrian".
" Hanya karena kau begitu mencintainya, kau rela di sakiti".
" Ciihh...lelaki seperti apa kau! Mau saja harga dirimu dipermainkan perempuan", Radit menatap Adrian dengan tatapan kesal.
" Jangan karena Kak Lisa tidak menyukai Dena lantas Kak Radit juga ikut membencinya".
" Apa itu juga bukan dibutakan oleh cinta hah?".
__ADS_1
Radit merasa tertampar oleh ucapan Adrian, ia sebenarnya tak mau terlalu ikut campur tentang hubungan Adrian dan kekasihnya.
Namun karena Lisa begitu membenci Dena, Radit merasa turut berada di belakang perempuan yang ia cintai itu.
" Kak Radit, aku menghormati kau sebagai kakak ku".
" Tapi aku mohon, jangan campuri urusan ku dengan Dena".
" Aku berhak menentukan dengan siapa aku ingin hidup, aku akan tetap meneruskan rencana pernikahan ku".
" Meski tanpa restu Kak Radit".
Radit mengepalkan tangan nya, rahang nya mengeras menahan marah.
" Kau... berani nya kau menentang kakak mu hanya karena perempuan murahan itu", tangan Radit sudah melayang hendak menampar pipi Adrian .
Namun berhasil di tepis oleh Adrian.
" Maaf kak, aku tidak mau ada keributan".
Adrian meninggalkan kakak nya sendirian di ruang tamu.
Sedangkan Radit pergi keluar rumah entah kemana dan malam itu tidak tidur di rumah.
Dan sekarang hingga siang hari Adrian belum juga keluar dari kamar nya.
Dia mengambil ponsel nya, melihat ada beberapa pesan dan panggilan tak terjawab dari Dena .
Ingin sekali rasanya Adrian mengabaikan pesan dari Dena.
Tapi Adrian tak bisa mengacuhkan atau sekedar mendiamkan Dena untuk sesaat.
Adrian akhirnya membalas pesan itu.
" Sayang, maaf aku hari ini tidak ke kantor".
" Aku tidak enak badan".
" Maaf baru membalas pesan mu".
Dena menerima pesan dari Adrian dengan perasaan lega, karena kekasih nya itu sudah kembali memanggil nya sayang.
Ia langsung menelpon Adrian,
Adrian yang sebenarnya masih kecewa dengan kejadian semalam namun mendengar suara perempuan itu mengkhawatirkan nya, ia mengesampingkan perasaan sakit di hati nya itu.
" Iya, badan ku seperti nya demam".
" Apa kau sudah makan?", Dena bertanya pada Adrian.
" Belum, aku dari pagi hanya tiduran".
" Kak Radit tidak di rumah dari semalam".
Dena takut rasanya ingin bertanya lebih kenapa Kak Radit tidak di rumah, apa mereka bertengkar, gumam Dena.
" Nanti pulang dari kantor aku akan menjenguk mu, kau mau aku bawakan apa?".
" Tidak usah bawa apa apa sayang, kau bawa hatimu saja untukku, hehehe", Adrian tertawa pelan.
" Huuhh, sedang sakit saja kau masih ingin merayuku".
" Boleh kan sekali sekali aku merayu mu".
" Datanglah nanti sore, aku pasti sembuh kalau kau ada disini".
" Bye sayang, istirahat ya".
" Sampai jumpa nanti sore".
Adrian merasa sedikit bertenaga setelah mendengar suara perempuan yang ia cintai itu.
Ia bingung dengan rasa cinta yang luar biasa untuk Dena, selama ini ia belum pernah sama sekali menentang kakak nya.
Namun kali ini dia sungguh tak terima Kak Radit merendahkan Dena .
Kalau orang menilai dari sisi lain atau hanya mendengar cerita Lisa, tentu saja Dena adalah orang ketiga dalam rumah tangga Adam.
Tapi semalam, meskipun sakit setiap ia mendengar cerita Dena yang jatuh cinta pada Mas Adam sejak pertama mereka berkenalan, ia bisa memahami kondisi itu karena Dena tak tau di awal kalau lelaki itu sudah beristri.
Bagi Adrian, Dena sudah membuktikan dia tidak ingin jadi orang yang menyebabkan perceraian Adam dan Lisa, karena sampai saat ini Adam sudah berstatus duda pun Dena masih mengikat hubungan serius dengan dirinya bahkan berencana menikah.
Kalau memang Dena ingin merebut Adam dari Lisa, pasti saat ini ia sudah menjalin hubungan dengan Mas Adam. Itulah yang menjadi keyakinan Adrian untuk terus mencintai dan percaya kepada Dena.
__ADS_1
Meskipun satu yang mengganjal di hatinya, ternyata ketika ia memergoki Dena bertemu dengan Mas Adam di cafe itu sebenarnya Mas Adam menggenggam tangan Dena dengan sebuah perasaan cinta.
" Ahhh.. aku merasa tidak terima", gumam Adrian.
" Hanya aku yang boleh menyentuh kekasih ku".
***
Sore hari sepulang dari kantor, Dena melajukan kendaraan nya ke rumah Adrian. Membawa makanan untuk kekasih nya itu, di jalan ia sempat ragu karena takut jika nanti disana ia bertemu Kak Radit.
Laki laki itu pasti tidak menyukai keberadaan Dena. Namun ia tetap akan datang menemui Adrian, ia benar benar ingin memastikan laki laki itu sekarang sudah tidak marah dengan nya.
Mbok Nah mengantar Dena ke kamar Adrian di lantai dua rumahnya. Perempuan yang sudah tak muda lagi itu, sudah bekerja di situ sejak Adrian dan Radit masih kecil.
" Masuklah non, tadi nak Adrian berpesan kalau Non Dena datang langsung masuk saja ke kamar", Mbok Nah kemudian pergi meninggalkan Dena di depan pintu kamar Adrian.
" Sayang, ini aku", Dena mengetuk pintu.
" Masuk saja, tidak di kunci".
Dena masuk ke kamar, melihat lelaki itu berbaring dengan selimut menutup setengah badan nya.
Kamar berukuran 4 x 4 tersebut bernuansa putih, terlihat rapi, wangi, mencerminkan pemilik nya yang seperti itu.
Adrian memaksakan diri untuk duduk, melihat kedatangan kekasih nya.
" Sayang, kalau kau masih sakit berbaringlah", Dena mengambil posisi duduk di ujung tempat tidur .
" Aku sudah sedikit baikan, karena tau kau datang menjengukku, hehehe".
" Kau tidak marah lagi kan denganku?", Dena bertanya .
" Sebenarnya masih, tapi rasanya aku tidak bisa lama lama marah denganmu".
" Berjanjilah, ini yang terakhir ada rahasia di antara kita".
Dena tak mampu untuk mengiyakan permintaan Adrian, karena sesungguhnya masih ada hal besar yang ia sembunyikan.
"Ehh iya ini aku bawakan makanan untukmu", Dena berusaha mengalihkan pembicaraan.
" Aku tidak lapar sayang".
" Tadi aku makan sepotong roti".
" Hhhmm, makanlah.. aku yang akan menyuapimu".
" Aku tidak mau makan".
" Tapi aku mau di cium disini, disini dan disini",
Adrian menunjuk pipi, kening, dan terakhir bibir nya.
" Ahhh .. Kau.. sedang sakit pun masih saja ingin meminta ciuman dariku", ujar Dena sambil mencubit perut kekasihnya.
Namun tak lama Dena tetap saja menuruti kemauan lelaki itu. Mencium pipi nya, kening nya, dan terakhir berlabuh di bibir lembut yang selalu mengecup nya.
" Berjanjilah, hanya aku yang ada di hatimu saat ini".
Dena mengangguk, sembari mengucap janji di dalam hati dan berharap tak akan ia ingkari.
Kelak, kita akan menuliskan cerita
paling mengesankan.
Dalam lembaran catatan kehidupan.
Menjadi dua hati yang paling dibanggakan.
Memiliki tempat paling istimewa
di hadapan Tuhan.
...----------------...
Readers disini kalau lagi marahan sama pasangan nya gimana nih...
Kayak Adrian gak? nggak nyampe 1 x 24 jam udah lupa sama kemarahan nya😁
Up lagi nanti malam ya, simak terus..
Sepertinya Author lagi mau beralih ke pasangan Hasbi dan Laras nih.. karena ini malam jumat nampaknya Laras dan Hasbi juga sedang sunah Rosul😁😁
Like n tinggal jejak ya terima kasih🥰🥰🙏
__ADS_1