
Laras mengaduk aduk nasi di piring makan nya dengan ujung sendok, sudah sepuluh menit tapi tak satu suap pun ada yang masuk ke perutnya.
" Hey...kau kenapa? nasi mu tidak kau makan?",
Hasbi bertanya pada Laras yang malam itu sedang makan berdua dengan nya di restoran sea food.
" Aku sudah menghabiskan setengah dari porsi ku, tapi nasi mu belum berkurang sedikit pun".
" Sayang... ayo kita pulang".
" Aku tidak nafsu makan", Laras melepas sendok yang dari tadi ia pegang.
" Hah?? Kau belum menyentuh makanan mu dan kau minta pulang??".
"Bukankah tadi kau sendiri yang merengek ingin makan disini", Hasbi gusar kepada istrinya yang aneh semenjak hamil.
" Iya, itu kan tadi".
" Sekarang aku maunya tidur di kamar", Laras merengek lagi dan memasang wajah cemberut.
" Ciihh...pasti yang kau maksud tidur di kamar adalah menggodaku dengan pakaian tidurmu yang kurang bahan lalu minta aku bekerja keras hingga pagi", ucap Hasbi dalam hati.
" Sudah...sudah..jangan merengek, kau seperti anak TK yang minta di belikan balon saja".
" Ayo pulang", Hasbi meninggalkan piring nya yang masih di isi setengah porsi.
Benar saja apa yang di tebak Hasbi, sesampai di kamar wajah Laras yang tadi cemberut berubah menjadi wajah yang penuh seringai nakal.
Ia mengganti pakaian dengan lingerie merah dan G string berwarna sama sebagai dalaman nya .
" Hey...kau mau apa dengan pakaian mu itu?", tanya Hasbi pura pura terkejut.
" Cuaca sangat dingin, kau bisa masuk angin nanti".
Tak peduli dengan ucapan suaminya, Laras mendorong tubuh Hasbi hingga terbaring di atas kasur.
" Jangan bilang kau ingin kita bergadang lagi malam ini Laras", Hasbi mengingat lagi sudah tiga malam berturut turut ia kurang tidur karena aktifitas mereka di kamar ini bisa selesai hingga larut malam .
" Bukan aku yang mau... tapi dia", tangan Laras menunjuk ke arah perutnya sendiri seolah mengatakan bayi di dalam perutnya yang minta untuk dilihat bapaknya.
" Ckckck ...kau selalu saja punya alasan jitu untuk membuatku selalu menuruti kemauan mu', Hasbi akhirnya pasrah ketika Laras sudah mengambil posisi duduk
diatas nya ketika ia berbaring.
Dan, bioskop pun dimulai.
Suara ******* kembali memenuhi ruangan itu.
Hasbi kewalahan melayani istrinya yang tak cukup hanya dengan satu kali pelepasan.
" Laras, kapan ngidam mu yang seperti ini akan berakhir?", tanya Hasbi ketika mereka selesai untuk ketiga kalinya .
" Kenapa bertanya seperti itu?".
" Kau tidak suka melayaniku di atas tempat tidur?".
" Apa kau bosan?", Laras berkata dengan wajah sedih .
" Hey...kenapa kau mau menangis?"
" Aku kan cuma bertanya?", selain ngidam yang aneh ternyata Laras juga semakin sensitif dan gampang menangis semenjak hamil.
" Sudahlah aku mau tidur jangan ganggu aku" , Laras menarik selimut menutup tubuh nya yang masih telanjang membelakangi Hasbi.
Hasbi menepuk jidatnya.
" Dasar aneh, dia bilang aku mengganggunya,padahal dari awal dia yang menggangguku".
Hasbi kemudian ikut berbaring di sebelah istrinya. Teringat cerita Ibu tadi pagi, ketika Hasbi mengatakan kalau istrinya selalu minta yang aneh aneh.
__ADS_1
" Begitulah nak yang dinamakan ngidam".
" Ibu juga dulu waktu mengandung mu, selalu ngidam dan minta yang aneh aneh kepada Ayahmu".
" Ibu bahkan pernah minta di belikan nasi rames di warung yang letak nya ada di kabupaten sebelah yang lumayan jauh".
" Tapi saat sudah dibeli, ibu malah tidak ingin makan sama sekali".
Hasbi menghela nafas, berharap besok Laras sudah tidak ngidam yang aneh aneh lagi.
Kalau cuma ngidam ingin di layani di tempat tidur setiap malam sih Hasbi tak akan keberatan, karena ia menyukai aktifitas panas itu bersama istrinya.
Ia memejamkan mata, sebelum nya sempat memanjatkan doa, " Tuhan, semoga ngidam nya Laras tidak seperti yang ibu ceritakan ketika mengandungku".
***
Pagi hari di ruang makan
Dena sibuk mengolesi dua potong roti dengan selai coklat dan segelas susu khusus untuk dirinya . Hari itu hari sabtu, jadwal cuci darah nya.
Adrian berencana akan menemaninya.
Ayah tak sempat sarapan pagi ini, karena buru buru berangkat keluar kota untuk urusan pekerjaan nya.
Ibu dan Hasbi juga sibuk dengan sarapan nya masing masing.
Hanya Laras yang tak semangat dengan makanan nya. Ia hanya cemberut dengan menopang dagu menatap makanan nya .
" Laras, kau tak makan?", tanya Ibu.
" Aku tidak nafsu makan bu".
Hasbi mengusap dada nya, bersabar menghadapi istrinya yang seperti anak kecil.
" Jangan turuti mulutmu yang tidak mau makan, di perutmu ada bayi yang butuh asupan gizi", Hasbi mengambil sepotong roti dan menyuapi ke mulut Laras .
Namun Laras tetap menolak.
" Bukan dengan apa aku mau makan, tapi harusnya kau tanya aku dengan siapa aku mau makan?"
" Hah ..?? Maksudnya?"
" Kau mau makan dengan siapa?".
" Kan disini ada aku", Hasbi semakin dibuat bingung dengan perempuan hamil ini .
" Aku ingat ketika Mas Adam masih bekerja, kami sering makan siang bersama dengan Lukas dan Risma juga".
" Dan tiba tiba aku merasa aku akan nafsu makan jika ada Mas Adam makan bersamaku", Laras mengatakan dengan nada setengah merengek dan sedih .
Dena langsung tersedak mendengar permintaan Laras yang barusan.
Terlebih lagi Hasbi, ingin rasanya ia menggigit istrinya karena gusar dengan ngidam nya yang aneh.
Semalam ia pikir masalah ngidam nya Laras semakin hari akan semakin berkurang .
Tapi nyatanya ini lebih gila di banding kan membeli nasi rames di kota kabupaten lalu tak di makan.
"Hey... Sayang kau jangan yang aneh aneh".
" Apa hebatnya lelaki itu hingga bisa membuat mu nafsu makan", Hasbi menolak permintaan istrinya .
" Ya sudah kalau kau tidak mau menuruti mau ku, aku akan mogok makan seterusnya", Laras semakin cemberut dan mengeluarkan ancaman.
Dena ingin tertawa melihat pasangan suami istri ini. Namun ia juga rasanya tak setuju dengan ngidam nya Laras kali ini.
" Kenapa juga harus Mas Adam, kau hanya membuat masalah baru dalam hubunganku dengan Adrian", batin Dena .
" Sayang ... bisa di ganti nggak ngidam nya makan dengan laki laki lain".
__ADS_1
" Siapa saja, asal jangan lelaki itu".
" Adrian misal nya, atau Lukas", Hasbi mencoba memberi pilihan.
Ibu yang tak mengerti apa apa tentang masalah Mas Adam dengan Hasbi malah dibuat bingung kenapa Hasbi tidak menyukai lelaki baik itu.
" Hasbi, apa salahnya menuruti ngidam nya istrimu".
" Ibu juga tidak akan keberatan kalau Nak Adam kita undang makan malam disini".
" Lagi pula Nak Adam anak yang baik, sudah banyak membantu Dena", Ibu mengingat lagi bagaimana dulu lelaki itu selalu memperlakukan Dena dengan baik.
Laras yang merasa mendapat dukungan dari Ibu menyeringai penuh kemenangan.
"Ciihh... baik apanya, ibu saja yang tak tau kalau dia lelaki tak tau diri"
" Dulu saat masih beristri, beraninya dia mencintai Kak Dena", umpat Hasbi dalam hati.
" Aku tetap tidak setuju", ucap Hasbi
" Tapi Ibu kan setuju", bantah Laras.
Sudah seperti pemilihan umum, akhirnya Laras memutuskan suara terbanyak lah yang akan menang.
" Bagaimana dengan Kak Dena?", tanya Laras.
" Ehhh aku... eemmm...", Dena nampak masih berpikir.
Hasbi melotot ke arah Dena mengisyaratkan agar tidak setuju saja.
Namun melihat wajah Laras yang seperti memohon dan sebagai bentuk toleransi nya sebagai sesama perempuan, akhirnya Dena mengangguk setuju .
" Aku sih setuju saja, demi ngidamnya Laras".
" Yeeayyy... menang", Laras bersorak kegirangan.
Akhirnya Hasbi mengalah, menuruti kemauan istrinya yang sudah mendapat dukungan dari Ibu dan Kak Dena .
" Ciihh..Kak Dena kenapa juga pake acara setuju".
" Apa dia masih menyukai lelaki itu", gerutu Hasbi.
"Baiklah, nanti malam kau boleh mengundang Mas Adam makan malam disini".
" Tapi dengan satu syarat, setelah kau makan lelaki itu harus pulang".
" Ia tak boleh lama lama mengobrol disini, apa lagi dengan Kak Dena", dengan terpaksa rasanya Hasbi menerima kekalahannya.
Laras terkekeh melihat wajah gusar suaminya.
" Terima kasih sayang", ucap Laras sambil memasukkan sepotong roti ke mulut nya .
" Hey ..kau bilang tadi kau tidak nafsu makan".
" Jangan bilang ini semua cuma akal akalan mu saja Laras", Hasbi terlihat kesal .
" Itu kan tadi tidak nafsu makan nya, setelah kau menuruti mau ku aku tiba tiba nafsu makan, hehehe", Laras kembali terkekeh.
Dena menggembungkan pipi nya menahan tawa melihat adik nya sepagi ini sudah dikerjai Laras.
" Awas kau ya Laras, sebenarnya apa yang kau rencanakan", umpat Hasbi pelan.
"Lihat saja nanti malam aku akan menghukum mu lagi di kamar".
...----------------...
Hihihi .... sebenarnya ngidam nya Laras kali ini bener apa nggak ya???
Gimana kalau Adrian tau Mas Adam diundang makan malam bersama keluarga Dena🙄
__ADS_1
Ikuti terus ya update berikut nya .
Jangan lupa like, komen dan vote nya🥰🥰🙏