
Hujan baru saja selesai mengakhiri tarian nya di atas bumi,bau tanah lembab dan basah masih tajam tercium di hidung Dena. Pagi ini dia memiliki sedikit tenaga hanya untuk sekedar berjalan ke teras rumah,mencoba mencari sedikit sinar mentari yang masih malu malu menampakkan diri nya setelah hujan. Hampir sepanjang hari Dena hanya menghabiskan waktu nya terbaring di tempat tidur,bahkan hanya untuk sekedar mandi pun Dena harus di bantu ibunya
Pagi ini,Ayah berjanji akan membawa nya ke suatu tempat. Pengobatan alternatif,kata Ayah.
Dena sudah bersiap siap,pagi itu dia tetap terlihat cantik meskipun dengan wajah yang pucat dan tubuh yang kian kurus.
Mobil yang dikendarai Ayah melaju ke arah kota kabupaten,perkiraan Ayah perjalanan kali ini memakan waktu hampir 1 jam . Dena yang duduk di kursi belakang bersama ibu,merebahkan kepalanya di bahu ibu,merapatkan cardigan hitam yang ia kenakan dengan syal bermotif bunga untuk menghangatkan leher nya. Andai ia tidak dalam kondisi sakit pasti akan terlihat manis melihat nya.
Mereka sampai di sebuah tempat,tepat nya sebuah rumah yang disulap menjadi tempat praktek pengobatan alternatif. Tampak beberapa pasien telah duduk menunggu giliran masuk ke ruangan.
"Pengobatan seperti apa ini Bu?" tanya dena pada ibunya
Ibu hanya menunjuk plang kecil di depan pintu masuk ruangan,karena ibu juga baru pertama ke tempat ini.
" Pengobatan Alternatif Pijat Refleksi Pak Semar", begitu yang Dena baca
Dena menarik lengan ayah nya
"Ayah yakin membawa ku kesini?" ucap Dena ragu ragu,karena penyakit yang ia derita sangat serius,apa bisa hanya dengan cara seperti ini.
"Ayah direkomendasikan rekan kerja Ayah untuk datang kesini,karena sudah banyak penyakit penyakit kronis yang sembuh menjalani pengobatan disini"..
"Nanti kamu juga akan di kasih ramuan ramuan herbal untuk di minum" jelas Ayah
"Gleekkk"... Dena menelan ludah nya,membayangkan dia harus meminum ramuan ramuan itu sementara obat obatan dari dokter saja sudah cukup banyak yang harus ia minum setiap hari nya
...****************...
Dena dengan sabar menjalani pengobatan ini,dua hari sekali Dena harus datang ke tempat pengobatan alternatif ini. Terkadang Hasbi atau Kak Anjani yang mengantarkan nya di saat Ayah sedang tidak bisa meninggalkan urusan kantor nya.
__ADS_1
"Aku terlalu banyak merepotkan kalian"ucap Dena kepada Hasbi saat menemani kakak nya.
Hasbi memeluk kakak nya,menyatakan dia tidak keberatan sedikit pun untuk hal itu.
Dena setiap hari hanya bisa berdoa,berharap ada perubahan besar dengan pengobatan alternatif ini.
Manusia memang selalu keliru,mereka bahkan mengangkat tangan setinggi tingginya menengadah ke langit,bersuara lantang bahkan tak jarang disertai tangis dengan harapan apa yang mereka pinta kepada Sang Maha membolak balikkan keadaan dikabulkan. Padahal, Tuhan yang mereka sangkakan berada jauh di atas langit itu lebih dekat lagi dari urat leher dan amat mengetahui suara isi hati.
***Hampir 1 bulan setelah kepulangan Dena dari rumah sakit dan vonis dokter tentang penyakit nya,Dena masih rutin menjalani pengobatan alternatif di tempat Pak Semar meskipun kadang di perjalanan bahkan ia hanya tergolek lemah tertidur di kursi belakang. Tidak ada perubahan baik yang terjadi di tubuh nya,semakin hari semakin tak terkendali rasa sakit yang ia rasakan.
Ramuan ramuan itu tetap rutin ia minum,tapi tubuh Dena merasakan efek yang semakin tidak baik. Dua hari yang lalu Dena datang ke laboratorium untuk diambil sample darah guna mengetahui bagaimana sekarang fungsi ginjal nya. Hasil menunjukkan kadar kreatinin dan ureum yang semakin meninggi dibandingkan satu bulan lalu saat di Rumah sakit. Ini pertanda tidak baik untuk kesehatan Dena,fungsi ginjal nya hanya 5 persen saat ini berdasarkan hasil pemeriksaan darah
Dena mulai terlihat kesulitan bernafas,rasa panas di dalam tubuh nya pun kian menjadi. Mual muntah jangan ditanya,dalam 1 hari sudah tak terhitung lagi ia keluar masuk kamar mandi .
Hasbi mulai protes dan keberatan atas keputusan Ayah nya membawa Dena berobat ke pengobatan alternatif itu.
"Lihat yah,keadaan kak Dena... ramuan ramuan itu hanya akan menimbun racun yang bertambah banyak dalam tubuh Kak Dena" Hasbi melayangkan protes pada Ayah nya.
Malam itu,ketika Ayah,ibu,Hasbi dan Kak Anjani berada di kamar Dena. Membantu menenangkan Dena dan berusaha melakukan segala cara untuk mengurangi rasa sakit nya, di saat itulah Dena tiba tiba seperti orang yang hilang kendali, lebih tepat nya seperti orang kesurupan
Dena berteriak teriak,meronta ronta,apa yang ia ucapkan tidak jelas terdengar,dia berteriak histeris memukul tubuh nya sendiri.
Dia menjerit mengatakan "BIARKAN AKU MATI"
"BIARKAN AKU MATI"
"BIARKAN AKU MATI"
Hasbi dan Ayah berusaha memegang tangan nya agar tidak terus menyakiti diri nya sendiri,karena tenaga yang ia punya tidaklah cukup banyak untuk melawan akhirnya dia terkulai lemah,ambruk di atas kasur dengan posisi tertelungkup.
__ADS_1
Ia pingsan... kehabisan tenaga...
Semua panik,mencoba memeriksa denyut Nadi.
Tak lama mata nya berkedip kedip,terbuka sedikit. Nanar menatapi sekeliling nya secara bergantian .Bibir mungil nya masih lirih berkata " BIARKAN AKU MATI" sementara matanya kembali terpejam.
Kak Anjani dan Ibu menangis memeluk Dena,tidak menyangka ia bisa berubah sedrastis ini padahal sebelum nya Dena masih bisa sedikit tersenyum meminta ibunya mengambilkan air minum.
"Ingat kan apa yang dokter pernah bilang?" kalau racun sudah terlalu tinggi bisa sampai ke otak yang bisa membuat Dena kehilangan kesadaran,ucap ibu tertuju pada Ayah.
Tampak nya Ayah merasa bersalah,tertunduk mengusap kening. "Mungkin memang harus segera ambil keputusan itu" batin Ayah.
Hasbi mendekat ke tempat tidur,memerintahkan Ibu dan Kak Anjani untuk bergeser. Ia menggendong tubuh kurus pucat di hadapan nya..
"Biarlah kali ini kalian membenciku karena menentang Ayah" Tapi maaf,aku harus membawa Kak Dena ke rumah sakit"
"Tolong,turunkan ego Ayah" ucap Hasbi
Malam itu,mobil yang dikendarai Hasbi melaju membelah jalan kota Pangkalpinang yang lenggang dan sunyi di jam jam seperti ini.
Ayah akhirnya mengalah,demi tak tega mempertaruhkan nyawa anak nya yang hampir sekarat menahan sakit.
Di sepanjang perjalanan,perkataan nya kian meracau. Aku ingin mati, Aku ingin Mati...
Dan lirih terdengar dia menyebutkan sebuah nama " Mas Adam",berkali kali Dena mengulang nama itu. Kak Anjani dan Hasbi saling berpandangan,bertanya tanya siapa yang Dena sebutkan. Pasti lah orang yang sangat berarti baginya..
Anjani membuka ponsel adik nya,mengetik di kontak dengan pencarian nama " ADAM"...
Tapi bahkan Anjani tidak menemukan kontak yang tersimpan dengan nama Adam. Anjani fikir dengan menghubungi seseorang yang bernama Adam bisa sedikit menenangkan adik nya untuk sekedar memberi semangat.
__ADS_1
Tapi.... NIHIL..
Dena hanya terus mengucap " BIARKAN AKU MATI".....