
Dena menatap perban putih yang membalut tangan nya, terasa sedikit nyeri meskipun ia sudah meminum obat yang diberikan dokter bedah vaskuler setelah operasi selesai dilakukan .
Kemarin pagi, untuk pertama kali dalam hidup nya ia memasuki ruang operasi yang begitu dingin dan mencekam bagi nya.
Meskipun operasi Cimino merupakan operasi kecil, tetapi tetap semua prosedur dilakukan layaknya operasi besar. Sebelum operasi di lakukan, Dena sudah terlebih dahulu menjalani USG Doppler untuk mengetahui kondisi aliran darah serta pembuluh darah vena dan arteri yang akan di satukan.
Dena mengingat bagaimana wajah nya yang sudah pucat pasi saat baru saja nama nya di panggil untuk masuk ke ruangan tanpa boleh di dampingi oleh keluarga. Ibu dan Kak Anjani yang baru saja kembali dari rumah mertua nya, hari itu menemani Dena ke rumah sakit. Mereka memberi semangat kepada Dena dan berdoa semoga semua berjalan lancar sampai selesai.
Seorang petugas perempuan menyuruh Dena masuk dan duduk untuk di periksa tekanan darah nya, operasi tidak bisa di lakukan jika tekanan darah terlalu tinggi. Setelah memastikan semua stabil, petugas perempuan itu meminta Dena untuk mengganti pakaian nya dengan pakaian berwarna hijau khusus. Ia pula meminta Dena melepas semua aksesoris seperti kalung,gelang dan cincin
" Sudah berapa lama cuci darah mbak?", petugas itu akhirnya tak bisa menahan rasa penasaran nya kepada perempuan cantik yang akan menjalankan operasi ini.
"Baru satu bulan kok" , jawab Dena singkat
Dan beberapa pertanyaan mengalir dari petugas perempuan itu, Dena juga bertanya beberapa hal mengenai operasi yang akan ia jalani sebentar lagi. Tidak akan terasa sakit, begitu kata petugas tersebut. Sebelum di operasi nanti akan diberi suntikan bius lokal di sekitar area yang akan di operasi. Dena sedikit lega mendengar nya, ia sudah membayangkan betapa ngeri nya nanti di ruangan sana.
Dena diantar menuju ruangan operasi oleh petugas tersebut, ia melihat beberapa ruangan di sisi kanan dan kiri nya yang juga merupakan ruangan operasi. Ada yang menjalani operasi caesar, operasi mata, dan operasi lain nya. Dena tiba di sebuah ruangan berpintu otomatis yang hanya bisa di akses oleh petugas. Dena di persilahkan tidur di sebuah ranjang operasi, ia menatap sekeliling. Sudah disediakan berbagai peralatan operasi seperti pisau dan gunting beraneka ukuran, jarum , suntikan, dan berbagai peralatan lain nya.
Sementara itu di atas nya terdapat lampu sorot yang digunakan sebagai penerangan. Ada 4 orang perawat yang akan membantu dokter bedah melakukan operasi dan satu asisten dokter. Sambil menunggu dokter bedah masuk ke ruangan, asisten dokter tersebut membersihkan tangan Dena dengan alkohol, kemudian membalur nya dengan betadine.
Ia mengajak Dena berbincang untuk mengurangi rasa tegang yang ia bisa lihat di wajah Dena.
" Masih muda, kenapa bisa gagal ginjal?", asisten dokter itu bertanya kepada Dena yang menurut Dena pertanyaan itu sudah bosan ia dengarkan dari siapapun yang pertama kali tau kalau ia seorang penderita gagal ginjal
__ADS_1
Dena menjawab seadanya...
Ruangan terasa semakin dingin hingga menusuk sampai ke tulang. Lengan Dena yang sudah terlihat merah oleh cairan betadine pun terasa sangat dingin sampai ia hampir tak bisa merasakan kulitnya. Seorang dokter laki laki yang sudah sangat berumur masuk ke ruangan, ia menyapa Dena dengan sangat ramah.
" Sudah siap kan?", tanya dokter itu.
Dena mengangguk tegang .
Kemudian dokter itu memberi aba aba untuk segera mulai,ia memimpin Doa kepada tim nya. Dena ikut memejamkan mata, berdoa untuk kelancaran operasi nya.
Salah satu perawat mulai menyuntikkan bius lokal di pergelangan tangan Dena, dokter kemudian mencubit kulit di tangan yang akan di bedah dan bertanya apakah Dena masih bisa merasakan lengan nya di cubit. Dena menggeleng, karena memang ia sudah tidak merasakan apa apa.
Dokter kemudian membuat sayatan di pergelangan tangan Dena sepanjang 3 cm.
Kemudian para ahli bedah itu menghubungkan pembuluh vena dengan pembuluh arteri di dekatnya hingga terbentuk saluran fistula.
Mereka semua mengucap syukur,operasi berjalan lancar. Sebelum meninggalkan ruangan operasi, dokter berpesan kepada Dena bahwa tangan yang ada cimino tidak boleh menerima suntikan,pengambilan darah,dan pengukuran tekanan darah.
...****************...
Ponsel milik Dena berbunyi, suara tanda pesan masuk yang segera di buka oleh Dena.
Dari Mas Adam, pekik Dena kegirangan.
__ADS_1
" Siang Dena, gimana operasi nya kemarin? Lancar kan?" begitu isi pesan tersebut.
Dena tidak membalas pesan tersebut, tapi memilih untuk menelepon Mas Adam karena alasan susah mengetik pesan hanya dengan satu tangan sementara tangan kiri nya masih terasa ngilu jika terlalu banyak di gerakkan. Padahal tentu saja itu hanya sebuah alasan, Dena hanya rindu ingin mendengar suara laki laki itu.
Suara Mas Adam lembut di ujung telepon, ia mengatakan kalau ia sedang tidak terlalu sibuk. Dena bertanya banyak hal, seperti hal apa saja yang harus ia lakukan untuk merawat cimino nya. Mas Adam mengatakan, satu minggu lagi jika luka jahitan nya sudah kering perban sudah bisa dibuka. Tetapi untuk menggunakan akses cimino tersebut dibutuhkan waktu minimal satu bulan lamanya, jadi selama satu bulan ke depan Dena masih harus menjalani cuci darah dengan akses femoral.
Hampir lima belas menit mereka berbincang di telepon, Mas Adam mengakhiri telepon nya dengan berpesan kepada Dena agar tak lupa makan,istirahat yang cukup dan selalu menjaga kesehatan. Hal kecil seperti itu selalu membuat Dena merasakan betapa laki laki itu menaruh perhatian kepada nya. Setiap hari saat mereka berkirim pesan singkat, Mas Adam tak pernah lupa mengingatkan hal itu,mengulang nya setiap hari. Membuat Dena terbiasa mengharapkan perhatian dari nya, dan semakin menaruh harapan yang lebih besar.
" Lelakiku,aku ingin bercerita padamu mengenai sesuatu yang membuatku hidup semenjak perjumpaan kita"
" Aku ingin menjadi apa apa yang bisa membuatmu ingin lebih lama".
Dena kembali membaca isi chat nya dengan Mas Adam dari pertama kali Mas Adam mengirimkan pesan, Dena tak ingin menghapus pesan pesan itu. Disaat waktu luang nya, ia selalu mengulang kembali membaca pesan pesan itu yang membuat hati nya merasa terhibur.
" Tapi kenapa ya Mas Adam tidak pernah menghubungiku di malam hari?"
" Ia hanya mengirim atau membalas pesan di saat siang atau pun sore hari".
Dena bergumam bertanya tanya dalam benak nya, kemudian ia membuat jawaban sendiri
" Mungkin malam hari Mas Adam istirahat, jadi tidak pernah mengirimkan ku pesan atau membalas pesan pesan ku".
*** Tak sabar rasanya Dena menunggu esok hari, untuk berjumpa dengan lelaki itu. Perjumpaan dua kali dalam seminggu bagi Dena sama hal nya dengan sebuah " kencan", walaupun hanya sekedar berbincang kecil.
__ADS_1
Dena berharap Mas Adam untuk kedua kalinya mengajak nya makan siang lagi. Namun sampai sekarang tidak ada tanda tanda Mas Adam berencana untuk meluangkan waktu berdua dengan Dena di luar jadwal mereka bertemu di Rumah sakit. Hanya Lukas yang pernah menawarkan diri mengantar Dena pulang waktu itu, pernah pula ia mengajak Dena makan siang bahkan meminta izin Dena untuk berkunjung ke rumahnya.
Dena menolak halus semua keinginan Lukas, namun lagi lagi lelaki itu tak kenal rasa menyerah.