
Radit sore itu masih berada di ruangan kerjanya ketika Lisa pamit untuk pulang.
" Lisa, tunggu sebentar", suara Radit menahan langkah perempuan itu.
" Ada apa?", Lisa mengira masih ada urusan pekerjaan yang belum selesai.
" Duduk dulu, aku ingin bicara".
" Lisa, apa kau masih membenci Dena?".
Lisa mengangkat kepalanya, menatap Radit.
" Jika kau jadi aku, apa kau akan membencinya?", ia malah balik bertanya pada Radit.
Radit menggeleng.
" Tergantung, jika aku sudah mengihklaskan apa yang hilang dariku maka aku tak akan membencinya".
" Kecuali kau masih sangat mencintai mantan suami mu, kau pasti akan terus membenci Dena".
" Ciihh.... tak sudi aku masih mencintai lelaki yang sudah membuat aku sia sia", Lisa mendecis muak dengan kalimat itu.
" Kalau begitu kau harus mengikhlaskan semuanya Lis, agar tak ada dendam di hatimu?", Radit berkata pelan agar Lisa tak tersinggung.
" Aku membencinya bukan karena aku masih mencintai Adam".
" Lantas kenapa Lis, bukankah sekarang Dena juga menjalin hubungan dengan adikku Adrian".
" Itu artinya dia tak berniat merusak rumah tanggamu".
" Kenapa kau membela perempuan itu, apa karena ia kekasih Adrian?".
" Bukan begitu Lis, aku sebenarnya tak ada hak untuk melarang Adrian mencintai siapa pun. Karena aku yakin Adrian bisa memilih yang mana yang terbaik untuk nya".
" Namun di satu sisi aku merasa tak enak hati padamu".
" Jadi menurutku, lebih baik kau lupakan masalahmu bersama Dena".
Lisa diam, mencerna kata kata Radit.
Memang tak seharusnya ia terlalu membenci Dena, toh sampai saat ini ia tidak pernah mendapatkan bukti mereka berselingkuh .
" Sudahlah Dit, aku tak ingin membahasnya sekarang. Aku pikirkan lagi nanti di rumah".
" Aku pulang", Lisa pamit kepada Radit dan meninggalkan ruangan itu.
Radit merasa tak adil dengan adik nya, pertengkaran dia dengan Adrian sebenarnya hanya karena ia terlalu mencampuri urusan Adrian.
Harusnya ia mendukung apapun keputusan Adrian tanpa menghubungkan nya dengan masalah pribadi Lisa .
Radit mencoba menghubungi Adrian.
" Hallo, Adrian kau dimana?", Radit bertanya pada adik nya yang sudah beberapa hari mereka tidak bertemu karena Radit selalu pulang larut malam.
" Aku di jalan Kak, ada janji makan diluar bersama Dena. Ada apa?", Adrian heran tiba tiba Kak Radit yang akhir akhir ini mengacuhkan nya sekarang menghubunginya.
" Nanti malam sepertinya aku pulang lebih awal, kau bisa kan makan malam di rumah".
__ADS_1
" Iya kak, mudah mudahan nanti malam aku sudah di rumah".
****
Sepanjang perjalanan menuju rumah Dena, Adrian memikirkan kakak nya kenapa tiba tiba sikapnya berubah menjadi hangat kembali.
" Apa ia Kak Radit sekarang berubah pikiran dan sudah merestui hubungan ku dengan Dena?", gumam Adrian.
Adrian sore itu berniat datang ke rumah Dena, ia yakin Dena sudah pulang dari kantor jam segini. Ia sengaja tak menghubungi Dena terlebih dahulu.
Pertemuannya tadi siang dengan Adam dan satu pukulan yang mendarat di wajah lelaki itu rasanya sudah bisa membayar sedikit kekecewaan nya.
Ia tiba di rumah Dena, melihat mobil Dena sudah terparkir di halaman depan rumah.
Adrian datang disambut Ibu yang langsung mempersilahkan nya masuk dan menunggu.
" Dena sedang mandi nak Adrian, tunggu lah sebentar lagi", Ibu menemani Adrian berbincang di ruang tamu .
Tak lama Dena menemui Adrian dan Ibu.
" Sayang, kau tidak mengabariku akan datang kesini?", Dena masih sedikit kaku berkata karena ia takut kekasih nya ini masih menyimpan marah padanya.
Ibu meninggalkan Adrian dan Dena berdua.
" Iya, aku sengaja datang tidak mengabarimu".
" Kenapa tadi kau tidak masuk bekerja?", Dena bertanya.
" Aku ada urusan tadi, menyelesaikan masalah kita".
" Sayang, aku minta maaf kepadamu. Semalam aku sempat berpikiran kau mengkhianati ku dan berselingkuh saat kita sudah berpacaran".
Dena semakin dibuat bingung dengan tingkah Adrian.
" Hey...kenapa jadi begini, harusnya aku yang minta maaf padamu . kenapa lagi lagi kau yang merasa bersalah, aku yang banyak dosa kepadamu", gumam Dena dalam hati.
" Aku tadi siang sudah bertemu Adam", Adrian melanjutkan kalimatnya tadi.
" Dan aku sudah memberikan pelajaran kepada laki laki bre***ek itu", ucap Adrian kesal.
" Hah, maksudmu?", Dena terkejut, ia juga khawatir apa yang Adrian lakukan pada Mas Adam namun ia tak mau menunjukkan kekhawatirannya di depan Adrian karena takut lelaki itu akan marah.
" Adam sudah menceritakan dan mengakui semuanya, ia mengatakan kalau saat itu terjadi kau belum menjadi kekasihku dan kau pun tak tau kalau ia sudah beristri".
" Aku sudah memberi nya pelajaran", Adrian masih nampak kesal.
" Kau apakan Mas Adam?", pertanyaan itu spontan keluar dari mulut dena, sungguh ia takut Adrian menyakiti Mas Adam.
" Hey..kenapa kau mengkhawatirkannya?", Adrian menangkap ketakutan di wajah Dena.
" Tidak...eemm ...maksudku apa kalian berkelahi? Aku tak ingin terjadi apa apa denganmu", Dena mencari alasan lain.
" Aku memukul wajahnya, itu pun rasanya belum sepadan dengan apa yang sudah ia lakukan padamu".
Dena tertunduk lemas, memikirkan Mas Adam yang berusaha membelanya hingga berbohong pada Adrian.
" Mas Adam semoga kau tidak kenapa kenapa", ucap Dena dalam hati.
__ADS_1
" Dena, kau tau aku begitu menginginkanmu? sekalipun kau sudah jujur padaku kalau dirimu tak utuh lagi, aku akan tetap menikahimu".
" Aku justru ingin mempercepat pernikahan kita bulan depan".
Dena terkejut mendengar ucapan Adrian.
" Apa tidak terburu buru kalau dimajukan bulan depan?".
" Tidak, lagi pula persiapan sudah hampir semuanya beres. Hanya tinggal mengurus berkas administrasi untuk keperluan catatan sipil".
Dena tak berani menolak, laki laki ini begitu menunjukkan keseriusannya. Bahkan disaat Dena sudah jujur tentang banyak kekurangan nya pun, ia tetap menerima Dena seutuhnya.
" Baiklah, aku terserah kau saja. Nanti aku katakan lagi pada Ayah dan Ibu" .
" Bagaimana dengan Kak Radit?", Dena teringat mereka masih terhalang restu dari kakak Adrian itu.
Dena tau hanya Kak Radit keluarga yang Adrian punya, ia tak ingin saat pernikahan mereka nanti Adrian hanya seorang diri.
" Kau tidak usah khawatir untuk hal itu, mudah mudahan Kak Radit berubah pikiran. Aku tau sifat kakak ku, ia sepertinya hanya terpengaruh oleh Lisa", Adrian meyakinkan Dena .
" Sayang kenapa kau masih menerimaku meski kau tau aku sudah kehilangan keperawananku?", Dena ingin tau alasan Adrian.
" Karena bagiku, mencintaimu bukan hanya sekedar memiliki ragamu tapi menerima semua yang ada dalam dirimu".
" Mungkin bagi sebagian orang diluar sana itu hal bodoh, tapi aku sudah tak tertarik mencari perempuan lain sebagai pendampingku".
Lagi lagi saat ini Dena lah yang merasa bodoh pernah mengkhianati lelaki tulus ini.
" Sayang, kalau kau ingin mempercepat pernikahan kita lakukanlah".
" Besok pun jika kau memintanya aku sudah siap", Dena seakan ingin menebus semua rasa bersalah nya pada Adrian.
Adrian mengecup lembut bibir kekasih nya, lagi lagi ia mengucapkan maaf dan terima kasih kepada kekasih nya.
Sungguh, disini justru ia lah yang banyak terluka.
Ia mengecup bibir itu semakin dalam, menderu nafas yang saling beradu. Ciuman itu baru berhenti ketika mendengar langkah kaki Ibu menuju ruang tamu.
Aku ingat saat pertama kali kau mengusik hatiku.
Satu satunya makhluk yang tak mampu mengalihkan pandanganku .
Membuat aliran darahku seakan membeku.
Memaksaku cemburu dengan segala tingkah laku.
...----------------...
Pernikahan semakin dekat, apa memang Adrian adalah jodoh yang tepat untuk Dena??
Masih ada kah penghalang di antara mereka??
Next episode otor lagi mau kembali ke masa lalu.
Siapa yang akan hadir ya??
Ikuti terus update berikutnya ya, jangan lupa like komen n vote nya🥰🥰🙏
__ADS_1