
Lima bulan sudah usia pernikahan Adrian dan Dena.
Adrian selalu bersemangat menjalani hari harinya, setelah lelah menunaikan kewajiban sesuai profesi ia bahagia pulang menuju rumah yang sama, melewati sisa hari bersama.
Selalu ada rutinitas menikmati senja sebelum malam tiba, meneguk pahitnya kopi sembari berbagi cerita. Hingga memecah hening dengan gelak tawa.
" Kau lelah sayang?", tanya Dena di suatu sore menyambut Adrian yang pulang bekerja.
Adrian tersenyum.
" Bagaimana aku bisa lelah, jika lengkung senyummu selalu menjadi bagian semangat berartiku", Adrian merangkul pinggang istrinya berjalan menaiki tangga.
" Sayang, nanti malam kau mau menemaniku ke toko perlengkapan bayi?", Dena bertanya sambil menyiapkan pakaian ganti untuk Adrian yang ingin mandi.
" Toko perlengkapan bayi? Untuk apa sayang?".
" Laras kan sudah hamil besar, tinggal menghitung hari ia akan melahirkan . Aku berniat membelikan beberapa perlengkapan untuk keponakan ku nantinya".
" Hhmmm, baiklah nanti malam kita beli perlengkapan untuk bayi nya Laras dan Hasbi".
" Terima kasih sayang", Dena mencium lembut pipi suaminya .
Malam itu, mereka menuju sebuah toko yang menjual perlengkapan bayi.
Dena membeli begitu banyak baju baju lucu untuk bayi perempuan, karena menurut prediksi dokter dan hasil USG calon ponakan nya itu berjenis kelamin perempuan.
Dena menatap lamat baju baju itu.
" Sayang, kapan ya aku bisa membeli baju baju lucu ini untuk bayi kita?", Dena berkata dengan nada sedih.
" Sabar ya sayang, aku percaya kalau memang sudah waktunya semua akan menjadi milik kita", Adrian tetap membesarkan hati istrinya.
" Aku kesepian, setiap hari hanya sendirian di rumah. Aku ingin rumah kita dihiasi suara tangis dan tawa seorang malaikat kecil", Dena berkaca kaca.
" Sudahlah, ayo kita cari lagi perlengkapan lainnya", Adrian tak ingin Dena terlarut dalam kesedihan.
Adrian memilih milih bouncer untuk bayi Laras.
" Yang warna pink cantik ya sayang?", Adrian meminta pendapat Dena.
Dena mengangguk setuju, kemudian mereka membeli satu buah stroller.
" Sepertinya sudah cukup, kita langsung ke rumah Ibu ya. Masih belum terlalu malam", pinta Dena.
Mereka langsung menuju rumah orang tua Dena.
Ibu menyambut kedatangan Dena dan menantunya.
" Hasbi dan Laras kemana bu?", tanya Dena.
" Laras sepertinya mau melahirkan, sekarang ada di kamar nya merasakan perutnya sedikit mulas".
Dena dan Adrian menghampiri Laras di kamar.
" Laras, bagaimana keadaanmu?", Dena mendekat menghampiri Laras yang duduk di sudut tempat tidur sambil mengelus perutnya.
__ADS_1
" Sakit Kak, kontraksi di perutku sudah mulai terasa meski belum terlalu dekat jarak nya", Laras terlihat berkeringat sementara Hasbi mengusap kening istrinya.
" Aku ingin segera membawanya ke rumah sakit, tapi Laras bilang nanti saja kalau kontraksi di perutnya terasa sering dengan rentan waktu yang dekat", ucap Hasbi.
Setengah jam berlalu, Laras merasakan sakit di perutnya semakin menjadi.
" Sayang, bawa aku sekarang ke rumah sakit", ucap Laras namun masih tetap tenang menarik nafas dan menghembuskan nya secara teratur.
Dari wajah nya terlihat ia menahan sakit, namun ia tetap tenang tanpa rasa panik
Dena, Ibu dan Adrian ikut mengantarkan Laras ke rumah sakit.
Sepanjang perjalanan Hasbi terus menguatkan Laras, mengelus perutnya dan terdengar lirih melantunkan doa doa untuk keselamatan sang istri.
Adrian melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi, ia yang merasa panik ingin cepat sampai ke rumah sakit .
" Santai saja Adrian, bayiku belum akan keluar sekarang, hehehe", Laras masih saja sempat terkekeh di sela sela kontraksi perutnya .
Dena kagum dengan perempuan yang satu ini, ia sendiri tak tahu bagaimana jika ia yang ada di posisi itu . Mungkin karena Laras seorang perawat mungkin, jadi ia bisa tetap tenang dengan keadaan yang seperti ini.
Mereka tiba di rumah sakit, Laras langsung dilarikan ke ruang Persalinan.
Dokter memeriksa jalan lahir Laras .
" Sudah pembukaan tujuh Pak", dokter mengatakan kepada Hasbi .
Ibu dan Dena ikut masuk ke dalam ruangan, hanya Adrian yang menunggu di luar.
Kontraksi semakin sering terasa di perut Laras, yang awalnya muncul lima menit sekali, sekarang muncul dalam dua menit sekali.
Kali ini Laras sedikit merintih menahan sakit, ia menggenggam erat tangan suaminya.
" Aku akan selalu ada disampingmu", Hasbi terus mengusap kepala Laras yang berkeringat.
Laras merasakan kain yang menutupi tubuh nya basah, sepertinya ketuban nya sudah pecah.
Dokter kembali memeriksa jalan lahir.
" Nampaknya sudah mau melahirkan, tolong yang lain keluar dari ruangan. Cukup suaminya saja yang menemani", perawat yang membantu dokter di ruangan itu meminta Ibu dan Dena untuk keluar.
Ibu dan Dena bergabung bersama Adrian diluar ruangan. Mereka hanya bisa berdoa untuk kelancaran persalinan Laras.
Sementara di dalam ruang persalinan, Laras sedang berjuang untuk melahirkan buah hatinya.
Dokter memberi aba aba untuk Laras agar menarik dan menghembuskan nafas secara teratur.
Laras semakin erat mencengkram tangan suaminya. Kata kata semangat terus Hasbi ucapkan ke telinga perempuan yang sedang mempertaruhkan nyawa melahirkan buah hati mereka.
" Sayang, perutku sakit", kata kata itu keluar juga dari mulut Laras.
" Iya sayang, tahan ya. Kita berjuang sama sama, aku yakin kau perempuan yang kuat. Kau bisa melewati semua ini", Hasbi terus mencium kening Laras.
Sakit sudah semakin menjadi di bagian perut, pinggang dan jalan lahir Laras.
" Ayo bu, sedikit lagi tarik nafas yang dalam keluarkan dari mulut", dokter terus menuntun Laras.
__ADS_1
" Kepala nya sudah terlihat, ayo kali ini mengejan yang kencang", dokter kembali memberi perintah.
Laras mengerahkan segala tenaga yang ia punya. Ketika mengejan ketiga kalinya, lahirlah seorang bayi perempuan dari jalan lahirnya.
Dokter dan para perawat dengan sigap memotong tali pusar.
Suara tangis bayi mungil perempuan itu memecah di dalam ruangan.
Hasbi dan Laras mengeluarkan air mata penuh haru.
Hasbi berkali kali mencium kening istrinya .
" Terima kasih sayang, kau sudah berjuang melahirkan anak kita", air mata bahagia terus mengalir dimata mereka .
Perawat membersihkan darah di tubuh bayi mereka, kemudian menutup nya dengan kain bedong.
Setelah menimbang berat dan mengukur panjang bayi, perawat memberikan bayi mungil itu untuk di adzani oleh Hasbi. Air mata tak henti tumpah dari mata Laras.
Perawat kemudian meletakkan bayi itu di dada Laras. Perawat meminta untuk Laras melakukan inisiasi menyusui dini.
Laras dan Hasbi mencium bayi mungil yang nampak mencari susu.
Suara tangis bayi mereka terdengar sampai keluar ruangan. Ibu, Dena dan Adrian sudah diperbolehkan masuk untuk melihat Laras.
" Bayi kita cantik, sama seperti dirimu", Hasbi terus mencium kening Laras dan bayi nya bergantian.
Laras masih terlihat lemah karena banyak mengeluarkan darah.
Ibu tak sabar untuk menggendong cucu perempuan nya, Dena dan Adrian pun menunggu untuk bergantian menggendong bayi mungil ini.
" Selamat ya Ras, Hasbi, atas kelahiran putri pertama kalian", ucap Adrian.
Malam itu, satu anggota baru hadir di keluarga besar mereka.
Tentunya Hasbi dan Laras pasti akan sangat terhibur setiap hari dengan kehadiran bayi mungil yang melengkapi kebahagiaan keluarga mereka.
Adrian dan Dena pulang pulang kerumah sudah larut malam.
Sampai di rumah Dena terlihat melamun.
" Kau kenapa sayang, kenapa bersedih?", Adrian bisa melihat kesedihan di wajah istrinya.
Dena tak menjawab, ia hanya memeluk Adrian kemudian terisak.
Adrian tau apa yang lagi lagi membuat istrinya menangis.
" Sabarlah sayang, aku juga sama sepertimu. Aku juga menginginkan kehadiran buah hati dalam pernikahan kita. Namun jika kita bisa bahagia meski hanya berdua, rasanya tak ada alasan untuk kita bersedih", Adrian mengusap air mata di sudut mata istrinya.
Dena tetap tak menjawab, hanya menahan isak tangis nya agar tak semakin kencang.
Adrian, tatap teduhmu akan menjadi kilau pertama waktu fajar ku. Dan semburat tipis nadimu akan menjeratku dalam syukur karena memilikimu.
...----------------...
Kira kira Adrian dan Dena diberi kesempatan untuk memiliki keturunan nggak ya??
__ADS_1
Next episode ada jawaban nya🙂
Ikuti terus up nya ya readers, kita ke cerita yang bahagia dulu setelah nanti bakal ada kabar duka.